Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Persetubuhan Setan


__ADS_3

,"Ada urusan apa bangsawan Kadipaten Kembang Kuning diam diam mengikuti kami?", tanya Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah Raden Wira Ganggeng.


"Kau sadar bahwa kami diam diam membuntuti kalian?", Raden Wira Ganggeng terkejut mendengar perkataan Arya Pethak.


"Bukan hanya sadar tapi aku sengaja membiarkan kalian terus membuntuti pergerakan kami. Kalian mengikuti kami sejak di warung makan Pakuwon Cempaka bukan?", Arya Pethak tersenyum simpul.


Kaget semua orang mendengar ucapan Arya Pethak. Bahkan Nyi Sawitri, Randu Para, Klungsur dan Anjani pun tidak sadar mereka diikuti oleh kelompok Raden Wira Ganggeng. Mereka saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap ke arah kelompok bangsawan Kadipaten Kembang Kuning itu.


"Kami ingin membicarakan sesuatu dengan kalian..


Tapi bisakah kita duduk lebih dulu? Kaki ku pegal dari tadi berdiri terus ", Raden Wira Ganggeng menatap ke arah Arya Pethak yang dia tahu bahwa pemuda tampan itu adalah pimpinan rombongan ini.


Arya Pethak mengangguk setuju dan mereka segera berjalan menuju api unggun yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kini jumlah mereka menjadi 9 orang.


Klungsur segera melemparkan potongan kayu kering ke perapian hingga api unggun yang mengecil kembali berkobar.


"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah membuat kalian terganggu oleh kehadiran kami.


Kalau boleh tahu ada kepentingan apa kalian mencari Raden Margapati?", tanya Raden Wira Ganggeng dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan rombongan Arya Pethak.


"Kau tentu sudah menguping pembicaraan kami di warung makan itu bukan? Akan ku jelaskan semuanya..


Sebelumnya aku perkenalkan dulu kawan kawan kami ini. Aku Arya Pethak, ini saudara Randu Para, itu Nini Dewi Bukit Lanjar, dia Anjani dan yang paling ujung adalah Klungsur.


Teman kami, murid Nyi Sawitri ini, bernama Rara Larasati dan putra saudara Randu Para, Seta Wahana di culik oleh Kelompok Kalajengking Hitam.


Saat kami menyerbu markas Kelompok Kalajengking Hitam, mereka bilang kalau Rara Larasati dan Seta Wahana di bawa kepada Raden Margapati di Kembang Kuning. Makanya kami kemari untuk mencari Raden Margapati", ujar Arya Pethak yang disambut anggukan kepala dari Nyi Sawitri dan Randu Para.


Hemmmmmmm


"Begitu rupanya. Akan aku jelaskan satu hal disini biar kalian tahu permasalahannya.


Karena kalian sudah memperkenalkan diri, alangkah tidak sopan nya jika kami tidak membalas nya. Aku Wira Ganggeng, mereka bertiga adalah abdi setia ku. Ini Gambir Anom, ini Kebo Jungkat dan yang kurus itu Wugu.


Aku adalah adik tiri dari Raden Margapati. Tapi kalian tidak perlu khawatir dengan hal itu karena aku sendiri tidak suka dengan nya sejak dulu.


Dari dalam istana Kadipaten Kembang Kuning, aku keluar kemari untuk mencari tahu tentang kebenaran Raden Margapati yang sudah di angkat oleh ayahku Adipati Wiraprabu menjadi Akuwu Semanding. Ternyata dia adalah putra tiri ayah ku, jadi dia bukan saudara ku sama sekali.


Terdengar kabar bahwa Pakuwon Semanding mengumpulkan para pendekar sakti sebagai persiapan untuk memberontak terhadap Kadipaten Kembang Kuning. Karena itu aku di tugaskan oleh ayah ku menyamar untuk mengetahui sampai sejauh mana persiapan Pakuwon Semanding yang ingin memberontak.


Makanya tadi aku mencurigai kalian yang ingin bergabung dengan Raden Margapati. Karena itu kami membuntuti kalian ", terang Raden Wira Ganggeng yang membuat semua orang menarik nafas lega. Untung saja mereka tidak baku hantam tadi karena kesalahpahaman ini.


"Kalau boleh tahu, dimana letak kediaman Raden Margapati sekarang? Aku ingin cepat menolong putra ku", Randu Para menatap ke arah Raden Wira Ganggeng.


"Raden Margapati tidak berada di Pakuwon Semanding yang menjadi tanah lungguh nya.


Dari beberapa penulusuran, terdengar kabar Raden Margapati membangun sebuah puri kecil di lereng Gunung Damalung untuk melatih ilmu kesaktiannya sebagai persiapan untuk memberontak", Raden Wira Ganggeng menatap ke arah selatan.


"Kalau begitu, Rara Larasati pasti di bawa kesana. Arya Pethak, besok pagi kita harus berangkat kesana", pinta Nyi Sawitri sambil menatap wajah tampan Arya Pethak segera.


"Kita tidak boleh gegabah Nini..


Menurut berita, di sekitar tempat Raden Margapati sejauh 200 tombak, para prajurit Pakuwon Semanding yang berjumlah sekitar 2000 orang berlatih agar tidak ketahuan oleh pihak istana Kadipaten Kembang Kuning. Dan itu memang benar, karena suasana di dalam Pakuwon Semanding sendiri tidak ada kegiatan apa apa, kami telah memeriksa nya sendiri.


Karena itu aku menawarkan kerjasama dengan kalian", sahut Raden Wira Ganggeng dengan cepat.


"Kerjasama? Kerjasama apa yang kau maksud kan?", Nyi Sawitri menatap ke arah Raden Wira Ganggeng.


"Aku akan menggerakkan para prajurit Kadipaten Kembang Kuning untuk menyerbu perkemahan para prajurit Pakuwon Semanding. Sedangkan kalian bertugas untuk menghadapi Raden Margapati.


Kita akan sama sama di untungkan dalam hal ini. Kalian bisa mudah menyelamatkan teman kalian dan aku menumpas para pemberontak itu


Bagaimana menurut kalian?", Raden Wira Ganggeng menatap ke sekeliling nya. Nyi Sawitri langsung berbisik di telinga Arya Pethak. Perempuan paruh baya segera berdiri dan berjalan menjauh dari tempat mereka berkumpul. Arya Pethak segera berdiri.


"Aku perlu bicara dengan Nyi Sawitri. Mohon waktu sebentar", ujar Arya Pethak sambil berjalan mendekati Nyi Sawitri.


"Apa kau tidak curiga dengan permintaan kerjasama ini, Arya Pethak?


Jelas jelas dia tahu seluk beluk para pemberontak, kenapa masih juga butuh bantuan kita? Pasti ada sesuatu yang salah dari ini semua", Nyi Sawitri menatap Arya Pethak.


"Aku juga tahu itu Nini Dewi..


Tapi saat ini kita tidak punya banyak pilihan untuk menyelamatkan Laras dan Seta Wahana. Kita ikuti saja permainan ini. Begitu Rara Larasati dan Seta Wahana bisa lepas, kita segera tinggalkan tempat ini", bisik Arya Pethak yang membuat Nyi Sawitri mengangguk setuju. Mereka segera kembali ke tempat kawan kawan berkumpul di depan api unggun.


"Aku bersedia untuk bekerjasama dengan mu, Raden Wira Ganggeng.


Menembus pertahanan 2000 prajurit akan sangat merepotkan, apalagi kami hanya berlima. Belum lagi kita tidak tahu sejauh mana kemampuan beladiri Raden Margapati", jawab Arya Pethak segera.


"Aku ikut kata saudara Arya Pethak. Lebih baik bekerja sama dengan kalian", imbuh Randu Para dengan cepat. Nyi Sawitri, Anjani dan Klungsur segera mengangguk.


Raden Wira Ganggeng tersenyum mendengar persetujuan Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Butuh berapa lama kalian mempersiapkan para prajurit Kadipaten Kembang Kuning?", tanya Nyi Sawitri sembari menatap ke arah Raden Wira Ganggeng.


"Paling cepat butuh waktu sehari Nini Dewi..

__ADS_1


Besok malam kita bisa menyerbu perkemahan para prajurit Pakuwon Semanding karena setidaknya kita harus membawa 2500 prajurit untuk menggempur pertahanan mereka.


Gambir Anom, Wugu..


Malam ini juga kalian berangkat ke kota Kadipaten Kembang Kuning. Laporkan hal ini pada ayahanda Adipati. Dan minta Senopati Tirtomoyo dan Tumenggung Surontanu untuk memimpin pasukan Kadipaten Kembang Kuning.


Kami akan menunggu kedatangan para prajurit Kembang Kuning di desa Pohjajar", Raden Wira Ganggeng mengalihkan pandangannya pada dua orang abdi setia nya itu.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", Gambir Anom dan Wugu segera menyembah pada Raden Wira Ganggeng sebelum berangkat melaksanakan perintah sang pangeran. Dua orang abdi setia itu dengan cepat menghilang di balik kegelapan malam.


Malam segera berlalu dengan cepat.


Pagi hari nya, Arya Pethak dan kawan-kawan nya beserta Raden Wira Ganggeng dan Kebo Jungkat bergerak menuju ke Desa Pohjajar yang ada di dekat hutan tempat para prajurit Pakuwon Semanding berlatih dengan menyamar sebagai rakyat jelata.


Seorang lelaki berpakaian layaknya juru rawat kuda, berjalan mendekati rombongan itu.


"Apa kisanak adalah angin dingin yang berhembus dari selatan?", tanya lelaki itu pada Raden Wira Ganggeng.


"Angin dingin berhembus dari selatan menembus tinggi nya langit", jawab Raden Wira Ganggeng sambil tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu, si lelaki bertubuh kekar itu segera menyembah pada Raden Wira Ganggeng.


"Hamba Gardika, telik sandi yang di utus Gusti Adipati Wiraprabu untuk mengawasi gerak-gerik pasukan Pakuwon Semanding.


Silahkan ikuti hamba. Disini banyak sekali prajurit Pakuwon Semanding yang lalu lalang. Lebih baik kita menyingkir dulu", ujar lelaki bernama Gardika itu sambil berjalan lebih dulu. Mereka bertujuh segera mengikuti langkah Gardika ke arah sebuah pondok kayu yang tersembunyi di tengah hutan bambu tepi desa Pohjajar.


Seorang lelaki sepuh berjenggot putih nampak sudah menanti kedatangan mereka.


"Selamat datang di Desa Pohjajar, Gusti Pangeran..


Hamba Sumojoyo, Lurah Desa Pohjajar. Mohon maaf jika hamba tidak sopan menyambut Gusti Pangeran di tempat ini ", ujar si lelaki sepuh itu dengan membungkukkan badannya.


"Darimana Ki Lurah tahu tentang kedatangan ku ini?", tanya Raden Wira Ganggeng sambil menatap heran kearah Ki Sumojoyo.


"Mohon maaf hamba menyela pembicaraan Gusti Pangeran..


Tadi pagi ada dua orang utusan dari istana Kembang Kuning yang datang menemui hamba. Dia bilang bahwa hari ini Gusti Pangeran Wira Ganggeng pasti kemari.


Karena itu hamba memberi tahu Ki Lurah Sumojoyo untuk menemui Gusti Pangeran tapi tidak di kediaman nya", ujar Gardika sang telik sandi sembari menghormat pada Raden Wira Ganggeng.


"Oh begitu ceritanya. Tidak masalah kalau begitu.


Oh iya ini adalah Pendekar Pedang Setan, Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Mereka yang akan membantu kita untuk menumpas para pemberontak itu. Mulai hari ini kami akan berdiam diri di sini menunggu kedatangan para prajurit Kembang Kuning.


Mohon bantuannya ", ujar Raden Wira Ganggeng yang langsung membuat Gardika dan Ki Sumojoyo manggut-manggut mengerti.


Selanjutnya, Lurah Sumojoyo untuk mempersiapkan makanan bagi kelompok Arya Pethak dan Raden Wira Ganggeng. Sedangkan Gardika kembali ke tapal batas desa untuk melanjutkan samaran nya sebagai pekatik atau juru rawat kuda dengan mencari rumput di sekitar perbatasan desa.


4 orang prajurit Pakuwon yang baru dari kota Pakuwon Semanding, melewati jalan setapak di sisi barat sungai kecil yang merupakan jalan pintas menuju ke arah tempat pelatihan mereka.


"Kakang, mau sampai kapan kita menunggu Gusti Pangeran Margapati bergerak? Kita sudah dua purnama berlatih di tengah hutan ini", tanya seorang prajurit Semanding yang berbadan gempal dengan kumis tebal pada seorang prajurit yang lebih tua di sampingnya.


"Aku juga tidak tahu, Wono..


Kelihatannya Gusti Pangeran menantikan gadis yang baru saja di bawa beberapa hari yang lalu. Aku dengar Gusti Pangeran melatih ilmu kedigdayaan tinggi sebagai persiapan untuk menghadapi pasukan Kembang Kuning. Dan gadis itu adalah kunci dari keberhasilan ilmu nya. Sepertinya tidak lama lagi kita akan bergerak menuju ke Kembang Kuning", jawab si prajurit berjenggot tipis dengan badan kekar itu segera.


"Huhhhhh..


Kita terlalu lama di dalam hutan ini Kakang. Aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama perempuan cantik di tempat Nyi Pangkur. Tapi karena kita tidak boleh berlama-lama keluar jadi tidak bisa menyalurkan hasrat ku", gerutu Wono, si prajurit gempal dengan kumis tebal itu.


"Kang Wono, kenapa jauh jauh memikirkan gadis cantik di tempat Nyi Pangkur?


Coba lihat disana! Ada perempuan sendirian tengah mandi", tunjuk seorang prajurit lain pada sebongkah batu besar yang ada di tepi sungai.


"Hah?? Kau benar Rompal.. Hah dewa sungguh baik hati pada ku..


Hari ini aku akan main sampai puas. Ayo kita tangkap gadis itu", seru Wono sambil melompat turun dari kudanya dan berlari cepat kearah gadis cantik yang tengah membasuh wajah nya. 3 orang kawan Wono langsung mengikuti langkah Wono.


Merasa ada yang bergerak mendekat, gadis cantik yang tengah membasuh muka yang tidak lain adalah Anjani langsung menyambar selendang dan bajunya. Perempuan cantik itu dengan cepat berpakaian.


"Hahaha... Tak ku sangka ada bidadari yang turun dari kahyangan.


Gadis cantik ayo ikut aku, kita akan bersenang-senang", ujar Wono sambil berusaha menjamah tubuh Anjani.


Murid Dewi Ular Siluman itu dengan cepat berkelit, kemudian melayangkan tendangan keras kearah wajah Wono.


Prrraaaakkkkkkk...


Aaauuuuggggghhhhh!!


Wono langsung tersungkur setelah tendangan keras Anjani menghantam rahang nya. Melihat Wono jatuh, tiga orang prajurit Pakuwon Semanding langsung mengepung Anjani. Mereka langsung mencabut pedang dari pinggang mereka masing-masing.


Seorang prajurit langsung membabatkan pedang nya ke arah bahu Anjani. Gadis cantik itu segera menghindar sambil menghantam kepala lawan dengan keras


Bhuuukkkhhh..


Si prajurit itu langsung roboh dan tewas setelah kepalanya membentur batu besar di pinggir sungai kecil. Salah seorang prajurit membabatkan pedang nya ke arah leher Anjani namun perempuan cantik itu langsung melenting tinggi ke udara menghindari babatan pedang lawannya.

__ADS_1


Melihat kawannya berjatuhan, seorang prajurit Pakuwon Semanding memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.


Namun sebuah batu berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa menghantam kepalanya dengan cepat.


Brraaakkkk...


Si prajurit yang berusaha kabur langsung terjungkal dengan kepala pecah.


"Lemparan jitu Ndoro", ujar Klungsur sembari mengacungkan jempol nya pada Arya Pethak yang baru saja mendekat usai mendengar keributan.


Anjani segera menghantam dada lawan usai bergerak cepat.


Dhiesshhhhhhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Prajurit Pakuwon Semanding itu langsung roboh dengan tulang iga patah. Dia tewas seketika.


"Klungsur,


Amankan tiga kuda itu ke dalam hutan bambu. Aku dan Anjani akan mengurus mayat mayat prajurit ini. Kita tidak boleh menimbulkan kecurigaan apapun sebelum para prajurit Kembang Kuning datang", perintah Arya Pethak yang langsung membuat Klungsur mengangguk mengerti.


Setelah menyeret mayat mayat para prajurit Pakuwon Semanding ke semak belukar di dekat sungai kecil, mereka bertiga segera kembali ke dalam hutan bambu.


Hari semakin sore. Sebentar lagi malam akan segera tiba. Selepas senja menghilang dari langit barat, rombongan pasukan Kembang Kuning datang ke Desa Pohjajar. Pimpinan prajurit Kadipaten Kembang Kuning, Senopati Tirtomoyo dan Tumenggung Surontanu langsung menemui Raden Margapati untuk melaporkan persiapan pasukan mereka.


Setelah pembicaraan antara mereka, di putuskan bahwa mereka akan bergerak selepas malam untuk memberikan kejutan kepada para pasukan pemberontak.


Setelah malam semakin larut, ribuan orang prajurit Kadipaten Kembang Kuning menyalakan obor yang terbuat dari daun kelapa kering yang diikat sedemikian rupa. Mereka bergerak perlahan menuju ke arah tempat Raden Margapati mempersiapkan pasukannya.


****


Rara Larasati terduduk kaku diatas ranjang tidur yang di persiapkan oleh Raden Margapati untuk ritual persetubuhan setan. Tubuh murid Nyi Sawitri itu dalam keadaan tertotok hingga dia sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuh gadis itu telah basah oleh guyuran air bunga.


Di lantai kamar tidur, Raden Margapati duduk bersila dengan mengenakan celana pendek tanpa baju nya. Putra tiri Adipati Kembang Kuning itu nampak memejamkan mata saat Gendrawana mengguyurkan air bunga tujuh rupa ke kepala Raden Margapati.


Usai mengguyur kepala Raden Margapati dengan air bunga tujuh rupa, Gendrawana menekan tengah dahi Raden Margapati hingga sebuah tanda merah muncul disana.


Setelah itu, Gendrawana segera duduk bersila di depan anglo tanah liat yang mengepulkan asap tebal kemenyan dan setanggi yang berbau harum. Mulut lelaki sepuh berbadan gempal itu nampak komat kamit membaca mantra.


Tak berapa lama kemudian, sukma Raden Margapati segera keluar dari tubuhnya dan berjalan mendekati roh Rara Larasati yang nampak keluar dari jasad murid Nyi Sawitri.


Segera sukma Raden Margapati bergerak menyetubuhi Rara Larasati yang tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima nasibnya.


Gendrawana tersenyum lebar.


Sebuah sinar merah darah menyala dari tengah dahi Raden Margapati. Perlahan sinar merah darah itu menutupi bagian atas tubuh Raden Margapati.


Sesaat sebelum sinar merah darah mencapai pinggang Raden Margapati, suara ledakan keras terdengar di luar puri kediaman Raden Margapati.


Blllaaammmmmmmm!!!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mau puasa musim nya kenduri.

__ADS_1


Tiap hari ada saja undangan dari tetangga hajatan sampai mau up episode selanjutnya aja mesti nunggu selesai kenduri dulu 🤣🤣🤣


Selamat malam semuanya..


__ADS_2