
"Tentu saja Eyang Resi..
Tujuan ku pulang kemari adalah untuk mencari keadilan untuk Ambu Windradi. Dia sudah menerima ketidakadilan dari orang yang ada di balik pembunuhan terhadap nya. Sampai ke ujung dunia pun, Kemuning akan memburu si lelaki berwajah parut itu", ujar Nay Kemuning segera. Bara api dendam atas kematian ibunya yang tragis benar benar menghantuinya selama ini. Jika ada kesempatan untuk membalasnya, Nay Kemuning pasti akan memanfaatkan nya sebaik mungkin.
"Baguslah kalau begitu. Sekedar mengingatkan Kemuning, jangan ragu untuk bertindak meski nanti akan membebani pikiran mu.
Oh iya aku sudah menghubungi bekas anak buah ku dulu. Mereka masih bersedia menjadi tempat bernaung untuk kau nanti Kemuning jika dalam pencarian mu kau menemui masalah", ucap Resi Candramaya sembari menghela napas berat. Arya Pethak sedikit mengernyitkan keningnya sebentar saat mendengar ucapan Resi Candramaya. Sepertinya ada sesuatu yang sudah di ketahui oleh Resi Candramaya selama kepergian nya 2 hari ini.
Nay Kemuning segera mengangguk mendengar ucapan kakeknya itu.
Semuanya segera di persiapkan untuk berangkat menuju ke arah tempat tinggal Surenggono yang rencananya akan di lakukan esok hari. Cangak Biru dan Bango Rowo dengan cepat melaporkan semua kegiatan yang terjadi di Pertapaan Sapta Arga. Selama Arya Pethak dan kawan-kawan tinggal di Pertapaan Sapta Arga, Raden Ronggo tidak berani untuk mengganggu keberadaan mereka karena takut akan Eyang nya, Resi Candramaya. Suara orang tua itu masih punya kekuatan untuk di dengar oleh seluruh punggawa istana Wengker.
Setelah mendengar laporan dari para telik sandi nya, Raden Ronggo mempersiapkan para anak buahnya untuk memburu Ki Simo Biru dan Subrata yang menjadi saksi mata atas tewasnya Tumenggung Gunosentiko di tangan orang orang suruhan Raden Ronggo.
Keesokan harinya, Arya Pethak dan ketiga istrinya, Klungsur dan Nirmala serta Ki Simo Biru juga Subrata bergerak meninggalkan Pertapaan Sapta Arga untuk menuju ke arah barat Tanah Wengker, tepatnya di wilayah Pakuwon Sendang. Surenggono diangkat menjadi Akuwu Sendang oleh Bhre Wengker, Warok Singo Ludro setelah berhasil membunuh Dewi Windradi. Ini adalah taktik yang di lakukan oleh Bhre Wengker Warok Singo Condro untuk menjauhkan Surenggono dari tahta Wengker sekaligus untuk menutup mulut Surenggono agar tidak buka mulut sembarangan.
Pakuwon Sendang terletak di kaki selatan Gunung Lawu yang subur. Meski letaknya terpencil di barat Tanah Wengker, namun wilayah ini merupakan penghasil hasil bumi yang melimpah. Padi, jagung, singkong, ketela, aneka palawija, cantel, jelai, aneka palakependem melimpah ruah di tempat itu. Selain itu, aneka usaha seperti pembuatan minyak kelapa dan kulit hewan juga berkembang pesat di wilayah itu.
Itu sebabnya daerah ini menjadi makmur. Tambahan lagi, Akuwu Sendang saat ini, Surenggono cukup adil dan bijaksana dalam memerintah Pakuwon itu hingga masyarakat sangat puas dengan kepemimpinan nya. Meskipun itu hanyalah kedok belaka sebab Surenggono memeras setiap pedagang yang ingin berjualan di Wilayah Sendang dengan pajak tinggi. Belum lagi penggelapan pajak bumi yang semestinya di berikan pada pemerintah Mandalanegara Wengker. Sebenarnya Bhre Wengker mengetahui hal ini, namun mendiamkannya karena takut Surenggono berkicau tentang pembunuhan Dewi Windradi. Karena itulah, Surenggono semakin bebas tanpa kekangan aturan seperti daerah lain di bawah Mandalanegara (negeri bawahan) Wengker. Seolah dia adalah raja kecil di Pakuwon Sendang.
Setelah hampir seharian melakukan perjalanan, rombongan Arya Pethak memutuskan untuk bermalam di tepi hutan kecil. Keesokan paginya mereka melanjutkan perjalanan ke arah Kota Pakuwon Sendang. Selama perjalanan, Cangak Biru dan Bango Rowo terus menguntit dari jarak jauh.
Tengah hari, rombongan itu menghentikan pergerakan nya di sebuah desa bernama Biting yang merupakan batas wilayah Pakuwon Sendang dengan Pakuwon lain di timur nya. Mereka beristirahat di bawah pohon rindang sembari menikmati bekal perjalanan yang mereka siapkan tadi pagi.
Sekarwangi segera mengeluarkan seruling perak yang di berikan oleh Si Gembel Tua Berseruling Perak tempo hari. Selama di Pertapaan Sapta Arga, dia terus mempelajari Kitab Seruling Neraka dengan tekun. Meski belum sepenuhnya menguasai ilmu itu, namun sepertinya pemahaman Sekarwangi tentang Kitab Seruling Neraka cukup baik. Terbukti dia sudah menguasai 4 bab dari 5 bab Kitab Seruling Neraka. Di tambah lagi, Arya Pethak suaminya memberikan beberapa pemahaman tentang beberapa bagian yang menggunakan tenaga dalam untuk memakai Ilmu Seruling Neraka sehingga Sekarwangi dengan cepat memahami inti dari ilmu kanuragan yang menggunakan nada suara sebagai senjata utamanya ini.
Tempat yang ada di kaki Gunung Cumbri ini memang indah. Selain udaranya yang sejuk, kicau burung bersahutan menyemarakkan suasana di atas ranting pepohonan yang tumbuh subur di tempat itu, seakan ikut terhanyut dalam alunan suara seruling perak yang di tiup oleh Sekarwangi.
Rupanya Sekarwangi sedang belajar Ilmu Seruling Pemikat Sukma, bagian kedua dari Kitab Seruling Neraka.
__ADS_1
Tanpa sadar, serombongan orang yang sebagian besar pendekar sedang lewat di tempat itu, tertarik mendengar suara seruling yang memikat jiwa mereka. Mereka terus mendekati tempat Arya Pethak dan kawan-kawan nya beristirahat. Sesampainya di tempat Arya Pethak mereka segera duduk bersila dengan tertib seolah menyaksikan sebuah pertunjukan kesenian.
Tentu saja kedatangan mereka mengagetkan Arya Pethak dan kawan-kawan termasuk Ki Simo Biru dan Subrata. Sekarwangi sendiri yang sedang memejamkan mata karena tengah menghayati ilmu itu juga tak menyadari bahwa di hadapannya kini ada puluhan orang yang sedang duduk bersila mendengar suara seruling nya.
Saat alunan nada suara seruling terakhir di mainkan, Sekarwangi membuka mata nya dan segera terkejut bukan main melihat puluhan orang sedang duduk bersila di bawah batu besar yang menjadi tempat duduknya siang itu.
"Eh ada apa ini? Kenapa kalian semua ada disitu?"
Mendengar perkataan Sekarwangi, seorang lelaki sepuh dengan kumis tebal yang memutih karena uban tersenyum ramah. Melihat dari dandanan nya, dia adalah pimpinan orang orang yang mengerumuni Sekarwangi.
"Suara seruling nisanak sungguh merdu. Kami yang sedang dalam perjalanan pulang ke Pakuwon Sendang, sangat terhibur dengan alunan lagu yang Nisanak berikan.
Aku Mpu Wikarto, Lurah Desa Girimulyo yang ada di timur Kota Pakuwon Sendang.
Kalau boleh tau, siapa nisanak ini? Dan hendak kemana?", tanya lelaki sepuh yang bernama Mpu Wikarto itu dengan ramah.
Kami ingin pergi ke Pakuwon Sendang karena ingin bertemu dengan Akuwu Surenggono, Mpu Wikarto", jawab Sekarwangi segera. Arya Pethak dan yang lainnya pun segera mendekati mereka.
"Ada urusan apa Nini Sekarwangi ingin menemui Akuwu Surenggono?
Kalau boleh saran, sebaiknya Nini Sekarwangi batalkan saja maksud Nini untuk menemui Akuwu Surenggono. Penjahat itu paling tidak tahan melihat wanita cantik. Takutnya Nini Sekarwangi akan menjadi korbannya", ujar Mpu Wikarto sembari mengelus kumis tebal nya.
"Kenapa Mpu Wikarto begitu baik terhadap kami? Apakah Mpu Wikarto pernah bermasalah dengan Akuwu Surenggono sebelumnya?", tanya Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah Mpu Wikarto. Kakek tua itu menghela nafas berat sebelum berbicara.
Dari mulut Mpu Wikarto, ternyata kelakuan Akuwu Surenggono terkenal suka mempermainkan wanita. Anak perempuan nya di bawa ke istana Pakuwon Sendang, kemudian di tiduri tanpa ada ikatan pernikahan. Setelah puas mempermainkan anak perempuan Mpu Wikarto, gadis malang itu di antar pulang ke Desa Girimulyo. Karena tak kuat menahan malu dan menjadi gunjingan para warga desa, anak perempuan Mpu Wikarto memilih untuk bunuh diri dengan cara menggantung dirinya di pohon randu di belakang rumah.
Dari hal ini, Mpu Wikarto menaruh dendam kepada Akuwu Surenggono dan mempersiapkan diri untuk membalas perbuatan Akuwu Sendang dengan cara mengumpulkan para pendekar dunia persilatan yang mau di bayar untuk menyerbu Pakuwon Sendang. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 50 orang pendekar yang bersedia membantu niat Mpu Wikarto. Ditambah dengan yang baru datang, jumlahnya sekitar 70 orang.
"Rencananya kami akan segera menyerbu ke Istana Pakuwon Sendang setelah terkumpul sekitar 100 orang pendekar", ucap Mpu Wikarto menutup omongannya.
__ADS_1
Hemmmmmmm...
"Kenapa Mpu Wikarto menceritakan ini semua kepada kami? Apa Mpu tidak takut kalau kami akan membocorkan rahasia ini kepada Akuwu Surenggono?", Arya Pethak menatap tajam ke arah Mpu Wikarto.
"Kalau mau di bocorkan silahkan saja, Kisanak. Kami sudah siap mengadu nyawa dengan para prajurit Pakuwon Sendang ", Mpu Wikarto sepertinya sama sekali tidak merasa takut.
"Hehehehe bagus sekali..
Kalau begitu biarkan kami ikut bergabung bersama kalian Mpu. Istri ku Kemuning juga ada hutang nyawa yang harus di bayar oleh Akuwu Surenggono. Tujuan kami ke Pakuwon Sendang adalah untuk mencari keadilan untuk ibu istri ku. Jadi sepertinya kita senasib sepenanggungan", Arya Pethak terkekeh kecil dan gembira karena mendapatkan tambahan kawan untuk menyerbu ke dalam Istana Sendang. Awalnya dia berencana untuk menyusup masuk ke dalam istana diam diam, namun setelah mendapat kawan, rencana nya harus di rubah.
Mpu Wikarto langsung tersenyum lebar begitu mendengar ucapan Arya Pethak.
"Tentu saja aku ijinkan..
Musuhnya musuh adalah teman. Kita punya musuh yang sama, Kisanak. Tentu saja kita harus bekerjasama untuk menghabisi nyawa Akuwu Surenggono.."
Siang itu juga, mereka segera menyusun rencana balas dendam mereka. Setelah tertata rapi, mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke arah Desa Girimulyo untuk menata kekuatan. Tepat saat senja mulai turun, mereka telah sampai di Desa Girimulyo. Kedatangan mereka langsung disambut oleh para pendukung Mpu Wikarto yang memang sudah mempersiapkan diri untuk menyerang Istana Pakuwon Sendang.
Berkekuatan sekitar 120 orang pendekar, malam itu juga pasukan balas dendam yang dipimpin oleh Mpu Wikarto bergerak menuju ke arah Istana Pakuwon Sendang. Menggunakan sandi "Gula Merah", mereka bergerak diam diam tanpa menimbulkan keributan sama sekali. Arya Pethak dan kawan-kawan nya pun menjadi bagian dari pasukan ini, terus mengikuti langkah para pasukan balas dendam Mpu Wikarto.
Begitu sampai di luar tembok istana Pakuwon Sendang, pasukan di pecah menjadi dua bagian. Satu bagian besar membuat keributan di pintu gerbang istana. Sedangkan satu lagi jumlah yang lebih kecil, yang terdiri dari beberapa pendekar berilmu tinggi, melompati tembok istana dari samping selatan.
Para prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Sendang langsung terkejut bukan main saat melihat puluhan orang menyerbu masuk ke arah gapura. Salah seorang diantara mereka langsung memukul kentongan tanda bahaya sembari berteriak lantang,
"Ada penyusup!!"
______________________________________________
Terimakasih atas kesediaannya membaca cerita karya saya. Jika lambat update episode selanjutnya, mohon di maklumi. Pekerjaan saya bukan cuma menulis cerita di Noveltoon. Ada real life yang harus saya jalani. Yang suka silahkan, yang gak suka saya juga tidak memaksa. Mohon hargai jerih payah penulis karena ide cerita tidak mengalir seperti air sungai. Salam santun dari Jawa Timur.
__ADS_1