
Hyerin POV,
hari ini ayah dan ibu memutuskan untuk menginap, mereka bilang aku masih belum sehat dan harus banyak istirahat. mereka bersedia membantuku menjaga Jian untuk 3 hari kedepan, Jimin juga mau tidak mau harus menyetujuinya karena itu keinginan orang tuanya. aku sedikit tenang jika ada ayah dan ibu yang bersedia membantuku. setidaknya aku bisa istirahat sejenak dari sikap Jimin yang mungkin akan memukuliku lagi.
malam itu setelah selesai makan malam, tiba-tiba Jimin berkata kalau dia lelah dan ingin tidur. ayah dan ibu percaya karena belakangan ini Jimin juga menjagaku dan bekerja tanpa libur.
"Hyerin, temanilah suamimu. layani dia" ucap ayah mertuaku.
"iya Hyerin, Jimin terlihat sangat lelah. sebaiknya kalian berdua istirahat bersama. biar kami yang mengurus Jian" timpal ibu Jimin.
"tapi apakah tidak apa-apa?"
"heii, kami ini orang tuamu juga. jangan merasa tidak enak hati" ucap Ibu.
"iya Hyerin, kami orang tuamu disini"
"baiklah, aku sudah memompa ASI untuk Jian. ibu bisa memintanya pada Bibi Kim kalau Jian menangis" ucapku.
"iyaa, sudah sana temani suamimu" usir ayahku yang terlihat agak senang. ntahlah apa yang ada dipikiran mereka tapi ya sudahlah aku akan menuruti mereka saja agar tidak terlihat bahwa sebenarnya kami tidak saling mencintai.
aku berjalan menuju kamar Jimin, jantungku berdetak hebat yang aku sendiri bisa mendengarnya. sebenarnya aku sangat takut untuk menemuinya tapi daripada ayah dan ibu curiga, biarlah.
ku buka pintu yang tidak di kunci, aku yakin Jimin juga terpaksa melakukannya. aku lihat dia duduk di sebuah kursi goyang di sudut kamar dengan jendela kamar yang tirainya terbuka.
ia memejamkan matanya rapat dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"kenapa dia tidur disana.. " aku bergumam dan mendekatinya. tidur dengan posisi seperti itu pasti tidak nyaman. ku sentuh sedikit jemarinya yang dingin dan tiba-tiba matanya terbuka, tangan yang jemariku ku sentuh tiba-tiba menarikku dan terjatuh di pangkuannya.
"apa yang kau lakukan?"
sungguh, jantungku rasanya berhenti berdetak. Jimin menatapku dengan tajam dan mencengkram tanganku erat. tak bisa bergerak sedikitpun dan ia merapatkan tubuh kami sampai aku merasakan sesuatu yang membuatku sangat takut jika aku mengusiknya.
"itu, a-aku melihatmu tidur dengan posisi duduk. aku pikir kau akan tidak nyaman jadi berniat membangunkan mu untuk tidur di ranjang" ucapku gugup.
"oh, begitu yaa.."
hanya itu responnya, ia melonggarkan cengkeramannya dan menghela nafas pelan.
"J-Jimin, apa kau lelah? m-mau ku pijat?" jika terus berada di pangkuannya tanpa ada percakapan aku rasa aku akan mati.
"emm boleh, pijat kakiku. itu terasa panas" ucapnya.
"oh? iyaa.."
jantungku hampir berhenti aku pikir dia tidak akan setuju, tapi syukurlah setidaknya ada alasanku untuk tidak saling diam dengannya. ku ambil kursi bundar disamping dan dia meluruskan kakinya. wajahnya agak sedikit pucat, Jimin sangat lelah. perlahan ku sentuh kakinya yang agak panas, jemarinya dingin dan telapaknya pucat. dengan hati-hati dan sangat lembut aku mulai memijatnya.
"Hyerin.."
"ya??"
"kenapa kau mencintai pria jahat sepertiku? perlakuanku kemarin, seharusnya membuatmu enggan hidup bersamaku kan?" Ucap Jimin tiba-tiba.
aku tidak menjawab pertanyaan ini, cinta? aku sendiri tidak tau kenapa aku begitu mencintainya. tapi, berfikir untuk meninggalkannya saja aku tidak mau.
__ADS_1
"jawab"
"Jimin, aku tidak tau.. aku tidak bisa memberi alasan yang jelas yang aku tau hatiku benar-benar terpaku denganmu, bahkan untuk meninggalkanmu aku harus berfikir ribuan kali yang akan membuatku semakin tidak ingin meninggalkanmu" ucapku.
"padahal kau punya ribuan alasan untuk meninggalkanku tapi kenapa masih harus berfikir ribuan kali untuk melakukannya?" ucapnya lagi.
"J-jiminaa.. bi-bisakah kita jangan membalas ini? aku tidak, a-aku tidak akan pernah berfikir untuk meninggalkanmu meksipun kau terus menyiksaku, aku.. aku tidak akan pernah pergi"
"apakah karena Jian? kau berfikir jika kau pergi maka Jian tak akan memiliki ayah, benar?"
aku terdiam, ucapannya ini sangat benar. tapi aku benar-benar tidak ingin meninggalkannya.
"aku tak akan pernah pergi darimu kecuali kau yang menyuruhku untuk pergi, apapun yang terjadi"
tatapan kami bertemu, dia menatapku tajam dengan tatapan rendah. bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman. ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajahku. mengangkat daguku dengan lembut.
"Jimin..."
"Hyerin, hidup denganku tidak semudah yang kau bayangkan.. aku takut Jian adalah korban berikutnya, aku mengijinkanmu pergi dariku jadi pertimbangkan dengan baik kesempatan ini sebelum aku menguncimu dalam hidupku" bisiknya tajam.
apa maksudnya dia berkata begini, apakah dia akan membunuhku jika aku terkunci dalam hidupnya.
"pijat dengan benar, awas saja jika kakiku bertambah sakit" Ucapnya bersandar kembali dengan menikmati pijatanku.
aku bukanlah seseorang yang ahli memijat, tapi dulu ayahku selaku memintaku untuk memijat kakinya jadi aku rasa ini tidak terlalu buruk.
setengah jam berlalu aku lihat Jimin telah tertidur, aku berhenti berdiri dan menatap wajahnya yang sangat indah. bagaimana dia bisa setampan ini bahkan pada saat sedang tidur.
"selamat Tidur suamiku" Ucapku pelan.
rasanya tak bisa jauh darinya tapi dia selalu ingin aku menjauh darinya. aku memutuskan untuk tidur dengannya tapi, aku harus duduk dilantai dan tidur.
"Jimin maafkan aku, kakimu sangat dingin. aku akan membantu menghangatkannya"
aku memeluknya agar kakinya hangat, ia tak bergerak ataupun merubah posisinya. wajahnya terlihat sangat lelah. suara jarum jam terdengar dikamar yang luas ini, aku mulai tertidur mengikuti ketukan jam dinding dengan duduk dan memeluk kaki suamiku.
*
*
Pukul 07.00 kst
"ughh... apa yang menindih kakiku.. awwhh.."
Jimin, dia terbangun karena sinar matahari mulai terlihat. aku juga terbangun karena Jimin menggerakkan kakinya dan ku dengar ia mengeluh.
"kau"
"ahh p-pagi Jim.." ucapku gugup dan langsung berdiri.
"ssss.. keram sekali.." kakinya keram aku merasa bersalah karena menindih kakinya.
"aku akan bantu.."
__ADS_1
brukk!!
"awwhh.."
aku terpental, Jimin menendang perutku dengan keras. baru sedikit ku sentuh kakinya ia menendang ku dengan kuat.
"siapa yang mengijinkanmu menyentuh kakiku dalam keadaan keram? lancang!" ucapnya kasar.
"a-aku hanya ingin membantumu" Aku gugup, sangking gugupnya aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan.
"aaassshhh... sakit sekali.. awwhhh tubuhku sangat pegal.."
aku masih terdiam memegangi perutku, aku tumbang dan terduduk dilantai secara tiba-tiba karena dorongan kuat yang Jimin berikan. sangat sakit dan ngilu tapi aku tak boleh mengeluh dihadapannya.
"ahh Hyerin.. beraninya kau membuat tubuhku sakit" ucapnya mulai berdiri dan mendekatiku. tidak, aku tidak mau disiksa.
aku mundur dengan sisa tenagaku yang belum terkumpul, takut jika Jimin melakukan hal mengerikan lainnya. langkahnya semakin dekat, perutku sangat sakit dan ngilu tapi aku harus bagaimana.
"Jimin aku, a-aku minta maaf.. semalam kakimu sangat dingin aku mencoba untuk menghangatkan kakimu saja maafkan aku.."
tidak boleh, dirumah masih ada ayah dan ibu. jika mereka mendengar keributan maka semua akan terbongkar. ini tidak boleh terjadi, ku satukan kedua tanganku memohon padanya agar dia melepaskan aku.
"kau membuat seluruh tubuhku kaku, aku pikir aku telah mati karena kakiku tidak bisa bergerak dan hanya bermimpi. tapi ternyata kau.. kau yang melakukannya dengan alasan apa? kakiku dingin? kau akan merasakan betapa panasnya kaki ini"
bugh!!
"ugh.. t-tidak tolong jangan lagi hiks.."
"kemarin ku bilang apa? eum? kau bukan hanya membuat kakiku tambah sakit tapi membuat seluruh tubuhku sangat sakit!!"
Jimin mencengkram rambutku, menariknya dan menyeretku kekamar mandi. aku takut sangat takut tak ada siapapun yang bisa ku minta tolong.
"maafkan aku hiks maaf.. aku tidak bermaksud begitu, aku.. a-aku ingin membangunkan mu untuk tidur diranjang tapi kau sangat lelap jadi aku tidak berani membangunkanmu" aku terus memohon tapi ia tak mau mendengarkan.
dikamar mandi itu Jimin mengisi air di wastafel sampai penuh. badanku gemetar aku takut jika dia berencana menenggelamkan kepalaku disana.
"Jimin tolong, tubuhmu sakit karena kau tidur di kursi. tolong jangan bunuh aku hiks tidak.."
Jimin menatapku dengan tatapan rendah yang tajam, aku ketakutan dan hanya bisa menangis. melawannya hanya membuatku tambah terluka secara fisik. ku satukan dua tanganku dihadapannya dan terus memohon. sekarang aku benar-benar tak ada harga dirinya. mahkotaku telah jatuh dan hancur terinjak oleh suamiku sendiri.
"jadi kau menyalahkan aku yang tidur dikursi? jika saja kau tidak menindis kakiku maka aku bisa berpindah sendiri di ranjang. tapi karena ulahmu aku berfikir itu mimpi buruk!! kau harus diberi pelajaran agar tidak lancang menyentuhku dengan sembarangan!!" ucapnya semakin mengeratkan cengkraman nya pada rambutku.
wastafel yang diisi dengan air dingin itu telah penuh, aku bisa melihat uap dinginnya keluar dari sana. tubuhku gemetar karena hanya dengan uapnya saja aku sangat kedinginan. dan benar, dugaanku tidak salah. Jimin menenggelamkan wajahku di wastafel itu dan menekannya dengan kuat bahkan disaat aku belum mengambil nafas.
jantungku hampir berhenti berdetak aku tidak kuat lagi tapi Jimin menarik dan akhirnya memberiku ruang. nafasku tersengal, rasanya hampir mati tenggelam.
"m-ma.. m-maaf... a-aku tidak, a-aku tidak akan lancang lagi.. uhukk uhuukk.."
"m-maafkan aku maaf,.. uhuukk"
tak ada respon apapun dari Jimin, ia semakin menguatkan cengkraman nya dan aku tau bahwa rahangnya mengeras karena emosi. aku terpejam menarik nafas dalam saat tangan Jimin menggerakkan kepalaku masuk kedalam air itu lagi.
rasanya sangat tidak adil, aku yang tidak tau apa kesalahanku langsung dihajar habis-habisan seperti ini. apakah aku ditakdirkan untuk menjadi pelampiasan suamiku saja.
__ADS_1