Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Selir


__ADS_3

Arya Pethak langsung bergegas menuju ke arah warung makan Nyi Saketi bersama Klungsur. Di dalam ruangan warung terlihat Anjani tengah memuntir tangan Tumenggung Jaran Guyang, sedangkan beberapa prajurit pengawal sang Tumenggung terlihat sedang bersiap untuk menyerang.


"Hei ada apa ini Anjani?


Bukankah kau tadi ku minta untuk mengambilkan secangkir wedang jahe?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah Anjani.


"Pejabat kurang ajar ini ingin berbuat tidak senonoh padaku Kakang..


Kalau tidak memberinya pelajaran, di lain waktu pasti akan berbuat seenaknya lagi", jawab Anjani sambil menekan tangan Tumenggung Jaran Guyang.


"Aaaarrrgggggghhhhh...!!!


Sakit sekali.. Cepat lepaskan aku, tolong lepaskan!", teriak Tumenggung Jaran Guyang sambil meringis kesakitan.


"Anjani sudah lah..


Lepaskan dulu dia. Jika nanti dia masih ingin melanjutkan adu ilmu dengan kita, baru kita hajar saja dia", bujuk Arya Pethak agar Anjani mau melepaskan tangan Tumenggung Jaran Guyang.


Mendengar perkataan itu, Anjani mendengus dingin sembari mendorong tubuh Tumenggung Jaran Guyang hingga lelaki itu terjungkal ke lantai warung makan Nyi Saketi.


Tumenggung Jaran Guyang segera berdiri dari tempat jatuhnya dan kemudian mendelik ke arah Anjani.


"Perempuan tengik!


Kau benar benar kurang ajar. Beraninya kau melawan pejabat Kabupaten Gelang-gelang", hardik Tumenggung Jaran Guyang segera.


"Aku menghargai mu karena kau pejabat istana Kabupaten Gelang-gelang tapi jika kau mau macam macam dengan ku, aku pun akan melawan mu", balas Anjani tak kalah sengit.


"Kau..."


Tumenggung Jaran Guyang yang hendak mengeluarkan sumpah serapah nya langsung menghentikan omongannya saat sang pengalasan menarik baju nya dari belakang.


"Gusti Tumenggung,


Ada Gusti Selir Saraswati", bisik si pengalasan dengan cepat.


Dari arah pintu warung makan, seorang perempuan cantik dengan dandanan bangsawan nampak melangkah masuk ke dalam warung makan Nyi Sekati. Mata perempuan cantik itu langsung terpaku pada sosok Arya Pethak yang sedang menenangkan hati Anjani. Namun perempuan cantik itu segera menoleh ke arah Tumenggung Jaran Guyang yang ada disana.


"Tumenggung Jaran Guyang,


Ada apa ini? Kenapa kau juga ada disini?", tanya Gusti Selir Saraswati segera.


"Dia mencoba menganggu ku, Gusti Selir.


Tadi dia mencoba untuk menjamah ku tapi aku terpaksa memuntir tangan nya untuk memberi nya pelajaran", sahut Anjani dengan keras.


"I-itu semua bohong, Gusti Selir..


Itu itu hanya salah paham saja. Iya hanya salah paham", balas Tumenggung Jaran Guyang dengan sedikit ketakutan. Bagaimana tidak takut, Bupati Gelang-gelang Jayakatwang sangat menyayangi selir termuda nya ini. Bahkan omongannya sangat di dengar oleh Jayakatwang di banding permaisuri nya sendiri. Kalau sampai dia bilang yang tidak tidak dan mengadu pada Jayakatwang, nasib Tumenggung Jaran Guyang bisa bisa di ujung tanduk.


"Oh jadi kau menggunakan kekuasaan mu untuk menggoda seorang wanita ya, Tumenggung Jaran Guyang?


Hebat sekali kau ya. Cepat pergi dari sini kalau tidak ingin aku laporkan pada Gusti Bupati Gelang-gelang", ancam Selir Saraswati dengan cepat.


"Ka-kalau begitu, saya mohon diri", Tumenggung Jaran Guyang sembari menghormat pada Selir Saraswati dan segera berlalu menuju ke arah luar warung makan Nyi Sekati diikuti oleh para pengikutnya.

__ADS_1


Setelah berjarak sekitar 100 depa dari warung makan Nyi Sekati, Tumenggung Jaran Guyang menghentikan langkahnya. Dia segera menoleh ke arah sang pengalasan.


"Awasi perempuan itu. Saat dia keluar dari sana, akan ku buat perhitungan dengan nya", perintah Tumenggung Jaran Guyang segera.


"Baik Gusti Tumenggung", jawab sang pengalasan dengan cepat. Tumenggung Jaran Guyang segera melanjutkan perjalanan nya sedangkan sang pengalasan kembali untuk mengintai warung makan Nyi Saketi.


Di dalam warung makan, Nyi Sekati dan Ki Wilapa langsung mendekati Selir Saraswati dengan penuh hormat.


"Terimakasih atas bantuannya, Gusti Selir.


Kalau tidak ada Gusti Selir, pasti Tumenggung Jaran Guyang sudah mengacak-acak tempat kami ini", ujar Ki Wilapa dengan penuh hormat.


"Aku memang kurang suka dengan sikap dan perilaku Tumenggung Jaran Guyang, Ki..


Sudah banyak keluhan yang dirasakan oleh warga Kota Gelang-gelang namun rata-rata mereka takut untuk melaporkan tindakan sewenang-wenang nya.


Oh iya, bagaimana dengan pesanan ku Ki? Apa sudah jadi?", tanya Selir Saraswati sembari tersenyum tipis.


"Kami menunggu beras ketan nya selesai keringkan Gusti Selir. Nanti sore kalau jenang ketan nya sudah jadi, akan saya kirim ke istana", jawab Ki Wilapa sembari menghormat pada Selir Saraswati.


"Baiklah aku akan menunggu nya, karena makanan itu akan di hidangkan pada perjamuan esok pagi jadi hari ini kalian harus menyelesaikan nya.


Satu lagi aku mau orang itu yang mengantarkan jenang ketan nya ke Istana ", Selir Saraswati menunjuk ke arah Arya Pethak. Usai berkata demikian Selir Saraswati segera membalikkan badannya dan berjalan keluar dari warung makan Nyi Sekati diikuti oleh emban setia nya.


Setelah Selir Saraswati sudah menghilang dari pandangan, Nyi Sekati bersama Ki Wilapa langsung mendekati Arya Pethak dan Anjani.


"Denmas Arya Pethak,


Mohon maaf kali aku merepotkan mu. Selir Saraswati meminta kau yang mengantarkan makanan pesanan nya ke istana. Kali ini tolonglah kami, Denmas..


"Hanya mengantarkan makanan saja, aku tidak keberatan Nyi..


Lagipula perempuan itu sudah menolong kita tadi. Sudah sepantasnya jika aku membalasnya", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu, Nyi Sekati dan Ki Wilapa langsung menarik nafas lega karena mereka takut jika Selir Saraswati kecewa. Asal tahu saja, Selir Saraswati memang baik pada semua orang tapi jika ada maunya. Jika sekali tidak menyenangkan hatinya, jangankan untuk mencari penghidupan di Gelang-gelang, untuk bernafas lega pun sulit di wilayah itu karena akan terus di ganggu dengan aneka tindakan yang membuat orang tidak betah berlama-lama tinggal di kabupaten itu.


Sepanjang waktu siang hari itu, Nyi Sekati dan dua pembantu nya juga Ki Wilapa saling bahu membahu untuk menyelesaikan pesanan jenang ketan dari Selir Saraswati. Hingga menjelang senja, pesanan Selir Saraswati telah rampung mereka kerjakan.


Ki Wilapa mengusap peluh yang membasahi keningnya usai adukan terakhir jenang ketan rampung. Lelaki paruh baya bertubuh kekar berotot itu nampak mengipasi tubuh nya dengan tangan.


"Kalau sudah selesai di kemas, sebaiknya Nyi segera minta Denmas Pethak untuk mengantarkan pesanan Gusti Selir Saraswati ke istana. Semakin cepat di antarkan akan semakin aman kita Nyi", ujar Ki Wilapa sembari menatap wajah Nyi Sekati yang menata jenang ketan di dalam anyaman daun kelapa yang merupakan pembungkus makanan untuk jenang ketan nya.


"Iya Kang..


Ini sekalian menunggu dingin dulu. Nanti di masukkan ke keranjang bambu untuk di antar ke istana Gelang-gelang", jawab Nyi Sekati sembari tersenyum simpul.


Dengan cekatan, Nyi Sekati di bantu dua orang pembantu nya mengemas jenang ketan itu ke dalam keranjang bambu yang di gandeng dengan sebuah batang bambu sebagai pikulan.


Saat senja mulai turun, Arya Pethak membawa dua keranjang bambu yang berisi jenang ketan itu ke arah istana Gelang-gelang.


Dua orang prajurit penjaga gerbang menghentikan langkahnya dengan memalangkan tombak mereka sebagai penghalang.


"Berhenti kau, anak muda!", ujar seorang prajurit penjaga gerbang dengan cepat.


Arya Pethak segera menurunkan beban di pundak nya sebelum berbicara.


"Maaf Prajurit,

__ADS_1


Aku utusan dari Nyi Sekati di suruh mengantar jenang ketan pesanan Gusti Selir Saraswati", jawab Arya Pethak dengan sopan.


Si prajurit nampak menatap wajah Arya Pethak dengan penuh selidik sedangkan seorang prajurit memeriksa barang bawaan Arya Pethak. Setelah memastikan bahwa pemuda itu hanya membawa jenang ketan, dia segera mengangguk ke arah kawannya.


"Gusti Selir Saraswati meminta barang ini di kirim langsung ke dapur istana. Mohon bantuannya untuk menunjukkan jalan ", imbuh Arya Pethak segera.


Sang prajurit penjaga segera mengantar Arya Pethak yang masuk ke istana Gelang-gelang sambil memikul keranjang bambu yang berisi jenang ketan hitam.


Setelah memasuki jalan yang berliku, mereka sampai di dapur istana. Kebetulan Selir Saraswati ada disana. Melihat kedatangan Arya Pethak, Selir Saraswati segera mendekati nya.


"Taruh saja disana", tunjuk Selir Saraswati pada sebuah meja besar yang ada di sudut dapur. Arya Pethak segera mengangkat keranjang bambu itu keatas meja besar. Setelah selesai semuanya, Arya Pethak mendekati Selir Saraswati.


"Sudah rampung Gusti Selir, saya mohon diri", Arya Pethak menghormat pada Selir Saraswati.


Melihat itu, Selir Saraswati tersenyum penuh arti dan mengangguk mengerti. Arya Pethak lalu bergegas keluar dari tempat itu. Selir Saraswati terus menatap ke arah punggung Arya Pethak yang kemudian menghilang di balik pintu gerbang samping istana Gelang-gelang.


'Pria yang tampan dan mempesona. Ingin sekali aku bercinta dengan nya ', batin Selir Saraswati.


Arya Pethak terus berjalan. Setelah melewati pintu gerbang samping istana Gelang-gelang, dia berjalan lurus ke arah selatan tepatnya ke arah kediaman Nyi Sekati.


Malam dengan cepat menggantikan senja. Decit suara kelelawar dan suara burung malam terdengar bersahutan. Bulan separuh menggantung di langit barat, menjadi pelita yang menerangi seluruh alam semesta.


Saat Arya Pethak melewati jalan yang sepi menuju ke arah selatan kota Gelang-gelang, tiba tiba..


Shrrriinnnggg! shrrriinnnggg!


Telinga Arya Pethak yang peka langsung menyadari adanya bahaya yang sedang mengancam. Tapi lelaki tampan berdandan tegap ini seakan tak peduli dan terus melangkah.


Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg!


Terdengar suara seperti logam keras beradu saat dua buah pisau yang dilemparkan secara sembunyi-sembunyi itu mengenai tubuh Arya Pethak. Merasakan itu, Arya Pethak menghentikan langkahnya sejenak kemudian tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya.


4 orang berpakaian serba hitam yang bersembunyi di balik pepohonan saling pandang melihat senjata mereka tidak bisa menembus kulit Arya Pethak.


"Ini pasti tidak nyata,


Ayo kita serang dia bersama-sama", ujar seorang lelaki bertubuh gempal yang sepertinya merupakan pemimpin mereka. Tiga orang berpakaian hitam-hitam itu mengangguk mengerti dan segera merogoh kantong baju mereka masing-masing.


Dengan cepat, mereka melemparkan masing-masing 2 buah pisau belati ke arah Arya Pethak.


Shriingg! Shriingg!


Shriingg! shrrriinnnggg!!


Delapan pisau melesat cepat kearah Arya Pethak. Sekejap sebelum pisau pisau itu menyentuh tubuh Arya Pethak , tiba-tiba kabut putih tipis muncul di seluruh tubuh Arya Pethak lalu lelaki muda itu menghilang dari pandangan.


Hilangnya Arya Pethak sontak membuat keempat orang berpakaian hitam-hitam itu terkejut bukan main. Mereka segera melesat ke arah Arya Pethak terakhir terlihat.


"Gila!


Orang itu benar-benar menghilang", ucap seorang lelaki yang terlihat seperti seorang bertubuh kurus sembari menatap ke sekeliling tempat itu.


"Benar, seperti nya dia bukan orang sembarangan. Kita harus hati-hati jika tidak ingin celaka", jawab seorang lelaki yang bertubuh pendek.


Saat keempat orang berpakaian hitam-hitam itu masih kebingungan mencari keberadaan Arya Pethak, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka semua.

__ADS_1


"Apa kalian mencari ku?"


__ADS_2