
"Buat Devan dan Riana setiap hari aku selalu berdoa untuk keutuhan rumah tangga kalian. Aku bahagia akhirnya Riana mendapatkan pria yang tepat meski sedikit menjengkelkan, becanda Van sumpah dah. Semoga kebahagian terus mengitari kalian hingga kakek nenek. Oh iya Van satu lagi! Riana nggak sepolos yang lo tau hahahah dia sering gua dapat nonton bokep di hp gua"
Devan langsung melirik Riana yang sejak tadi sudah menggeleng. "Boong banget."
"Haha becanda Van, asik tau nggak liat muka panik Riana."
Hendry tersenyum tapi menahan air matanya tumpah. "Aku menyayangi kalian. Suatu saat nanti kalian dalam kesusahan kalian pasti tau pin tabungan ku dan tempat persembunyian benda berhargaku kalian boleh mengambilnya terutama untuk kamu Mo, selalu ngeluh kalau skin care mu habis. Kalau Riana mungkin nggak bakal butuh soalnya dia paling kaya diantara kita. Ngomong-ngomong tu si Riana paling kaya tapi kaya dia paling miskin, soalnya tiap hari minta traktiran terus tu. Padahal abangnya kaya terus dapat suami tajir melintir aneh tu bocah
"Hahahah benner Hen, dia juga minta gincu merah untuk ngalahin gincu bu Jess tau nggak harga gincu itu 700ribu bro" Ucap Momo tertawa.
Bukannya malu karena ada Devan disana, Riana malah tertawa mendengar ocehan Momo.
"Satu lagi, aku harap kalian tidak akan melupakan pria bermata sipit yang selalu jagain kalian!"
"Never" Ucap Riana dan Momo bersamaan.
"Ahh.. Kok aku sedih sih. Nggak! Aku boong kok disini banyak debu, sumpah deh. T**erima kasih udah mau nerima aku jadi sahabat kalian, dan aku adalah pria paling bahagisa dan beruntung memiliki dua bidadari seperti kalian."
Air mata kedua gadis itu kambali tumpah, mereka saling berpelukan satu sama lain
"Maaf Ri, aku nggak bis ajarin keponakan ku nanti naik sepeda, dan aku juga minta maaf Mo nggak bisa jadi saksi saat kamu nikah nanti. Aku menyanyangi kalian."
Ungkapan itu benar, dimana ada pertemuan juga akan ada perpisahan. Meski semua orang tidak menyukainya tapi tetap akan terjadi.
"Dia pria yang baik" Lirih Devan
"Hemm"
__ADS_1
......................
Devan mengelus lembut surai hitam pekat milik istrinya, wajah gadis itu terlelap sangat damai setelah sepekan gadis itu tenggelam dalam kesedihan.
Devan menghentikan aktifitasnya saat ponselnya bergetar, pria bertubuh jangkung itu segera keluar dari kamar saat melihat nama siapa yang muncul dilayar ponselnya.
"Ya Nga?" Ucap Devan untuk pria di saluran telpon sana.
"Van, dengerin gua! Keadaan Arrian krtis saat ini, setelah mendapat donor jantung. Jadi, gua bawa Arrian ke negara K profesor gua yang minta langsung Ar dibawa kesana " Jelasnya
"Hemmm... gua percaya sama lo Ga, untuk saat ini jangan bicara apa-apa dulu ke istri gua!"
"Oke... Gua akan ngabarin lo keadaan Ar setiap hari." Tanpa
menjawab lagi Devan mematikan telponnya dia menatap lurus kearah danau kecil belakang rumahnya.
Devan berbalik,betapa terkejutnya dia melihat Riana sudah bangun dan kini berada didepannya, wajah gadis itu terlihat sedih dengan air mata disana. Degun jantung Devan kian memacu cepat, apa gadis ini mendengar pembicaraannya tadi dengannya Angga?
"Kamu jahat." Pekik Riana seirinh dengan itu tangisnya kian pecah.
"Sayang... Bukan begitu! Maafkan aku Riana" Devan tertunduk penuh penyesalan.
"Ah.. Kamu jahat ninggalin aku sendiri"
Devan langsung mengangkat wajahnya menatap Riana. "Sayang..." Riana langsung mengambur dipelukan Devan masih terisak. "Jangan tinggalin aku kaya tadi! Hikss... Hikss..."
Devan tersenyum legah, pria itu mengelis lembut pucuk kepala istrinya. "Maafkan aku sayang! Sudah jangan menangis lagi."
__ADS_1
Cukup lama Riana baru bisa menghentikan tangisnya, Devan benar-benar tidak mengerti kenapa tiba-tiba istrinya bersikap seperti ini.
"Ada yang kau inginkan?"
"Hemm..." Angguk Riana pelan
"Apa? Aku akan membuatkannya untukmu sayang"
Mata Riana langsung berbinar bahagia. " Aku ingin makan mangga muda dengan gula merah sayang, ditambah sedikit terasi dan cabai merah wah... Bahkan memikirkannya aku sudah ngiler begini."
Sejenak otak Devan berhenti berputar lalu melirik jam dinding hampir jam satu.
"Sayang dimana aku mendapatkan mangga muda jam segini?"
Wajah Riana kembali sedih, air matanya lolos begitu saja. Ada yang aneh dengannya belakangan ini, gadis itu sangat sensitif jika keinginanya tidka dituruti.
"Oke-oke aku akan mencarikannya untukmu! Tunggu aku disini!"
Devan segera berlari keluar, otaknya benar-benar blank dimana dia akan mendapat mangga muda jam segini?
Beberapa menit mengemudi entah msengapa mapsnya membawa ke komples perumahan Felix.
Bak melihat sebongkah berlian Devan segera turun dari mobilnya saat melihat beberapa buah mangga didepan rumah tetangga Felix.
Senyum licik pria itu seketika mengambang, tanpa pikir lama dia menghbungi sang peguasa komplek ini.
......................
__ADS_1