Promise

Promise
41


__ADS_3

*


Melihat tatapan Riana ya g sudah kegaglapan timbul dibenak pria itu menggoda istrinya. "Kenapa sayang? Apa kau sudah siap?" Devan semakin memajukan tubuhnya seiring dengan itu Riana juga ikut mundur


Devan menarik tubuhnya saat suara cicit pintu terbuka.


"Riana, kamu tidak papakan sayang?" Ucap Lily, seraya mendorong tubuh Devan agar menjauh."


"Ma..."


"Mama aku tidak apa, ini cuman kecapean kok ma"


"Riana, jika kamu di rumah sakit itu artinya kau tidak baik-baik saja sayang. Apa kata dokter kamu kenapa?


Sejujurnya Lily penu harap semoga saja sakitnya Riana ini membawa kehidupan baru didalam sana.


"Ri.."


"Riana kena gejala tipes ma" Potong Devan. "Mikirnya jangan aneh-aneh." Devan yang mengerti ibunya sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran Lily


"Ih ngga ada salahnya mama mengharap Devan?"


"Sabar mama sebentar lagi pasti Devan kasih kok."


Riana yang tidak mengerti hanya bisa diam dan bertanya dalam hati, apa yang mereka bicarakan? Apa yang Devan akan kasih ke mama? Ahh... Riana tidak ambil pusing toh dia tidak terlibat.


...*...


Pagi kembali menyapa, namun pagi ini awan mendung menyelimuti lagit ibu kota sepertinya akan turun hujan atau hanya sekedar mendung saja. Seperti pepatah mengatakan mendung belum tentu akan turun hujan dan terkadang Tuhan hanya mempertemukan tapi tidak menyatukan.


Dr. Angga baru saja selesai memeriksa keadaan Riana, Devan yang ada meting pagi ini harus menundanya terlebih dahulu demi sang istri.

__ADS_1


"Kau bisa keluar hari ini! Tapi, nanti setelah cairan infus mu habis Riana." Ucap Dr. Angga


"Maksih kak" Ucap Riana hanya diangguki Angga, pria itu keluar dari kamar inap Riana. Kini menyisahkan sepasang suami istri itu.


"Kamu tidak apa kan aku tinggal sebentar? Aku janji setelah rapat selesai aku akan menjemputmu." Devan mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


"Tidak apa kak..".


"Yakin, tidak apa?"


"Iya... Kamu kekantor saja, sebentar lagi Momo sama Hendry pasti kesini"


"Kok bisa?" Ucap Devan heran, setaunya kedua sahabat Riana itu juga magang dikantornya.


"Karena hari ini ada evaluasi bulanan jadi mereka pasti membawa laporan itu ke masing-masing pembimbing. Setelah itu mereka akan kesini"


"Kalau begitu aku kekantor dulu. Kalau ingin sesuatu kamu suruh saja si Angga jangan sungkan-sungkan." Riana mengangguk dengan senyum manisnya. Langkah Devan berhenti tepat didepan pintu, pria itu memutar badannya kembali ke arah Riana.


"Hem.." Angguk Devan


"Apa?"


Cup, Devan mendaratkan ciumannya dipipi Riana "Aku melupakan itu."


*


"Saya mohon sus! Saya akan bayar biaya oprasinya tapi saya mohon selamatkan terlebih dahulu nyawanya."


Suara yang sangat akrab ditelinga Riana membuat langkah kaki gadis yang masih memakai pakaian rumah sakit harus terhenti. Pelan Riana mendekat benar dia Pak Adam .


"Pak Adam." Pria bertubuh tegap itu berbalik saat Riana memanggilnya.

__ADS_1


"Nona muda" Ucap pak Adam seraya menundukkan kepalanya. "Apa yang terjadi pada anda? Kenapa bisa berada disini?" Ucap pak Adam, bahkan wajahnya terlihat cemas.


"Ouh... Riana cuman kecapean pak, hari ini Riana boleh pulang hanya menunggu cairan ini habis" Riana mendongak melihat cairan infus yang bergelantungan diatasnya.


"Pak Adam sendiri kenapa disini? Bapak sakit?"


"Hemm itu nona, adik saya yang sakit hari ini dia harus di oprasi tapi..." pak Adam menggantung ucapannya wajahnya pun seperti menyimpan beban.


"Tapi... Kenapa pak? Apa ada masalah?"


"Tidak apa nona, kalau begitu saya permisi dulu! Saya akan mengunjungi nona nanti" Pak Adam menundukkan kepalanya seraya berlari kecil meninggalkan Riana.


Riana terus menatap punggung pa Adam hingga hilang dibalik pintu lift. Riana memutar lehernya menatap wanita dimeja administrasi.


"Sus, saya mau tanya bapak tadi kenapa ya? " Tanya Riana.


"Oh adik dari bapak Adam Wijaya seharusnya kemarin di oprasi akan tetapi terkendala di biaya jadi, pihak rumah sakit menundanya." Jelas perawat itu.


Hati Riana seakan teriris sebilah pedang bagaimana bisa dia tidak tahu keadaan orang yang selama ini melindunginya bahkan Riana dan kakanya sudah menganggap pak Adam seperti keluarga sendiri.


"Berapa semua biayaanya?" Tanya Riana dengan wajah penuh keseriusan.


Sedangkan suster yang tidak tahu siapa gadis didepannya ini terlihat ragu menyebutkan nominal keseluruhan biaya pengobatan adik Adam.


"Sus, kalau sampai pasien itu meninggal karena terlambat dioprasi saya tidak segan-segan menuntut suster dan rumah sakit ini." Ucap Rian dengan level wajah keseriusannya sudah mencapai 100%


"Duaratus lima puluh juta Nona."


"Kalau begitu suster ikut kekamarku! Aku akan melunasi semuanya." Riana berlalu dengan langkah sedikit berlari. Andai gadis itu memiliki kekuatan gomu-gomu seperti Luffy simanusia karet (Karakter anime one piece) dia tidak perlu menunggu begini didepan lift.


......................

__ADS_1


__ADS_2