
Dengan segera Arya Pethak menjentikkan jari tangan kanannya. Tiba tiba suasana di tempat itu menjadi menyeramkan dengan munculnya sesosok makhluk hitam tinggi besar dengan mata merah menyala seperti kobaran api menyembah pada Arya Pethak.
"Sembah bakti hamba, Raden..
Tumben sekali Raden memanggil hamba. Apa ada yang bisa hamba bantu?", ujar Dawuk Ireng dengan cepat.
"Haisshhh...
Masih pakai tanya apa yang bisa di bantu lagi? Angkat kepala mu Dawuk Ireng, apa aku terlihat baik baik saja?", omel Arya Pethak. Segera Dawuk Ireng mengangkat kepalanya dan melihat Arya Pethak tengah terikat. Buru buru genderuwo Gunung Lawu itu berdiri.
"Terus Raden menyuruh hamba bagaimana? Dawuk Ireng tidak mengerti", tanya Dawuk Ireng yang hampir saja membuat Arya Pethak muntah darah karena kesal.
"Dasar keparat, masih pakai tanya juga?
Cepat lepaskan aku dari tali sialan ini. Tangan ku rasanya seperti mau patah", Arya Pethak mendengus keras.
"Hamba mengerti hamba mengerti..
Mohon Raden tidak perlu marah marah. Sabar Raden sabar", ujar Dawuk Ireng sambil bergegas melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangan Arya Pethak. Meski itu adalah benda pusaka, namun bagi sekelas mahkluk halus seperti Dawuk Ireng itu bukan masalah besar.
Arya Pethak dengan cepat mengibaskan tangannya yang sakit karena ikatan Tali Cencang Jagad. Dia segera mengambil tali itu dan menggulung nya, lalu dia masukkan ke balik bajunya.
"Sekarang cari keberadaan ketiga kawan ku yang di tahan di tempat ini. Juga cari dimana tempat senjata kami di sembunyikan. Apa kau sudah mengerti, Dawuk Ireng?", perintah Arya Pethak sambil menatap ke arah pintu kamar yang masih menyisakan sedikit celah.
"Perintah siap hamba laksanakan Raden", usai berkata demikian, Dawuk Ireng langsung berubah menjadi asap hitam dan lenyap dari pandangan.
Arya Pethak memejamkan matanya sebentar untuk menggunakan Ajian Halimun. Angin berhembus lirih bersama kabut tipis. Sebentar kemudian Arya Pethak sudah menghilang bersama angin.
Rupanya di luar hari telah malam. Sepertinya senja baru saja berganti malam, terlihat semburat jingga masih terlihat di langit barat. Bulan sabit besar menggantung di atas kepala.
Di atas puncak pepohonan yang rindang, Arya Pethak melihat keadaan sekelilingnya. Meski telah menjelang malam, namun dengan Ajian Mata Dewa, penglihatan mata Arya Pethak seterang siang hari.
Luas kediaman penguasa Lembah Seribu Bunga itu kurang lebih 30 depa dengan beberapa bangunan terpisah di belakang sebanyak 4 buah dengan jarak 20 depa dari bangunan utama. Setelah itu ada pagar bata setinggi dua depa mengelilingi tempat itu. Di luar kediaman ada puluhan rumah kecil yang mengelilingi kediaman utama, mirip kampung kecil dengan rumah para penduduk nya. Di batas terluar, terlihat pagar kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa tertata rapi mengelilingi tempat ini setinggi 3 depa.
Di depan pagar kediaman utama, nampak 2 wanita muda berpakaian merah tengah berjaga.
Di belakang bangunan utama juga terlihat beberapa orang wanita tengah berkerumun di sebuah bangunan dekat kandang kuda. Arya Pethak mendengus dingin saat mengenali 2 wanita yang duduk sambil menenggak arak beras sambil tertawa terpingkal-pingkal. Dia adalah Banawati dan Dewi Merak Lembayung.
'Perempuan busuk. Tunggu pembalasan ku', gerutu Arya Pethak sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kangmbok Lembayung,
Sepertinya malam ini kau akan bersenang-senang ya? Kalau kau sudah bosan bermain dengan nya, aku tidak keberatan kau memberikannya pada ku hahahaha", Banawati menenggak minuman keras itu sekali teguk. Pengaruh arak beras itu membuat wajah nya memerah pertanda dia mulai mabuk.
"Hahahaha, Banawati kau ada ada saja.. Kalau dilihat sekilas, pemuda itu masih perjaka loh.. Mata mu sungguh jeli melihat barang bagus hahahaha...
Dengan mengambil keperjakaan nya, maka Ajian Jaran Goyang ku akan semakin sempurna. Kau tenang saja, setelah aku puas bermain dengan nya, akan ku ijinkan kau menikmati keperkasaan pria itu Banawati hahaha", tawa Dewi Merak Lembayung terdengar lepas.
Lembah Seribu Bunga adalah sebuah wilayah di perbatasan antara Kadipaten Rajapura dan Kalingga, tepatnya di kaki Gunung Agung atau Gunung Slamet yang kita kenal sekarang. Di lembah subur itu tumbuh berbagai jenis bebungaan yang menjadikan tempat itu terkenal dengan keindahan.
Seratus tahun yang lalu, seorang perempuan cantik murid dari sebuah perguruan di wilayah Kadiri di usir dari perguruan nya karena mempelajari ilmu sesat yang bernama Ajian Jaran Goyang. Saat sampai di tempat itu, si murid sesat ini lantas mendirikan sebuah padepokan yang mana semakin hari semakin besar hingga bertahan hingga hari ini.
Semua murid di Lembah Seribu Bunga adalah wanita. Sesuai dengan tradisi yang di turunkan para pendahulu, mereka adalah pemuja kenikmatan sesaat yang di gunakan untuk memperkuat tenaga dalam dan persiapan mempelajari Ajian Jaran Goyang. Maka tak ayal lagi jika semua murid Lembah Seribu Bunga tak ubahnya seperti para pelacur pemuas nafsu hidung belang dengan kebebasan berganti pasangan sesuka hati.
Kelemahan Ajian Jaran Goyang hanya satu, mereka tidak akan mempan terhadap sesama jenis dari sang pengguna ajian.
Lembah Seribu Bunga adalah tempat terkutuk para pemuja kenikmatan sesaat.
Setelah puas mengamati situasi di sekitar tempat itu, Arya Pethak kembali menjentikkan jari tangan nya. Saat itu juga Dawuk Ireng datang ke samping Arya Pethak.
"Bagaimana Dawuk Ireng? Sudah kau temukan mereka?", tanya Arya Pethak pada genderuwo di sampingnya itu.
"Sudah Raden,
Mereka di tawan dekat di bangunan paling ujung Utara. Dua wanita itu terkena racun, mereka tidak bisa bertarung jika tidak menggunakan penawar nya. Kalau yang bogel masih pura pura pingsan agar tidak di cekoki racun pelemah tenaga..
Kalau senjata, semuanya di simpan di ruang tengah rumah besar itu, Raden", jawab Dawuk Ireng sambil menatap ke arah beberapa wanita yang masih menenggak minuman keras itu.
Hemmmmmmm..
"Aku tidak boleh terlalu lama di tempat ini. Nyawa Rara Larasati tergantung pada kedatangan ku.
Dawuk Ireng,
Bakar rumah rumah di sekeliling rumah utama ini, sisakan satu jalan keluar di sisi Utara untuk jalan kabur", perintah Arya Pethak yang membuat Dawuk Ireng mengangguk mengerti. Genderuwo itu segera berubah menjadi asap hitam dan menghilang.
Setelah Dawuk Ireng pergi, Arya Pethak kembali menggunakan Ajian Halimun dan muncul di dalam kamar tengah bangunan utama Padepokan Lembah Seribu Bunga. Tempat itu adalah tempat penyimpanan pribadi Dewi Merak Lembayung yang tak seorang pun boleh memasuki nya. Dengan cepat dia mengambil Pedang Setan, Pedang Cambuk Naga, Pisau Dewa Kematian, kantong kulit yang berisi Jarum Penghancur Sukma dan juga Gada Galih Asem nya Klungsur. Tak lupa Air Mata Suci Bidadari di ambilnya.
Sebuah botol keramik seperti obat juga, juga satu ikat lontar dalam kantong kain berwarna biru juga ikut terbawa dalam buntalan kain yang di bawa Arya Pethak.
Thonggg thong thongg!!!
__ADS_1
"Kebakaran! Kebakaran!! Padamkan api!!
Cepat bantu padamkan api!!!"
Suara kentongan di tabuh bertalu-talu tanda adanya bahaya, serta teriakan kepanikan terdengar lantang mengagetkan para penghuni Lembah Seribu Bunga. Asap tebal bersama semburat merah tanda kebakaran membumbung tinggi ke langit. Suasana di dalam Lembah Seribu Bunga langsung kacau balau.
Dewi Merak Lembayung dan Banawati langsung berdiri. Melihat asap tebal membumbung tinggi, mereka bergegas menuju ke arah tempat terjadinya kebakaran.
Puluhan penghuni Lembah Seribu Bunga langsung bahu membahu mencari air untuk memadamkan api.
Saat yang bersamaan, Arya Pethak menggunakan Ajian Halimun langsung muncul di tempat penyekapan. Klungsur yang ikut panik mendengar kebakaran, terkejut melihat kabut asap putih yang muncul di hadapan nya.
Mau ikut berteriak kebakaran, Arya Pethak yang muncul tiba-tiba langsung membekap mulut Klungsur.
"Hmmmmpppphhh", suara tak jelas Klungsur terdengar.
"Sssssttttttttt!!
Diam, jangan berteriak! Ini aku Arya Pethak. Kau bisa tenang tidak?", tanya Arya Pethak segera. Klungsur langsung manggut-manggut.
Setelah Klungsur tenang, Arya Pethak langsung melepaskan bekapan tangannya.
"Kita harus cepat pergi dari tempat ini, kalau tidak kita akan kerepotan karena Anjani dan Nay Kemuning terkena racun pelemah tenaga.
Jangan banyak tanya, diam!", perintah Arya Pethak dengan cepat. Klungsur kembali manggut-manggut seperti orang-orangan sawah.
Sementara itu di luar tembok kediaman utama Lembah Seribu Bunga, Dewi Merak Lembayung merasakan sesuatu yang ganjil. Kebakaran mengitari rumah utama tapi di sisi utara tidak terjadi apa-apa.
"Bangsat!
Pasti ulah pemuda bajingan itu! Banawati ikut aku!", teriak Dewi Merak Lembayung sambil melesat cepat kearah kamar tidur nya diikuti oleh Banawati dan dua murid Lembah Seribu Bunga.
Brraaakkkk!!
Pintu kamar tidur terbuka lebar dan Arya Pethak telah menghilang. Dewi Merak Lembayung langsung meluapkan kemarahannya pada meja kecil yang menjadi tempat bokor kuningan yang berisi beberapa buah-buahan segar. Meja langsung hancur berantakan saat di hantam tangan Dewi Merak Lembayung.
Mereka segera bergegas ke kamar tengah dan membuka pintu kamar dengan cepat. Melihat beberapa barang raib, gemeretak gigi Dewi Merak Lembayung terdengar.
Mereka segera melesat cepat kearah bangunan Utara tempat kawan kawan Arya Pethak di sekap.
Arya Pethak sendiri memanggil Dawuk Ireng untuk membawa Anjani dan Klungsur pergi. Genderuwo itu langsung memanggul tubuh Anjani yang lemas dan Klungsur yang ketakutan melihat Dawuk Ireng sampai ngompol di celana. Arya Pethak sendiri langsung menggendong Nay Kemuning saat pintu bangunan terbuka dari luar.
"Mau coba kabur? Itu tidak mungkin", ujar Dewi Merak Lembayung sambil tersenyum sinis.
"Apanya yang tidak mungkin?
Kalau aku tidak punya urusan yang lebih penting, akan ku balas perbuatan kalian. Lain kali aku akan bermain dengan kalian", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Mendengar itu, Dewi Merak Lembayung melesat cepat dengan penuh amarah kearah Arya Pethak.
Baru satu depa, angin dingin berhembus bersama kabut tipis menerpa Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Saat Dewi Merak Lembayung sampai, Arya Pethak dan kawan-kawan telah menghilang.
"Bangsat!!!!"
Sumpah serapah penuh amarah terucap dari bibir tipis Dewi Merak Lembayung. Dengan penuh murka, Dewi Merak Lembayung menendang semua barang di tempat itu hingga hancur berantakan.
"Banawati, ajak Kekayi...
Juga beberapa murid pilihan untuk mengejar pelarian bajingan itu. Dia membawa lari Kitab Lima Racun dan Madu Gung Pratala. Melihat sisi Utara yang tidak terbakar, mereka pasti menuju kota Kadipaten Rajapura untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan dua gadis itu.
Tangkap mereka hidup atau mati!", perintah Dewi Merak Lembayung dengan keras.
"Kami mengerti pemimpin", ujar Banawati yang langsung melesat cepat kearah Kekayi yang masih ikut berjuang memadamkan api. Setelah mendengar penuturan Banawati, Kekayi mengajak 10 murid pilihan Lembah Seribu Bunga memburu Arya Pethak dan kawan-kawan ke Kota Kadipaten Rajapura.
Arya Pethak dan kawan-kawan nya muncul di hadapan para penjaga gerbang rumah Senopati Singa Parna. Kehadiran mereka berempat cukup mengagetkan para prajurit penjaga gerbang yang bertugas. Namun salah seorang dari mereka mengenali Arya Pethak dan Anjani yang datang bersama Senopati Singa Parna tempo hari.
"Kisanak, kau kenapa?", tanya sang prajurit yang langsung mendekati Arya Pethak, Klungsur, Anjani dan Nay Kemuning. Dawuk Ireng langsung menghilang usai membantu membawa Klungsur dan Anjani.
"Teman ku kena racun. Tolong panggilkan Gusti Senopati Singa Parna. Aku butuh bantuan nya", ujar Arya Pethak dengan cepat.
Mendengar permintaan itu, sang prajurit penjaga gerbang langsung bergegas masuk ke dalam rumah Senopati Singa Parna. Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama Senopati Singa Parna. Dengan tergopoh-gopoh, Senopati Singa Parna menyambut kedatangan Arya Pethak.
Setelah memahami situasi yang tengah terjadi, Senopati Singa Parna segera mempersilahkan Arya Pethak dan kawan-kawan nya untuk masuk ke dalam rumah kediamannya. Tak lupa dia memanggil seorang tabib istana untuk datang mengobati Nay Kemuning dan Anjani.
Seorang tabib datang bersama seorang cantrik, segera memeriksa keadaan Nay Kemuning dan Anjani. Setelah memeriksa dia segera keluar dari kamar tidur dan menemui Senopati Singa Parna, Arya Pethak dan Klungsur yang menunggu di luar.
"Bagaimana keadaan kawan kawan ku, tabib? Apa dia bisa disembuhkan?", tanya Arya Pethak segera.
"Kedua kawan pendekar terkena racun pelemah tenaga. Hanya ada satu obat yang mampu menawarkan racun itu. Namanya Madu Gung Pratala. Madu itu berasal dari tawon gung yang bersarang di tanah.
Menemukan benda itu cukup sulit", ujar sang tabib sembari mengelus jenggotnya.
__ADS_1
Mendengar itu semua orang langsung muram dan menghela nafas berat. Tiba tiba Arya Pethak teringat botol keramik kecil yang dia ambil dari kamar tengah kediaman Dewi Merak Lembayung. Buru buru dia membuka buntalan kain yang dia letakkan di atas meja luar kamar peristirahatan Anjani dan Nay Kemuning. Begitu menemukan yang dia cari, Arya Pethak segera memberikannya pada tabib istana.
"Apakah ini yang tabib cari?
Aku tidak paham apa benda ini. Coba tabib lihat, mungkin saja ini benda yang bisa menyembuhkan Nay Kemuning dan Anjani".
Melihat itu, buru buru tabib istana Rajapura itu segera membuka tutup botol keramik kecil yang di berikan oleh Arya Pethak. Begitu tutup mulut botol terbuka, bau harum menyebar ke seluruh udara tempat itu.
"Wah benar.. Ini Madu Gung Pratala, pendekar muda... Kau sungguh beruntung..
Dengan ini teman mu akan segera pulih dalam waktu singkat", ujar tabib istana dengan gembira.
Buru buru pria paruh baya itu masuk ke dalam kamar tidur tempat Anjani dan Nay Kemuning berbaring. Dengan cepat ia meminumkan Madu Gung Pratala pada Anjani dan Nay Kemuning.
Setelah memberikan beberapa tetes Madu Gung Pratala pada dua gadis itu, tabib istana segera kembali menemui Arya Pethak, Klungsur dan Senopati Singa Parna. Dia menyerahkan sisa Madu Gung Pratala pada sang empunya dan mengatakan bahwa mereka harus membiarkan kedua gadis itu untuk beristirahat.
Malam itu mereka beristirahat dengan tenang di kediaman Senopati Singa Parna.
Keesokan paginya...
Arya Pethak dan Klungsur yang baru selesai membersihkan diri, bergegas menuju ke arah kamar tidur Anjani dan Nay Kemuning. Kedua gadis itu juga sudah bangun dan nampak bugar, berbeda dengan kemarin yang terlihat seperti orang penyakitan.
"Wahh kalian sudah segar kelihatannya..
Tidak seperti kemarin yang mirip dengan mayat hidup", ujar Klungsur dengan tatapan mengejek.
"Kau mengutuk ku ya Sur?
Sudah bosan hidup kau rupanya ha?", gertak Anjani yang kesal dengan omongan Klungsur.
"Ah dasar perempuan jahat!
Untung saja kemarin aku membantu mu tapi kau masih berani mengancam ku setelah semua pengorbanan ku. Dasar tidak punya hati", Klungsur mengupil seolah tak takut dengan ancaman Anjani.
"Hei bogel tengik!
Apa kau pikir aku buta ya? Jelas jelas Ndoro Pethak yang membantu kami. Kau jangan sok pahlawan ya", Anjani tak mau kalah.
"Sudah atuh Teh Anjani, Akang Klungsur..
Jangan ribut untuk sesuatu yang tidak perlu nya. Akang Klungsur dan Akang Pethak sudah berjasa menyelamatkan nyawa kita teh, abdi rasa itu sudah cukup untuk saat ini", ujar Nay Kemuning menengahi perdebatan mereka.
Setelah sarapan pagi bersama, mereka segera bergegas mohon undur diri untuk segera melanjutkan perjalanan menuju ke arah Kembang Kuning, sekaligus berterima kasih kepada Senopati Singa Parna atas bantuan yang telah di berikan. Senopati Singa Parna mengantar mereka hingga depan pintu gerbang kediaman nya.
Setelah memasuki tapal batas kota Kadipaten Rajapura, mereka melewati jalan raya menuju ke arah timur.
Di tepi hutan kecil yang menghubungkan wilayah Kadipaten Rajapura dan Kalingga, Kekayi dan Banawati menghadang laju pergerakan mereka.
Melihat itu, Nay Kemuning dan Anjani langsung mencabut senjata mereka masing-masing.
"Saatnya balas dendam"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat pagi, selamat beraktivitas..
Yang puasa semoga puasanya lancar hingga adzan magrib tiba.
__ADS_1