Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Begawan Pasopati


__ADS_3

Melihat kelakuan Begawan Pasopati yang berdiri di tengah arena pertandingan sayembara, Adipati Gajah Panggung menggeram keras. Tangan kanannya meremas gagang kursi kayu tempat nya duduk.


"Romo Adipati,


Kenapa kau biarkan Begawan Pasopati berbuat seenaknya sendiri?", protes Dewi Retno Wulan pada Adipati Gajah Panggung yang nampak tidak bisa berbuat apa-apa.


"Nimas Retno Wulan,


Kanjeng Romo bukan hanya berdiam diri saja. Tapi Kanjeng Romo Adipati juga tidak bisa berbuat banyak karena Begawan Pasopati itu sangat sakti. Kalau sampai menyinggung perasaan nya, membunuh semua orang yang ada di sini bukan perkara sulit untuk orang tua itu.


Kita harus mengendalikan diri sebelum bertindak ", sahut Pangeran Gajah Lembono yang juga nampak geram melihat ulah Begawan Pasopati.


"Apa kita harus diam saja melihat ketidakadilan yang terjadi di depan mata kita?


Apa kekuatan seorang Adipati tidak mampu mengalahkan seorang lelaki tua yang sok berkuasa itu?", Dewi Retno Wulan masih tidak terima dengan keadaan yang terjadi di depan matanya.


Adipati Gajah Panggung hanya terdiam mendengar semua omongan Dewi Retno Wulan. Memang benar semua perkataan putri nya itu, tapi menantang Begawan Pasopati sama dengan ingin mati konyol sia-sia. Dia sadar bahwa kemampuan beladiri nya tidak mampu untuk melawan Begawan Pasopati.


Semua orang langsung kasak kusuk tentang kemungkinan Arya Pethak menghadapi Begawan Pasopati. Di ukur dari segi manapun, mereka pasti akan bertaruh bahwa Begawan Pasopati bisa menghabisi nyawa Arya Pethak dengan mudah.


"Sebutkan nama mu dan dari mana asal mu agar mayat mu bisa ku kirim pada keluarga mu", ucap Begawan Pasopati yang nampak mulai bersiap untuk menyerang. Usai meletakkan tubuh Tumenggung Jaran Sembrani yang terluka parah akibat Ajian Serat Jiwa, Begawan Pasopati menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Aku Arya Pethak dari Bukit Kahayunan.


Aku sudah berusaha keras untuk memberi tahu Tumenggung Anjuk Ladang itu untuk tidak bertarung karena aku tidak berminat untuk menjadi prajurit Anjuk Ladang. Tapi perwira itu ngotot ingin melawan ku jadi terpaksa aku membela diri ", ujar Arya Pethak sambil membungkukkan badannya pertanda dia hormat kepada Begawan Pasopati yang lebih tua.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Mulut mu manis tapi aku tidak akan terpengaruh, bocah tengik!


Kau sudah menghancurkan kekuatan murid ku Tumenggung Jaran Sembrani. Jangan panggil aku Begawan Pasopati jika hari ini aku tidak membalaskan kekalahan murid ku", usai berkata demikian, Begawan Pasopati langsung menginjak tanah dengan keras hingga Pedang Rimpil di tangan terlontar ke udara. Dengan cepat ia melompat dan menyambar gagang pedang kemudian melesat cepat kearah Arya Pethak yang langsung mencabut Pedang Setan di punggungnya.


Sabetan Pedang Rimpil dari Begawan Pasopati langsung di tangkis oleh Arya Pethak dengan Pedang Setan nya.


Thrrraaannnnggggg!!!!


Kecepatan Begawan Pasopati memang diatas Tumenggung Jaran Sembrani. Gerakan kakek tua itu sangat cepat. Untung saja Arya Pethak memiliki Ajian Langkah Dewa Angin yang membuat nya mampu mengimbangi permainan pedang Begawan Pasopati yang cepat dan mematikan.


Gerakan pertarungan sengit antara Begawan Pasopati dan Arya Pethak membuat semua penonton sayembara menahan nafas. Meski gempuran ganas Begawan Pasopati sangat menakjubkan, tapi Arya Pethak mampu mengimbangi nya.


'Bagus Arya Pethak..


Kau sungguh luar biasa. Begawan keparat itu mampu kau imbangi dengan seluruh tenaga mu. Aku yakin kau bisa', batin Adipati Gajah Panggung yang bersorak gembira. Dia sungguh berharap agar Arya Pethak mampu mengalahkan Begawan Pasopati sekaligus membebaskan Kadipaten Anjuk Ladang dari ancaman kekuatan Begawan Pasopati yang meski masuk golongan putih namun tindakan nya mirip dengan pendekar golongan hitam.


Tebasan Pedang Rimpil yang berhasil di tangkis oleh Arya Pethak membuat Begawan Pasopati langsung menghantamkan tangan kiri nya yang di lambari Ajian Candra Mawa. Selarik sinar merah kehitaman menyelimuti tangan kiri Begawan Pasopati.


Arya Pethak menyambut serangan itu dengan Ajian Tapak Brajamusti. Saat tapak kiri Arya Pethak beradu dengan kepalan tangan kiri Begawan Pasopati, ledakan dahsyat terdengar.


Blllaaammmmmmmm!!!


Arya Pethak terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Dadanya sesak dan seteguk darah segar dia muntahkan. Tenaga dalam nya seurat lebih rendah dari Begawan Pasopati. Untung saja Ajian Lembu Sekilan melindungi tubuh nya. Kalau tidak pasti dia sudah tewas di tangan kakek tua berjenggot panjang itu.


Guru Tumenggung Jaran Sembrani sendiri juga terdorong mundur sejauh 2 tombak. Meski dia tidak muntah darah, namun dadanya sesak seperti tertimpa batu besar.


'Bangsat kecil ini rupanya hebat juga. Aku harus lebih berusaha kalau tidak mau di permalukan di depan semua orang', batin Begawan Pasopati sambil menghela nafas berat.


Semua mata penonton sayembara yang memadati tempat itu terus tertuju pada dua orang yang berlaga di arena pertandingan.


"Rupanya kau berisi juga, bocah tengik!


Tapi jangan sombong dulu. Aku belum mengerahkan seluruh kemampuan ku. Bersiaplah untuk mati!", ujar Begawan Pasopati yang langsung melemparkan Pedang Rimpil. Pedang melesat cepat dan menancap hingga separuh bilah pedang melesak ke dalam tanah. Itu menandakan bahwa tenaga dalam nya tinggi.


"Aku tidak akan sungkan lagi menghadapi mu, Begawan Pasopati.


Majulah sekarang!" ujar Arya Pethak sembari mengusap kedua belah matanya. Selapis sinar merah tipis terlihat menyapu kedua mata Arya Pethak pertanda dia menggunakan Ajian Mata Dewa ajaran Mpu Sunyaluri yang mampu membaca pergerakan lawan.


Begawan Pasopati dengan cepat merentangkan kedua tangannya lebar kesamping kiri kanan, lalu menangkup di depan dada. Seluruh tubuhnya langsung mengeluarkan sinar merah kehitaman pertanda dia menggunakan Ajian Panglegur Sukmo yang merupakan ajian kanuragan tingkat tinggi. Tingkat nya jauh lebih tinggi di banding dengan ajian dari Tumenggung Jaran Sembrani.


Arya Pethak sedikit terkesiap melihat itu. Ajian Mata Dewa melihat jelas perubahan tenaga dalam Begawan Pasopati yang melonjak naik.


'Ilmu kakek tua ini lebih tinggi di banding dengan Tumenggung Jaran Sembrani. Aku harus mengerahkan seluruh kemampuan ku", batin Arya Pethak yang segera menyarungkan kembali Pedang Setan ke punggungnya. Kali ini dia menggabungkan beberapa Ajian miliknya sekaligus. Ajian Langkah Dewa Angin untuk kecepatan, Ajian Mata Dewa untuk melihat pergerakan lawan, Ajian Lembu Sekilan untuk perlindungan juga Tapak Brajamusti di tangan kirinya.


Setelah semua dipersiapkan, Arya Pethak memejamkan mata sekejap dengan tangan kanan berada di depan dada. Tiba-tiba sinar kuning kemerahan terpancar dari depan dada Arya Pethak. Kini di tangan kanannya muncul Keris Mpu Gandring, sang Pusaka Penebar Petaka.


Melihat munculnya keris pusaka di tangan Arya Pethak, Begawan Pasopati terkejut bukan main.


Keyakinan bahwa dia akan memenangkan pertarungan ini pun langsung runtuh. Dia tahu kehebatan keris pusaka di tangan Arya Pethak.


"Bocah tengik!

__ADS_1


Serahkan keris pusaka itu maka akan ku ampuni nyawamu!", teriak Begawan Pasopati dengan lantang.


"Kalau memang kau hebat, rebutlah keris ini Begawan Pasopati ", jawab Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah Begawan Pasopati.


"Kurang ajar!


Setelah kau ku bunuh, keris pusaka itu akan ku tancapkan di batok kepala mu bangsat!", usai berkata demikian, Begawan Pasopati melesat cepat kearah Arya Pethak. Hawa panas yang sanggup membakar apa saja terpancar dari tubuh Begawan Pasopati. Hanya seorang pendekar yang mampu menahan hawa mengerikan itu selama Begawan Pasopati malang melintang di dunia persilatan.


Tangan kiri kanan Begawan Pasopati langsung menghantam bertubi-tubi kearah Arya Pethak.


Shiiiuuuuuuuuttttt shiiiuuuuuuuuttttt!!!


Menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak menghindari setiap sinar merah kehitaman besar yang mengincar nyawanya.


Blammmmm blammmmm..


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan beruntun terdengar dari arena pertandingan. Arya Pethak yang kecepatannya jauh dari kecepatan Begawan Pasopati, mampu menghindari sinar merah kehitaman yang keluar dari tangan Begawan Pasopati.


Kendati Begawan Pasopati terus melancarkan serangan bertubi-tubi, Arya Pethak dengan gesit menghindar sembari berusaha untuk mencari celah untuk mendekati nya.


Saat Begawan Pasopati menghantamkan tangan kanannya, Arya Pethak dengan cepat mengayunkan Keris Mpu Gandring ke depan.


Sinar kuning kemerahan melesat cepat kearah sinar merah kehitaman dari tangan Begawan Pasopati.


Whhhuuuggghhhh..


Blllaaammmmmmmm!!!


Satu gerakan cepat bagai kilat, Arya Pethak muncul di samping Begawan Pasopati kemudian menghantamkan tangan kiri nya ke arah pinggang kakek tua berjenggot putih itu segera.


Begawan Pasopati langsung menghadang dengan pukulan tangan kiri nya yang berwarna merah kehitaman.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Ajian Mata Dewa melihat pergerakan Begawan Pasopati yang terdorong ke arah kanan. Dengan bantuan gerakan kilat Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak langsung memotong pergerakan Begawan Pasopati sembari menusukkan Keris Mpu Gandring ke perut kakek tua itu segera.


Jllleeeeeppppphhh!!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Blllaaammmmmmmm!!


Kedua orang itu terpelanting jauh ke belakang. Dua-duanya sama-sama menghantam tanah dengan keras. Arya Pethak muntah darah kehitaman. Dia luka dalam cukup serius. Namun pemuda tampan itu masih hidup. Keris pusaka di tangan nya langsung kembali bersemayam di dalam tubuhnya. Arya Pethak lalu tersungkur dan pingsan.


Sedangkan Begawan Pasopati langsung diam tak bergerak lagi. Tusukan Keris Mpu Gandring tadi menembus ulu hati nya. Dia tewas dengan luka menganga di perutnya dan sebagian ususnya terburai keluar.


Melihat Arya Pethak roboh, Sekarwangi, Paramita, Anjani dan Klungsur langsung melompat ke dalam arena sayembara. Dengan cepat Paramita memeriksa pernafasan Arya Pethak. Begitu melihat Arya Pethak masih hidup, dengan cepat Paramita menotok beberapa jalan darah sang pendekar.


Keadaan sayembara menjadi kacau balau. Para prajurit Anjuk Ladang di pimpin oleh Juru Laweyan dan Patih Suro Abang yang bertugas menjaga langsung membuat pagar betis begitu Adipati Gajah Panggung, Dewi Retno Wulan dan Pangeran Gajah Lembono ikut turun ke gelanggang pertarungan.


"Bagaimana keadaan pendekar muda ini?", tanya Adipati Gajah Panggung pada Paramita yang terlihat menangani Arya Pethak. Mendapat pertanyaan itu, Paramita menoleh ke arah Sekarwangi seakan meminta persetujuan. Melihat anggukan kepala dari Sekarwangi, Paramita menoleh ke arah Adipati Gajah Panggung.


"Dia luka dalam cukup parah Gusti Adipati. Sekarang dia pingsan", jawab Paramita sambil menatap ke arah Adipati Anjuk Ladang itu.


"Bawa pendekar muda ini ke dalam istana Kadipaten. Disana dia bisa berobat dengan tenang. Akan ku siapkan segala yang di perlukan untuk mengobati nya", ujar Adipati Gajah Panggung dengan cepat. Mendengar penuturan itu, kawan kawan Arya Pethak setuju dan dengan cepat beberapa prajurit menggotong tubuh Arya Pethak dengan tandu ke dalam balai tamu kehormatan Kadipaten Anjuk Ladang. Paramita, Klungsur, Anjani dan Sekarwangi segera mengikuti langkah para prajurit.


Adipati Gajah Panggung tersenyum lebar ketika melihat mayat Begawan Pasopati dan Tumenggung Jaran Sembrani yang terkapar di tanah.


"Akhirnya duri dalam daging di Kadipaten Anjuk Ladang musnah juga..


Bekel Regol,


Singkirkan mayat dua orang itu. Buang saja ke hutan biar jadi santapan binatang buas!", perintah Adipati Gajah Panggung yang melihat Bekel Regol berada diantara para prajurit Anjuk Ladang yang terlihat diantara para prajurit Anjuk Ladang.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Bekel Regol menyembah pada Adipati Gajah Panggung sebelum bertindak menjalankan tugas.


Setelah memberikan perintah kepada Bekel Regol, Adipati Gajah Panggung segera menuju ke arah balai tamu kehormatan Kadipaten. Di temani oleh Dewi Retno Wulan dan Pangeran Gajah Lembono, mereka bergegas menuju ke sana.


Setibanya di tempat yang dituju, Adipati Gajah Panggung segera menuju ke arah kamar tidur yang menjadi tempat peristirahatan Arya Pethak. Melihat keadaan Arya Pethak yang masih belum sadar, Adipati Gajah Panggung langsung memerintahkan kepada bawahan nya untuk memanggil dua tabib istana untuk merawat Arya Pethak. Meski ada Paramita yang ilmu pengobatan nya tinggi, namun Adipati Gajah Panggung tak mau mengandalkannya untuk merawat pahlawan yang sudah menyingkirkan duri dalam daging di Kadipaten Anjuk Ladang. Dia harus membalas budi baik Arya Pethak dengan menyediakan pengobatan yang terbaik untuk Arya Pethak.


Hampir dua hari Arya Pethak pingsan. Setiap hari Anjani dengan telaten merawat pemuda tampan itu di bantu Sekarwangi. Klungsur yang biasanya cuek saja kali ini ikut gelisah memikirkan keadaan Arya Pethak yang memaksakan diri untuk mengalahkan salah satu dedengkot dunia persilatan. Dewi Retno Wulan setiap hari menjenguk Arya Pethak untuk memastikan keadaan pendekar muda itu.


Menjelang sore, tiba tiba tangan kiri Arya Pethak bergerak perlahan. Kemudian dia membuka mata nya sedikit demi sedikit.


"Di-dimana aku?", tanya Arya Pethak perlahan.


Anjani yang baru saja selesai membasuh tubuh Arya Pethak langsung terlonjak gembira. Segera dia mendekati Arya Pethak.

__ADS_1


"Ndoro... Ndoro Pethak sudah sadar??


Puji Hyang Agung atas segala rahmat yang kau berikan.


Gusti Putri, Paramita, Klungsur...!!!!", teriak Anjani saking gembiranya.


Mendengar teriakan Anjani, ketiga orang yang ada di luar kamar tidur Arya Pethak langsung bergegas masuk ke dalam. Melihat air mata menetes dari sudut mata Anjani, mereka langsung menyerbu ke arah Arya Pethak yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Melihat Arya Pethak membuka mata nya, langsung mereka tersenyum bahagia.


"Ndoro Pethak, syukur lah Ndoro sudah siuman", ujar Klungsur sembari mengusap cairan bening yang menetes dari matanya.


"A-aku ada dimana Sur?", tanya Arya Pethak dengan suara perlahan.


"Kakang ada di istana Kadipaten Anjuk Ladang. Aku senang sekali akhirnya Kakang Pethak siuman", sahut Sekarwangi dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa aku bisa di tempat ini?", Arya Pethak mencoba untuk duduk namun Paramita dengan cepat menahannya.


"Kakang Pethak beristirahat saja dulu.. Kakang baru saja siuman setelah pingsan 2 hari. Aku tahu luka dalam kakang tidak main-main..


Anjani,


Bantu aku menyiapkan obat pemulih tenaga.


Sekarwangi, Klungsur..


Kalian berdua jaga Kakang Pethak baik-baik. Jangan biarkan dia banyak bergerak. Bantu semua kebutuhan nya", ucap Paramita dengan cepat. Ketiga orang itu langsung mengangguk mengerti. Paramita dan Anjani langsung merebus daun obat sementara Klungsur dan Sekarwangi menjaga Arya Pethak.


Kabar mengenai Arya Pethak yang siuman dari pingsannya segera sampai di telinga Adipati Gajah Panggung. Di tengah acara pisowanan agung, dia langsung berdiri begitu mendengar kabar itu.


"Patih Suro Abang,


Lanjutkan pisowanan ini. Begitu rampung bubarkan mereka sesuai adat kebiasaan yang berlaku.


Aku masih ada urusan penting", titah Adipati Gajah Panggung yang segera berjalan cepat meninggalkan balai paseban agung Kadipaten Anjuk Ladang.


Dengan di temani oleh dua orang pengawal pribadi nya, Adipati Gajah Panggung langsung menuju ke balai tamu kehormatan Kadipaten. Dua orang prajurit penjaga balai tamu langsung menghormat pada Adipati Gajah Panggung yang tak menghiraukan kehadiran mereka.


Begitu sampai di kamar tidur Arya Pethak, Adipati Gajah Panggung langsung melangkah masuk. Melihat Arya Pethak yang sudah duduk sembari meminum obat pemulih tenaga buatan Paramita, wajah Penguasa Daerah Anjuk Ladang itu langsung sumringah.


"Hahahaha...


Pendekar muda, kau sungguh hidup dengan berkah para dewa. Setelah membunuh Begawan Pasopati, kau masih hidup..


Nah pendekar muda,


Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira kira apa yang mau di bicarakan Adipati Anjuk Ladang ya? 🤔🤔🤔


Hayok tebak di kolom komentar dong ✌️✌️😁😁

__ADS_1


__ADS_2