
Windusora terkejut bukan main melihat kecepatan Arya Pethak. Ajian Kilat Buana andalannya yang merupakan puncak dari ilmu meringankan tubuh di Tatar Pasundan masih bisa diimbangi oleh gerakan cepat Arya Pethak yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin.
Hantaman tangan kanan Arya Pethak dengan cepat dia tangkis, namun tenaga dalam nya rupanya nya masih di bawah jauh Arya Pethak.
Bhhuuuuummmmmmhh..
Windusora terdorong mundur dua tombak ke belakang. Arya Pethak tidak membiarkan Windusora mengambil nafas. Pendekar Pedang Setan itu terus memburu Windusora dengan kecepatan tinggi. Windusora dengan cepat mencabut kujang yang terselip di pinggangnya.
Jual beli pukulan bertenaga dalam tinggi berlangsung sengit. Kecepatan tinggi mereka membuat semua orang yang menonton sampai melongo melihat pertarungan mereka.
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!
Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg!!
Blllaaammmmmmmm!!
Linggakancana, Sang Raja Istana Atap Langit melihat pertandingan itu terpana. Ewangga murid kesayangan nya saja selalu kerepotan jika adu ilmu dengan Windusora, tapi si murid Ki Buyut Mangun Tapa ini dengan mudahnya memburu Windusora seakan mempermainkannya.
'Bangsat..
Bocah ini tidak bisa di anggap remeh', batin Linggakancana sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Bayangan Ewangga dan Ambetkasih merajai uji kemampuan beladiri ini langsung buyar di pikiran Linggakancana. Sejauh ini, dua murid nya itu bisa melenggang ke babak selanjutnya karena mereka bertemu lawan yang mudah dihadapi. Tapi jika berhadapan dengan Arya Pethak, mereka memiliki kemungkinan tipis untuk berjaya.
Elang Lolong dan Elang Botak hampir terjatuh dari kursi panggung kehormatan melihat pemuda yang mereka lawan di kaki Gunung Pojoktiga tempo hari mampu menyudutkan Windusora dengan kecepatan tinggi.
"Brengsek!
Rupanya pemuda ini menyembunyikan kekuatan nya saat bertarung dengan kita dulu Akang", bisik Elang Botak di telinga Elang Lolong.
"Kau benar adik..
Kalau saja dia sungguh-sungguh beradu ilmu dengan kita berdua, belum tentu kita bisa menang melawan nya. Perguruan Gunung Ciremai ternyata memiliki murid setangguh ini rupanya.
Nanti malam, kita minta murid Padepokan Rajawali Sakti yang lolos babak ketiga untuk berhati hati melawan nya. Aku tidak mau murid kita menjadi cacat lagi sampai bangsat ini mengamuk", Elang Lolong terus menatap ke arah pertandingan kelompok kedua yang sedang berlangsung. Elang Botak dengan cepat mengangguk mengerti.
Di sisi lain, Ki Buyut Mangun Tapa dan Dewi Puncak Khayangan tersenyum tipis melihat kejar-kejaran antara Arya Pethak dan Windusora. Mereka melihat pertarungan mereka ibarat kucing mengejar tikus.
Sementara itu, para anggota Kelompok lain yang sudah lebih dulu lolos ke babak ketiga turut menyaksikan pertandingan antara Arya Pethak dan Windusora sambil menahan nafas.
Blammmmm!!!
Windusora terdorong mundur sejauh 2 tombak usai hantaman terakhir Arya Pethak berhasil dia tangkis. Namun kali ini Arya Pethak tidak memburunya lagi. Windusora ngos-ngosan mengatur nafasnya.
Sementara itu, Arya Pethak sama sekali tidak terlihat kelelahan setelah bertarung puluhan jurus dengan Windusora. Nafasnya masih teratur tidak ada perubahan sama sekali. Pemuda itu tersenyum tipis.
"Saatnya mengakhiri pertandingan ini", ucap Arya Pethak sambil menatap ke arah Windusora. Meskipun Windusora kurang mengerti bahasa Jawa, namun dia tahu bahwa omongan Arya Pethak merupakan ancaman bagi nya.
Arya Pethak menghirup udara sebanyak mungkin lalu bersiap menggunakan dua pertiga bagian tenaga dalam nya pada Ajian Langkah Dewa Angin dan mencabut Pedang Setan di punggungnya.
Melihat lawan menggunakan senjata, Windusora dengan cepat mengalirkan tenaga dalam nya pada kujang yang sedari tadi dia genggam untuk menghadapi serangan Arya Pethak. Tanpa bantuan kujang di tangan kanannya, mungkin Arya Pethak sudah menjatuhkannya sejak tadi.
Arya Pethak segera melesat cepat kearah Windusora. Kecepatan nya meningkat jauh di banding tadi. Tenaga dalam yang sebagian besar dialirkan ke kaki membuat pergerakan nya nyaris tak terlihat bahkan oleh para pendekar sekalipun.
Windusora sangat terkejut saat tiba-tiba Arya Pethak muncul di hadapan nya dengan tebasan Pedang Setan yang mengincar lehernya. Murid Kelompok Istana Kilat Guntur itu berusaha menangkis sabetan pedang Arya Pethak dengan kujang nya.
Thrrriiinnnggggg..
Blllaaammmmmmmm!!!
Windusora terpental ke belakang. Tangannya gemetar hebat saat menggenggam gagang kujang pusaka. Belum hilang rasa keterkejutan nya, Arya Pethak muncul kembali di samping kiri nya dengan tebasan Pedang Setan yang mengarah ke kepala Windusora.
Sebisa mungkin Windusora menangkis tebasan Pedang Setan Arya Pethak. Kuatnya tebasan Pedang Setan memaksa Windusora harus berlutut. Namun disaat yang sama, tangan kiri Arya Pethak menghantam dada kanan Windusora.
Bhuuukkkhhh...
Blllaaaaaarrr!!!
Windusora terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Kujang pusaka di tangan kanannya terlepas dan tergeletak tak jauh dari dirinya.
Huuuuooogggghhh!!!
Murid utama Kelompok Istana Kilat Guntur itu muntah darah segar. Pemuda itu roboh setelah muntah. Dia pingsan.
__ADS_1
Melihat itu, wasit pertandingan dengan cepat mengangkat bendera merah nya.
"Pemenang babak kedua terakhir, saudara Arya Pethak dari Perguruan Gunung Ciremai", ujar sang wasit dengan lantang.
Siulan keras dan sorak sorai serta tepuk tangan penonton terdengar saling bersahutan. Para tamu agung di panggung kehormatan langsung berdiri begitu pertandingan itu berakhir. Ada yang cemberut wajahnya, ada pula yang senyum senyum sebelum melangkah turun dari panggung kehormatan untuk kembali ke tempat khusus yang disediakan untuk mereka.
Arya Pethak sendiri langsung menyarungkan kembali Pedang Setan ke punggungnya usai pertandingan berakhir. Klungsur langsung mendekati Arya Pethak dan Nay Kemuning yang keluar dari pagar pembatas di samping arena pertandingan.
"Wah selamat ya Ndoro Pethak, Eneng Nay..
Kalian hebat bisa mengalahkan murid murid dari perguruan terkenal", ujar Klungsur dengan antusias.
"Abdi teh masih jauh bila dibandingkan dengan Akang Pethak, Sur..
Windusora yang di gadang-gadang jadi salah satu dari sepuluh besar jawara muda justru keok di tangan Akang Pethak. Kalau eneng yang hadapi, pasti eneng sudah kalah duluan", jawab Nay Kemuning sambil melirik ke arah Arya Pethak.
"Jangan begitu Nay, aku menang hanya karena beruntung saja", Arya Pethak tersenyum simpul.
"Selanjutnya pertandingan berkelompok ya Ndoro? Berarti Ndoro Pethak berpasangan dengan Neng Ayu ini ya?", Klungsur menatap ke arah Arya Pethak.
"Aturannya begitu Sur, jadi delapan orang ini terbagi menjadi empat pertandingan kelompok 2 orang. Nantinya dua orang yang memenangkan pertandingan ini akan menjadi 10 besar jawara muda yang di adu untuk memperebutkan gelar nomor satu.
Itu yang aku ketahui", jawab Arya Pethak sambil melangkah menuju ke arah tenda besar mereka bersama Nay Kemuning.
"Wah kalau begitu Ndoro Pethak harus berusaha keras untuk saling melengkapi dengan Neng Ayu ini di pertandingan besok.
Semangat Ndoro", Klungsur tersenyum tipis.
Mereka bertiga segera masuk ke dalam tenda besar. Namun ada wajah wajah kusut menghiasi para murid Perguruan Gunung Ciremai. Seorang murid Resi Ajimulya lainnya kalah di pertandingan babak kedua, juga seorang murid Buyut Ragasuci menyerah saat menghadapi Kentring Manik dari Puncak Khayangan.
Kini hanya tersisa tujuh orang yang mewakili Perguruan Gunung Ciremai yaitu 4 murid Ki Buyut Mangun Tapa, 2 murid Buyut Ragasuci dan 1 murid Resi Ajimulya. Arya Pethak dan Nay Kemuning tidak perlu repot-repot mencari kawan untuk bekerja sama seperti Limbur Wisesa dan Mayangsari. Tapi ketiga murid yang lain harus bekerja sama dengan perguruan lain untuk berpasangan.
Aki Kolot yang bertugas untuk menjaga para murid akhirnya bisa membuat kerjasama dengan Padepokan Sapta Arga untuk seorang murid Resi Ajimulya di kelompok ketiga, seorang pendekar mandiri bernama Widura berpasangan dengan seorang murid Buyut Ragasuci di kelompok empat dan seorang murid Perguruan Pedang Halilintar untuk murid Buyut Ragasuci di kelompok kelima.
Sore menjelang tiba di lereng Gunung Pojoktiga. Suasana dingin udara pegunungan di tambah kelelahan setelah bertarung membuat para murid dari perguruan maupun pendekar perorangan memilih untuk segera beristirahat. Hanya beberapa orang saja yang terlihat masih terjaga untuk menjaga keamanan masing-masing tenda.
Anjani mengangkat sebuah periuk yang ditaruh pada atas api unggun yang menyala. Gadis cantik itu tadi siang turun gunung untuk belanja kebutuhan nya, Klungsur dan Arya Pethak. Berbekal 10 kepeng perak, Anjani membeli dua ekor ayam yang di masak tadi sore untuk lauk semua murid Perguruan Gunung Ciremai. Dia juga membeli sekeranjang jagung muda beberapa wadah daging sapi kering sesuai pesanan Arya Pethak.
Di sebelahnya Klungsur asyik menikmati jagung bakar yang sedikit hangus karena terlambat di angkat.
Pagi hari segera tiba. Cahaya matahari pagi yang hangat perlahan mengusir dingin malam yang menyelimuti seluruh kawasan itu. Hari ketiga uji kemampuan beladiri antar perguruan dan pendekar muda Tatar Pasundan di mulai dengan pengundian nomor peserta yang akan bertanding.
Di kelompok kedua, Arya Pethak dan Nay Kemuning akan berhadapan dengan murid Pulau Nusa Kambangan, Pakubumi yang berkerjasama dengan seorang pendekar perseorangan terakhir di kelompok itu, Sumitra.
Mereka segera maju ke tengah arena pertandingan.
Saat wasit mengangkat bendera merah untuk memulai pertandingan, Pakubumi dan Sumitra langsung membungkukkan badannya pada Arya Pethak dan Nay Kemuning.
"Kami menyerah. Kekuatan kami kalau di gabungkan pun tak akan mampu menandingi kesaktian pendekar Pethak. Kami mengaku kalah", ujar Pakubumi sambil menatap ke arah Arya Pethak. Usai berkata demikian, dua orang itu langsung kembali ke tempat para peserta uji kemampuan beladiri. Pertarungan antara Arya Pethak dan Windusora kemarin benar benar membuat nyali mereka ciut dan sadar perbedaan tingkat ilmu kanuragan yang mereka miliki.
Nay Kemuning dan Arya Pethak di nyatakan sebagai pemenang dan bersiap untuk menghadapi pemenang antara Tirtanala dari Perguruan Sapta Arga dan Wunisora dari Perguruan Rajawali Sakti melawan Sanuraga dari Istana Atap Langit yang berpasangan dengan Sukesi dari Puncak Khayangan.
Pertarungan berpasangan di kelompok kedua benar benar seru. Sanuraga yang merasa memikul beban kemenangan Istana Atap Langit, bertarung dengan sepenuh kekuatan nya. Di dampingi Sukesi dari Puncak Khayangan, dua orang itu terus mendesak pasangan Tirtanala dan Wunisora yang kurang kompak dalam bertahan dan menyerang.
Ratusan jurus mereka keluarkan untuk mengalahkan lawan. Saling serang dan saling bertahan membuat pertarungan sengit di kelompok kedua menjadi tontonan yang menarik. Keempat memiliki tenaga dalam yang cukup berimbang hingga pertandingan berlangsung alot.
Arya Pethak dan Nay Kemuning terus mengamati calon lawan mereka dengan seksama.
"Menurut Akang Pethak teh siapa yang akan jadi jawara nya?", Nay Kemuning melirik ke arah Arya Pethak.
"Kalau dilihat sekilas, sepertinya murid Istana Atap Langit itu yang akan menang. Sepuluh jurus lagi, dia akan menjatuhkan si murid Padepokan Rajawali Sakti itu", ujar Arya Pethak sambil menunjuk ke arah Sanuraga.
Mendengar jawaban itu, Nay Kemuning segera memperhatikan gerak-gerik calon lawan mereka. Dan benar saja, dalam sepuluh jurus berikutnya, Sanuraga berhasil mengalahkan Wunisora saat murid Padepokan Rajawali Sakti itu lengah. Pertandingan ini di menangkan oleh Sanuraga dan Sukesi. Mereka akan menjadi lawan Arya Pethak dan Nay Kemuning untuk menuju 10 besar pendekar muda di Tatar Pasundan.
Untuk memberi waktu istirahat para peserta, pertandingan di lanjut setelah tengah hari.
Udara terasa lebih sejuk saat matahari mulai bergeser dari atas kepala. Sepoi angin berhembus perlahan melambaikan panji-panji dan umbul umbul para padepokan yang mengikuti uji kemampuan beladiri ini. Di masing masing arena pertandingan telah berdiri 10 pasang pendekar muda yang hendak masuk ke jajaran pendekar pendatang baru di dunia persilatan Tatar Pasundan. 5 pasang pendekar akan tersingkir dan 5 pasang akan maju ke babak akhir yang menentukan peringkat mereka dalam 10 besar pendekar muda.
Dhiiiiieeeeenngggggggggh!!
Bende berbunyi nyaring setelah dipukul sebagai tanda perebutan gelar 10 pendekar muda terbaik. Semuanya langsung menggunakan kuda-kuda ilmu beladiri andalan mereka.
__ADS_1
Di arena pertarungan kedua, Sanuraga dan Sukesi berhadapan dengan Arya Pethak dan Nay Kemuning. Mereka berempat langsung maju ke arah lawan.
Nay Kemuning langsung mencabut Pedang Cambuk Naga nya dan membabatkan pedang lentur itu ke arah Sukesi. Murid Puncak Khayangan itu tak mau kalah. Dia dengan cepat meloloskan selendang putih di pinggangnya sambil melompat mundur. Sukesi memutar selendangnya, menciptakan gelombang angin kencang menderu berhawa dingin.
Whuuussshh whuuussshh!!
Mendapat serangan balasan lawan, Nay Kemuning menarik serangan, lalu menancapkan ujung pedang kemudian menekuk Pedang Cambuk Naga. Tubuh rampingnya melenting tinggi ke udara saat Pedang Cambuk Naga menjadi kaku. Dengan memegang gagang pedang dengan kedua tangannya, Nay Kemuning meluncur turun sambil membabatkan Pedang Cambuk Naga ke arah Sukesi.
Shreeeeettttthhh!!
Murid Puncak Khayangan itu terkejut melihat kemampuan Nay Kemuning, dia tidak mungkin lolos dari sergapan Nay Kemuning.
Tapi sebuah bayangan biru langit menyambar tubuh Sukesi. Perempuan itu lolos dari maut. Pedang Cambuk Naga menghantam tanah dengan keras.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan keras terdengar. Bersamaan dengan tubuh Nay Kemuning mendarat, selarik sinar biru kemerahan melesat cepat kearah Nay Kemuning. Tidak ada kesempatan menghindar, Nay Kemuning palangkan Pedang Cambuk Naga ke depan dada sambil memejamkan mata.
Satu bayangan berkelebat cepat menghadang bokongan serangan dari Sanuraga dengan memeluk tubuh Nay Kemuning.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Ledakan dahsyat kembali terdengar. Nay Kemuning membuka mata nya untuk melihat siapa yang menghadang serangan Sanuraga. Saat melihat Arya Pethak tengah memeluknya, Nay Kemuning tersenyum penuh arti.
"Dasar bodoh!
Jangan menyerang membabi buta begini. Berbahaya tahu", omel Arya Pethak yang tubuhnya terbungkus sinar kuning keemasan.
Di pihak lawan, Sanuraga dan Sukesi terkejut bukan main melihat Arya Pethak dan Nay Kemuning baik baik saja setelah terkena Ajian Api Langit andalan Sanuraga yang merupakan ilmu kedigdayaan tinggi dari Istana Atap Langit.
Arya Pethak mencabut Pedang Setan dari punggungnya. Lawan yang di hadapi kali ini bukan lawan yang mudah. Pemuda itu dengan cepat membisikkan sesuatu di telinga Nay Kemuning, gadis cantik itu mengangguk mengerti.
Menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak melesat cepat kearah Sanuraga. Murid Istana Atap Langit dengan cepat menghantamkan tangan kiri dan kanannya bertubi-tubi ke arah Arya Pethak.
Whuuutt whuuthhh...
Blllaaammmmmmmm blammmmm!!!
Ledakan beruntun terdengar. Namun itu tidak menghalangi Arya Pethak melesat maju sambil mengayunkan pedangnya.
Whuuussshh!!
Nay Kemuning yang berlari cepat di belakang Arya Pethak langsung melesat tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah Sanuraga. Mendapat dua serangan sekaligus, Sanuraga memilih berpencar dengan Sukesi dengan menghindar ke samping kanan dan Sukesi ke kiri.
Blllaaaaaarrr!!!
Ledakan keras kembali terdengar. Arya Pethak langsung mengangkat Pedang Setan dengan kedua tangannya. Nay Kemuning menggunakan bilah Pedang Setan sebagai tumpuan, kemudian melompat ke arah Sukesi sambil mengayunkan Pedang Cambuk Naga sambil berteriak lantang,
"Satu lawan satu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Selamat pagi selamat beraktivitas. Semoga semua harapan di hari ini di kabulkan. Aamiin.