Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Rahasia Nyi Sekati


__ADS_3

Selepas sepekan tinggal di Bukit Kahayunan, Arya Pethak membawa ketiga orang istri nya beserta Klungsur dan Nirmala untuk berangkat ke Kadipaten Wengker. Setelah berbagai persiapan di lakukan, mereka berpamitan kepada Mpu Prawira dan Nyi Ratih.


"Pethak mohon ijin untuk undur diri Biyung.. Mohon doa Biyung Ratih agar Pethak dan istri selamat sampai tujuan", ujar Arya Pethak sambil mencium punggung tangan Nyi Ratih.


"Berangkatlah Ngger Putra ku..


Biyung akan selalu berdoa semoga Sang Hyang Akarya Jagat selalu melindungi mu di setiap langkah dan tujuan mu", balas Nyi Ratih sembari mengelus kepala Arya Pethak.


"Terimakasih atas doa nya Biyung..


Suatu hari nanti Pethak pasti akan pulang ke sini lagi. Romo mohon pamit", Arya Pethak menghormat pada Mpu Prawira dan Nyi Ratih setelah berucap demikian. Setelah itu bersama ketiga istrinya dan Klungsur serta Nirmala mereka menuruni lereng Bukit Kahayunan.


Mpu Prawira dan Nyi Ratih terus memandangi mereka yang berjalan menjauh lalu menghilang dari pandangan tertutup dengan rimbun pepohonan.


"Sudahlah Nyi,


Jangan kau sesali kepergian mereka. Doakan saja semoga mereka selalu dalam lindungan Hyang Widhi Wasa.


Ayo kita masuk ke rumah", ujar Mpu Prawira sembari menuntun Nyi Ratih menuju ke kediaman nya.


Di kaki Bukit Kahayunan, Arya Pethak segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh para pengikutnya. Sesaat sebelum memacu kudanya, Arya Pethak menatap ke arah rumah Mpu Prawira dan Nyi Ratih. Lalu pria muda itu segera menggebrak kudanya menuju ke arah selatan bersama ketiga istrinya berserta Klungsur dan Nirmala.


Melewati beberapa desa yang ada di wilayah Pakuwon Ganter, menjelang tengah hari mereka memasuki wilayah Kabupaten Gelang-gelang.


Gelang-gelang adalah sebuah wilayah di selatan Kadiri. Wilayahnya yang memanjang dari batas Kali Aksa di timur sampai Gunung Wilis di barat. Daerah ini cukup subur dan terkenal sebagai penghasil beras dan palawija karena berada di dekat gunung Kelud yang sering meletus.


Bupati Gelang-gelang yang sekarang adalah Jayakatwang, seorang bangsawan muda yang merupakan keturunan langsung dari Kertajaya, raja terakhir kerajaan Panjalu. Setelah kekalahan pasukan Panjalu atau Kadiri yang dipimpin langsung oleh Kertajaya, Ken Arok memecah sebagian wilayah Kediri untuk memberikan tanah lungguh bagi keturunan Kertajaya yang bersumpah setia pada nya.


Sedangkan di Kadiri sendiri, di tempatkan seorang keluarga dekat istana untuk mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku keturunan Kertajaya karena pada dasarnya Ken Arok tidak percaya sepenuhnya kepada mereka.


Keadaan itu berlangsung hingga pemerintahan Wisnu Wardhana berkuasa. Namun selepas Kertanegara menjadi Maharaja Singhasari, kewaspadaan terhadap Gelang-gelang di longgarkan dan hanya seorang putri nya yang bernama Tribuaneswari memerintah Kadiri dengan gelar Bhre Daha meski hanya gelar semata karena pemerintahan di jalankan oleh Patih Daha atau Kadiri. Tribuaneswari sendiri tidak tinggal di Kadiri karena dia masih dalam pendidikan di Singhasari.


Dan ini mulai di manfaatkan oleh Jayakatwang yang mendapat dukungan sang Patih Gelang-gelang, Kebo Mundarang. Diam diam dia mulai menyusun kekuatan dengan sangat hati-hati karena Patih Pranaraja dari Kadiri selalu mengawasi nya dengan ketat. Di tambah lagi ada sebuah kelompok besar misterius yang menyokong keinginan Jayakatwang. Mereka adalah Kelompok Kelabang Ireng.


Kelabang Ireng sendiri merupakan kelompok yang di bentuk para prajurit Kadiri setelah kekalahan Kertajaya di Ganter. Mereka berusaha menyatukan kembali para bekas prajurit Kadiri yang tercerai berai demi menghindari kejaran para prajurit Tumapel kala itu. Sekian tahun berlalu, hari ini mereka menjadi satu kekuatan bawah tanah yang menakutkan. Dari generasi ke generasi, semangat untuk menggulingkan pemerintahan Kerajaan Singhasari dan menegakkan Kerajaan Kadiri selalu menjadi pusat tujuan mereka. Dalam pergerakan nya mereka selalu di pimpin oleh sosok lelaki misterius yang mengenakan topeng emas dengan sebuah gambar kelabang hitam di sisi kirinya.


Pembunuhan orang tua Arya Pethak juga merupakan tindakan Kelompok Kelabang Ireng. Saat itu mereka kesal karena Panji Kertapati, ayah Arya Pethak, pimpinan Padepokan Padas Lintang lebih memihak kepada pemerintah Singhasari yang dipimpin oleh Prabu Wisnu Wardhana karena menurut Panji Kertapati sendiri, tak peduli siapa yang menjadi raja asal dia rakyat makmur dan sejahtera maka itu sudah cukup untuk dia mendukungnya.


Pimpinan terakhir Kelompok Kelabang Ireng saat ini memiliki panggilan Kumaradewa, geram dengan sikap Panji Kertapati yang dianggap mengkhianati semangat Dinasti Isyana untuk bangkit kembali dan memerintahkan kepada seluruh pengikut-pengikutnya untuk melenyapkan Padepokan Padas Lintang dari muka bumi. Ribuan orang anggota Kelompok Kelabang Ireng mengepung Desa Mondoluku, tempat Padepokan Padas Lintang berdiri.


Dan peristiwa pembantaian itu pun terjadi. Seluruh kawasan Desa Mondoluku yang menjadi pusat Padepokan Padas Lintang di bumi hanguskan oleh Kelompok Kelabang Ireng. Meski para murid Padepokan Padas Lintang berjuang sekuat tenaga untuk menahan gempuran Kelompok Kelabang Ireng, namun jumlah mereka yang mencapai ribuan orang bukan tandingan mereka. Para wanita nya bahkan di perkosa oleh anak buah Kelabang Ireng sebelum di bantai dengan kejam.


Panji Kertapati sendiri terbunuh oleh Kumaradewa juga ibu Arya Pethak dan dua kakaknya.


Salah seorang dayang Panji Kertapati berhasil membawa lari Arya Pethak yang masih bayi, walaupun akhirnya dia tertangkap, dia masih sempat menyembunyikan Arya Pethak yang sedang tertidur lelap diantara tumpukan mayat mayat anggota Padepokan Padas Lintang.

__ADS_1


Usai berhasil melarikan diri dari Kelompok Kelabang Ireng, sang pelayan diam diam kembali ke tempat dimana dia menyembunyikan Arya Pethak namun sesampainya di sana, bayi kecil itu sudah menghilang.


Meski merasa bersalah, pelayan Panji Kertapati itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan memulai hidup baru dengan nama Nyi Sekati. Dia menikah dengan seorang lelaki muda dari Desa Padelegan yang bernama Wilapa. Bersama dengan suaminya, mereka membuka sebuah warung makan yang cukup besar di selatan kota Gelang-gelang.


Arya Pethak dan para pengikutnya terus menjalankan kuda nya menembus jalan raya yang membelah kota Gelang-gelang sembari melihat lihat keadaan sekelilingnya. Kota ini ramai dengan banyaknya pedagang dan orang yang berlalu lalang dengan segala macam kepentingan nya. Setelah hampir 15 hari tinggal di Bukit Kahayunan, suasana di kota Gelang-gelang terasa menyegarkan pikiran mereka tentang keramaian kota.


"Kakang,


Aku lapar. Sebaiknya kita mencari warung makan", ujar Dewi Sekarwangi sembari mengelus perutnya yang berbunyi.


"Kita belum melihat warung makan di sekitar sini, Sekarwangi..


Tahan sebentar lagi ya", jawab Arya Pethak sambil tersenyum simpul.


"Kakang Pethak,


Itu lihat! Ada warung yang ramai. Pasti makanan nya enak. Ayo kita kesana", ujar Sekarwangi sambil menunjuk ke arah sebuah warung makan yang bertuliskan huruf jawa sugeng rawuh.


Sekarwangi segera memacu kuda nya ke arah tempat itu. Arya Pethak dan yang lainnya mengekor di belakangnya.


Begitu sampai di halaman warung, Sekarwangi langsung melompat turun dari kudanya diikuti oleh Arya Pethak, Anjani, Nay Kemuning, Klungsur dan Nirmala. Dua orang pekatik menerima kuda nya dan dengan cekatan mengikat kuda itu sembari memberikan rumput dan air minum untuk hewan tunggangan itu.


"Wah Ndoro Putri kalau urusan makan benar benar tidak bisa menahan ya Ndoro Pethak.


Benar benar tidak seperti putri bangsawan", ujar Klungsur di samping Arya Pethak.


Awas ya, tak laporkan sama Kangmbok Sekarwangi tau rasa kau Sur", sahut Anjani sambil tersenyum mengejek.


"Ya jangan main lapor dong...


Aku kan hanya bercanda Anjani. Hanya bercanda. Sumpah deh", Klungsur sedikit ketakutan.


"Kang, makanya punya mulut itu di jaga ya.. Jangan asal bunyi saja", Nirmala ikut ngomel-ngomel.


"Iya Akang Klungsur teh suka begitu ya..


Sudah tau Teh Sekarwangi suka kesal dengan ulah nya, masih saja cari perkara juga", Nay Kemuning menimpali.


"Sudah cukup jangan ribut..


Ayo kita pesan makanan, tidak ada gunanya ribut terus", Arya Pethak menengahi perdebatan mereka.


Seorang wanita paruh baya yang memakai tusuk konde perak dengan pakaian yang cukup bagus mendekati mereka. Melihat dari dandanan nya seperti nya dia seorang wanita yang kaya.


"Permisi Kisanak Nisanak..

__ADS_1


Sepertinya kalian ini para pendekar ya. Ada yang bisa aku bantu untuk kalian?", tanya si perempuan paruh baya itu dengan sopan.


Arya Pethak yang mendengar suara itu langsung berbalik badan dan menghadap kearah perempuan paruh baya itu.


"Aku pesan ikan bakar Nyi, kalau yang lain kau bisa tanya mereka sendiri sendiri ya", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


Bukannya menjawab omongan Arya Pethak, perempuan paruh baya itu justru melongo melihat wajah Arya Pethak yang mirip sekali dengan majikan dulu. Ya perempuan paruh baya itu adalah Nyi Sekati, bekas pelayan Panji Kertapati dari Padepokan Padas Lintang.


"Gusti Pangeran Panji Kertapati???", ujar Nyi Sekati dengan suara nyaris tak terdengar. Perempuan tua itu masih terkejut hingga kesulitan untuk berkata kata.


"Apa kau bilang Nyi? Gusti Pangeran siapa?", tanya Arya Pethak segera. Ki Wilapa, suami Nyi Sekati yang menyusul istri nya langsung menyikut lengan perempuan tua itu hingga membuat Nyi Sekati tersadar.


"A-aku ah maaf kau tadi bilang apa pendekar muda?


Maaf aku tadi melamun sebentar karena wajah mu mengingatkan ku pada seseorang. Mari silahkan duduk dulu semuanya. Untuk pesanan Kakang Wilapa yang akan mencatat semua nya", ujar Nyi Sekati dengan sedikit terbata-bata. Perempuan paruh baya itu segera berbalik arah dan masuk menuju ke arah dapur nya dimana dua pembantu nya tengah mempersiapkan makanan untuk tamu tamu warung makan itu.


"Nyi Sekati,


Kau sakit Nyi? Wajah mu terlihat pucat. Kalau Nyi Sekati sakit sebaiknya Nyi beristirahat saja. Biar aku dan Sumirah saja yang menyiapkan makanan untuk tamu tamu kita", ujar si pembantu Nyi Sekati yang bernama Rumini dengan cepat.


"Aku tidak apa apa Rumini..


Kau kerjakan saja tugas mu seperti biasanya. Aku hanya ingin duduk sebentar untuk menenangkan diri", jawab Nyi Sekati dengan segera. Rumini segera menoleh ke arah Sumirah, namun gadis itu langsung mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka sedangkan Nyi Sekati terlihat sedang memikirkan sesuatu.


'Pemuda itu kenapa mirip seperti Pangeran Panji Kertapati? Apakah mereka punya hubungan darah?


Kalau melihat dari usia nya cocok dengan Pangeran Panji Dandungwacana yang hilang itu. Apakah itu dia?


Aku harus mencari tahu. Iya aku harus mencari tahu siapa pemuda itu sebenarnya', batin Nyi Sekati.


Perempuan paruh baya itu segera berdiri dan berjalan ke arah jendela warung makan yang menghubungkan dengan ruangan warung makan dengan dapur. Dari sana dia melihat Arya Pethak sedang berbincang dengan ketiga istri dan dua temannya. Semakin lama menatap wajah tampan Arya Pethak, Nyi Sekati semakin yakin bahwa mereka ada hubungan.


Ki Wilapa yang hendak membawa pesanan Arya Pethak dan kawan-kawan nya langsung di tahan oleh Nyi Sekati.


"Biar aku bantu Kakang. Ini untuk para pendekar itu bukan?", tanya Nyi Sekati dengan cepat.


"Iya Nyi.. Tumben sekali kau semangat begitu. Apa kau mengenal mereka?", tanya Ki Wilapa dengan tatapan penuh keheranan.


"Tidak kakang.. Tapi pemuda itu seperti majikan ku dulu.. Aku harus menanyakan hal ini padanya, kalau tidak seumur hidup ku aku tidak akan bisa tenang", jawab Nyi Sekati dengan penuh keyakinan.


"Ya terserah kamu saja Nyi.. Ayo kita bawa makanan ini kesana", ujar Ki Wilapa sembari mengangkat nampan berisi makanan pesanan rombongan Arya Pethak. Nyi Sekati pun turut membawa nampan, mengekor di belakang Ki Wilapa.


"Maaf menunggu lama..


Silahkan di nikmati makanan nya", ujar Ki Wilapa dengan meletakkan pesanan di atas meja warung makan itu segera. Nyi Sekati terus melirik ke arah Arya Pethak sambil mengulurkan makanan dari nampannya. Tak sengaja bandul kalung berliontin kepala naga itu terlihat oleh mata Nyi Sekati saat pakai Arya Pethak terbuka. Mata Nyi Sekati langsung melotot lebar karena kekagetannya. Dengan cepat ia bertanya kepada Arya Pethak.

__ADS_1


"Pendekar muda,


Siapa kau sebenarnya?"


__ADS_2