Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Dendam Kesumat


__ADS_3

"Ada urusan apa kalian ke Kadipaten Kembang Kuning, Arya Pethak?


Kalian butuh waktu paling cepat 4 hari berkuda untuk sampai kesana jika dari tempat ini", tanya Mpu Naya. Lelaki paruh baya berambut putih itu nampak sedang berpikir keras tentang sesuatu.


"Kami sedang mencari keberadaan saudara kami yang di culik oleh Raden Margapati dengan bantuan Kelompok Kalajengking Hitam dari Bojonegoro.


Menurut salah seorang anggota dari Kalajengking Hitam, saudari kami di antar ke tempat Raden Margapati di Kembang Kuning. Maka dari itu kami berniat untuk kesana ", jawab Arya Pethak sambil mengelus dagunya.


"Kalau begitu kalian bisa mencari nya di kota Kadipaten Kembang Kuning. Aku dengar Adipati Wiraprabu memiliki banyak selir. Mungkin saja orang yang kalian cari adalah salah satu putra nya", ujar Mpu Naya sembari tersenyum tipis.


"Aku ucapkan terima kasih atas petunjuk mu, Ki Lurah. Besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Kembang Kuning", sahut Nyi Sawitri dengan cepat. Perempuan paruh baya itu benar-benar khawatir dengan keselamatan Rara Larasati muridnya.


"Aku juga setuju Nini Dewi.. Semakin cepat kita berangkat, semakin cepat kita menyelamatkan Seta Wahana", sambung Randu Para sambil mengangguk cepat.


Obrolan mereka tersebut terdengar oleh Sekar Rahina dan Puspa Dewi yang tengah membawa nampan berisi beberapa jenis hidangan yang sudah di persiapkan untuk makan malam mereka. Raut muka dua gadis cantik itu langsung murung mendengar perbincangan antara Mpu Naya, Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Namun dua gadis cantik itu terus melangkah masuk ke serambi depan untuk menghidangkan makanan seperti biasa.


Usai meletakkan piring piring dan bakul nasi di depan mereka, Sekar Rahina dan Puspa Dewi langsung bergegas mundur kembali ke dapur.


"Bagaimana ini Kangmbok? Kakang Pethak mau pergi jauh ke Kembang Kuning.


Dengan wajah tampan nya juga kepandaian ilmu beladiri yang tinggi, pasti banyak menarik perhatian para gadis cantik di perjalanan nya", ujar Puspa Dewi yang naga-naganya tidak rela kalau Arya Pethak meninggalkan tempat itu.


"Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, Dewi..


Dia memang hanya singgah di tempat kita, karena tujuan utamanya adalah Kadipaten Kembang Kuning untuk membantu penyelamatan murid wanita tua itu dan putra lelaki yang berkumis tipis.


Sudahlah, kalau nanti kita memang berjodoh dengan nya, pasti akan ada jalan yang di berikan oleh Hyang Akarya Jagat", Sekar Rahina menghembuskan nafas panjang. Dia pasrah saja karena dia tahu bahwa ada hal penting yang harus dilakukan oleh Arya Pethak.


Malam semakin larut. Suara burung hantu bersahutan dari ranting-ranting pohon besar semakin menambah suasana sunyi dan sepi.


Keesokan paginya, Klungsur yang baru bangun pagi segera menuju ke arah kamar tidur Arya Pethak. Pemuda bogel itu segera mengetuk pintu kamar Arya Pethak dengan keras.


Thookkk thok thookkk!!


"Ndoro Pethak, sudah pagi Ndoro..


Waktunya untuk berangkat ke Kembang Kuning.


Ndoro Pethak, bangun Ndoro", ucap Klungsur sambil terus mengetuk pintu kamar Arya Pethak.


Hening.


Tak ada jawaban dari dalam kamar.


'Ndoro Pethak tidur apa pingsan sih?', batin Klungsur sambil kembali mengetuk pintu kamar.


Anjani yang kebetulan baru saja dari tempat mandi di belakang rumah Lurah Mpu Naya, menatap heran kearah Klungsur. Perempuan cantik itu segera mendekati Klungsur.


"Kau sedang apa Sur?", tanya Anjani sambil menatap heran kearah Klungsur.


"Ya membangunkan Ndoro Pethak to, Anjani.


Masak kamu gak melihat?", Klungsur menoleh ke arah Anjani yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Apa? Membangunkan Ndoro Pethak?


Kamu mengigau Sur? Ndoro Pethak sudah dari tadi mandi dan sekarang orang nya sedang memasang pelana kuda nya di belakang", ucap Anjani dengan tangan kanan nya menunjuk ke arah kandang kuda.


"Hah Ndoro Pethak bangun pagi amat ya? Kog buru-buru banget?", Klungsur menggaruk kepalanya.


"Eh bukan Ndoro Pethak yang kepagian bangun nya tapi kau yang kesiangan, anak kebo..


Dasar lelet", gerutu Anjani yang segera berlalu menuju ke arah kamar tidur nya. Mendengar itu, Klungsur langsung menepuk jidatnya sendiri. Pria bogel itu langsung berlari menuju ke arah kandang kuda dimana Arya Pethak sedang memasang pelana kuda di bantu Randu Para.


Usai sarapan pagi, rombongan Arya Pethak segera melanjutkan perjalanan nya. Ki Lurah Mpu Naya mengantar mereka hingga ke tapal batas desa bersama Sekar Rahina dan Puspa Dewi. Dua bunga desa Lwaram itu menatap sendu kepergian Arya Pethak.


Rombongan Arya Pethak terus memacu kudanya menuju ke arah barat. Melewati jalan penghubung antar wilayah di Kadipaten Lasem, mereka lantas berbelok ke kanan saat sampai di pertigaan karena menurut penduduk yang mereka tanyai, itu adalah jalan menuju ke arah kota Pakuwon Cempaka yang merupakan batas wilayah sebelum memasuki Kadipaten Kembang Kuning.


Matahari sudah bergeser ke arah barat dari atas kepala saat rombongan Arya Pethak memasuki kota Pakuwon Cempaka.


****

__ADS_1


Gendrawana menatap wajah Raden Margapati dengan senyum lebar. Laki laki tua bertubuh kekar dengan tatapan mata tajam dan kumis tebal itu tampak gembira.


"Bagus sekali Raden Margapati..


Dengan perantaraan tubuh Julung Kembang, kau akan mampu menguasai Ajian Iblis Neraka dengan cepat. Jika kau mampu menguasai Ajian Iblis Neraka hingga tahap akhir, jangankan ayah tiri mu itu, tak seorangpun di tanah Jawa ini yang akan mampu menandingi kesaktian mu hehehe", ujar Gendrawana sambil tertawa lepas.


"Terimakasih guru, jika aku bisa menguasai Ajian Iblis Neraka, aku akan segera menuntut balas kematian ayah ku pada Wiraprabu.


Dengan begitu, tahta Kadipaten Kembang Kuning akan jatuh kepada ku karena saudara saudara tiri ku akan ku bunuh semuanya", ucap Raden Margapati dengan berapi-api. Bara dendam kesumat pada Adipati Wiraprabu penguasa Kadipaten Kembang Kuning benar benar membuatnya menjadi seorang yang kejam.


Adipati Wiraprabu memperistri Dewi Sekar Rinonce usai mengalahkan suaminya, Akuwu Janggan Manoreh setelah Pakuwon Semanding yang dipimpin nya melancarkan pemberontakan terhadap nya. Kecantikan Dewi Sekar Rinonce membuat Adipati Wiraprabu tergila gila kepadanya hingga memperistri janda mendiang pemimpin pemberontak itu.


Meski saat itu Dewi Sekar Rinonce telah memiliki seorang bayi tapi tidak menyurutkan niat nya untuk menikahi sang perempuan cantik asal Pakuwon Banjarnegara.


Dari pernikahan nya dengan Dewi Sekar Rinonce, Adipati Wiraprabu mendapatkan 2 anak yang menjadi saudara tiri Raden Margapati yaitu Raden Wirajaya dan Dewi Dyah Rengganis. Selain itu, Adipati Wiraprabu juga mempunyai istri lain yang bernama Niken Pandini, putri seorang resi dari Bukit Tunggul. Ada dua orang anak yang lahir dari Niken Pandini yaitu Raden Wira Ganggeng dan Dewi Saraswati.


Semula suasana di dalam istana Kadipaten Kembang Kuning adem ayem saja. Namun setelah Raden Margapati beranjak dewasa, dia merasa perlakuan berbeda dia dapatkan dari Adipati Wiraprabu. Dia yang merasa sebagai putra sulung, justru tidak diangkat menjadi putra mahkota. Adiknya, Raden Wirajaya yang menurutnya hanya kutu buku malah diangkat menjadi putra mahkota sedangkan dia hanya mendapat Pakuwon Semanding sebagai tanah lungguh nya.


Dengan hati penuh kekecewaan, Raden Margapati menerima titah Adipati Wiraprabu dan berangkat ke Pakuwon Semanding sebagai Akuwu. Suatu hari, seorang abdi dalem Pakuwon Semanding mengungkapkan kebenaran tentang jati diri Raden Margapati.


Bagai petir menyambar di siang bolong, berita itu sontak membuat Raden Margapati yang sejak awal sudah kecewa dengan sikap Adipati Wiraprabu yang tidak adil menjadi menaruh dendam kepada sang penguasa Kadipaten Kembang Kuning. Dia bertekad untuk menuntut balas kematian ayahnya.


Sejak mengetahui kebenaran itu, Raden Margapati terus berguru kepada beberapa orang pendekar hingga akhirnya dia bertemu dengan Gendrawana, tokoh sesat aliran hitam yang bergelar Raja Iblis dari Gunung Damalung.


Semua kepandaian Gendrawana di turunkan pada Raden Margapati, tinggal satu ilmu kedigdayaan tinggi terakhir yang belum dia dapatkan, Ajian Iblis Neraka. Raden Margapati sudah menguasai semua tahapan ilmu itu, tinggal tubuh gadis Julung Kembang yang sangat sulit untuk di dapat untuk memenuhi syarat utama penyerapan Ajian Iblis Neraka.


Berhasilnya Kelompok Kalajengking Hitam mendapatkan Rara Larasati benar benar hal yang sangat menggembirakan bagi Raden Margapati. Dengan ini Ajian Iblis Neraka sebentar lagi akan dia kuasai. Itu juga menjadi penentu awal pemberontakan Pakuwon Semanding sebagai wujud ketidakpuasan Raden Margapati terhadap Adipati Wiraprabu.


Gendrawana menatap matahari yang mulai bergeser ke arah barat. Mata tokoh sesat aliran hitam itu lalu menoleh ke arah timur. Dia tersenyum tipis kemudian menoleh ke arah Raden Margapati.


"Dua malam lagi adalah malam tanpa bulan. Siapkan dirimu juga perempuan itu untuk melakukan persetubuhan setan.


Ingat, kesempatan mu tidak banyak. Kalau gagal kau harus menunggu purnama depan, Margapati", ujar Gendrawana sambil tersenyum lebar.


"Aku mengerti Guru..


Semua perintah mu akan ku laksanakan", jawab Raden Margapati sambil membungkukkan badannya pertanda dia hormat kepada Gendrawana.


Dua orang abdi setia Raden Margapati segera di perintahkan untuk menyiapkan segala sesuatunya pada ritual persetubuhan setan yang akan di laksanakan 2 malam lagi.


****


"Kita sudah sampai di Pakuwon Cempaka, Pethak..


Dari orang yang kita tanya tadi selepas tempat ini, jalur yang kita lewati adalah Pakuwon Semanding sebelum masuk ke wilayah kota Kadipaten Kembang Kuning", ujar Nyi Sawitri sambil menyuapkan sepuluk nasi ke mulutnya.


"Kita harus cepat sampai ke Kota Kadipaten Kembang Kuning untuk mencari bajingan itu, Saudara Pethak.


Semakin lama aku semakin khawatir dengan keselamatan putraku", sahut Randu Para yang duduk di kursi sebelah kanan Arya Pethak.


"Mencari Raden Margapati di kota Kadipaten Kembang Kuning tidak semudah membalikkan telapak tangan, saudara ku.


Kita harus mengumpulkan semua kabar tentang pangeran itu sebelum kita bertindak. Kita tidak boleh gegabah dalam bergerak karena Raden Margapati adalah kerabat dekat istana Kadipaten Kembang Kuning", jawab Arya Pethak sambil meraih kendi air minum untuk menghilangkan rasa seret di tenggorokan nya. Pemuda tampan itu segera meneguk air minum dari kendi.


Usai makan siang, rombongan Arya Pethak segera melanjutkan perjalanan. Keempat orang bercaping bambu itu diam diam mengikuti pergerakan mereka.


Setelah melewati Kali Serang, rombongan Arya Pethak terus bergerak menuju ke arah kota Pakuwon Semanding yang merupakan wilayah terakhir sebelum memasuki kota Kadipaten Kembang Kuning.


Hari semakin sore. Semburat jingga mulai muncul di langit barat pertanda senja akan turun dengan segera.


"Ndoro Pethak, sepertinya kita harus cepat mencari tempat untuk bermalam. Sebentar lagi senja akan turun dan sepertinya hutan ini masih terlalu luas. Belum menunjukkan tanda-tanda pemukiman penduduk di dekat tempat ini", ujar Anjani sambil terus menggebrak kudanya di samping Arya Pethak.


"Kau benar Anjani.


Itu disana saja kita bermalam. Kita berhenti di situ saja", ujar Arya Pethak sambil menunjuk ke arah sebuah tempat di samping sungai kecil dan pohon besar yang ada di depan.


Tepat disana, Arya Pethak menghentikan langkah kaki kuda tunggangan nya. Nyi Sawitri, Randu Para, Klungsur dan Anjani langsung mengikuti langkah Arya Pethak.


Mereka segera menambatkan kuda mereka pada semak belukar dan pohon perdu yang tumbuh di dekat tempat itu. Mereka pun segera berbagi tugas untuk bermalam. Arya Pethak, Nyi Sawitri dan Randu Para segera melesat ke dalam hutan untuk mencari sesuatu yang bisa di makan, sedangkan Klungsur mencari kayu bakar untuk api unggun. Anjani sendiri menyiapkan tempat tidur untuk Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


Malam itu rombongan Arya Pethak berkumpul di sekeliling api unggun yang mereka buat. Selain untuk menghangatkan tubuh, mereka juga membakar ayam hutan yang di tangkap oleh Arya Pethak dan Randu Para.

__ADS_1


Saat mereka tengah asyik menikmati ayam hutan bakar sambil berbincang, telinga Arya Pethak mendengar suara langkah kaki mendekat. Meski langkah kaki itu sangat ringan, namun setelah meleburkan Batu Inti Naga kemampuan pendengaran Arya Pethak menjadi luar biasa.


Melihat perubahan sikap Arya Pethak, Nyi Sawitri menatap ke arah Arya Pethak.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu mu, Arya Pethak?", tanya Nyi Sawitri segera.


"Ada 4 orang yang bergerak kemari Nini Dewi. Sepertinya mereka orang orang berilmu cukup tinggi.


Biarkan mereka mendekati tempat ini. Nanti kita lihat apa mau mereka", jawab Arya Pethak sambil terus menatap arah timur. Kemudian Arya Pethak membisikkan sesuatu pada mereka. Mendengar ucapan itu, semua orang segera bersiap sembari tetap berbincang.


Dari balik semak belukar, keempat sosok itu menatap ke arah api unggun yang masih menyala.


"Denmas,


Bukankah tadi mereka berlima? Kenapa sekarang hanya tinggal 4 orang?", bisik salah satu sosok hitam pada orang di depannya.


"Aku juga tidak tahu, Gambir..


Tadi aku lihat dari sana mereka masih berlima kok", jawab sosok di depan sambil terus menatap ke arah api unggun.


"Kalian mencari ku?"


Keempat orang yang mengintai pergerakan Arya Pethak dan kawan-kawan nya terkejut bukan main saat mendengar suara di belakang mereka. Karena kaget mereka langsung melompat ke arah api unggun. Saat yang bersamaan Randu Para, Nyi Sawitri, Klungsur dan Anjani langsung melesat ke arah 4 orang itu dengan senjata masing-masing.


"Siapa kalian?


Mau apa mengintai tempat kami?", hardik Randu Para sambil mengacungkan goloknya ke arah keempat orang itu segera. Arya Pethak yang dari belakang keempat orang itu menatap tajam ke arah mereka.


"Tu-tunggu dulu Kisanak, ini salah paham. Kami bukan orang jahat.


Kami adalah rombongan dari kota Kadipaten Kembang Kuning", ujar seorang pemuda yang terlihat seperti pemimpin mereka berempat.


"Tunjukkan buktinya..


Kalau kalian bohong huhhhhh.. Aku pecahkan kepala mu pakai ini", sahut Klungsur sambil menurunkan sebatang kayu jati kering sebesar lengan orang dewasa ke depan kakinya. Karena tidak hati-hati, ujung kayu jati malah mengenai jempol kaki kanan Klungsur.


Bhegg..


"Aduh Biyung,


Apes banget aku ini", keluh Klungsur yang segera memegang jempol kaki nya yang memar ketiban kayu jati.


Si pemuda itu langsung merogoh sesuatu di balik bajunya dan mengulurkan tangannya ke depan semua orang. Sebuah lencana perak bergambar kembang kenanga, tanda dia adalah kerabat dekat istana Kadipaten Kembang Kuning.


"Itu lencana kerabat dekat istana Kadipaten Kembang Kuning. Siapa kau sebenarnya?", tanya Randu Para sambil menyarungkan kembali goloknya.


Pemuda itu segera memasukkan lencana perak bergambar kembang kenanga itu ke dalam bajunya sebelum berkata pelan.


"Aku Raden Wira Ganggeng, putra Adipati Kembang Kuning".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hujan terus dari pagi, berhenti sebentar eh hujan lagi..


Jaga kesehatan kawan, cuaca lagi tak menentu.


__ADS_2