Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Ajian Badai Laut Selatan


__ADS_3

Ki Mojo melotot lebar kearah orang yang menendang nya baru saja.


"Minggir kau, pemuda tengik!


Kalau kau mengganggu keinginan ku, jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar padamu", ujar Ki Mojo sambil bersiap untuk menyerang.


"Kau pikir aku takut menghadapi orang seperti mu?


Kau berani mengganggu kawan ku, maka aku tidak akan mengampuni mu. Majulah!", teriak pemuda tampan yang tak lain adalah Arya Pethak.


Meski pengaruh Racun Ular Kuning belum sepenuhnya sembuh dari tubuh nya, tapi tenaganya masih mampu untuk menghajar Ki Mojo dan kawan-kawan nya.


"Kurang ajar!


Mau mampus kau rupanya. Baik, ku kabulkan permintaan mu bangsat!", usai berkata demikian, Ki Mojo segera melesat maju sambil mencabut pedang yang tersarung di pinggangnya.


Saat Arya Pethak hendak menyongsong serangan Ki Mojo, tangan kiri nya langsung di cekal oleh Paramita.


"Biar aku saja yang menghadapi nya Kakang", ucap Paramita yang dengan lincah melesat sambil membabatkan pedang nya.


Thrrriiinnnggggg!!


Bunyi nyaring terdengar dari benturan dua senjata Ki Mojo dan Paramita. Cucu Begawan Tirta Wening itu dengan cepat bergerak ke samping kiri lalu telapak tangan kanannya terayun ke arah dada Ki Mojo.


Pendekar sewaan Mahesa Kingkin itu tak sempat menghindar tapi masih sempat menghantamkan tangan kiri nya, memapak serangan Paramita.


Blaaarrr!!


Terdengar suara ledakan keras saat dua telapak tangan kiri mereka beradu.


Ki Mojo terdorong mundur beberapa langkah hingga menabrak tiang dapur kediaman Lurah Desa Wadang itu. Paramita yang juga terdorong selangkah ke belakang, langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Ki Mojo yang tengah terhuyung huyung.


Sabetan pedang Paramita terayun ke arah perut Ki Mojo.


Shreeeeettttthhh!!


Ki Mojo langsung melompati sabetan pedang Paramita untuk menghindarkan diri dari bahaya. Laki laki berumur 4 warsa itu langsung berguling ke tanah dan melompat keluar dari dalam dapur rumah Ki Lurah Suro Mukti. Tadi ekor matanya sempat melihat kedatangan Mpu Sasi dan beberapa prajurit Kadipaten Kurawan berlari ke arah dapur.


Melihat pimpinan nya berupaya kabur, tiga orang berpakaian hijau tua berusaha untuk mengikuti namun terjangan Mpu Sasi dan dua prajurit Kurawan menghentikan pergerakan mereka.


Pertarungan sengit antara mereka terjadi di dalam dapur kediaman Lurah Desa Wadang.


Sedangkan Paramita langsung mengejar Ki Mojo yang berlari keluar dapur. Di halaman belakang rumah Ki Lurah Desa Wadang, satu sabetan pedang nya membuat Ki Mojo harus berkelit ke kanan.


Dengan cepat, pendekar dari Padepokan Gunung Hijau itu memutar badan lalu menebaskan pedangnya kearah leher Paramita namun gadis cantik itu segera menekuk kakinya hingga tebasan Ki Mojo menghajar angin kosong dua ruas jari diatas kepala Paramita.


Cucu Begawan Tirta Wening itu segera merubah gerakan tubuhnya dan pedang nya lantas menebas perut Ki Mojo.


Shreeeeettttthhh!!


Ki Mojo mencoba untuk mundur namun dia terlambat beberapa saat hingga pedang Paramita merobek perutnya meski tidak terlalu dalam tapi cukup membuat luka yang mengeluarkan banyak darah.


Auuuggghhhhh!!


Rintih kesakitan terdengar dari mulut Ki Mojo. Pendekar sewaan Mahesa Kingkin itu melompat mundur sambil membekap lukanya yang terus mengeluarkan darah.


"Gadis tengik!


Bangsat kau!!!", maki Ki Mojo sambil meringis menahan rasa perih pada perut nya. Dia tak menyangka bahwa dua gadis cantik yang terlihat tak berdaya itu malah memiliki kemampuan beladiri yang tinggi.


Segera Ki Mojo melepaskan bajunya untuk membalut luka di perutnya. Setelah mengikat bajunya kuat kuat untuk membalut luka, Ki Mojo segera merentangkan kedua tangannya. Kali ini dia akan mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri nya. Gadis cantik di depan nya itu tidak bisa di anggap remeh.


"Kali ini kau tak akan ku ampuni!", teriak Ki Mojo dengan geram. Mulut pendekar sewaan Mahesa Kingkin itu komat-kamit membaca mantra.


Kedua tangan yang terentang lebar lalu menangkup sempurna di depan dada. Lelaki yang rambutnya mulai di tumbuhi uban itu nampak berkeringat dingin saat sinar hijau tua mulai meliputi telapak tangan nya.


Rupanya Ki Mojo merapal Ajian Randu Alas andalan perguruan nya. Angin menderu di sekitar tubuh Ki Mojo.


Melihat lawan nya mengeluarkan ilmu kanuragan andalan nya, Paramita mau tidak mau harus mengeluarkan ilmu kanuragan yang selama ini jarang sekali dia pergunakan.


Kedua tangan Paramita terbuka lebar,.lalu bersatu di depan dada dengan sikap seperti tangan pertapa. Tiba-tiba saja angin kencang berhawa dingin melingkupi seluruh tubuh Paramita. Dari tangan kanannya muncul sinar biru kehijauan yang bergulung-gulung seperti badai.


Itulah Ajian Badai Laut Selatan, ajian andalan Begawan Tirta Wening yang di turunkan pada cucu semata wayangnya, Paramita. Ajian itu pernah menggemparkan dunia persilatan di wilayah Tumapel karena mampu mengimbangi Ajian seorang pendekar pilih tanding golongan hitam dari Gunung Mahameru.


Ki Mojo segera hantamkan tangan kanannya. Selarik sinar hijau tua menerabas cepat kearah Paramita.


Shiiiuuuuuuuuttttt...


Paramita segera memutar tubuhnya lalu tangan kanannya menghantam ke arah Ki Mojo.


"Badai Laut Selatan...


Hiyyyyaaaaaaaatttttt...!!!"


Sinar hijau kebiruan bergulung gulung disertai angin kencang berhawa dingin meluncur ke arah sinar hijau tua dari Ki Mojo. Hebatnya lagi, sinar hijau tua seperti tertelan oleh sinar hijau kebiruan dari Paramita. Lalu menghantam tubuh Ki Mojo yang tak sempat menghindar.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar dan tubuh Ki Mojo terpental jauh ke belakang dan menghantam pohon randu tempat mengikat sapi. Dia tewas dengan dada remuk dan urat nadi yang membeku. Seluruh tubuh Ki Mojo terlihat memutih dan membeku.

__ADS_1


Paramita segera menurunkan kedua tangan nya hingga ke bawah perut sambil menghembuskan nafas panjang. Usai melihat mayat Ki Mojo sebentar, Paramita bergegas menuju ke dalam dapur rumah Ki Lurah Suro Mukti.


Disana 3 orang pendekar sewaan itu sudah di lumpuhkan oleh Mpu Sasi dan dua prajurit Kurawan. Klungsur yang geram, terus memukuli wajah salah satu diantaranya.


Plakkkk...


Terdengar suara tamparan keras dari Klungsur yang membuat si pendekar sewaan itu terhuyung huyung dari tempat bersujud nya.


"Buka mulut mu sekarang!


Kalau tidak akan terus menyiksa mu hingga semua gigi di mulut mu itu rontok semuanya.


Cepat katakan!", ujar Klungsur sembari menjambak rambut orang yang di siksa nya itu.


"Ampun Den...


Ampuni saya. Kami hanya orang suruhan Den. Ampuni nyawa kami", ujar si pendekar sewaan Mahesa Kingkin itu yang mulai tidak tahan di siksa Klungsur. Dua gigi depan nya sudah rontok akibat bogem mentah Klungsur.


Semua orang saling berpandangan sejenak lalu segera menatap ke arah para pendekar sewaan. Ki Lurah Suro Mukti segera mendekati mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian berbuat seperti ini di rumah ku ha?", hardik Ki Lurah Suro Mukti. Lurah sepuh itu terlihat geram dengan mereka.


"Ka-kami di suruh oleh anak Ki Wongsorejo, Mahesa Kingkin, untuk menculik gadis cantik berbaju kuning di rumah Ki Lurah. Dia menunggu kedatangan kami di batas utara desa", jawab si pendekar sewaan itu segera.


"Kurang ajar!


Bocah tak tahu diri! Dia berani menghina ku di depan tamu-tamu penting ku.


Lembu Seta, kemari kau!", Ki Lurah Suro Mukti marah besar mendengar ucapan pendekar sewaan Mahesa Kingkin itu berbicara.


Lembu Seta yang juga terkejut mendengar pengakuan itu, langsung mendekati Ki Lurah Suro Mukti.


"Saya Romo,


Ada yang harus Seta lakukan?", tanya Lembu Seta dengan cepat. Dia benar-benar takut melihat amarah ayahnya.


"Kau dengar sendiri omongan orang ini bukan?


Bawa teman mu itu kemari malam ini juga.


Kalau tidak, seterusnya jangan panggil aku Romo mu. Kau mengerti?", Ki Lurah Suro Mukti mendelik tajam ke arah Lembu Seta.


"Seta mengerti Romo", ujar Lembu Seta yang segera berlalu menuju ke arah yang ditunjukkan oleh pendekar sewaan Mahesa Kingkin itu di temani oleh Jagabaya dan 8 orang anak buah nya.


Sementara itu, Mahesa Kingkin mondar mandir di tempat pertemuan yang dijanjikan. Hati nya harap harap cemas menanti kedatangan Ki Mojo dan ketiga temannya.


Bongkeng yang sedari tadi hanya diam, hanya memperhatikan gerak-gerik Mahesa Kingkin sambil mengunyah singkong bakar yang masih panas.


Terdengar suara langkah kaki mendekat. Mahesa Kingkin segera menoleh kearah sumber suara. Dari kegelapan malam muncul Lembu Seta dan Jagabaya Desa Wadang beserta ke 8 anak buah nya.


Melihat kedatangan kawan yang tak diharapkan, Mahesa Kingkin mencoba untuk bersikap sewajar mungkin. Buru buru dia menyapa Lembu Seta.


"Seta,


Ada apa kau kemari? Kita tidak ada janji untuk menonton hiburan kan malam ini?", tanya Mahesa Kingkin sambil tersenyum tipis.


"Tak ku sangka kau akan bertindak seperti ini, Kingkin..


Dengar, aku diminta Romo Lurah untuk membawa mu ke balai desa. Ayo sekarang kau ikut aku Kingkin", ujar Lembu Seta dengan dingin. Tak ada lagi raut persahabatan di wajah putra Lurah Suro Mukti itu.


"Apa maksud mu, Seta?


Memang aku punya salah apa?", Mahesa Kingkin mencoba untuk berlagak tidak tahu apa apa.


"Jangan berkelit, Kingkin.


Orang orang yang kau sewa untuk menculik tamu agung kami sudah mengakui semuanya. Kau ikut kami baik-baik atau terpaksa aku memakai kekerasan untuk membawa mu pada Romo Lurah", ucap Lembu Seta dengan keras.


Mendengar jawaban itu, Mahesa Kingkin dan Bongkeng terkejut bukan main. Karena tak mungkin menghindar lagi, diam diam Mahesa Kingkin melirik ke arah Bongkeng. Dengan cepat ia mendorong tubuh Bongkeng ke arah Lembu Seta dan dia mencoba untuk melarikan diri.


Tubuh Bongkeng langsung menabrak Lembu Seta hingga putra Lurah Suro Mukti itu terjatuh.


Sedangkan Mahesa Kingkin yang berusaha kabur tak melihat bahwa seorang lelaki sepuh berjenggot putih yang tak lain adalah Jagabaya Desa Wadang langsung memukul dada Mahesa Kingkin dengan keras.


Bhhhuuukkkkkhhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Mahesa Kingkin menjerit. Putra juragan Wongsorejo itu terpelanting ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. 6 orang anak buah Jagabaya Desa Wadang langsung memegang tubuh Mahesa Kingkin dan mengikatnya dengan tali yang sudah mereka bawa dari kediaman Lurah Suro Mukti tadi.


Usai berhasil menangkap Mahesa Kingkin dan Bongkeng, Lembu Seta dan Jagabaya Desa Wadang beserta beberapa anak buah nya langsung menggelandang Mahesa Kingkin dan Bongkeng ke rumah Ki Lurah Suro Mukti.


Sepanjang perjalanan ke balai desa, Mahesa Kingkin terus menghiba pada Lembu Seta untuk di lepaskan sambil mengungkit pertemanan mereka namun pemuda itu tak bergeming sama sekali. Lembu Seta tahu bahwa sekali dia melepaskan Mahesa Kingkin, Ki Lurah Suro Mukti pasti tidak akan mengampuninya.


Sesampainya di balai desa Wadang, Lembu Seta segera menemui ayahnya.


"Itu Mahesa Kingkin, Romo.. Aku sudah berhasil membawanya kemari", ujar Lembu Seta segera. Mendengar laporan putra nya, Ki Lurah Suro Mukti segera melangkah keluar dari dalam rumah menuju halaman bersama semua orang yang menjadi tamu di rumah Ki Lurah Suro Mukti.


Di halaman rumah, Mahesa Kingkin berlutut di tanah dengan tubuh terikat tali yang terbuat dari serat pohon melinjo yang sangat liat. Bersama Bongkeng, Mahesa Kingkin terus menunduk tak berani mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Mahesa Kingkin!


Bocah kurang ajar! Beraninya kau menganggu para tamu ku hingga menyuruh orang untuk menculiknya. Kecil kecil sudah berani bertindak kejahatan kau rupanya.


Atas nama Adipati Lembu Panoleh, aku..."


Belum sempat Lurah Suro Mukti menyelesaikan omongannya, Saudagar Wongsorejo berlari menuju ke halaman rumah kediaman sang lurah.


"Ki Lurah Suro Mukti, tunggu dulu Ki", teriak Wongsorejo sambil mendekati Lurah Desa Wadang itu segera.


"Ampuni kesalahan putra ku Ki Lurah, demi persahabatan kita selama ini.


Aku tahu dia bersalah besar pada mu juga para tamu agung dari Kadipaten Kurawan. Tapi tak bisakah ada jalan lain untuk kita?", imbuh Ki Wongsorejo dengan penuh harap.


"Putra mu melakukan kesalahan yang berat, Ki Wongsorejo.


Karena perbuatannya, pendekar sewaannya nyaris mencelakai Nimas Paramita dan Nimas Sekarwangi. Sebagai sahabat baik mu, aku tidak tega menghukum putra mu tapi sebagai penegak hukum, mau tidak mau harus kulakukan.


Aku minta kau tidak menghalangi lagi hukuman untuk putramu", ujar Ki Lurah Suro Mukti dengan tegas.


Wongsorejo yang tahu sifat keras Suro Mukti segera mengalihkan perhatian pada Tumenggung Jaran Gandi.


"Gusti Tumenggung Jaran Gandi,


Tak bisakah Gusti menolong hamba? Hamba hanya ingin putra hamba tetap hidup Gusti Tumenggung", ujar Wongsorejo sambil bersujud kepada Tumenggung Jaran Gandi. Air mata saudagar kaya itu mengalir deras.


"Hemmmmmmm baiklah, akan aku coba Ki Wongso..


Titik permasalahan adalah upaya Mahesa Kingkin menculik Nimas Sekarwangi. Lalu percobaan pembunuhan oleh pendekar sewaan Mahesa Kingkin pada Nimas Paramita.


Kita selesaikan satu demi satu", ujar Tumenggung Jaran Gandi yang tak tega melihat permohonan Ki Wongsorejo.


"Nimas Sekarwangi,


Apa kau bersedia memaafkan Mahesa Kingkin?", tanya Tumenggung Jaran Gandi seraya menoleh ke arah Sekarwangi yang berdiri di samping Arya Pethak.


"Aku tidak masalah dengan itu, Gusti Tumenggung. Tapi aku tak mau melihat lagi orang itu", jawab Sekarwangi dengan cepat.


"Baiklah kalau begitu..


Nimas Paramita, kau sudah berhasil menghabisi nyawa pendekar sewaan Mahesa Kingkin. Apa ada lagi yang ingin kau inginkan?", Tumenggung Jaran Gandi menoleh ke arah Paramita.


Cucu Begawan Tirta Wening itu langsung berbicara dengan cepat.


"Aku tidak menginginkan apa apa lagi. Toh aku juga tidak apa-apa. Hanya aku juga tidak mau melihat lagi muka orang itu lagi", Paramita menunjuk ke arah Mahesa Kingkin.


"Kalau begitu maka aku putuskan bahwa Mahesa Kingkin aku bebaskan dengan syarat dia tidak boleh lagi menginjak tanah desa ini. Yang kedua Ki Wongsorejo wajib membayar denda untuk mengganti semua biaya kerusakan di rumah Ki Lurah Suro Mukti sejumlah 100 kepeng perak dan 100 kepeng perak lagi di berikan pada Nimas Paramita dan Nimas Sekarwangi.


Aku rasa itu sudah cukup adil untuk semua nya", ucap Tumenggung Jaran Gandi yang disambut senyum bahagia oleh Ki Wongsorejo.


Meski putranya di usir dari Desa Wadang, setidaknya Mahesa Kingkin masih hidup.


Usai acara persidangan itu, semua orang segera membubarkan diri.


Arya Pethak yang baru selesai melakukan semedi untuk memulihkan kondisi tubuh nya, di dekati oleh Klungsur.


"Ndoro Pethak,


Besok kita jadi meneruskan perjalanan ke Kadipaten Kurawan?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2