Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Uji Kemampuan Beladiri 5


__ADS_3

Jayadarma langsung lemas saat Pedang Setan milik Arya Pethak menempel di lehernya. Wasit segera mengangkat bendera merah sebagai tanda bahwa pertandingan selesai. Arya Pethak masuk ke babak 5 besar.


Di sisi lain, Limbur Wisesa melompat mundur beberapa langkah usai beradu ilmu silat dengan Kentring Manik. Nafas murid Ki Buyut Mangun Tapa itu ngos-ngosan tidak karuan.


'Brengsek!!


Aku tidak boleh menyerah pada titik ini. Aku tidak boleh mengecewakan guru ', batin Limbur Wisesa sambil menata nafas. Usai menyeka keringat yang membasahi keningnya, Limbur Wisesa langsung memusatkan seluruh tenaga dalam nya. Dia ingin menyelesaikan pertarungan ini.


Limbur Wisesa segera bersedekap tangan di depan dada. Angin kencang tiba-tiba menderu kencang di sekeliling tubuh Limbur Wisesa. Segera Limbur Wisesa menurunkan tangannya. Di depan telapak tangan kanan nya, angin berkumpul dengan cepat seperti pusaran badai.


Kentring Manik mundur selangkah. Gadis cantik berbaju putih itu memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada tangan kanannya. Udara dingin muncul di sekitar telapak tangan nya seperti hendak membekukan segala sesuatu. Rupanya gadis itu merapal Ajian Tapak Awan Beku yang merupakan ilmu kedigdayaan andalan Puncak Khayangan yang tersohor di dunia persilatan Tatar Pasundan. Meski belum tahap puncak, tapi ilmu menakutkan itu cukup membuat lawan jeri.


Setelah Ajian Tapak Bayu Gunung sampai puncak, Limbur Wisesa melompat ke arah Kentring Manik sambil menghantamkan telapak tangan kanannya.


"Tapak Bayu Gunung...


Hiyyyyaaaaaaaatttttt...!!!!"


Angin kencang menderu tajam saat Limbur Wisesa mengayunkan tapak tangan kanannya. Kentring Manik menyambar hantaman itu dengan tapak tangan kanannya yang mengandung Ajian Tapak Awan Beku.


Blllaaammmmmmmm!!!!


Kentring Manik terdorong mundur satu tombak ke belakang, darah segar keluar dari sudut bibir nya yang mungil. Di sisi lain, Limbur Wisesa terpelanting jauh ke belakang sejauh 2 tombak lebih. Murid Perguruan Gunung Ciremai itu langsung muntah darah segar. Dia berusaha untuk bangkit tapi limbung dan kembali jatuh ke tanah.


Wasit segera mengangkat bendera merah pertanda pertandingan berakhir dan Kentring Manik keluar sebagai pemenang pertandingan.


Di arena pertandingan pertama, Ambetkasih terus menerus menggempur pertahanan Nay Kemuning dengan menggunakan senjata pisau terbang nya.


Gadis yang memakai cadar hitam itu terus menggerakkan jari jemari tangan kanannya yang menjadi pengendali pisau terbang sambil sesekali menghantam Ajian Api Langit andalan perguruan Istana Atap Langit.


Blllaaammmmmmmm!!!


Nay Kemuning melompat mundur beberapa tombak. Dia berhasil menghindari sinar biru kemerahan yang di lepaskan Ambetkasih. Namun itu membuatnya lengah.


Ambetkasih tersenyum sinis dari balik cadar hitam nya. Jemari tangan kanannya langsung bergerak cepat. Pisau terbang andalan nya bergerak cepat dari arah belakang Nay Kemuning.


Shreeeeettttthhh!!


Nay Kemuning terkejut bukan main. Memanfaatkan Pedang Cambuk Naga, gadis cantik itu berkelit ke samping. Meski lolos dari maut, namun pisau terbang Ambetkasih masih merobek lengan baju kanan nya.


Auuuggghhhhh!!!


Darah mengucur dari luka Nay Kemuning. Sementara itu pisau terbang kembali ke empunya setelah Ambetkasih melakukan gerakan indah dengan menarik tangan kanannya ke belakang.


"Gadis cantik Gunung Ciremai,


Kau menyerah saja. Sungguh sayang jika kulit mu yang mulus itu memiliki banyak bekas luka. Kita sudahi saja pertarungan ini", ujar Ambetkasih sambil tersenyum penuh kemenangan.


Chuuiiiiiiihhhh!!


"Menyerah? Guru ku tidak mengajari ku untuk mengaku kalah pada orang yang menutupi sebagian wajah nya dengan cadar hitam.


Aku penasaran kenapa kau tutupi wajah mu. Aau jangan-jangan kau malu untuk menunjukkan wajah mu karena wajah mu jelek ya hehehehe", Nay Kemuning mengejek ke arah Ambetkasih.


"Gadis busuk!


Mulut mu tajam sekali ya? Apa guru mu tidak pernah mengajari mu sopan santun ha?", Ambetkasih geram dengan omongan Nay Kemuning. Omongan pedas itu mengingatkan nya tentang cacian orang yang pernah dia terima. Ambetkasih memang memiliki bekas luka di pipi kanannya akibat penganiayaan yang pernah dia terima sewaktu masih kecil.


"Kenapa? Kau tidak terima dengan omongan ku?


Atau jangan-jangan kau memang memiliki wajah buruk rupa hingga tampak seperti wajah dedemit gunung? Oh kasihan sekali kau", oceh Nay Kemuning yang langsung membuat Ambetkasih marah besar. Rencana Nay Kemuning membuat marah Ambetkasih berjalan lancar.


"Gadis laknat!


Akan aku buat kau menyesali kata kata mu baru saja", Ambetkasih yang murka, langsung melesat cepat kearah Nay Kemuning. Gadis itu ingin meremas mulut Nay Kemuning yang kurang ajar menurutnya.


Segera Nay Kemuning mundur selangkah, kemudian memutar Pedang Cambuk Naga nya. Putaran pedang aneh Nay Kemuning menciptakan angin kencang yang berputar cepat.


Tangan kiri Ambetkasih yang di lambari Ajian Api Langit langsung menghantam kearah wajah Nay Kemuning. Rasa amarah nya membutakan mata hati Ambetkasih. Dia seakan lupa untuk apa dia di arena pertandingan itu.


Dengan Ajian Tapak Bayu Gunung, Nay Kemuning menyongsong serangan Ambetkasih dengan cepat.


Blllaaammmmmmmm!!


Ambetkasih terpental ke belakang, namun masih sempat melemparkan pisau terbang nya ke arah Nay Kemuning yang juga terdorong mundur.


Shhhrriinggg!!


Sambil mengumpulkan tenaga dalam nya, Nay Kemuning menyambut kedatangan pisau terbang Ambetkasih dengan putaran Pedang Cambuk Naga nya.


Thhass thassh!


Benang benang tenaga dalam yang di gunakan Ambetkasih terputus oleh angin kencang tajam dari putaran Pedang Cambuk Naga milik Nay Kemuning. Pisau terbang Ambetkasih meluncur ke tanah. Belum sempat menyentuh tanah, Pedang Cambuk Naga yang lentur langsung menghantam bilah pisau terbang.


Dasshhhhhhh!!


Pisau terbang berputar cepat kearah Ambetkasih. Bersamaan itu, Nay Kemuning melesat cepat kearah Ambetkasih sambil tersenyum lebar.


Ambetkasih gelagapan melihat itu semua. Gadis itu mesti berjumpalitan ke belakang menghindari pisau terbang nya sendiri sambmengumpat dalam hati.

__ADS_1


Lolos dari serangan pisau nya sendiri, Ambetkasih harus menghindari sabetan pedang Nay Kemuning yang lentur.


Shreeeeettttthhh!!


Ambetkasih masih bisa lolos dari sergapan Nay Kemuning tapi saat hantaman tapak tangan kiri Nay Kemuning menghantam nya, gadis bercadar hitam itu hanya bisa menyilangkan kedua tangan nya ke depan wajahnya dengan mengerahkan tenaga dalam.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Ambetkasih terpelanting ke belakang, nyaris tiga tombak. Gadis itu muntah darah segar yang keluar dari balik cadar hitam nya usai menghantam tanah dengan keras. Dia pingsan kemudian.


Nay Kemuning sendiri pun juga muntah darah segar meski masih mampu berdiri tegak dengan bertumpu pada Pedang Cambuk Naga nya.


Wasit segera mengumumkan bahwa Nay Kemuning lolos ke 5 besar setelah mengalahkan Ambetkasih dari Istana Atap Langit. Sorak sorai penonton terdengar riuh melihat kemenangan Nay Kemuning.


Diatas panggung kehormatan, Linggakancana mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat satu dari dua harapan nya kalah. Kini dia hanya berharap pada Ewangga yang baru saja mengalahkan Bratasena di arena pertandingan kedua.


Klungsur langsung menari seperti orang gila setelah melihat Nay Kemuning dan Arya Pethak lolos ke 5 besar.


"Sur, hentikan tingkah konyol mu itu. Malu di lihat orang!", Anjani geram dengan tindakan Klungsur yang tak bisa menahan rasa gembiranya.


"Hahaha...


Dua kawan ku menang dua kawan ku menang. Mereka adalah orang-orang hebat", Klungsur tak mengindahkan peringatan Anjani dan terus menari hingga membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal.


Tanpa basa-basi lagi, Anjani langsung menggelandang Klungsur ke arah tenda besar tempat mereka tinggal di Istana Atap Langit.


Lima besar sudah di peroleh dari pertandingan pertama. Arya Pethak dan Nay Kemuning dari Perguruan Gunung Ciremai, Ewangga dari Istana Atap Langit, Jajang Pariseta dari Perguruan Pesisir Selatan dan Kentring Manik dari Puncak Khayangan akan kembali bertarung untuk menjadi 3 besar sebelum puncak pertandingan uji kemampuan beladiri ini di gelar.


Undian yang di lakukan di depan panggung kehormatan keluar. Semua menunggu pembacaan susunan pertandingan. Ewangga akan melawan Jajang Pariseta di arena pertandingan pertama, Arya Pethak akan menghadapi Kentring Manik di arena kedua. Sedangkan Nay Kemuning langsung maju ke babak 3 besar karena memperoleh nomor undian 3.


Ratusan penonton yang memadati tempat itu langsung terbelah menjadi dua kelompok besar. Masing-masing menonton jagoan andalannya berlaga.


Arya Pethak tersenyum simpul menatap ke arah Kentring Manik yang berdiri berhadapan dengan nya. Teringat pada peristiwa di kaki Gunung Pojoktiga kemarin, saat Kentring Manik kesal dengan panggilan Nyai yang Arya Pethak berikan pada Dewi Puncak Khayangan.


"Eh belegug..


Hebat oge anjeun tiasa dugi di 5 ageung. Nanging abdi bade ngeureunken lengkah abdi di dieu (Hebat juga kau bisa sampai di 5 besar. Tapi aku akan menghentikan langkah mu disini)", ujar Kentring Manik dengan memutar selendang putih nya. Angin dingin kencang menderu bersama putaran selendang putih Kentring Manik.


'Ah dasar perempuan aneh..


Akan ku kalahkan kau dengan cepat biar gak banyak omong', batin Arya Pethak sambil merapal Ajian Halimun nya.


Kentring Manik langsung melemparkan ujung selendang putih nya ke arah Arya Pethak. Selendang itu melesat cepat kearah Arya Pethak. Angin kencang bercampur kabut muncul di sekeliling tubuh Arya Pethak. Saat ujung selendang putih Kentring Manik menyambar, tubuh Arya Pethak menghilang.


Blllaaammmmmmmm!!


Melihat Arya Pethak menghilang, Kentring Manik celingukan kesana kemari mencari keberadaan lawan. Tiba tiba saja Arya Pethak muncul di hadapan Kentring Manik dan menghantam bahu kanan Kentring Manik dengan keras.


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Kentring Manik tak sempat menghindar saat pukulan keras Arya Pethak menghantam bahu kanan nya. Gadis cantik itu terpelanting jauh, tapi segera bersalto dan mendarat meski terseret hingga 1 tombak ke belakang.


"Huhhhhh licik..


Dia benar benar murid mu Mangun Tapa", gumam Dewi Puncak Khayangan sambil menatap ke arah pertarungan di arena pertandingan kedua. Dia begitu khawatir dengan keselamatan murid kesayangannya, Kentring Manik.


"Hahahaha...


Padahal pemuda ini hanya belajar dalam waktu singkat. Tak ku sangka dia bisa menguasai Ajian Halimun sehebat ini.


Benar benar bisa ku banggakan", Ki Buyut Mangun Tapa tertawa terpingkal-pingkal mendengar gumaman Dewi Puncak Khayangan. Di sisi lain, Linggakancana sama sekali tidak melihat pertarungan Ewangga murid nya dengan Jajang Pariseta. Mata kakek tua berjenggot panjang itu terus mengawasi pergerakan Arya Pethak. Sama seperti Linggakancana, semua pasang mata di panggung kehormatan terus tertuju pada pertarungan Arya Pethak dan Kentring Manik.


Dengan kasar Kentring Manik menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya. Nafas gadis cantik berbaju putih itu sedikit tersengal. Dia menatap tajam ke arah Arya Pethak.


'Tenaga dalam si lelaki tak tahu sopan santun ini jauh di atas ku. Aku tidak boleh gegabah', batin Kentring Manik.


Dengan menghirup udara sebanyak mungkin, Kentring Manik menata nafas nya. Dia ingin mengalahkan Arya Pethak dengan tenaga dalam tingkat tinggi nya. Selendang nya segera dia ikatkan ke pinggang.


Kentring Manik mengangkat kedua tapak tangannya ke atas. Tiba-tiba udara di sekitar tempat itu menjadi dingin seperti es. Kabut tebal seperti awan tercipta di atas tangan Kentring Manik.


Melihat itu, Dewi Puncak Khayangan langsung berteriak keras.


"Kentring Manik,


Jangan bodoh. Kau belum sepenuhnya menguasai tahap akhir itu. Hentikan sekarang!", raut wajah Dewi Puncak Khayangan memucat melihat kenekatan Kentring Manik. Dia tahu akibat dari menggunakan tahap akhir Ajian Tapak Awan Beku bila belum benar benar menguasainya.


Tapi Kentring Manik seolah tak mendengar ucapan Dewi Puncak Khayangan. Kedua tangan nya turun ke depan dada, membuat gerakan telapak memutar dan kemudian bersatu di depan dada.


Melihat lawan nya mengeluarkan ilmu puncaknya, Arya Pethak segera merapal Ajian Tapak Brajamusti karena hanya itulah yang sanggup menundukkan ilmu kedigdayaan yang berunsur air.


Tangan kanannya segera berwarna biru terang menyilaukan mata akibat sinar biru yang melingkari kedua tangan.


Kentring Manik melompat tinggi ke udara dan menghantam tangan kanannya kearah Arya Pethak.


"Tapak Awan Beku,


Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt...!!!"


Dengan tenang Arya Pethak langsung menyambut serangan Kentring Manik dengan Tapak Brajamusti nya.

__ADS_1


Whhuuuuuuuggggh...


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Ledakan dahsyat yang mengguncang tempat itu segera terdengar. Kentring Manik terpelanting jauh ke belakang. Melihat itu Dewi Puncak Khayangan langsung melesat cepat kearah arena pertandingan kedua, menyambar tubuh Kentring Manik yang pingsan dan hampir menabrak dinding pembatas. Darah keluar dari mulut dan hidung Kentring Manik yang kini ada dalam dekapan Dewi Puncak Khayangan.


Arya Pethak sendiri terdorong mundur selangkah karena hanya menggunakan separuh tenaga dalam nya.


"Kau hebat anak muda.. Mewakili Kentring Manik, Puncak Khayangan mengakui keunggulan mu", ujar Dewi Puncak Khayangan yang segera melesat meninggalkan tempat itu. Arya Pethak menghormat pada Dewi Puncak Khayangan.


Wasit pertandingan kedua segera mengumumkan bahwa Arya Pethak menjadi pemenang di pertandingan puncak kedua.


Menjelang tengah hari, Ewangga berhasil mengalahkan Jajang Pariseta setelah berhasil menyarangkan Ajian Api Langit ke bahu kanan Jajang Pariseta hingga membuat murid Perguruan Pesisir Selatan itu muntah darah segar dan mengaku kalah.


Pertandingan tiga besar di lanjutkan setelah tengah hari dan makan siang. Tiga peserta terakhir diijinkan untuk kembali ke tempat masing masing.


Di kediaman pribadi Linggakancana, Ewangga nampak duduk bersila di hadapan sang pemimpin Istana Atap Langit.


"Murid ku,


Tak peduli siapa lawan mu nanti. Kau harus membuat mereka menderita. Dua murid Perguruan Gunung Ciremai itu harus kau buat cacat seumur hidup tak peduli dengan cara apa kau melakukannya", ujar Linggakancana sambil berdiri dari tempat duduknya. Kakek tua itu menatap langit barat yang biru. Ada kilatan dendam di mata Linggakancana.


"Kalau menghadapi yang perempuan, aku sama sekali tidak ada kekhawatiran Guru..


Tapi jika menghadapi orang wetan itu aku belum yakin bisa mengalahkan nya", ujar Ewangga sembari menatap ke arah Linggakancana yang berbalik badan.


"Aku tahu itu, murid ku. Aku sudah mempersiapkan nya untuk mu", ujar Linggakancana sambil merogoh sesuatu dari dalam kantong baju nya. Lelaki sepuh berjenggot panjang itu kemudian mengeluarkan sebutir benda berwarna merah darah kemudian mengulurkan nya pada Ewangga.


"Guru, benda ini....", Ewangga menerima benda berwarna merah darah dengan penuh pertanyaan.


"Benar, itu adalah Darah Iblis. Gunakan saat kau dalam keadaan terdesak", ujar Linggakancana sambil menyeringai lebar.


"Tapi guru, bukankah ini benda terlarang di Istana Atap Langit? Siapapun yang menggunakan Darah Iblis akan di usir dari perguruan?", Ewangga kebingungan dengan sikap Linggakancana.


"Tentu saja akan di usir karena Darah Iblis mampu meningkatkan kekuatan tenaga dalam 2 kali lipat dari biasanya.


Tapi kau murid ku, siapa yang berani macam-macam dengan ku? Apa kau masih meragukan ku?", Linggakancana menatap tajam ke arah Ewangga.


"Murid tidak berani meragukan guru", Ewangga langsung menghormat pada Linggakancana.


"Bagus, itu baru murid ku..


Senangkan aku dan buat para murid Perguruan Gunung Ciremai menderita Ewangga", Linggakancana menyeringai lebar.


Lepas tengah hari, arena pertandingan uji kemampuan beladiri kembali ramai oleh penonton. Para murid yang telah kalah juga ikut meramaikan situasi di depan arena pertandingan. Semuanya menunggu penampilan terakhir dari 3 besar pendekar muda berbakat yang menjadi puncak pendatang baru di dunia persilatan Tatar Pasundan.


Pengundian di lakukan oleh Dewi Puncak Khayangan yang diminta oleh Istana Atap Langit selaku penyelenggara acara untuk mewakili mereka.


Pertandingan pertama, muncul nama Arya Pethak melawan Nay Kemuning. Semua penonton saling berpandangan mendengar itu. Tepuk tangan penonton terdengar saat Arya Pethak dan Nay Kemuning maju ke arena pertandingan.


"Aku mengaku kalah pada Arya Pethak", ujar Nay Kemuning sambil menghormat pada Arya Pethak. Dia tengah terluka dan tahu bahwa kemampuan nya tidak mampu untuk melawan Arya Pethak. Lagipula dia sudah cukup puas mendapat peringkat ketiga.


Usai mengaku kalah, Nay Kemuning segera kembali ke tempat para petarung.


Karena Nay Kemuning menyerah, maka pertandingan terakhir menjadi hak Arya Pethak dan Ewangga. Wasit segera memanggil kedua peserta terakhir memasuki arena pertandingan.


Ewangga yang menggunakan baju biru langit berdiri tegak berhadapan dengan Arya Pethak yang menggunakan baju putih. Wasit segera mengangkat bendera merah, dan dengan lantang bicara.


"Pertandingan mulai".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terbangun karena ronda malam, hampir lupa jika belum up episode selanjutnya 😁✌️😁


Selamat makan sahur bagi yang menjalankan ibadah puasa 🙏🙏


__ADS_2