Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Di Kaki Gunung Pojoktiga


__ADS_3

HAAHHHHH?!!!!


"Naon itu artinya apa, Akang Klungsur", jawab Nay Kemuning sambil terus menggebrak kudanya. Debu beterbangan mengiringi perjalanan mereka menuju ke arah timur.


"Lah kog malah balik tanya ki gimana to?


Naon itu loh artinya apa Nimas Nay? Aku ini pengen belajar beneran loh", Klungsur mencoba untuk memepetkan kudanya di sebelah Nay Kemuning.


"Eh bebal!!


Naon itu kalau di bahasa kita itu apa. Jadi kau jangan bikin pusing orang dengan pertanyaan mu yang tidak berguna itu", omel Anjani sambil mendelik tajam ke arah Klungsur.


"Maksudnya bagaimana An. Naon itu artinya apa? Ditanya malah balik bertanya. Piye to?", Klungsur menggerutu.


"Arti nya naon itu kata apa dalam bahasa kita, bego..


Naon itu ya apa itu. Jangan bikin orang emosi deh", Anjani mulai dongkol.


"Lha aku kan tidak tahu bahasa Sunda, An..


Wajar to jika aku tanya. Wong aku juga pengen belajar ", Klungsur ngeyel dengan pendapat nya.


"Terserah kamu mau apa Sur... Malas berdebat dengan mu", Anjani segera menggebrak kuda nya menjauh dari Klungsur ke arah Arya Pethak yang berkuda di depan.


Rombongan kali ini di pimpin oleh Limbur Wisesa yang merupakan murid yang dituakan di Perguruan Gunung Ciremai. Sementara Ki Buyut Mangun Tapa telah menunggu di lereng Gunung Pojoktiga dengan Ajian Halimun nya.


Rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai terus bergerak ke arah timur. Menggunakan kuda kuda pilihan yang telah di siapkan sebelumnya, mereka terus bergerak cepat menuju ke arah Gunung Pojoktiga tempat Istana Atap Langit berada.


Sebelum tengah hari, mereka telah sampai di Kawadoan Lingga setelah melewati Kota Mandala Saunggalah. Di kota itu mereka menghentikan laju kuda mereka masing-masing untuk mengisi perut. Seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar yang bernama Aki Kolot telah menunggu di tepi jalan raya yang selanjutnya mengarahkan rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai ke sebuah warung makan. Aki Kolot adalah bekas murid Ki Buyut Mangun Tapa, namun sudah lama hidup berbaur dengan masyarakat umum. Tempo hari, Ki Buyut Mangun Tapa meminta nya untuk mengantar para murid Perguruan Gunung Ciremai yang akan mengikuti uji kemampuan beladiri. Dan sebagai murid yang berbakti, tentu saja Aki Kolot tidak menolaknya.


Begitu memasuki warung makan, semua orang yang ada di dalam warung makan langsung menatap ke arah rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai.


"Ah segerombolan cecunguk dari tempat terpencil rupanya..


Benar benar membuat selera makan ku menghilang", ujar seorang lelaki berumur 3 dasawarsa dengan wajah sangar dan tatapan mata menyeramkan. Mata kiri lelaki itu tertutup dengan penutup dari kulit lembu, sepertinya cacat. Itu terlihat dari bekas luka memanjang di wajah sebelah kiri nya.


Hahahaha...


"Benar yang kau katakan, Akang Elang Lolong.. Seharusnya orang orang udik seperti mereka hanya pantas untuk bertani, bukan menjadi pendekar. Bikin malu dunia persilatan Tatar Pasundan saja", sahut seorang lelaki bertubuh tinggi kurus dengan kepala botak atas dengan rambut tersisa di belakang telinga. 10 orang berbaju hitam dengan ikat kepala merah di samping mereka ikut tertawa mendengar omongan si lelaki botak.


"Siapa mereka Akang Wisesa?", bisik Arya Pethak yang berjalan di samping Limbur Wisesa.


"Jangan dengarkan ocehan mereka. Mereka berdua adalah utusan dari Padepokan Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung. Yang bermata satu itu Elang Lolong, yang kurus itu Elang Botak..


Mereka cukup punya nama di dunia persilatan, tapi meski beraliran putih kelakuan mereka sering terlihat mirip dengan pendekar golongan hitam ", jawab Limbur Wisesa sambil menatap dingin ke arah dua orang utusan dari Padepokan Rajawali Sakti. Aki Kolot yang berada di depan, tersenyum dan segera mendekat ke arah dua orang utusan itu.


"Ah ternyata ada pendekar besar yang sudah lebih dulu sampai di sini. Salam hormat ku, Elang Lolong dan Elang Botak.


Aku Aki Kolot, yang akan mengantar rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai ini ke Istana Atap Langit", ujar Aki Kolot dengan sopan.


Phuihhhh...


"Kau cukup tahu diri juga, kakek tua.. Aku lihat anak murid Perguruan Gunung Ciremai sedikit ada peningkatan, boleh juga kalau di adu dengan anak murid Padepokan Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung", Elang Lolong menyeringai lebar menatap ke arah anak murid Perguruan Gunung Ciremai.


"Pendekar hebat,


Uji kemampuan beladiri nya di mulai besok. Tidak perlu repot-repot mengadu kepandaian ilmu beladiri disini. Mohon pendekar hebat berdua lebih berlapang dada untuk menahan diri", Aki Kolot masih saja bersikap sopan, padahal para murid Perguruan Gunung Ciremai sudah mulai terpancing emosi nya.


"Hahahaha sekumpulan pengecut...


Kalian hanya bersembunyi di belakang nama besar Ki Buyut Mangun Tapa untuk ikut uji kemampuan beladiri ini. Kalau tidak memandang nama besar guru kalian, sudah ku cabik cabik tubuh kalian semua", Elang Lolong menggenggam erat kepalan tangan kanannya ke depan Aki Kolot dengan nada merendahkan.


"Kalau kalian benar benar jagoan, kita buktikan di arena pertandingan. Jangan cuma berani menggertak para murid yang masih tahap belajar", Nay Kemuning yang sudah tidak sabar dengan ocehan Elang Lolong dan Elang Botak ikut bicara. Arya Pethak tersenyum penuh arti.


'Gadis ini menarik. Berani juga melabrak omongan dua orang aneh itu', batin Arya Pethak sembari terus menatap ke arah mereka.


"Kau...


Berani sekali kau bilang aku hanya berani menggertak para murid Perguruan Gunung Ciremai. Apa kau sudah benar benar bosan hidup?", Elang Botak geram dengan omongan Nay Kemuning.


"Apa aku salah? Mentang mentang guru kami tidak ada, kalian seenaknya saja mengatakan bahwa kami tidak ada apa-apa nya? Coba guru ku ikut disini, apa kalian masih berani berkata seperti itu ha?", hardik Nay Kemuning sambil melotot lebar ke arah Elang Botak.


"Gadis ******!!


Ku robek mulut mu", Elang Botak hendak melesat kearah Nay Kemuning tapi Elang Lolong dengan cepat mencegahnya.


"Tahan adik seperguruan..


Kalau kita menyerang mereka disini, semua orang akan menyalahkan kita menindas yang muda. Masih ada tempat untuk membalas gadis itu ", ucap Elang Lolong sedikit lirih namun masih terdengar di telinga Elang Botak.


"Pendekar Elang Botak, aku minta maaf karena kelancangan anak murid Perguruan Gunung Ciremai. Mohon pendekar berbelas kasih untuk melepaskan anak murid kami.

__ADS_1


Aku pasti akan memberikan dia pelajaran karena sikap tidak sopan nya pada pendekar yang terhormat", ujar Aki Kolot sambil membungkukkan badannya.


Hemmmmmmm...


"Aku akan ingat kau gadis tengik!"


Elang Botak mendengus keras lalu melangkah keluar dari warung makan. Elang Lolong segera meletakkan beberapa kepeng perak di atas meja makan sebelum melangkah keluar dari tempat itu dengan diikuti oleh para murid Padepokan Rajawali Sakti.


Para murid Perguruan Gunung Ciremai bersorak gembira sambil mengelu-elukan Nay Kemuning karena berhasil membuat para murid Padepokan Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung itu tak berkutik.


Aki Kolot menghela nafas lega usai para murid Padepokan Rajawali Sakti meninggalkan tempat itu.


'Mereka pasti tidak akan tinggal diam dengan hinaan ini', gumam Aki Kolot sambil melihat ke arah para murid Perguruan Gunung Ciremai yang mulai bersantap bersama dengan penuh kegembiraan.


Klungsur yang semeja dengan Nay Kemuning, Arya Pethak dan Anjani langsung memuji Nay Kemuning.


"Wah kau hebat sekali Eneng Nay.. Meski aku tidak begitu paham dengan apa yang kau katakan, setidaknya aku melihat dua orang aneh itu kalah adu mulut dengan mu", ujar Klungsur sembari mengunyah daging ayam bakar pesanannya.


"Iya betul apa kata Klungsur, Nay..


Kau benar benar membuat kedua orang itu tidak bisa menjawab kata kata mu", timpal Anjani sambil tersenyum tipis.


"Abdi hanya tidak terima mereka hina, Anjani..


Mereka berani menggertak kita karena guru tidak ada disini. Coba kalau ada, pasti mereka pun ngompol jika mendengar guru bersuara", Nay Kemuning berkata perlahan.


"Kita semua jangan terlalu senang dulu. Aku yakin masalah ini akan berbuntut panjang. Sepertinya si botak itu bukan orang pemaaf", ujar Arya Pethak setelah meletakkan kendi air minum ke meja. Mereka bertiga langsung mengangguk mengerti.


Usai bersantap siang bersama, rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai melanjutkan perjalanan ke arah tenggara. Setelah matahari mulai bergeser ke arah barat, rombongan itu sudah sampai di kaki Gunung Pojoktiga.


Dari arah rimbun pepohonan yang tumbuh di tempat itu, 12 orang berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala merah muncul dan melesat cepat ke hadapan para murid Perguruan Gunung Ciremai.


Jleeggg jleeggg!!


"Para pendekar yang terhormat, kenapa kalian menghalangi jalan kami? Bukankah kami sudah meminta maaf kepada mu tadi?", Aki Kolot yang berada paling depan langsung angkat bicara melihat kedatangan Elang Lolong, Elang Botak dan para murid Padepokan Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung.


Chuuiiiiiiihhhh!!


"Apa kau pikir semudah itu urusan kita selesai?", Elang Lolong meludah kasar ke tanah.


"Pendekar terhormat, mohon tidak menyulitkan ku. Aku ini hanya diutus untuk mengantar mereka. Kalau terjadi apa-apa, aku yang akan di salahkan.


Aku mohon dengan sangat untuk melepaskan anak murid kami", ujar Aki Kolot dengan nada pengharapan.


"Mohon maaf Pendekar Elang Botak, kami tidak bisa melakukan hal itu.


Apakah tidak ada jalan lain nya?", nada bicara Aki Kolot tetap terdengar sopan dan tenang.


"Kalau kau tidak bisa memberikannya, aku sendiri yang akan memotong satu tangan dan satu kaki gadis tengik itu", Elang Botak langsung melesat cepat kearah Anjani. Aki Kolot langsung menghadang nya dengan hantaman tangan kanan nya yang dilapisi tenaga dalam tingkat tinggi.


Whuuussshh!!!


Angin dingin menderu kencang menerjang ke arah Elang Botak. Pendekar dari Gunung Galunggung itu dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan mundur menghindari angin hantaman tangan Aki Kolot.


Blllaaaaaarrr!!!


Pohon besar yang ada di samping kiri Elang Botak seketika meledak saat angin tenaga dalam Aki Kolot menghantamnya. Pohon itu langsung berderak dan roboh.


"Jangan memaksa ku, Elang Botak!


Aku menghargai nama besar mu. Tapi jika kau ingin memperpanjang masalah ini aku sanggup beradu ilmu beladiri dengan mu", Aki Kolot menatap tajam ke arah Elang Botak.


Chuuiiiiiiihhhh..


"Rupanya kau sedikit punya kepandaian juga sudah berani sombong di hadapan ku.


Sekarang kau hadapi aku, bajingan!", Elang Botak seketika melesat ke arah Aki Kolot dengan tangannya yang membentuk cakar. Dia menggunakan ilmu silat andalan Padepokan Rajawali Sakti, Cakar Rajawali Galunggung. Jari jemari berkuku tajam itu segera terayun ke arah dada Aki Kolot.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Aki Kolot memutar tubuhnya, menghindari cakaran Elang Botak. Mengandalkan ilmu meringankan tubuh nya, Aki Kolot mencoba membuat jarak dengan Elang Botak. Dia masih tidak ingin bertarung serius melawan pendekar dari Gunung Galunggung itu.


Mendapati serangan nya gagal, Elang Botak berbalik arah dan memburu Aki Kolot dengan cakaran cakaran mematikan nya.


Puluhan jurus berlalu, tapi belum satupun serangan Elang Botak berhasil mengenai sasaran. Ini membuat Elang Botak semakin marah. Lelaki bertubuh kurus dengan kepala botak itu segera mengaliri cakar tangannya dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Satu sambaran cakar dengan cepat terayun ke arah leher Aki Kolot.


Whuuuggghh!!


Lima larik cahaya hitam membelah angin dengan suara mendecit keras bagai cuitan rajawali menerabas cepat kearah Aki Kolot yang baru saja mendarat di tanah. Sadar tidak mungkin menghindar lagi, Aki Kolot dengan cepat menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah menyala seperti api.


Blllaaammmmmmmm!!!

__ADS_1


Ledakan keras terdengar. Elang Botak terpelanting ke belakang. Melihat itu, Elang Lolong melesat cepat menyambar tubuh Elang Botak sambil mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah Aki Kolot yang juga terdorong mundur beberapa tombak.


Whhhuuuggghhhh!!


Lima larik cahaya hitam melesat cepat kearah Aki Kolot. Semua murid Perguruan Gunung Ciremai terkejut bukan main melihat tindakan pengecut Elang Lolong.


"Awas Aki Kolot!", teriak Limbur Wisesa sambil melesat ke arah Aki Kolot. Namun satu bayangan berkelebat cepat mendahului langkah Limbur Wisesa ke depan Aki Kolot, menghadang lima sinar hitam yang di lepaskan Elang Lolong.


Blllaaammmmmmmm blammmmm!!


Ledakan beruntun terdengar. Asap putih tebal mengepul di sekitar tempat itu. Elang Lolong yang baru saja menolong Elang Botak menyeringai lebar menatap ke arah asap tebal di hadapannya.


Saat asap mulai hilang, mata semua orang terkejut melihat seorang lelaki berdiri tegak di depan Aki Kolot yang masih terduduk di atas tanah. Elang Lolong sendiri seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.


Arya Pethak menepuk-nepuk bajunya yang kotor terkena debu sambil tersenyum tipis ke arah Elang Lolong dan Elang Botak.


Belum hilang rasa keterkejutan mereka, sebuah tepuk tangan terdengar dari atas pepohonan hutan.


Plokk plokk plokk!!


Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. 11 orang wanita berbaju putih dengan cadar menutupi separuh wajah melompat turun dengan ringannya. Gerakan tubuh mereka begitu ringan seperti bulu angsa tertiup angin.


Mata Elang Lolong dan Elang Botak melebar ketika tahu siapa yang datang ke situ.


"Dewi Puncak Khayangan...


Ke- kenapa kau ada disini?", ujar Elang Lolong dengan terbata-bata. Sangat kelihatan kalau Elang Lolong takut pada perempuan cantik berbaju putih dengan hiasan emas pada sanggul rambut nya itu.


"Aku hanya sekedar lewat, Elang Lolong..


Tak disangka ya, Padepokan Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung yang tersohor memiliki sifat pengecut dengan menyerang orang dari belakang.


Benar benar memalukan!", ujar perempuan cantik berbaju putih itu dengan sorot mata yang dingin.


"Ini ini tidak seperti yang kau kira, Dewi..


Kami hanya ingin menguji sampai dimana kemampuan beladiri para murid Perguruan Gunung Ciremai", Elang Lolong semakin ciut nyalinya.


"Huhhhhh kau pikir aku tidak melihat semua yang kau lakukan tadi ha?


Dasar burung bodoh!!


Kalau sampai ini terdengar oleh para pendekar golongan putih, apa Padepokan Rajawali Sakti siap menghadapi tantangan dunia persilatan Tatar Pasundan karena kau melanggar kesepakatan yang sudah ada selama ratusan tahun ini?", Dewi Puncak Khayangan dari Gunung Gede melotot tajam ke arah Elang Lolong. Pendekar paruh baya itu langsung terdiam seketika. Karena Elang Lolong diam, Dewi Puncak Khayangan menoleh ke arah Arya Pethak yang membantu Aki Kolot berdiri bersama Limbur Wisesa.


"Sarta anjeun nonoman kasep baju bodas, saha wasta anjeun? ( Dan kau pemuda tampan baju putih, siapa namamu?)", tanya Dewi Puncak Khayangan dengan cepat.


"Punten Nyai, abdi teh emmm apa ya aduh lupa lagi bahasa Sunda nya...


Anjani, apa bahasanya tidak bisa bahasa Sunda?", Arya Pethak menoleh ke arah Anjani yang berdiri di dekat Klungsur.


"Henteu tiasa nalika Sunda, Ndoro Pethak", sahut Anjani dengan keras.


"Ya itu Nyai, abdi teh henteu tiasa nalika Sunda", Arya Pethak tersenyum malu-malu sambil menggaruk kepalanya. Mendengar itu, Dewi Puncak Khayangan, pimpinan Padepokan Puncak Khayangan dari Gunung Gede tersenyum simpul.


"Dasar bodoh!


Kau pikir aku tidak bisa bahasa orang wetan?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Persiapan sahur. Jaga kesehatan selama puasa Ramadhan, semoga bisa sampai hingga lebaran..


__ADS_2