Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Utusan


__ADS_3

Resi Jati Waluyo segera merapal mantra nya dengan cepat. Tali kekang berwarna kuning keemasan itu semakin erat melilit di tubuh Branjang Kawat. Mahkluk hitam dari neraka itu meraung-raung keras Dan...


Bhhuuuuummmmmmhh!!!


Tubuh Branjang Kawat meledak dan terbakar menjadi abu yang berwarna hitam. Tak berapa lama kemudian debu itu hilang terbawa angin.


Bersamaan dengan meledak nya tubuh Branjang Kawat, di goa pertapaan Gendrawana kuali besar berisi darah nya juga meledak hancur. Gendrawana sampai terpental ke belakang dan muntah darah segar.


"Bangsat terkutuk!


Aku akan turun tangan sendiri untuk membunuh mu Jati Waluyo!".


Gendrawana langsung melesat cepat keluar dari goa pertapaan nya. Tubuh kakek tua itu melayang cepat menembus kegelapan malam kearah Bukit Tunggul yang berjarak ribuan depa dari lereng Gunung Damalung.


Resi Jati Waluyo segera berteriak lantang.


"Arya Pethak,


Bantu aku menghadapi Raja Iblis ini! Yang lain cepat menjauh dari tempat ini".


Mendengar perintah Resi Jati Waluyo, Klungsur segera menggelandang tangan Anjani dan Nay Kemuning keluar dari rumah Resi Jati Waluyo lewat pintu belakang. Dua cantrik Resi Jati Waluyo dan Nyi Sawitri serta Rara Larasati pun mengikuti mereka bersembunyi di sanggar pamujan.


Dua cantrik Resi Jati Waluyo langsung duduk bersila dengan kedua tapak tangan menangkup di depan dada. Mereka berdua langsung mengucapkan mantra perlindungan.


Arya Pethak sendiri langsung mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk membantu Resi Jati Waluyo menghadapi lawan yang sebentar lagi akan tiba.


Dari arah selatan, angin dingin berhembus kencang. Suara nya begitu berisik dengan menerbangkan dedaunan pohon. Bersamaan dengan itu, muncul Gendrawana dengan raut wajah penuh kemarahan. Baju hitam nya berkibar tertiup angin.


"Jati Waluyo!


Kau benar benar orang yang tidak tahu diri! Berani sekali kau membunuh prewangan ku, tua bangka! Hari ini jika aku tidak membunuh mu, nama ku bukan Gendrawana!", teriak Gendrawana dengan lantang. Kakek tua berbaju hitam itu menatap tajam ke arah Resi Jati Waluyo.


"Manusia sesat!


Kau selalu menebar angkara dengan kelakuan mu yang sewenang-wenang. Hanya demi menurunkan ilmu iblis, kau bahkan membuat hidup seorang gadis menderita. Apa menurutmu layak aku membiarkan kejahatan mu?", Resi Jati Waluyo tak mau kalah.


"Huh itu hukum rimba, Jati Waluyo.


Yang kuat akan mengalahkan yang lemah, yang berkuasa akan menindas yang di jajah. Di dunia yang memuja kekuatan, hal itu lumrah terjadi.


Kau pikir orang orang mengharapkan mu karena apa ha? Tentu saja karena kekuatan mu, Jati Waluyo. Kau jangan munafik ", teriak Gendrawana garang.


"Aku memiliki kemampuan bukan untuk memaksakan kehendak ku, Gendrawana..


Tapi untuk menolong sesama yang membutuhkan. Kita sudah tua, Gendrawana. Seharusnya kita banyak melakukan perbuatan baik agar bisa mencapai nirwana dengan tenang", ujar Resi Jati Waluyo dengan cepat.


"Simpan ceramah mu untuk orang lain Jati Waluyo jika kau masih bisa hidup hingga hari esok..


Karena malam ini akan ku antar kau menemui pencipta mu", usai berkata demikian, Gendrawana segera melesat ke arah Resi Jati Waluyo sambil mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah wajah Resi Jati Waluyo.


Whuuutt!


Dengan sigap, Resi Jati Waluyo segera berkelit sambil melakukan serangkaian serangan balasan.


Pertarungan dua kakek tua berilmu tinggi itu benar benar menegangkan. Hawa panas silih berganti dengan hawa dingin yang saling menekan satu sama lainnya. Puluhan jurus serangan ilmu silat tangan kosong terus berlalu dengan cepat.


Resi Jati Waluyo mundur selangkah hingga cakaran Gendrawana berhasil di hindari. Satu gerakan cepat, Resi Jati Waluyo menghantamkan tangan kanannya ke arah Gendrawana yang pertahanan terbuka.


Blllaaammmmmmmm!!!


Gendrawana yang lengah langsung terpental ke belakang, namun kakek tua berjubah hitam itu segera bangkit kembali sambil menyeringai lebar. Tubuhnya kini berwarna merah darah. Rupanya dia mulai menggunakan ilmu kedigdayaan andalan nya.


"Ajian Iblis Neraka...


Benar benar merepotkan!", gumam Resi Jati Waluyo sambil menatap tajam ke arah Gendrawana.


"Hahahaha...


Kau tak bisa membunuh ku, Jati Waluyo. Ajian Iblis Neraka sepenuhnya aku kuasai. Kini saatnya kau mati", teriak Gendrawana sambil melesat cepat kearah Resi Jati Waluyo.


Melihat itu, Resi Jati Waluyo langsung merapal ajian andalan nya, Ajian Panglebur Gongsa.. Seluruh tubuhnya diliputi oleh sinar kuning keemasan yang tercipta dari huruf huruf sansekerta. Sekejap kemudian sinar kuning kemerahan itu berkumpul di depan dada.


"Kau tidak akan sempat menggunakan ilmu itu, Jati Waluyo hahahaha...


Mati saja kau!!", teriak Gendrawana yang dengan cepat menghantamkan tapak tangan nya yang berwarna merah darah dengan asap hitam yang menakutkan.


Arya Pethak yang sedari tadi hanya menonton pertarungan sengit mereka langsung melesat cepat menghadang serangan Gendrawana dengan Ajian Lembu Sekilan. Tubuh Arya Pethak di liputi oleh sinar kuning keemasan.


Blllaaammmmmmmm!!!


Arya Pethak yang yang menggunakan seluruh tenaga dalam nya mampu menahan serangan Gendrawana meski terdorong mundur beberapa langkah. Gendrawana sendiri terpental ke belakang sejauh 2 tombak. Meski berhasil mendarat dengan sempurna, dia masih muntah darah segar.


Mata Gendrawana menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Bocah licik!


Kau berani mengganggu pertarungan ku. Hutang nyawa mu belum kau bayar, aku hitung nanti. Minggir kau!", ujar Gendrawana sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.

__ADS_1


Arya Pethak melirik ke arah Resi Jati Waluyo yang masih belum menyelesaikan tahap akhir ilmu kanuragan nya sebelum menjawab.


"Iblis tua,


Hentikan keangkaramurkaan yang kau tebarkan. Kau sudah bau tanah masih juga tidak sadar diri", Arya Pethak menatap ke arah Gendrawana.


"Rupanya kau sudah ingin cepat mati.


Baik, akan ku kabulkan keinginan mu bocah tengik", segera Gendrawana melesat cepat kearah Arya Pethak. Tangan kanannya diliputi oleh sinar biru kehitaman yang berhawa panas dengan bau bangkai yang menyengat.


Arya Pethak kembali memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Lembu Sekilan untuk melindungi diri nya.


Saat sinar biru kehitaman dari tangan Gendrawana membentur dada Arya Pethak yang seluruh tubuh nya memancarkan cahaya kuning keemasan, ledakan dahsyat kembali terdengar.


Blllaaammmmmmmm!!!


Gendrawana kembali terlempar jauh ke belakang. Namun kali ini, belum sempat dia menyentuh tanah, sebuah sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata mengikat tubuh nya dari tangan Resi Jati Waluyo setelah kakek tua itu melompat dari belakang Arya Pethak.


Resi Jati Waluyo segera mendarat di tanah dan sepenuh tenaga terus mempererat sinar kuning keemasan yang tercipta dari huruf huruf suci sansekerta.


"Keparat kau Jati Waluyo!


Kau licik! Lepaskan aku atau kau akan menyesali perbuatan mu", teriak Gendrawana sambil meronta berusaha untuk melepaskan diri. Dia mengerahkan seluruh tenaga dalam. Tubuhnya membesar dan terus membesar.


Resi Jati Waluyo langsung muntah darah segar, tapi kakek tua itu tidak mau melepaskan Gendrawana yang masih mengambangkan di udara. Segera dia berteriak lantang pada Arya Pethak.


"Pethak,


Gunakan pusaka yang ada di tubuh mu. Benda itu bisa membunuh iblis tua itu. Cepat! Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi!".


Mendengar teriakan itu, Arya Pethak langsung mengheningkan cipta sejenak dengan tangan di depan dada. Sinar kuning kemerahan muncul di dada Arya Pethak.


Melihat itu Gendrawana pun meronta berusaha keras lepas dari ikatan sinar kuning keemasan yang di keluarkan oleh Resi Jati Waluyo. Dia tahu, pusaka di tubuh Arya Pethak mengandung baja suci kedewaan yang bisa membunuhnya meski dia menggunakan Ajian Iblis Neraka yang bisa membuatnya abadi.


Keris Mpu Gandring muncul di tangan Arya Pethak.


Sekali hentakan, tubuh Arya Pethak melenting tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah Gendrawana.


"Tikam jantung nya Pethak!", teriak Resi Jati Waluyo.


Dengan kedua tangan nya, Arya Pethak memegang gagang Keris Mpu Gandring dan menghujamkan nya ke jantung Gendrawana.


"Kalian keparaaaaatttttt!!!!!!", teriak Gendrawana yang menyaksikan Keris Mpu Gandring menembus dada kiri nya.


Jllleeeeeppppphhh!!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Arya Pethak terpelanting jauh ke belakang begitu juga Resi Jati Waluyo. Dua orang itu langsung muntah darah segar. Sementara itu tubuh Gendrawana meledak hancur lebur menjadi abu.


Malam itu Gendrawana yang berjuluk Raja Iblis dari Gunung Damalung yang merupakan salah satu tokoh dedengkot dunia persilatan dari golongan hitam tewas di tangan Arya Pethak yang di bantu oleh Resi Jati Waluyo.


Arya Pethak segera duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalam sekaligus mengobati luka dalam nya. Begitu juga dengan Resi Jati Waluyo.


Setelah ledakan dahsyat yang mengguncang tempat itu berakhir, Klungsur, Nay Kemuning, Anjani dan Nyi Sawitri serta Rara Larasati keluar dari sanggar pamujan Pertapaan Bukit Tunggul bersama dua cantrik setia Resi Jati Waluyo. Mereka segera bergegas menuju ke halaman pertapaan untuk melihat keadaan Arya Pethak dan Resi Jati Waluyo.


Melihat Arya Pethak dan Resi Jati Waluyo tengah duduk bersila, mereka bergegas menghampiri.


"Ndoro Pethak,


Syukurlah Ndoro Pethak baik baik saja. Saya tadi sempat takut Ndoro", ujar Klungsur segera.


"Iya Kakang,


Saking takutnya Klungsur sampai ngompol di sanggar pamujan Pertapaan Bukit Tunggul", sahut Anjani sambil tersenyum tipis.


"Yang begituan tidak usah di laporkan ke Ndoro Pethak dong Anjani, kau ini benar-benar tidak setia kawan", omel Klungsur yang membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal.


"Sudah sudah jangan ribut..


Yang penting sekarang iblis tua itu sudah tidak ada. Dan Rara Larasati sekarang bisa hidup tenang tanpa takut dengan iblis tua Gendrawana itu", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Aku ucapkan banyak terima kasih atas bantuan mu, Arya Pethak..


Kami tidak bisa membalas apa apa. Hanya doa saja semoga Hyang Akarya Jagat selalu melindungi mu di setiap perjalanan hidup mu", Nyi Sawitri angkat bicara.


"Aku juga Kakang Pethak..


Tanpa pertolongan mu mungkin tidak akan ada lagi Rara Larasati di dunia ini", sahut Rara Larasati dengan senyum manis nya.


"Hei hei hei..


Bukan Ndoro Pethak saja, Ras. Aku juga punya andil dalam upaya penyelamatan mu", Klungsur ikut nimbrung obrolan mereka.


"Iya, betul itu Neng Laras. Tapi Akang Klungsur mah punya andil dalam bagian makan banyak dan ngibulin kami semua", sergah Nay Kemuning yang langsung disambut gelak tawa mereka.


"Ah kalian ini menyebalkan. Aku tidak akan bicara lagi dengan kalian", Klungsur sewot.

__ADS_1


"Sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat. Aku dan Arya Pethak perlu memulihkan tenaga dalam kami", ucap Resi Jati Waluyo yang langsung mendapat anggukan kepala dari semua orang.


Malam itu mereka beranjak ke tempat peristirahatan mereka masing-masing. Arya Pethak sendiri langsung bersemedi hingga pagi menjelang tiba.


Dua hari berikutnya, Raden Wira Ganggeng datang ke Pertapaan Bukit Tunggul setelah menerima kabar yang di kirim oleh cantrik Resi Jati Waluyo.


Selama dua hari ini, Resi Jati Waluyo dan Arya Pethak benar benar mengistirahatkan diri dari segala hal dan hanya bersemedi.


Raden Wira Ganggeng langsung bergegas menemui Arya Pethak begitu sampai di Pertapaan Bukit Tunggul.


"Saudara Arya Pethak,


Bagaimana keadaan mu? Ku dengar kau terluka dalam saat bertempur bersama eyang ku", tanya Raden Wira Ganggeng sambil meneliti seluruh tubuh Arya Pethak.


"Aku sudah sembuh Raden.. Kau tenang saja. Aku ucapkan terima kasih atas perhatiannya", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Syukurlah..


Beberapa hari ke depan aku mendapat tugas dari Kanjeng Romo Adipati Wiraprabu untuk mengawal utusan dari Kadipaten Songeneb, saudara ku..


Sebenarnya aku tidak cukup percaya diri untuk melakukan perjalanan jauh sampai ke Pulau Madura. Kalau kau tidak ada kerepotan, bisakah kau menemaniku kesana saudara Pethak?", Raden Wira Ganggeng menatap wajah Arya Pethak dengan penuh harap.


"Kadipaten Songeneb ya?


Hemmmmmmm lumayan jauh juga sih", Arya Pethak mengelus dagunya. Melihat Arya Pethak terlihat ragu, Raden Wira Ganggeng langsung berkata dengan cepat.


"Kau jangan khawatir masalah makan mu. Aku semua yang akan menanggung nya. Lagipula ada bayaran nya kog, besar loh.


Bagaimana? Aku mohon bantuan mu saudara ku", bujuk Raden Wira Ganggeng dengan penuh harap.


"Tapi aku juga akan mengajak Klungsur, Anjani dan Nay Kemuning loh Raden.. Mereka makan nya banyak", Arya Pethak tersenyum penuh arti.


"Kau jangan meremehkan ku saudara Pethak..


Aku masih sanggup memberi makan untuk kalian berempat selama 1 dasawarsa tanpa minta Kanjeng Romo Adipati", sahut Raden Wira Ganggeng dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu, aku setuju untuk mengawal mu ke Kadipaten Songeneb", mendengar jawaban Arya Pethak, Raden Wira Ganggeng langsung tersenyum lebar.


Keesokan paginya, Raden Wira Ganggeng bersama Arya Pethak, Nay Kemuning, Klungsur dan Anjani berpamitan kepada Resi Jati Waluyo untuk menuju ke arah kota Kadipaten Kembang Kuning.


Nyi Sawitri dan Rara Larasati sendiri juga ikut berpamitan kepada Resi Jati Waluyo tak lama setelah Arya Pethak dan kawan-kawan nya pergi. Mereka ingin pulang ke Padepokan Padas Putih yang menjadi tempat tinggal mereka setelah Padepokan Bukit Lanjar di hancurkan oleh Pengemis Tapak Darah.


Rombongan itu segera memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah istana Kadipaten Kembang Kuning.


Begitu sampai di istana, dua kereta kuda yang untuk utusan dari Kadipaten Songeneb sekaligus beberapa barang sudah tertata rapi dan siap untuk berangkat menuju ke arah timur.


4 orang prajurit yang memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni juga ikut mengawal mereka. Saat Arya Pethak dan kawan-kawan masih bersiap siap, seorang lelaki bertubuh kekar dengan kulit sedikit hitam dan kumis tebal berjalan mendekati Arya Pethak. Ikat kepala nya yang merah di tambah pakaian nya yang serba hitam membuat penampilan lelaki itu memang sedikit berbeda dengan orang lain yang ada di sekitar tempat itu.


Si lelaki bertubuh kekar itu nampak celingukan kesana kemari mencari sesuatu. Setelah tidak menemukan yang dicari nya, dia bertanya kepada Arya Pethak.


"Cung, ba'na ngabas Den Raden Wira Ganggeng e dimma ( Bocah, kau lihat Raden Wira Ganggeng dimana)?".


Klungsur yang berdiri di samping Arya Pethak langsung menyahut.


"Ngomong apa kau ini?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hujan terus sampai baju gak ada yang kering.

__ADS_1


Ada yang mengalami?


.


__ADS_2