Promise

Promise
96


__ADS_3

Riana masih mondar mandir didepan pintu masuk rumahnya, matanya tak henti melirik jam yang bergelantungan didinding rumahnya. Raut wajahnya begitu cemas.


"Sayang kamu kenapa?" Riana membalikkan badannya menatap Devan sedang menggendong Zoya.


"Kak Arrian, dari tadi malam sampai soreh begini dia nggak pulang-pulang sayang. Aku takut dia kenapa-napa"


"Kamu udah hubungi ponselnya?"


"Udah, tapi nggak diangkat-angkat." Ucapnya.


"Yaudah kamu nggak usah khawatir, aku akan hubungi seseorang untuk mencarinya." Ucap Devan menyerahkanZoya pada Riana.


Belum juga Devan meningglkan tempatnya berpijak, mobil hitam berhenti tepat didepan rumah mereka. Ada kelegaan di hati Riana saat melihat kakaknya turun dari mobil itu.


"Kak Ar.."


"Nanti kita bicara, aku ingin mandi dulu" Potongnya, Arrian langsubg berlari kekamarnya. Namun, terhenti tepat di depan pintu. "Kalian berdua siap-siap! Pakai pakaian formal, oke!" Ucapnya.


"Dia kenapa sih? Dan apa itu ditangannya?" Tunjuk Riana pada kotak birru di genggaman Arrian.


Sepanjang Riana menunggu di otaknya sudah banyak pertanyyan dan omelan yang ingin dikeluarkan pada kakaknya itu.


Saat Arrian keluar dari kamarnya, pria itu sudah lengkap dengan Tuxedo abu-abu melekat di badannya. Riana semakin dibuat bingun, begitupun dengan Devan.

__ADS_1


"Kak Arrian, sebenarnya apa yang terjadi sih? Semalam kakak nggak pulang san sekarang sudah mauo pergi lagi dengan pakaian seperti penganti laki-laki begini."


Arrian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti.


"Kau benar Riana, hari ini aku akan menikah."


Riana yang benar-benar tidak mengerti hanya bisa memegang kepalnya yang tiab-tiba sakit.


"Kak Ar, jangan main-main sama aku deh. Kaka hanya pergi selama 27 jam dan sekarang tiba-tiba bilang ke aku mau nikah, kakak gila apa?"


"Aku serius Riana, hari ini aku akan menikah. Makanya semalam aku nggak pulang itu karena aku nyiapin pernikahan aku."


"Ahh... Karena itu kamu hubungi aku malam-malam saat aku dan istriku..." Devan menjeda ucapannya. "Wah... Lo luar biasa banget Ar."


"Jadi, tadi malam Ar hubungin aku. Katanya mau minjem ballroom salah satu hotel kita sayang. Aku nggak tau ternyata dia mau pake nikahan." Jelas Devan.


Riana menutup matanya berusaha menenangkan dirinya. "Oke, kak Arrian nikah hari ini. Terus nikahnya sama siapa kak? Aku bukan tipe mentang hubungan seseorang, tapi setidaknya biarkan aku melihatnya dulu."


Arrian mengelus lembut pucuk kepala adiknya lalu tersenyum simpul. "Kau akan mengetahuinya nanti adik kecilku. Sekarang pergi siap-siap! Akadnya akan dimulai jam tujuh malam."


"Apa? Kak Arrian, kau benar membuatku kesal." Riana langsung mengambil Zoya lalu berlari menuju kamarnya.


Untung saja kemarin dia sempat membuat gaun untuknya dan Zoya.

__ADS_1


Dibawah sana Devan berulang kali mendongak ke lantai atas, menunggu Riana turun.


"Zoya, apa yang mami lakukan diatas sana? Uncle Ar sebentar lagi akad nikah" Zoya menggeleng, nyatanya susu yang dia minum lebih asik dari segalamya di bumi ini.


"Kamu jangan kayak mami ya! Kalau dandan, papi bisa nyelamatin dunia dulu baru mami mu selesai dandan." Ucap Devan kelas.


Pria itu beraninya menggurutu tidak jelas jika istrinya tidak ada, coba saja kalau Riana disitu hanya pujian manis keluar dari bibirnya.


Beberapa menit kemudian Riana turun sedikit berlari, dia begitu cantik dengan gaun putih bertabur gliter, rambutnya dia biarkan menjuntai kebawah.


......................


Riana



Devan



Zoya


__ADS_1


__ADS_2