Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Pertarungan Dua Wanita Cantik


__ADS_3

Pakuwon Sembung terletak sebagai penyangga Kota Kadipaten Kalingga, karena letaknya di sebelah timur ibu kota. Para penduduknya rata rata menjadi petani, peladang dan nelayan di Laut Jawa.


Sebagai penghasil penghasil kebutuhan pokok seperti padi, jagung dan palawija lainnya, Kota Pakuwon Sembung menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dari Kota Kadipaten Kalingga untuk sekedar mencari keuntungan dari jual beli hasil bumi dan laut.


Arya Pethak, Klungsur dan Anjani memasuki kota Pakuwon itu tepat saat senja mulai menghilang. Mereka menemukan sebuah penginapan yang berada persis di dekat pasar besar Kota Pakuwon Sembung.


Arya Pethak segera melompat turun dari kudanya diikuti Klungsur dan Anjani begitu mereka memasuki halaman penginapan. Sebuah papan nama dengan huruf Jawa Kuno nampak terpampang jelas di atas pintu penginapan. Nama penginapan itu adalah Penginapan Kembang Nirwana.


Dua orang pekatik atau juru rawat kuda langsung menuntun kuda mereka bertiga menuju ke arah kandang kuda yang terletak sedikit jauh dari bangunan utama penginapan itu.


Seorang perempuan paruh baya yang berdandan menor seperti seorang istri bangsawan segera menyambut kedatangan mereka bertiga.


"Selamat datang di tempat kami, pendekar..


Kalian seperti nya pengelana dari jauh. Kebetulan hari ini adalah pemilik penginapan ini sedang berbahagia jadi dia memberikan separuh harga untuk para pendekar yang datang dari luar kadipaten.


Tiga kamar tidur dengan perlengkapan mandi istimewa dan juru pijat terlatih, kalian cukup membayar 6 kepeng perak saja.


Apa kalian tertarik dengan penawaran kami?", si perempuan paruh baya itu tersenyum dengan ramah.


Arya Pethak tanpa pikir panjang langsung merogoh kantong baju nya dan mengambil sepuluh kepeng perak kemudian mengulurkan nya kepada perempuan paruh baya itu.


"3 kepeng perak nya, buatkan makanan langsung antar ke kamar kami. Satu kepeng perak untuk bonus mu karena kau ramah dengan kami", ujar Arya Pethak yang langsung membuat perempuan paruh baya berdandan menor itu tersenyum lebar.


Arya Pethak memang memegang uang cukup banyak, selain kepeng emas yang di dapat dari dua anak Akuwu Purwo kemarin dulu, Raden Wira Ganggeng juga memberikan beberapa kantong kepeng perak dan emas pada Arya Pethak. Sebagian besar memang di bawa oleh Anjani karena Arya Pethak berpikir bahwa perempuan lebih bisa pegang uang daripada laki-laki. Dia sendiri hanya membawa tiga kantong perak yang berisi beberapa puluh kepeng perak.


Seorang pelayan penginapan langsung mengantar mereka menuju ke arah kamar tidur yang di maksud. Si perempuan paruh baya berdandan menor itu tersenyum penuh arti setelah tahu bahwa Arya Pethak tidak pelit dan memiliki banyak uang.


Dan benar saja, sebuah kamar tidur lumayan mewah yang terhubung dengan tempat mandi di berikan pada mereka bertiga.


Rasa penat setelah bertarung dengan Rampok Bajing Ireng dan perjalanan jauh, membuat Arya Pethak langsung menuju ke arah kamar mandi untuk menyegarkan badan nya. Guyuran air dingin dari gentong air membuat rasa letih nya sedikit banyak menghilang.


Yang tidak di ketahui oleh Arya Pethak dan kawan-kawan nya, Penginapan Kembang Nirwana adalah sebuah tempat pelacuran kelas tinggi terselubung yang hanya mampu di datangi oleh pejabat dan perwira prajurit di Pakuwon Sembung. Para tamu yang datang umumnya memiliki jabatan tinggi maupun orang kaya dari kalangan pedagang besar yang datang dari Kota Kadipaten Kalingga.


Arya Pethak segera memakai baju pengganti yang selalu di cuci oleh Anjani. Gadis cantik ini memiliki kepedulian tersendiri untuk Arya Pethak.


Saat Arya Pethak baru selesai berganti baju, pintu kamar nya di ketok dari luar.


Thookkk thok thookkk..!!


"Masuk saja, pintu nya tidak di kunci", ujar Arya Pethak sambil merapikan baju nya tanpa melihat ke arah pintu kamar. Wajah seorang perempuan cantik dengan senyum menggoda masuk ke dalam kamar tidur Arya Pethak sambil membawa nampan berisi makanan yang menggugah selera.


"Saya letakkan dimana ini Denmas?", suara merdu nan menggoda terdengar dari mulut perempuan cantik itu. Arya Pethak langsung menoleh ke arah sumber suara. Dia kaget melihat sosok cantik di depan nya namun dengan cepat ia menguasai dirinya.


"Letakkan saja di meja. Kau boleh pergi", jawab Arya Pethak dengan cepat. Bau harum perempuan cantik itu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.


"Ah tidak boleh begitu Denmas..


Tamu adalah raja dan di penginapan ini seorang tamu akan mendapatkan segalanya. Jadi Surtikanti akan menemani Denmas bersantap", ujar perempuan cantik itu sambil tersenyum genit. Rupanya perempuan penghibur ini langsung suka pada Arya Pethak yang rupawan. Biasanya dia akan acuh tak acuh terhadap para pelanggan yang datang ke tempat itu, karena sangat jarang yang memiliki wajah tampan. Namun kali ini dia begitu tertarik dengan pemuda tampan yang ada di hadapannya.


Karena merasa tidak nyaman dengan tatapan menggoda Surtikanti, Arya Pethak segera menyantap makanan yang tersaji di meja makan. Perutnya keroncongan sedari tadi.


Tiba tiba saja kepala Arya Pethak sedikit pusing setelah memakan makanan yang di sajikan oleh Surtikanti. Melihat itu Surtikanti tersenyum penuh arti.


"Kau kenapa Denmas? Tidak enak badan ya?", Surtikanti segera mendekat ke arah Arya Pethak yang sedang memegangi kepalanya.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu beristirahat sejenak", Arya Pethak berdiri dari kursi dan mulai melangkah menuju ke arah ranjang tidur nya. Surtikanti tersenyum simpul dan bergegas memapah Arya Pethak.


'Hehe pemuda ini tampan sekali. Aku tidak akan melepaskannya malam ini', batin Surtikanti sambil tersenyum dalam hati.


Surtikanti segera merebahkan tubuh Arya Pethak ke atas ranjang tidur. Dengan seksama dia mengamati wajah tampan Arya Pethak sepuasnya.


"Denmas sepertinya kau kepanasan. Biar aku bantu buka baju mu ya", ujar Surtikanti yang dengan cepat membuka baju Arya Pethak. Mata Surtikanti melebar melihat dada bidang sang pemuda tampan itu. Perlahan tangan Surtikanti mengusap dada Arya Pethak yang membuat darah lelaki itu mendidih. Sebagai lelaki normal tentu saja dia ingin sesuatu yang lebih, terlebih aroma pewangi Surtikanti sungguh membangkitkan gairah nya. Tangan Arya Pethak mulai meraba-raba sepasang gunung kembar Surtikanti yang masih tertutup kemben.


Melihat Arya Pethak mulai menikmati sentuhan lembut nya, dengan berani tangan Surtikanti merayap ke arah celana Arya Pethak.


Tiba tiba...


Brrruuuaaaaakkkkh!!!!


Pintu kamar tidur terbuka lebar dan sosok Anjani mendelik tajam ke arah ranjang. Sambil mendesis geram, Anjani segera melesat cepat kearah ranjang.


Untuk kita tahu, Anjani sedang di kamar tidur nya saat pelayan masuk membawakan makanan. Karena Anjani perempuan, dia tidak mendapatkan wanita cantik untuk nya. Tapi pelayan penginapan memasukkan obat ke dalam semua makanan. Anjani yang hendak mencicipi makanan, mencium sesuatu yang tidak beres pada makanan itu. Saat itu juga dia berlari menuju ke arah kamar Arya Pethak dan mendobrak pintu.


"Perempuan sundal,


Kau berani sekali menyentuh kulit majikan ku", teriak Anjani sambil melayangkan pukulan ke arah Surtikanti yang terkejut setengah mati melihat pintu kamar di dobrak lalu Anjani bergerak menuju ke arah nya.

__ADS_1


Surtikanti dengan cepat berkelit menghindari serangan Anjani yang murka. Perempuan itu segera melompat menjauh dari tempat tidur.


"Laknat!


Kau berani mengganggu waktu ku. Tunggu aku selesai, baru kau boleh ikut menikmati tubuh pemuda tampan itu", senyum genit terukir di bibir Surtikanti membuat Anjani semakin kesal.


"Ndoro Pethak, sadar Ndoro...


Cepat bangun", Anjani menggoyangkan lengan Arya Pethak yang masih dalam pengaruh obat. Melihat itu, Anjani segera menoleh ke arah Surtikanti.


"Sundal,


Obat apa yang kau taruh di dalam makanan majikan ku ha?", Anjani mendelik tajam ke arah Surtikanti yang senyum senyum sendiri.


"Hanya obat kuat untuk pria. Kau tidak perlu khawatir dengan keselamatan nya", Surtikanti memainkan ujung selendang biru nya.


"Dasar keparat, cepat berikan penawar nya. Kalau tidak, akan ku hajar kau", Anjani mengancam Surtikanti.


"Obat kuat itu tidak butuh penawar, gadis bodoh! Penawar nya cuma satu, bercinta sampai dia tertidur hahahaha..


Sini biarkan aku membantu majikan mu menawarkan obat kuat itu ", Surtikanti melangkah ke arah ranjang Arya Pethak. Belum genap dua langkah, kursi di samping meja makan melayang ke arahnya karena dilemparkan oleh Anjani. Surtikanti terkejut dan segera menghantam kursi kayu itu segera.


Brraaakkkk!!


"Perempuan ******,


Jangan coba coba kau berani untuk mendekati Ndoro Pethak atau kau akan menyesali nya", Anjani mendelik tajam kepada Surtikanti.


"Huhhhhh, aku tidak akan melepaskan pemuda tampan itu sebelum aku puas bermain dengan nya. Lebih baik kau minggir!", Surtikanti mulai menunjukkan sifat aslinya.


"Sundal keparat!


Rupanya kau minta di hajar ya? Ku kabulkan keinginan mu", usai berkata demikian, Anjani langsung melesat cepat kearah Surtikanti yang ternyata memiliki ilmu beladiri yang mumpuni.


Serangan Anjani yang menggunakan ilmu silat ajaran Dewi Ular Siluman meliuk-liuk seperti ular bergerak gesit memburu Surtikanti. Wanita penghibur itu terkejut melihat gerakan Anjani yang lincah. Namun dia tidak mau kalah.


Kedua nya bertarung dengan sengit di dalam kamar tidur Arya Pethak yang luas.


Setelah melewati 10 jurus, terlihat kepandaian ilmu beladiri Anjani diatas Surtikanti. Serangan gencar Anjani memaksa Surtikanti melemparkan 2 cunduk perak yang menghiasi kepala Surtikanti.


Shhhrriinggg shriingg!!


Whuuussshh..!!


Crreepppphhh crepp!!


Dua senjata rahasia Surtikanti berbelok arah dan menancap pada tiang kayu penyangga bangunan. Melihat serangan nya mentah, Surtikanti menabrak jendela dan melompat ke luar untuk kabur. Anjani yang masih murka memburunya.


Surtikanti segera melepaskan selendang biru di pinggangnya begitu turun di halaman samping penginapan. Kali ini dia berniat untuk bertarung habis-habisan melawan Anjani.


"Rupanya kau masih ingin melanjutkan pertarungan ini, gadis bodoh..


Aku tidak akan sungkan lagi", teriak Surtikanti sambil melemparkan ujung selendang biru nya ke arah Anjani.


Whuuussshh!!


Dengan cepat Anjani melompat tinggi ke udara menghindari ujung selendang biru Surtikanti yang mengincar nyawanya.


Blllaaaaaarrr!!!


Ledakan keras terdengar saat ujung selendang biru Surtikanti menghantam tanah tempat berpijak Anjani. Murid Dewi Ular Siluman itu langsung mendarat di atas selendang biru kemudian berlari cepat kearah empunya sambil melayangkan tendangan ke arah kepala Surtikanti.


Whhuuuuuuuggggh!!


Dengan cepat Surtikanti menarik selendang biru nya ke belakang sembari melompat mundur. Akibat nya, pijakan Anjani goyah hingga tendangan nya meleset dari sasaran. Perempuan cantik itu segera memutar tubuhnya dan mendarat dengan sempurna di depan Surtikanti.


Dengan gerakan cepat, Surtikanti kembali melemparkan ujung selendang biru nya ke arah Anjani. Ujung selendang biru langsung membelit lengan kiri Anjani. Sambil menyeringai lebar, Surtikanti melemparkan 2 cunduk perak lagi ke arah Anjani.


Shhhrriinggg shriingg!!


Anjani langsung merogoh Pisau Dewa Kematian di pinggangnya. Kemudian dengan cepat dia menangkis serangan cunduk perak dari Surtikanti.


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg!!


Dua cunduk perak itu langsung bermentalan terkena tebasan Pisau Dewa Kematian. Surtikanti terkejut melihat kemampuan beladiri lawannya, dengan cepat ia dia menarik selendang biru nya sembari melemparkan dua bola kecil berwarna kuning kearah Anjani.


Whuuutt whuuthhh!!

__ADS_1


Anjani dengan cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah dua bola berwarna kuning itu.


Blllaaaaaarrr!!


Dua bola berwarna kuning itu langsung hancur berantakan terkena angin hantaman tangan kanan Anjani yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi. Asap tebal berwarna kuning berbau wangi langsung menutupi tempat itu. Anjani yang tahu asap itu beracun buru buru melompat mundur menjauhi tempat itu. Saat asap menghilang, Surtikanti pun sudah tidak ada lagi di tempat itu.


"Cihhhh ...


Perempuan sundal itu kabur. Dasar keparat", gumam Anjani sambil melompat masuk ke dalam kamar tidur Arya Pethak.


Melihat keadaan Arya Pethak yang masih dalam pengaruh obat, Anjani segera menutup pintu kamar tidur yang terbuka. Dia segera kembali memeriksa Arya Pethak. Saat tangan nya terulur untuk memeriksa dahi Arya Pethak, Anjani justru di tarik oleh Arya Pethak hingga jatuh ke samping nya.


Dalam keadaan itu, Arya Pethak segera memeluk dan menciumi leher, bibir serta pipi Anjani.


"Ndo-ndoro Pethak jangan begini Ndoro, saya mohon...", ucap Anjani yang berusaha menghindar dari cumbuan Arya Pethak yang masih dalam pengaruh obat kuat yang di berikan oleh Surtikanti.


Anjani hampir saja terlena oleh cumbuan majikannya andai saja dia tidak ingat bahwa Arya Pethak masih dalam pengaruh obat.


"Kalau Ndoro Pethak menginginkan ku dalam keadaan sadar, aku akan siap untuk mu Ndoro..


Karena dalam keadaan begini, mohon maaf jika aku kurang ajar pada Ndoro Pethak", ujar Anjani sambil menotok beberapa jalan darah Arya Pethak. Tubuh Arya Pethak langsung kaku tak bergerak di atas ranjang sementara Anjani merebahkan tubuhnya di lantai dekat ranjang.


Hari menjelang pagi. Pengaruh obat kuat yang dialami oleh Arya Pethak sudah hilang seluruh nya menyisakan tubuh kaku yang di totok oleh Anjani. Mata Arya Pethak berkedip-kedip saat Anjani bangun dari tidurnya.


"Ah Ndoro Pethak sudah bangun rupanya. Maafkan aku Ndoro", ujar Anjani sambil melepaskan totokan Arya Pethak. Begitu lepas, Arya Pethak langsung melompat ke arah kamar mandi untuk buang air kecil.


"Huffffffffttt..


Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku tertotok dan kau tidur di kamar ku?", Arya Pethak memberondong pertanyaan pada Anjani.


"Eh itu semalam Ndoro Pethak di goda oleh perempuan ****** yang menaruh obat kuat di makanan Ndoro....."


Anjani menceritakan dengan rinci tentang kejadian semalam. Arya Pethak memang ingat ada perempuan cantik yang mengantarkan makanan. Selepas itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Wajah cantik Anjani bersemu merah saat berkata bahwa Arya Pethak nyaris menggaulinya hingga dia terpaksa harus menotok jalan darah Arya Pethak untuk menghentikan polah pemuda tampan itu.


"Haisshhh ...


Rahasia ini cukup kita berdua yang tahu. Aku sangat berterimakasih kepada mu. Ayo kita lanjutkan perjalanan, aku tidak mau berlama-lama di tempat ini", ujar Arya Pethak sembari mengumpulkan barang bawaan nya. Mereka berdua dengan cepat berkemas. Arya Pethak dan Anjani saling berpandangan sejenak saat menatap ke arah kamar Klungsur.


Tiba tiba pintu kamar tidur terbuka, ternyata Klungsur sudah bangun, lebih pagi dari biasanya. Melihat Arya Pethak dan Anjani sudah bersiap untuk pergi, Klungsur langsung mendekati Arya Pethak.


"Loh Ndoro Pethak kita berangkat sekarang?"


"Iya Sur, kita harus cepat berangkat sekarang juga", Arya Pethak membenarkan letak Pedang Setan di punggungnya.


"Yah padahal tempat ini luar biasa loh Ndoro, semalam perempuan cantik berbaju merah itu benar benar hebat", Klungsur tidak sadar Anjani melotot ke arah nya.


"Dasar mesum,


Kalau mau tinggal disini, ya tinggal saja. Ndoro Pethak ayo kita pergi", Anjani langsung menggelandang tangan Arya Pethak menuju pintu keluar. Melihat itu Klungsur langsung masuk ke dalam kamar tidur nya dan meraih buntalan kain serta Gada Galih Asem nya. Secepat mungkin dia berlari menyusul Arya Pethak dan Anjani yang sudah sampai di halaman penginapan.


Mereka bertiga segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kuda mereka ke arah barat.


Saat melewati sebuah rumah makan di dekat tapal batas kota Pakuwon Sembung, Klungsur yang berkuda di samping Arya Pethak langsung berteriak keras.


"Ndoro Pethak, kita belum sarapan".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Untuk seluruh umat Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, author mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga puasanya lancar hingga adzan magrib tiba.


__ADS_2