
Sepanjang perjalanan Riana terus mual, wajahnya mulai pucat, tubuh sudah tidak ada lagi tenanga untuk bergerak.
"Pak Reza apa tidak sebaiknya Riana kita bawa kerumah sakit?" Wajah Momo terlihat sangat khawatir, gadis itu terus mengolesi sekujur tubuh Riana dengan minyak angin
"Nggak usah Mo, bentar lagi kita nyampe hotel. Lagian gua nggak papa ini hanya mabuk daratan Mo." Lirih Riana.
Memo menghelai nafasnya panjang. "Yau udah... Tumben banget sih lo mabuk daratan biasanya si Hendry."
"Bener Ri kamu nggak papa?" Tanya Reza yang sejak tadi mengawasi sang keponakan dari pantulan spion didepannya.
"Benner Om"
Sepanjang perjalana entah berapa kali Reza menghentikan mobilnya karena Riana terus mual. Maka dari itu mereka berdua pindah ke mobil Reza demi kenyaman bersama.
"Ri, lo yakin nggak papa? Muka lo pucet banget." Tanya Momo seraya mencepol rambut panjang Riana yang sejak tadi sudah acak-acakan.
"Udah? Beberapa meter lagi kita nyampe dihotel, Om akan manggil dokter untuk kamu" Tutur Reza seraya memapah Riana menuju mobil.
Benar saja hanya lima belas menit mereka bertiga sudah sampai. "Kalian diuluan! Om markir mobil dulu." Titar Reza
"Ahh.. Iya pak biar Riana sama saya."
Momo menatap heran saat langkah kaki Riana terhenti "Kenapa? Apanya sakit Ri?" Tanyanta penuh ke khawatiran.
"Mo, gua mau minum es kopi"
Tuturnya. Rasanya Riana benar-benar haus
__ADS_1
"Nggak boleh, lo belum makan apa-apa Ri. Sepanjang jalan lo terus muntah itu nggak baik untuk lambung."
Tanpa menghiraukan larangan Momo, Riana segera menuju arah kafe yang hanya bersebrangan dengan hotel tempatnya menginap.
"Ri.. Ya ampun tu anak keras kepala banget. Mana panas lagi" Meski mengeluh Momo tetap mengikuti kemauan sahabatnya itu.
Debu jalan bercampur terik matahari langit Bali seakan membakar kulit, tapi itu tidak sebanding dengan hati Riana yang memanas saat melihat suaminya bersama wanita lain.
Aku membencimu Devano.
"Riana..." Teriak Devan saat mendapati istrinya yang sudah pergi.
"Ri, lo kenapa? Bukannya mau minum es kopi?" Tanya Momo menatap heran sahabatnya yang memutar haluan, tapi Riana tidak menjawabnya gadis itu terus.
"Pak Devan?" Otak Momo kembali di penuhi tanda tanya "Ini bukan ibu kota kan?" Tampa berpikir lama gadis berambut pendek itu mengikuti sepasang suami istri yang terkadang membuat kepala pusing.
"Sayang kamu hanya salah paham." Devan mencekal tangan Riana hingga gadis itu berhenti.
Emosi Riana benar-benar tidak stabil dia ingin marah, menangis bahkan menghancurkan segalanya saat ini juga.
"Aku membencimu Devan, kau membohongiku dan aku sangat membencinya." Tegas Riana.
"Sayang kamu hanya salah paham."
Riana menghempas tangan Devan. "Jangan menyentuhku Devano. Aku muak dengan kebohonganu mu. Kau masih mencintainya kan? Kembali lah kecintamu Devan jika itu membuatmu bahagia."
Devan mengeraskan rahangnya , bicara baik-baik dengan wanitanya tidak akan menyelesaikan masalah terlebih ini ditempat umum. Tanpa berpikir panjang lagi Devan mengangkat tubuh Riana menuju hotel.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Turun kan aku Devan!" Pekikan dan pukulan Riana sama sakali tidak dihiraukan Devan. Pria itu terus menggendong istrinya ke kamar tempatnya menginap.
Didalam lift Devan menurunkan Riana, menggenggam erat tangan gadis itu yang sejak tadi memberontak. Devan kembali menggendongnya hingga kini hanya ada mereka berdua dikamar itu.
Riana yang baru ingin membuka pembicaraan harus terhenti saat Devan membungkam mulutnya dengan ciuman, pria itu seakan ingin mati jika tidak mencium wanitanya, batinnya meringis melihat gadisnya menitikkan air mata.
Apa ini Riana membalas ciuman Devan yang sangat bertolak belakang dengan pikirannya. Pria ini sangat pandai meluruhkan hatinya
Dengan sekuat tenaga Riana mendorong tubuh kekar pria dewasa itu. "Jangan menyentuhku lagi Devano."
Devan menatap lekt wajah cantik istrinya lalu menarik tunuh Riana mendekapnya penuh cinta. "Aku mencintaimu Riana, sangat mencintaimu sayang" Lirihnya. Riana yang tadinya memberontak mulai melemah.
"Aku mencintaimu Riana" Ucapnya tulus bahkan matanya seakan ikut berbicara.
Devan kembali mengecup bibir Riana kali ini penuh kelembutan melepaskan kerinduan pada wanitanya. Satu perstu Devan melepas kanci baju wanitanya hingga gadis itu polos tanpa sekat.
Kemana tadi emosi gadis itu, seakan ingin meledakkan sebuah pulau. Riana larut setiap sentuhan prianya
Piluh mereka menyatu menjadi sebuah irama indah, terik diluar spertinya menerobos ke ruangan persegi yang sudah dilengkapi pendingin ruangan itu tidak membuat sedikitpun neghapus keringat mereka. Devan seakan tidak kehabisan cara merayu dan memanjakan wanitanya hingga membawa Riana kepada dunia paling indah yang mereka ciptakan.
Mereka berdua masih terengah Devan menarik tubuh
polos istrinya kedalam dekapannya.
"Jangan membuatku khawatir sayang! Aku hampir gila melihat mu tadi." Tidak ada jawaban dari Riana. Devan menunduk melihat wajah Riana, ternyat dia tertidur. Seutas senyum bahagia mengamba g diwajahnya hingga dia pun ikut terlelap
......................
__ADS_1