
Mendengar ucapan Arya Pethak, tiga gadis cantik itu mengangguk mengerti. Sekarwangi mendapat giliran tidur paling awal sedangkan Paramita dan Anjani berjaga-jaga. Arya Pethak sendiri memilih bersemedi di sudut ruangan.
Hujan terus mengguyur kota Anjuk Ladang dengan derasnya.
7 orang berpakaian serba hitam melesat cepat diantara tetes air hujan deras yang mengguyur kota Kadipaten Anjuk Ladang. Mereka menuju ke arah istana Katumenggungan yang tak jauh dari penginapan. Jarak Penginapan Kembang Sore dan Katumenggungan Anjuk Ladang memang hanya terpisah sejauh 300 tombak saja.
Mereka adalah para pembunuh bayaran yang terkenal dengan sebutan 8 Setan Pencabut Nyawa. Mereka terkenal kejam dan berdarah dingin, tak peduli siapa pun yang menjadi sasaran baik itu perempuan, anak anak maupun orang tua asal sesuai dengan bayaran yang mereka terima, mereka tidak akan memberi ampun. Markas utama mereka ada di gunung Kawi, pada lereng sebelah selatan.
Sebenarnya, 8 Setan Pencabut Nyawa adalah bekas prajurit pada masa pemerintahan Apanji Tohjaya yang berhasil meloloskan diri dari kepungan Mahesa Campaka dan Ranggawuni saat mereka bersatu menumpas paman mereka sendiri yang dianggap merongrong kewibawaan pemerintah Tumapel. Di pimpin oleh Baung Sekati, mereka menjelma menjadi kelompok pembunuh bayaran yang terkenal.
Hari itu mereka memperoleh tugas untuk menghabisi nyawa Tumenggung Kebo Biru, salah satu dari pejabat tinggi Istana Kadipaten Anjuk Ladang.
Kebo Biru sendiri tersohor sebagai pejabat yang suka bersenang-senang dengan perempuan. Dia gemar minum tuak dan mabuk di tempat pelacuran. Banyak orang yang gerah melihat kelakuan Kebo Biru yang dianggap melanggar norma kesopanan dan kewibawaan para pejabat istana Kadipaten Anjuk Ladang. Tapi karena kakak Kebo Biru adalah permaisuri Adipati Anjuk Ladang, Gajah Panggung yang bernama Dewi Lesmanawati, para penegak hukum seolah menutup mata dengan kelakuan Kebo Biru.
Di dekat tembok Katumenggungan, seorang lelaki berpakaian hitam keluar dari balik pepohonan. Ketujuh orang itu segera mendekati nya.
"Bagaimana, Rukmono?
Dia ada di dalam Katumenggungan?", tanya si lelaki paruh baya yang menjadi pemimpin kelompok pembunuh itu segera.
"Dia tidak ada disini Ki..
Tadi sore dia naik kereta kuda kearah tempat pelacuran Nyi Karti di dekat sungai tempat memandikan kuda dan kerbau dengan di kawal 4 prajurit", jawab si lelaki berpakaian serba hitam yang dipanggil Rukmono itu segera.
"Hehehehe...
Ini akan mudah. Kita tidak perlu repot-repot menghadapi para prajurit Katumenggungan disana. Ayo kita kesana dan habisi Tumenggung keparat itu!", perintah Baung Sekati yang segera membuat para pengikutnya melesat cepat kearah tempat yang di laporkan Rukmono.
Di bawah guyuran hujan deras musim penghujan, mereka terus melesat cepat kearah tempat pelacuran Nyi Karti yang ada di barat kota Kadipaten Anjuk Ladang. Kelompok pembunuh bayaran ini sebenarnya tidak bergerak sendiri. Di belakangnya ada satu kekuatan besar yang menjadi penyokong pergerakan mereka.
Sementara itu, di tempat pelacuran Nyi Karti..
"Aku hanya mau Puspasari yang menemani ku malam ini!
Tidak mau yang lain", teriak Tumenggung Kebo Biru sambil menggebrak pintu rumah mewah Nyi Karti yang merupakan tempat mesum yang terkenal di wilayah barat kota Kadipaten Anjuk Ladang. Puspasari adalah primadona di tempat itu. Wajah nya yang cantik, tubuhnya juga mulus. Di tambah kemampuan nya dalam membuat para lelaki hidung belang bertekuk lutut di bawah kakinya membuat dia banyak di gilai para pemburu kenikmatan sesaat yang singgah di tempat pelacuran Nyi Karti.
"Tapi Gusti Tumenggung,
Puspasari masih bersama dengan Juragan Wonomarto.. Hamba tidak berani mengganggu mereka.
Selain Puspasari, Sumirah dan Wariyati juga tak kalah cantik dengan dia. Kalau Gusti Tumenggung bersedia, mereka berdua akan hamba panggil kemari", ujar Nyi Karti sambil ketakutan. Dia sangat hapal betul dengan watak Tumenggung Kebo Biru. Menawarkan dua anak buahnya hanya coba-coba saja, siapa tahu lelaki bertubuh gempal itu mau menerima omongan nya.
"Bangsat!
Kau mau tawar menawar dengan ku, Nyi Karti?
Cepat panggil Puspasari atau ku ratakan tempat mu ini.
Berikan ini pada Wonomarto sebagai ganti ruginya", Tumenggung Kebo Biru melemparkan sekantong kain berisi kepeng perak pada Nyi Karti. Dengan penuh ketakutan, Nyi Karti segera melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar tempat Puspasari dan Juragan Wonomarto melepaskan hasrat nafsu mereka.
"Kau mau apa Nyi?
Juragan Wonomarto akan sangat marah jika kau mengganggu nya sekarang", ujar seorang pengawal pribadi yang menjaga kamar tempat Juragan Wonomarto dan Puspasari bercinta.
"Itu itu Gusti Tumenggung Kebo Biru menginginkan bersama Puspasari. Aku di suruh kemari untuk memberikan ganti rugi kepada Juragan Wonomarto jika dia mau memberikan Puspasari kepadanya", Nyi Karti bicara dengan gemetar ketakutan.
"Huhhhhh...
Juragan Wonomarto apa kekurangan uang? Aku sudah mendapat perintah agar tidak seorang pun mengganggu waktu nya. Kau pergilah Nyi", hardik si pengawal pribadi Juragan Wonomarto yang berwajah seram itu segera.
Mendengar ucapan itu, Nyi Karti tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kembali ke arah Tumenggung Kebo Biru dan melaporkan bahwa Juragan Wonomarto tidak mau mengalah.
"Bangsat Wonomarto!
Regol, Bogang...
Bawa orang orang mu, dobrak pintu kamar Wonomarto. Jika pengawal nya melawan, habisi. Cepat!!!", teriak Tumenggung Kebo Biru sambil mendelik tajam ke arah para prajurit Katumenggungan.
8 orang prajurit pengawal Tumenggung Kebo Biru langsung bergegas menuju ke arah kamar tidur Juragan Wonomarto.
Kedatangan mereka cukup mengejutkan para pengawal pribadi Juragan Wonomarto. Perkelahian sengit tak bisa di hindari. Hanya dalam waktu singkat, keempat pengawal pribadi Juragan Wonomarto sudah babak belur di hajar oleh para prajurit Tumenggung Kebo Biru. Regol, sang pemimpin prajurit, langsung menendang pintu kamar tidur.
Brrruuuaaaaakkkkh!!!
Juragan Wonomarto yang tengah menggeluti tubuh Puspasari langsung kaget setengah mati melihat pintu kamar tidur nya di buka paksa. Pria paruh baya itu langsung menyambar celananya dan dengan cepat mengenakannya.
"Wonomarto,
Cepat keluar dari sini kalau ingin melihat matahari terbit esok pagi!", teriak Regol sambil mengacungkan golok ke arah Juragan Wonomarto.
"Brengsek!
Siapa yang berani mengganggu ku? Apa kalian sudah bosan hidup ha?", ujar Juragan Wonomarto dengan marah.
__ADS_1
"Huhhhhh..
Mulut mu memang tajam. Kalau ku beri tahu siapa yang mengganggu mu, aku harap kau tidak mengompol di celana mu itu.
Gusti Tumenggung Kebo Biru menginginkan bersama Puspasari. Apa kau masih berani?", Regol menyeringai lebar menatap wajah Juragan Wonomarto yang langsung pucat seketika.
"A-aku tidak berani, tidak berani..
Aku akan pergi dari sini", ucap Juragan Wonomarto sambil beringsut menjauh dari arah pintu kamar. Dia segera kabur dari tempat itu lewat pintu belakang. Juragan Wonomarto mengumpat dalam hati saat dia melihat keempat orang pengawal pribadi nya sudah babak belur tak berdaya di sebelah pintu keluar.
Puspasari segera mengenakan pakaian nya dan dengan cepat membetulkan riasan wajah nya. Perempuan binal itu langsung melangkah ke arah tempat Tumenggung Kebo Biru menunggu diikuti oleh Regol dan Bogang.
"Puspasari dewi ku,
Akhirnya kau datang juga ke pelukan ku. Aku sangat merindukanmu perempuan cantik hehehe", Tumenggung Kebo Biru tersenyum simpul sambil langsung meraih pinggang ramping Puspasari.
"Puspasari siap melayani Gusti Tumenggung. Malam ini Gusti Tumenggung pasti puas dengan pelayanan dari ku", ujar Puspasari sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Tumenggung Kebo Biru.
Mendengar ucapan itu, Tumenggung Kebo Biru langsung membopong tubuh Puspasari ke sebuah kamar besar yang ada di ujung rumah pelacuran itu. Hanya orang orang berkantong tebal saja yang bisa menggunakan kamar itu.
Begitu Tumenggung Kebo Biru masuk dan menutup pintu kamar dari dalam, 10 orang prajurit pengawal nya langsung berjaga di sekitar kamar.
Nyi Karti menarik nafas lega karena keributan yang di buat oleh Tumenggung Kebo Biru berakhir. Dia segera memerintahkan para perawit gamelan dan penari penghibur untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Suasana kembali meriah di rumah pelacuran itu.
Tumenggung Kebo Biru dengan cepat mempreteli pakaian yang dikenakan nya. Dia sudah tidak tahan ingin bercinta dengan Puspasari.
Pun perempuan binal itu juga mengerti kemauan adik permaisuri Kadipaten Anjuk Ladang itu. Sambil tersenyum manis, satu persatu kain yang menutupi tubuhnya dia lepaskan.
Melihat tubuh mulus Puspasari, Tumenggung Kebo Biru mengusap air liur yang nyaris menetes dari sudut bibirnya. Dengan buas, dia menerkam Puspasari di atas ranjang.
Dua insan itu terus berpacu menuju ke arah puncak kenikmatan sesaat. Saat Tumenggung Kebo Biru tengah asyik menikmati tubuh Puspasari, 8 Setan Pencabut Nyawa telah sampai di tempat itu. Dengan isyarat Baung Sekati, 3 orang segera melompat ke atas atap bangunan rumah pelacuran Nyi Karti. Dengan cepat mereka mengintip dari atap alang-alang yang mereka singkap untuk mencari keberadaan Tumenggung Kebo Biru.
Setelah menemukan orang yang mereka cari, dengan cepat tiga orang berpakaian serba hitam itu menjebol atap bangunan sembari menghunus senjata mereka masing-masing.
Jleeggg jleeggg..
Dua orang langsung bergerak cepat kearah pintu kamar. Sedangkan Baung Sekati langsung melesat cepat kearah Tumenggung Kebo Biru yang terkejut setengah mati melihat kedatangan tamu tak diundang itu. Pedang Baung Sekati terlihat mengkilap tertimpa sentir lampu minyak jarak.
"Ada pembunuh....!!!!", teriak Tumenggung Kebo Biru yang baru saja menyelesaikan hajatnya. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung menyambar celananya dan berguling ke arah sebelahnya menghindari tusukan pedang Baung Sekati.
Teriakan Tumenggung Kebo Biru sontak membuat para prajurit Anjuk Ladang yang berjaga langsung bergerak cepat untuk mendobrak pintu kamar tidur. Namun dua orang yang di dalam berhasil menahan dorongan mereka untuk sementara.
Baung Sekati terus memburu Tumenggung Kebo Biru dengan sabetan pedang nya yang mengincar nyawa.
Shreeeeettttthhh...
Thrrraaannnnggggg...
Sementara Baung Sekati dan Tumenggung Kebo Biru bertarung, para prajurit Kadipaten Anjuk Ladang yang mengepung tempat itu semakin banyak.
"Jangan harap kalian bisa lolos dari tempat ini, pembunuh tengik!
Aku adalah kerabat dekat istana Anjuk Ladang. Kau pikir gampang membunuh ku", hardik Tumenggung Kebo Biru sambil tersenyum sinis.
"Penjahat kelamin seperti mu layak mampus Kebo Biru. Kau sudah menyinggung orang yang salah", jawab Baung Sekati sambil melesat cepat kearah Tumenggung Kebo Biru. Rupanya dia ingin menghabisi nyawa Tumenggung Kebo Biru secepatnya dengan Ajian Cakar Waja Pencabik Sukma andalannya. Tangan kiri nya di liputi oleh sinar biru yang dingin.
Sabetan pedang Baung Sekati mengincar leher Tumenggung Kebo Biru.
Shreeeeettttthhh...
Dengan cepat Kebo Biru menangkisnya dengan keris di tangannya. Namun sayangnya sabetan pedang itu hanya pengalih perhatian. Saat Kebo Biru sibuk menangkis sabetan pedang, tangan kiri Baung Sekati yang membentuk cakar berwarna biru langsung terayun ke dada Tumenggung Kebo Biru.
Shrraaaakkkkhhhh..
Blllaaammmmmmmm!
Ledakan keras terdengar. Tumenggung Kebo Biru terpelanting menabrak dinding kayu kamar luas yang menjadi tempat nya memuaskan nafsu birahinya. Dia tewas dengan dada hancur bersimbah darah.
Melihat buruan mereka sudah mati, Baung Sekati dan dua orang yang menjaga pintu langsung melompat ke arah jendela kamar tidur itu sembari melemparkan pisau kearah Puspasari yang meringkuk di atas ranjang.
Whuuthhh..
Jllleeeeeppppphhh...
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Puspasari meraung keras saat pisau lemparan Baung Sekati menembus dadanya. Primadona rumah pelacuran itu tewas dengan pisau tertancap di dada.
Para prajurit Kadipaten Anjuk Ladang yang berhasil masuk langsung mengejar langkah pelarian 8 Setan Pencabut Nyawa yang bergerak cepat menuju ke arah timur laut. Dipimpin oleh Regol dan Simo Bogang, mereka terus mengejar para pembunuh bayaran ini dengan segenap kemampuan beladiri yang ada. Mereka tahu, kematian Tumenggung Kebo Biru akan membawa masalah besar bagi mereka jika tidak berhasil menangkap pelakunya hidup atau mati.
Sesampainya di dekat Katumenggungan, Regol kehilangan jejak para pembunuh bayaran ini.
"Bangsat!
__ADS_1
Mereka berhasil lolos dari kejaran kita, Bogang! Bagaimana ini? Kita tidak mungkin bisa menghadap Gusti Adipati jika pembunuh keparat itu tidak kita tangkap", Regol menggeram keras. Simo Bogang pun tak bisa berkata apa-apa lagi, pikiran nya kalut membayangkan hukuman yang diberikan oleh kakak Tumenggung Kebo Biru.
Saat kedua orang itu tengah kalut, seorang prajurit Katumenggungan mendekati mereka.
"Lapor Gusti Bekel,
Ada seorang prajurit yang melihat 8 orang berpakaian serba hitam memasuki Penginapan Kembang Sore", ujar sang prajurit dengan cepat.
Mendengar laporan itu, Regol dan Simo Bogang saling berpandangan sejenak.
"Itu pasti mereka, Regol.
Ayo kita tangkap mereka hidup atau mati", ucap Simo Bogang segera. Bekel Regol segera mengangguk mengerti. Mereka melesat cepat kearah Penginapan Kembang Sore dengan diikuti oleh seratus prajurit Katumenggungan. Dalam waktu singkat para prajurit Katumenggungan telah mengepung Penginapan Kembang Sore.
Sekarwangi yang mendapat giliran jaga langsung beringsut kearah Arya Pethak yang tengah bersemedi.
"Kakang Pethak,
Para prajurit Anjuk Ladang sedang mengepung tempat ini", bisik Sekarwangi pada Arya Pethak.
Mendengar itu, Arya Pethak langsung membuka matanya dan dengan cepat melesat ke arah jendela. Dari celah daun jendela, dia melihat puluhan orang prajurit tengah mengepung tempat itu. Sekarwangi mengekor di belakangnya.
"Cepat,
Bangunkan Anjani dan Paramita. Kita jangan ikut campur kecuali terpaksa. Berpura-pura tidur saja seolah tidak tahu apa apa", bisik Arya Pethak yang membuat Sekarwangi mengangguk mengerti.
Suasana malam yang hendak beranjak pagi semakin mencekam bagi Arya Pethak dan kawan-kawan. Untung nya hujan deras sudah mereda, menyisakan gerimis yang bercampur angin semilir.
Dari arah luar, Bekel Regol dan Simo Bogang berkacak pinggang sambil berteriak lantang.
"Kalian para pembunuh bayaran,
Letakkan senjata kalian dan menyerahlah. Tempat ini sudah kami kepung!"
Teriakan keras Bekel Regol yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi langsung membuat para penghuni Penginapan Kembang Sore terjaga dari tidurnya. Seketika suasana panik langsung terjadi di dalam penginapan itu. Klungsur yang ikut terbangun gara-gara suara Bekel Regol langsung berlari keluar kamarnya dan menuju ke arah kamar tidur Arya Pethak.
Thok thok thookkk
"Ndoro Pethak,
Cepat bangun Ndoro!", ucap Klungsur dengan cepat. Dia betul-betul panik.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!
Pintu kamar tidur terbuka karena Anjani yang berjaga di depan pintu langsung membuka pintu kamar begitu mendengar suara Klungsur. Pria bertubuh bogel itu langsung mendekati Arya Pethak.
"Ada apa Sur? Kenapa kau panik begitu?", Arya Pethak yang duduk di dekat jendela menoleh ke arah Klungsur.
"Gawat Ndoro gawat!
Para prajurit Anjuk Ladang sudah mengepung tempat ini. Kita dalam bahaya", Klungsur ngos-ngosan mengatur nafasnya karena berlari seperti orang gila tadi. Mendengar omongan Klungsur, tiga gadis cantik di dalam kamar Arya Pethak seketika mendengus keras sambil berkata,
"Telat!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat beraktifitas pagi ini
__ADS_1
Semoga dilancarkan semua aktivitas nya.
Jaga kesehatan, semoga semua dalam keadaan sehat selalu.