
"Nyonya mau langsung pulang?" Tanya pak Diman supir keluarga Andreas.
"Pak, bisa anter Riana ke rumah Riana yang dulu? Soalnya ada beberapa berkas yang Riana ingin ambil disana"
Tanpa menjawab lagi pak Dimana mengambil arah menuju rumah Riana.
Sepanjang perjalanan gadis itu terus menghubungi Momo yang tiba-tiba hilang ditelan bumi.
"Apa dia bener-bener nikah dengan salah satu member BTS?" Gumamnya.
*
Masih sama seperti biasa rumah ini tidak berubah sedikit pun, hati Riana kembali meringis mengingat kakanya yang entah dimana saat ini berada.
Riana menutup matanya agar perasaannya sedikit tenang, dia langsung meninggalkan kamarnya setelah mendapat apa yang dia cari.
Langkah Riana terhenti saat ingin keluar ketikaka mendengar suara aneh dari sebuah ruangan yang dia lewati.
"*Alia cukup!"
"Kenapa kakak sembuyiin dari Alia? Jika Nona Riana menikah dengan Devan kak*?" Ucap Alia sudah berlinang air mata. "Kaka tau bagaimana aku sangat menyukainya, ini semua salah ayah andai dia tidak menggelapkan dana perusahaan, mungkin kita telah menikah ka."
Adam menajamkan matanya dia mendorong tubuh Alia hingga bersandar di tembok.
"*Cukup Alia, cukup! Jangan pernah mengatakan hal itu lagi atau aku akan..."
"Akan apa? Pukul aku kak*!" Potong Alia. "Apa kak Adam masih mencintai nona Riana?"
Adam membalikkan tubuhnya kearah Alia "*Ternyata benar, kak Adam masih menyukainya. Apa itu alasan kak Adam nekerja dengan tuan Arian menjadi bodyguard Riana? Karena kaka ingin bersamanya"
"Aliaaaaa*..." Bentak Adam seketika membuat tubuh Alia menegang.
__ADS_1
"Apa yang kau tentaku ha? Kau benar aku masih mencintainya bahkan sampai saat ini aku masih mencintainya. Tapi jika kau berfikir aku bekerja dengan Tuan Arrian karena Riana kau salah Alia, kau salah." Adam mendongak menahan air matanya agar tidak jatuh. "Aku adalah seorang pembunuh Alia, aku melenyapkan salah satu nyawa orang yang memberikan saksi palsu di persidangan ayah. Dan kau tau siapa yang membantuku dan memberikan seorang mantan napi pekerjaan setelah bebas dari penjara? Dia tuan Arrian Alia. Dan saat kamu krtis, aku yang sudah pasrah dan putus asa dengan takdir lagi-lagi keluarga ini membantuku dia Riana membayar seluruh pengobatanmu."
"Kakak..." Alia membawa Adam dalam pelukannya "Maafkan aku kak... Maafkan aku! Aku salah kakak, aku terlaalu di butkan kebencian dan iri hati kak.. Maafkan aku!"
......................
Sepanjang perjalanan Air mata Riana terus jatuh, hatinya sesak seakan tanga besar meremasnya dengan sengaja.
"Sebenarnya ada hubungan apa Devan dengan Alia? Devan kenapa kau membohongiku?"
"Nyonya tidak apa kan?" Tanya pak Diman khawatir
"Tidak apa pak Diman, antar saya ke kantor Devan ya!"
"Baik Nyonya."
Hanya butuh beberapa menit Riana sampai di depan kantor Devan, dia berjalan menunduk agar mata sembabnya tidak terlihat. Beberapa kariawan menyapanya namun gadis itu terus berjalan menuju ruangan Devan.
"Sayang.." Panggil Devan lembut.
Felix si manusia peka dia langsung mengosongkan ruangan Devan.
"Sayang, kok nggak bilang kamu mau datang?"
Riana mendongak menatap tajam suaminya. "Kenapa kau berbohong.?" Air matanya yang sejak tadi tertahan kembali tunpah begitu saja.
"Sayang, aku bohong apa? Kamu duduk dulu kita bicaraiin baik-baik."
Riana menghempas tangan Devan. "Aku membencimu Devano "
"Oke, katakan! Sebanarnya apa salahku?" Ucap Devan prustasi
__ADS_1
"Hari itu aku bertanya apa kalian saling mengenal? Kau dan Alia, tapi kau menjawab tidak. Kenapa kau berbohong? Apa yang kau sembunyikan Devan?"
"Oke maafkan aku Riana, aku tidak ingin kau khawatir karena aku tau dia adik dari Adam. Jadi, aku mengatakan tidak mengenalnya." Devan menarik nafasnya dalam. "Aku dan Alia memanh saling mengenal saat di bangku menengah papa ingin menjodohkanku dengannya, hanya saja aku tidak ingin tapi gadis itu sangat licik dia menjebakku dengan dengan sebuah foto. Disana kami terlihat sudah melakukan making love di kamar hotel, awalnya aku tidak perduli karena aku tidak melakukannya. Tapi karena obsesinya, dia dengan tidak mulunya memperlihatkan foto itu ke papa. Untung saja salah satu sahabatku menyimpan rekaman cctv aslinya sehingga aku tidak jadi menikahinya." Jelas Devan.
"Tapi kenapa kau bilang tidak mengenalnya? Aku benci kalau dibohongi."
Pelan Devan membawa Riana kedalam pangkuannya, menyelipkan anak rambut yang sudah berani menghalangi pandangan pria bermata tajam itu.
"Kan aku sudah katakan, aku tidak mau kau memikirkannya sehingga menganggu calon anakku didalam sini." Ucapnya lembut
"Maafkan aku sayang! Aku hanya tidak ingin kau memikirkan sesuatu tidak penting seperti itu. Saat kau dan anak kita adalah duniaku Riana, kau mengerti?"
"Hem.."
Riana memanyunkan bibirnya, membuat Devan gemas sendiri, pelan dia membenamkan bibirnya. Riana tidak menolak apa yang Devan lakukan, lihat saja gadis itu selalu memejamkan matanya saat Devan kembali mendaratkan ciuman yang kedua dibibirnya.
"Sayang..." Mata Riana membola saat merasakan sesuatu dibawah sana mulai bereaaski mengganjal pahanya.
"Tidak..."
"Aku akan pelan sayang, janji"
"Devan ini dikantor, bagaimana bisa kau melakukannya disini?"
Ucapnya kesal
Tanpa menjawab pertanyaan Riana, Devan mengangkat tubuh gadis itu ke belakang meja kerjanya. Sepertinya kali ini Devan mengalah dia tidak mendapat kan keinginannya namun wajah Riana yang tertidur pulas membuatnya begitu bahagia.
"Hay child jangan buat mami kesusahan ya jagoan. Jangan ganggu mami juga, dia lagi tidur biarkan ayah bekerja dengan tenang." Bisiknya diatas perut Riana.
......................
__ADS_1