Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Gembel Tua Berseruling Perak


__ADS_3

Keempat orang berpakaian hitam-hitam itu terkejut bukan main saat melihat Arya Pethak tiba-tiba muncul begitu saja tanpa mereka ketahui.


"Ka-kau bukan manusia.. Kau ha ha hantu..", ujar salah seorang dari mereka berempat. Setelah berucap demikian dia berusaha untuk kabur meninggalkan kawan kawan nya. Namun belum genap 2 langkah dia berjalan, sosok Arya Pethak kembali muncul di hadapan nya.


"Kau mau kemana?", tanya Arya Pethak sambil tersenyum lebar. Senyum yang sanggup membuat bulu kuduk mereka berempat berdiri tegak.


"Aku aku mau pergi.. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi", jawab si lelaki bertubuh ceking itu dengan penuh ketakutan.


Mendengar jawaban itu, Arya Pethak tersenyum simpul dan kembali menghilang dari pandangan mata semua orang. Tiba-tiba saja ia muncul di sisi lain dari mereka hingga membuat salah seorang diantara mereka mengompol karena ketakutan. Melihat ketakutan mereka, timbul niat iseng Arya Pethak untuk mengerjai mereka.


"Aku pasti akan memakan kalian hidup hidup. Sudah hampir satu purnama aku tidak makan daging manusia segar. Pasti daging kalian sangat enak huahahahahahaha", ujar Arya Pethak sembari terus berpindah tempat mengelilingi keempat orang berpakaian serba hitam itu.


Satu persatu mulai berlutut dan bersujud di tanah.


"Ampuni kami, wahai mahkluk lelembut..


Jangan makan kami. Anak ku masih kecil-kecil, masih butuh momongan ku untuk tumbuh dewasa. Tolong maafkan kami sudah berani lancang mengganggu ketenangan mu wahai mahkluk lelembut", ujar salah seorang diantara mereka dengan memelas.


Hemmmmmmm...


"Baiklah kalau begitu.. Aku tidak akan memakan kalian hidup hidup, karena anak kalian masih kecil-kecil", ucap Arya Pethak sambil tersenyum simpul. Dalam hati dia ingin tertawa terpingkal-pingkal melihat ketakutan mereka berempat.


"Terimakasih atas kemurahan hati mu makhluk lelembut..


Kami mohon diri sekarang", ujar salah seorang dari mereka dengan cepat.


"Eits eit eitt tunggu dulu.. Seenaknya saja mau kabur.


Aku akan melepaskan kalian tapi ada syarat yang harus kalian penuhi. Kalau tidak, aku akan mulai memakan kalian satu persatu", ucap Arya Pethak sembari menyeringai lebar.


"Katakan apa syaratnya, wahai lelembut?


Kami pasti berupaya untuk memenuhi semua syarat yang kau minta", keempat orang berpakaian hitam-hitam itu langsung menatap ke arah Arya Pethak yang terus berpindah tempat.


"Mudah saja syarat nya..


Katakan pada ku siapa orang yang mengutus kalian untuk mencelakai ku? Jawab pertanyaan dengan jujur. Kalau tidak akan ku potong potong tubuh kalian dan ku jadikan makan malam ku", tanya Arya Pethak segera.


"Kami tidak berani kami tidak berani..


Tumenggung Jaran Guyang adalah orang yang menyuruh kami mencelakai mu. Dia ingin kamu dan kawan-kawan mu celaka tapi takut terang-terangan karena ada Gusti Selir Saraswati yang melindungi mu.


Apa sekarang kami sudah boleh pergi?", salah seorang yang berbadan besar menatap ke arah Arya Pethak dengan penuh harap.


"Rupanya pejabat bobrok itu yang cari perkara. Katakan padanya, jangan pernah coba mengganggu ku dan kawan kawan ku lagi jika tidak ingin dia aku musnahkan.


Pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran", ujar Arya Pethak yang langsung membuat keempat orang berpakaian serba hitam itu segera terbirit-birit meninggalkan tempat itu.


"Dasar tidak berguna..


Untung saja aku lagi malas menghajar orang. Kalau tidak, pasti kalian pulang babak belur", gerutu Arya Pethak sembari meneruskan langkahnya menuju ke arah kediaman Nyi Sekati yang ada di selatan kota Gelang-gelang.

__ADS_1


Sekarwangi bolak balik menatap ke arah halaman rumah Nyi Sekati dengan raut wajah penuh rasa cemas. Perempuan cantik itu mondar mandir di serambi rumah besar itu dengan berjuta pikiran melintas di kepala nya. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Selir Saraswati. Menyuruh Arya Pethak sendiri yang mengantar pesanan jenang ketan nya pasti punya maksud tersembunyi.


"Kau jangan mondar mandir seperti itu, Kangmbok Sekarwangi?


Membuat orang semakin khawatir saja", keluh Anjani yang jengah melihat ulah sang putri Patih Pranaraja.


"Aku tahu pasti ada yang tidak beres dengan Selir Bupati Gelang-gelang itu, Anjani.


Dia pasti punya niat buruk dengan Kakang Pethak", jawab Sekarwangi alias Ragil Kuning sembari bolak balik menatap ke arah kegelapan malam jalan di depan kediaman Nyi Sekati.


"Akang Pethak itu punya kesaktian linuwih atuh Teh,


Sebaiknya Teh Sekarwangi banyak berdoa saja atuh, supaya Akang Pethak nya cepat pulang nya", sahut Nay Kemuning segera. Meski dia sendiri juga khawatir, tapi dia mencoba sekuat tenaga untuk terlihat lebih tenang.


Saat ketiga perempuan cantik itu masih gelisah dengan segala pemikiran mereka, sebuah suara membuyarkan pikiran mereka.


"Kalian semua masih belum tidur?"


Suara Arya Pethak yang berat langsung membuat Dewi Sekarwangi, Anjani dan Nay Kemuning menoleh ke arah sang pemilik suara yang baru muncul di depan pintu serambi. Ketiga perempuan cantik itu segera menghambur ke arah Arya Pethak.


"Kakang Pethak, kenapa lama sekali pulang nya? Aku khawatir pada mu Kakang", ucap Dewi Sekarwangi segera.


"Kau tidak apa-apa Kakang Pethak? Coba ku periksa tubuh mu", Anjani langsung menyentuh lengan kiri Arya Pethak.


"Akang Pethak teh capek ya? Mau Nay pijit gak?", Nay Kemuning tak mau kalah dengan kedua madunya.


Arya Pethak sampai kebingungan menjawab omongan mereka satu persatu. Putra angkat Mpu Prawira itu hanya toleh kanan kiri tak tahu harus berbuat apa. Melihat Arya Pethak yang masih belum menjawab omongan mereka, ketiga perempuan cantik itu langsung berteriak keras.


"Kakang Pethak, jawab!!"


Kalian ini kenapa sih?", Arya Pethak menatap wajah cantik ketiga istrinya.


"Kami mengkhawatirkan mu Kakang, tentu saja kami bertanya banyak hal", balas Dewi Sekarwangi segera.


"Aku tahu kalian sayang dan khawatir pada ku. Coba perhatikan sekarang, apa ada yang kurang dari ku? Aku baik baik saja bukan?


Ingat, aku punya kemampuan beladiri, jadi tidak akan mudah bagi penjahat melukai ku", ujar Arya Pethak sembari memutar tubuhnya.


"Eta Akang Pethak teh memang tidak bisa mengerti perasaan kami. Sebel aing mah", gerutu Nay Kemuning sambil melengos.


"Betul, Kemuning..


Kakang Pethak memang berhati batu, benar benar tidak peka terhadap perasaan wanita", imbuh Anjani sembari membuang muka.


"Aku setuju dengan pendapat kalian", sahut Sekarwangi dengan cepat.


Mendengar perkataan para istri nya, Arya Pethak menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Tiba tiba sebuah pemikiran melintas di kepala nya.


"Ya sudah, kalau kalian marah lanjutkan saja. Lebih baik aku balik lagi ke Istana Kabupaten Gelang-gelang. Gusti Selir Saraswati sepertinya tertarik pada ku", kata Arya Pethak sambil berbalik badan dan melangkah menuju ke arah luar kediaman Nyi Sekati.


Belum genap 2 langkah dia berjalan, tiga perempuan cantik itu segera mencekal lengan dan tubuh nya.

__ADS_1


"Kakang Pethak, jangan harap kamu bisa seenaknya ya.. Istri sudah tiga masih mau mencari perempuan lain lagi.


Anjani, Kemuning..


Ayo bawa suami kita ke kamar. Kasih dia pelajaran agar tidak berani berpikir untuk kawin lagi", perintah Dewi Sekarwangi yang langsung mendapat anggukan kepala dari Anjani dan Nay Kemuning. Arya Pethak tersenyum penuh arti saat ketiga perempuan cantik itu menggelandang nya ke arah kamar tidur yang disiapkan oleh Nyi Sekati.


Seterusnya hanya terdengar suara lengguh keenakan dan desah nafas yang memburu dari dalam kamar tidur Arya Pethak. Malam itu, Arya Pethak benar benar di kuras tenaga nya untuk melayani ketiga istrinya yang geram dengan omongan Arya Pethak.


Pagi menjelang tiba di wilayah Kota Kabupaten Gelang-gelang. Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa sebentar lagi sang Surya akan segera muncul di ufuk timur. Para kelelawar dan burung malam terbang kembali ke sarangnya, sedangkan burung burung siang seperti kutilang dan tekukur mulai memamerkan suara merdu mereka dari atas ranting pepohonan.


.


Arya Pethak menggeliat dari tidurnya. Lelaki tampan bertubuh tegap itu segera mengucek matanya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Nay Kemuning dan Sekarwangi masih tertidur pulas tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya sembari melingkarkan tangannya ke arah tubuh suami mereka, sedangkan Anjani tak terlihat ada dimana.


Senyum lebar segera terukir di wajah tampan Arya Pethak mengingat kembali kejadian semalam. Ketiga istrinya bergantian meminta jatah nafkah batin padanya.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!


Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar dan Anjani masuk membawa wedang dan air bersih untuk mencuci muka sang suami.


"Kau sudah bangun, Kakang?", tanya Anjani sambil meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja kecil di sudut ruangan.


"Sudah Anjani.. Rasanya capek sekali badan ku", ucap Arya Pethak sambil menggeliat.


"Makanya jangan coba-coba untuk berpikir ingin kawin lagi kalau tidak ingin di hajar oleh istri istri mu ini", sahut Anjani yang kemudian berjalan menuju ke arah ranjang tidur Arya Pethak.


"Hahahaha... Siapa juga yang mau kawin lagi? Aku hanya bercanda kog. Lagipula kalau pun Selir Saraswati ingin bersama dengan ku, aku juga tidak berminat. Istri istri ku saja sudah cukup membuat ku kewalahan", jawab Arya Pethak sambil tersenyum penuh arti.


"Mulut mu manis sekali, Kakang.. Awas kalau berani macam-macam dengan kami", Anjani tersenyum simpul.


Pagi itu, usai sarapan pagi, Arya Pethak dan ketiga istrinya serta Klungsur dan Nirmala berpamitan kepada Ki Wilapa dan Nyi Sekati untuk berangkat ke arah Wengker. Mereka segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing meninggalkan tempat itu. Nyi Sekati dan Ki Wilapa mengantar mereka hingga ke depan warung makan nya.


Rombongan kecil itu dengan cepat memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah selatan. Melewati beberapa desa di selatan Kota Gelang-gelang, akhirnya mereka sampai di tepi Sungai Brantas. Setelah menyusuri jalan di tepi Sungai Brantas, akhirnya mereka sampai juga di sebuah dermaga penyeberangan kecil yang terlihat cukup sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang sedang menunggu kedatangan perahu penyeberangan.


"Ndoro Pethak, tempat ini kog sepi sekali ya?


Biasanya penyeberangan itu ramai kan?", ucap Klungsur sambil menatap ke sekeliling tempat itu.


"Mungkin bukan waktu nya orang menyeberang, Sur.. Jadi terlihat seperti ini. Sudah tidak usah terlalu banyak memikirkan sesuatu hal yang tidak penting", jawab Arya Pethak sembari menuntun kuda nya ke arah dermaga penyeberangan.


Satu persatu para pengikut Arya Pethak mulai menaiki perahu penyeberangan. Perlahan perahu penyeberangan itu bergerak menuju ke seberang Sungai Brantas yang berair keruh kecoklatan.


Begitu mereka sampai di dermaga seberang sungai, Arya Pethak dan kawan-kawan nya turun setelah membayar biaya penyeberangan mereka sebesar 5 kepeng perak dan 10 perunggu. Saat mereka turun dari atas perahu, mata mereka terpaku pada suara yang mengalun indah.


Seorang lelaki tua sedang duduk di atas sebuah batu besar sembari bermain seruling yang nampak bukan terbuat dari bambu tapi dari perak. Tangan tua nya begitu lincah berpindah dari lobang seruling yang menghasilkan suara yang membius raga. Pakaian nya yang compang camping penuh tambalan, mirip dengan pengemis di pasar besar. Caping bambu nya yang sudah bolong di sana-sini semakin menambah kesan bahwa dia adalah seorang gembel.


Saat yang bersamaan, dua buah belati tajam yang di lemparkan oleh seorang lelaki bertubuh gempal melesat cepat kearah gembel tua berseruling perak itu.


Shrrriinnnggg! shrrriinnnggg!


Tiba-tiba nada seruling perak itu berubah dan menghasilkan bunyi yang tinggi. Hebatnya tekanan tenaga dalam yang keluar dari seruling perak itu mampu menahan pergerakan belati yang di lepaskan oleh si lelaki bertubuh gempal. Saat yang bersamaan, secepat kilat tangan kiri si gembel tua itu mengibas ke arah dua belati yang menyerangnya hingga berbalik arah ke arah tuan nya.

__ADS_1


Melihat itu, si lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal itu segera menghantamkan tapak tangan nya kearah senjata yang mental ke arah nya sambil memaki keras.


"Keparat kau gembel tua!!"


__ADS_2