Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Iri Hati Sang Ibu Tiri


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya berdandan layaknya bangsawan menatap tajam ke arah Lembu Bungkul. Meski cantik, tapi ada rona bengis pada raut wajah perempuan paruh baya itu. Rambut perempuan itu telah tumbuh uban, meski dengan gelung berhias kembang melati tetap saja tak bisa menghilangkan kesan menakutkan di wajahnya.


Dia adalah Dewi Kawiswari, ibu tiri Lembu Bungkul. Ayah Lembu Bungkul adalah Patih Kadipaten Matahun yang bernama Lembu Yodha.


Ibu Lembu Bungkul dan Rara Maheswari adalah Dewi Padmani, meninggal dunia setelah kelahiran Rara Maheswari. Setelah itu Patih Lembu Yodha memilih untuk tidak menikah untuk membesarkan kedua buah cintanya dengan Dewi Padmani.


Karena satu alasan tak jelas, Patih Lembu Yodha akhirnya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu bekas istri Tumenggung Matahun yang tewas di medan laga. Satu hal yang pasti, Dewi Kawiswari adalah adik tiri Adipati Matahun, Arya Permada. Dari pernikahan kedua ini, lahir seorang anak perempuan yang bernama Dewi Kusumawati.


Awalnya sikap Dewi Kawiswari sangat baik pada Lembu Bungkul dan Rara Maheswari, namun setelah memiliki Dewi Kusumawati, perangai Dewi Kawiswari berubah drastis. Entah kesambet setan dari mana, dia jadi begitu membenci Lembu Bungkul dan Rara Maheswari. Berbagai macam cara dia lakukan agar Lembu Bungkul dan Rara Maheswari tidak kerasan tinggal di rumah, mulai memfitnah Lembu Bungkul yang tidak tahu tata krama istana hingga menuduh Rara Maheswari berhubungan dengan kasta rendah.


Puncak dari semua itu, Lembu Bungkul dan Rara Maheswari memilih untuk berguru pada Resi Mpu Dharma di Bukit Kapur Utara sebagai alasan untuk meninggalkan Kepatihan Matahun. Tentu saja Dewi Kawiswari merasa puas dengan keberhasilan nya menyingkirkan dua anak tiri nya dari Kepatihan.


Setengah windu telah berlalu dan kini Lembu Bungkul dan Rara Maheswari muncul di Kepatihan Matahun, tentu saja Dewi Kawiswari merasa terancam. Tapi Lembu Bungkul dan Rara Maheswari yang sekarang berbeda dengan 4 warsa yang lalu.


"Apa yang kau maksud, Kanjeng Dewi Kawiswari?


Apa aku salah pulang kemari? Seingat ku, Kanjeng Romo Patih selalu meminta aku dan Maheswari untuk pulang", Lembu Bungkul menatap tajam ke arah Dewi Kawiswari.


Kaget Dewi Kawiswari melihat perubahan sikap Lembu Bungkul. Dulu jika dia memarahinya, Lembu Bungkul hanya diam saja dan memilih untuk mengalah. Tapi kali ini sorot mata tajam keluar dari tatapan putra tiri nya itu.


"Kau.. Kau berani melawan ku? Anak macam apa kau ini?", Dewi Kawiswari menuding wajah Lembu Bungkul yang masih lebam setelah pertarungan nya melawan Tunggul Manik.


"Kenapa Kakang Bungkul harus tunduk pada mu, penyihir tua?


Ini adalah tempatnya, dia juga punya hak untuk tinggal di sini. Kau hanya seorang ibu tiri. Sudah cukup penderitaan kami karena terlalu takut pada mu. Mulai hari ini jika kau macam-macam dengan kami, tidak ada lagi kata segan untuk mu ", sahut Rara Maheswari dengan sengit.


Semua orang terkejut melihat pertengkaran antara anggota keluarga Kepatihan Matahun itu. Rombongan Arya Pethak sendiri memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi mereka.


Dewi Kawiswari sampai kehabisan kata-kata untuk menghadapi kedua anak tiri nya itu. Perubahan sikap mereka berdua begitu besar.


"Kalian berdua ingat, masalah ini tidak selesai sampai disini", ujar Dewi Kawiswari sambil berbalik arah menuju ke dalam Kepatihan Matahun.


"Jangan dengarkan ocehan wanita tua itu. Kita tidak perlu masuk ke dalam Kepatihan Matahun, aku dan Maheswari punya tempat tersendiri disini.


Kita beristirahat disana saja ", ujar Lembu Bungkul yang segera beranjak dari tempatnya dan memapah Resi Mpu Dharma bersama Rara Maheswari ke arah samping Kepatihan Matahun. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat rapi dan bersih nampak berdiri di samping Kepatihan dengan jarak kurang lebih 50 depa.


Lembu Bungkul tertegun sejenak sebelum mulai memasuki beranda rumah itu.


'Rupanya Kanjeng Romo Patih tetap merawat rumah ini selama aku dan Maheswari tidak tinggal disini', batin Lembu Bungkul.


Setelah merebahkan tubuh Resi Mpu Dharma yang masih lemah di salah satu kamar, Lembu Bungkul menemui dua orang juru masak Kepatihan untuk menyiapkan makanan bagi Lembu Bungkul dan kawan-kawan nya. Setelah memberikan perintah, Lembu Bungkul bergegas menemui Arya Pethak dan kawan-kawan nya di serambi kediaman nya.


"Saudara Lembu Bungkul,


Sebaiknya kami meneruskan perjalanan. Kami mohon diri", ujar Raden Wira Ganggeng dengan sopan.


"Raden Wira Ganggeng, saya mohon dengan sangat untuk beristirahat di tempat ini barang semalam saja.


Lagi pula Ujung Galuh tinggal setengah hari perjalanan juga sudah sampai. Saya ingin membalas kebaikan yang sudah kami terima. Kami tidak ingin berhutang budi pada kalian", Lembu Bungkul menatap wajah Raden Wira Ganggeng dengan penuh permohonan.


"Saudara Pethak,


Bagaimana menurut pendapat mu?", Raden Wira Ganggeng menoleh ke arah Arya Pethak.


"Di rombongan kita, pemimpin nya adalah Raden Wira Ganggeng. Saya ikut keputusan Raden Wira Ganggeng saja", Arya Pethak tersenyum tipis.


"Ah kau ini malah ganti melempar tanggung jawab pada ku.


Saudara Wide Pitrang, kalau kau punya pendapat apa?", kali ini Raden Wira Ganggeng menoleh ke arah Wide Pitrang.


"Kalau sengko ya ikut kata Den Raden Wira Ganggeng saja ta'iye hehehehe..


Tapi kalau boleh usul, kita beristirahat di sini juga Ndak papa.. Bokong saya ini sudah nas panas naik kereta kuda itu", jawab Wide Pitrang dengan dialek khas Pulau Madura nya.


Raut wajah Lembu Bungkul langsung cerah mendengar ucapan Wide Pitrang. Raden Wira Ganggeng akhirnya menyetujui permintaan Lembu Bungkul untuk bermalam di Kepatihan Matahun.

__ADS_1


Hari masih siang. Arya Pethak, Anjani, Klungsur, Nay Kemuning memilih untuk jalan jalan di sekitar Kepatihan untuk menghilangkan kebosanan. Untung saja Arya Pethak masih memiliki kepeng perak yang cukup banyak untuk menemani dua gadis cantik itu belanja baju dan kebutuhan pribadi mereka.


Dewi Kawiswari yang tak terima dengan perlawanan yang di lakukan oleh Lembu Bungkul dan Rara Maheswari, segera keluar dari Kepatihan Matahun di temani emban setia nya. Mereka menggunakan kereta kuda menuju ke arah pinggir kota Matahun sebelah selatan yang terkenal sebagai wilayah paling berbahaya di kota ini. Selain menjadi tempat perkumpulan rahasia para penjahat, di tempat ini ada sekelompok pendekar yang bisa di sewa untuk membunuh seseorang.


Dengan menutupi kepala dengan kain selendang hitam, abdi setia Dewi Kawiswari turun dari kereta kuda dan masuk ke sebuah warung makan yang nyaris tidak ada orang yang datang. Abdi setia Dewi Kawiswari yang bernama Nyi Runting ini mendekati seorang lelaki yang berdandan layaknya seorang pelayan yang terlihat tertidur di kursi kayu di belakang meja penerima pesanan.


"Dasar tukang tidur!


Gagak Bumi, bangun! Ada tugas untuk mu!", teriak Nyi Runting sambil menggebrak meja. Tentu saja tepukan keras Nyi Runting langsung membangunkan si lelaki berpakaian pelayan warung makan yang bernama Gagak Bumi itu.


"Eit tet tet tet copot, jaran kawin nya copot..


Haihhhhh, Nyi Runting kira kira dong kalau mau bangunkan orang. Jantung ku nyaris copot nih", omel Gagak Bumi sembari mengusap sisa iler yang ada di bibirnya.


"Salah mu sendiri masih siang juga sudah molor. Untung kau kawan lama ku, kalau tidak sudah ku suruh orang lain untuk melakukan pekerjaan ini untuk ku", Nyi Runting tak kalah sengit.


"Yah begitu saja marah Nyi..


Mbok ya ingat dulu kita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Apa kau tidak ingat sewaktu kita melakukannya di tepi sungai dulu Nyi?", ujar Gagak Bumi sembari tersenyum simpul.


"Tutup mulut mu, Gagak Bumi...


Aku tidak datang kemari untuk mengingat masa lalu. Sekarang aku di perintahkan oleh majikan ku untuk mencari beberapa pendekar yang bisa membunuh seseorang di dalam Kepatihan.


Apa kau bisa mencarinya untuk ku?", Nyi Runting menatap wajah Gagak Bumi.


"Di Kepatihan ya? Bukannya tidak bisa, tapi yang susah adalah masuknya Nyi..


Para penjaga disana itu cukup merepotkan ", ucap Gagak Bumi segera.


"Urusan itu tak perlu kau cemaskan. Gerbang samping Kepatihan bisa kalian masuki dengan mudah, akan ku atur supaya tidak ada penjaga disana.


Bagaimana? Kau sanggup?", tanya Nyi Runting segera.


"Kalau begitu, beres Nyi...


"Tentu saja, majikan ku sudah menghitung nya dengan teliti. Ini 50 kepeng emas dan 50 kepeng perak. Kalau pekerjaan ini beres, majikan ku akan memberikan 50 kepeng emas dan 50 kepeng perak lagi kepada mu, Gagak Bumi", ujar Nyi Runting sambil tersenyum tipis sembari meletakkan dua kantong kepeng emas dan perak keatas meja. Mata Gagak Bumi langsung berbinar binar melihat tumpukan kepeng emas dan perak di hadapannya. Pria itu segera berdiri sambil terlihat memikirkan sesuatu.


Hemmmmmmm


"Boleh juga, tapi aku masih ada satu syarat lagi jika ini berhasil. Anggap saja sebagai hadiah tambahan untuk ku", Gagak Bumi menyeringai lebar sambil berdiri di dekat Nyi Runting.


"Apa yang kau minta Gagak Bumi? Jangan macam-macam kau", Nyi Runting melotot lebar ke arah Gagak Bumi.


"Tidak aneh aneh kog. Aku cuma minta kau temani aku tidur semalam saja hahahaha.


Bagaimana? Terima saja, kalau kau tidak mau silahkan cari orang lain untuk melakukan pekerjaan ini", Gagak Bumi tersenyum penuh kemenangan.


"Huhhhhh dasar licik..


Baiklah, jika kau mampu menyelesaikan tugas ini dengan cepat dan rapi, jangankan satu malam, aku akan tidur dengan mu selama tiga hari sebagai hadiah tambahan mu", jawab Nyi Runting sambil tersenyum tipis.


"Hahahaha sepakat kalau begitu..


Sekarang kau bisa pulang ke Kepatihan Matahun, Nyi Runting. Siapkan dirimu untuk melayani ku lagi.


Lalu kapan aku bisa bergerak?", Gagak Bumi dengan iseng meremas bokong Nyi Runting.


"Malam ini juga", jawab Nyi Runting singkat sembari melangkah keluar dari warung makan itu.


Gagak Bumi terus menatap ke arah Nyi Runting sambil menyapukan lidahnya ke bibir.


Nyi Runting bergegas menuju ke arah kereta kuda di luar warung makan. Tak berapa lama kemudian kereta kuda bergerak meninggalkan tempat itu.


"Bagaimana Runting? Beres?", tanya Dewi Kawiswari setelah kereta kuda berjalan menjauh.

__ADS_1


"Beres Gusti Dewi. Malam ini juga mereka akan bergerak. Tapi mereka juga meminta agar di beri jalan masuk lewat pintu samping Kepatihan", lapor Nyi Runting segera. Kaki tangan Dewi Kawiswari itu benar benar setia dengan majikannya.


"Itu masalah kecil, kau atur supaya para penjaga pintu samping lengah sebentar saja.


Malam ini Lembu Bungkul dan Rara Maheswari harus mati agar tidak menjadi duri dalam daging ku di masa depan. Dengan keberanian yang di tunjukkan mereka tadi, itu sudah menjadi tanda bahwa mereka perlu aku lenyapkan", ujar Dewi Kawiswari sambil tersenyum sinis.


Istri Patih Lembu Yodha itu ingin di masa depan agar Kepatihan Matahun ada dalam genggaman nya. Dia juga ingin membuat perjodohan antara Rara Maheswari dengan Raden Wijayakrama dari Ujung Galuh berubah menjadi perjodohan dengan putri nya, Dewi Kusumawati. Hanya dengan melenyapkan Lembu Bungkul dan Rara Maheswari, semua tujuan nya bisa tercapai. Wanita paruh baya itu benar-benar mabuk kekuasaan dan harta.


Sore segera berganti senja dengan semburat jingga di langit barat Kota Kadipaten Matahun. Para pedagang mulai kembali menutup lapak dagangan mereka. Begitu juga para petani dan peladang, mereka bergegas menuju ke rumah mereka masing-masing untuk beristirahat setelah bekerja seharian di lahan pertanian mereka. Perlahan jalanan Kota Kadipaten Matahun berangsur sepi. Hanya satu dua orang yang terlibat berlalu lalang di jalan raya. Hanya ada beberapa tempat makan yang buka di malam hari itu, terlihat dari beberapa lampu minyak jarak menerangi.


Dari arah selatan kota, terlihat 8 orang berpakaian hitam-hitam bergerak lincah dan menggunakan kegelapan malam sebagai samaran mereka. Mereka adalah Gagak Bumi dan orang orang nya yang berniat untuk menghabisi nyawa Lembu Bungkul dan Rara Maheswari.


Di Kepatihan Matahun sendiri, Arya Pethak, Klungsur dan Anjani serta Nay Kemuning tengah duduk di sekeliling api unggun yang menyala bersama dengan Lembu Bungkul dan dua orang pengawal pribadi Raden Wira Ganggeng yang mendapat giliran jaga malam hari itu.


"Saudara Bungkul,


Aku punya pertanyaan sedari tadi yang begitu membuat ku penasaran. Mohon kau menjawab nya.


Apa sebenarnya isi dari Kitab Pusaka Sabda Buana yang di inginkan oleh orang orang itu?", Arya Pethak menatap wajah Lembu Bungkul.


"Aku pernah mendengar bahwa isi kitab itu adalah beberapa ilmu kebatinan tingkat tinggi yang membuat orang yang memiliki nya akan menjadi pendekar pilih tanding, Saudara Pethak.


Tapi aku sendiri juga belum pernah melihat nya langsung dengan mata kepala ku sendiri. Aku takut jika itu hanya kabar burung yang di hembuskan orang orang dunia persilatan untuk memburu guru ku saja", jawab Lembu Bungkul sembari menghela nafas panjang.


"Kalau hanya kabar burung, kenapa Resi Mpu Dharma tadi mengatakan tidak akan menyerahkan nya pada kakak seperguruan mu tadi? Bukankah itu sama saja dengan mengakui kalau kitab itu ada di tangan guru mu?


Eehh ngomong apa aku ini? Maaf saudara Bungkul, kau jangan berpikiran aku juga ingin memiliki kitab pusaka itu. Aku rasa ilmu ku yang aku miliki sekarang sudah lebih dari cukup", Arya Pethak tersenyum penuh arti.


Saat mereka tengah asyik berbincang, tiba tiba saja...


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!


Dua buah anak panah melesat cepat kearah Lembu Bungkul. Arya Pethak yang pendengaran nya begitu tajam, langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah dua anak panah itu.


Blllaaaaaarrr!!


Dua anak panah itu langsung hancur berkeping keping. Di saat yang bersamaan, muncul beberapa orang berpakaian serba hitam mengepung mereka.


"Ada yang cari mati rupanya"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat malam semuanya..


Yang masih punya kopi, hayuk gaskan lahhh..

__ADS_1


Kita begadang lagi malam ini hehehe..


__ADS_2