
Pertanyaan Arya Pethak membuat Anjani tersenyum tipis. Ada seraut senyum bahagia tersamar di balik senyuman tipis yang terukir di wajahnya.
"Sudah Ndoro Pethak..
Aku berterimakasih atas perhatian Ndoro Pethak. Dengan begini setidaknya Anjani ada tempat untuk berlindung", jawab Anjani sambil duduk di bawah kaki Arya Pethak. Melihat itu, Arya Pethak buru buru bangun dari tempat duduknya dan langsung mengangkat lengan Anjani.
"Apa yang sedang kau lakukan? Jangan duduk di bawah", ucap Arya Pethak sambil menatap ke arah Anjani.
"Aku adalah budak mu Ndoro.. Tidak pantas untuk duduk sejajar dengan mu. Tempat ku adalah di bawah perlindungan mu", sahut Anjani sambil menunduk.
"Jangan bodoh!
Sekalipun aku mengijinkan mu untuk mengikuti ku, aku tidak menganggap derajat mu lebih rendah dari ku. Berdirilah! Jika kau masih membandel, jangan harap aku mengijinkan mu untuk mengikuti ku lagi ", mendengar ucapan Arya Pethak, Anjani buru-buru berdiri tegak meski dengan berpegangan pada pegangan kursi kayu.
"Anjani mengerti Ndoro. Anjani patuh pada perintah Ndoro Pethak ", ujar Anjani sambil menunduk hormat.
"Sekarang cerita kan tentang dirimu..
Aku tidak mau ada rahasia sekecil apapun yang kau sembunyikan dari ku", Arya Pethak menatap ke arah wajah Anjani. Meski tidak secantik Sekarwangi yang keturunan bangsawan ataupun berkulit kuning langsat seperti Paramita, Anjani masih jauh lebih cantik dari para perempuan kebanyakan.
"Nama ku Anjani..
Aku di lahirkan di Desa Sanggabuana di wilayah Pakuwon Wanakerta, di Utara Kadipaten Anjuk Ladang.
Ayahku adalah kepala desa Sanggabuana, Kebo Winongan. Saat itu aku yang berusia 5 tahun, desa ku di serang anggota Kelompok Kelabang Ireng. Ayah ku terbunuh oleh mereka dan ibuku bunuh diri setelah di perkosa salah satu pimpinan anggota Kelompok Kelabang Ireng. Karena tidak tahan menerima malu, ibuku bunuh diri di samping jasad ayahku. Aku menyaksikan langsung kematian kedua orang tua ku dengan mata kepala ku sendiri.
Sebagai tawanan, rombongan anggota Kelompok Kelabang Ireng membawa ku membawa ku ke markas mereka. Belum sampai setengah perjalanan, rombongan itu di hadang oleh Nyi Gitarja dan suaminya, Sanca Keling yang merupakan salah satu dedengkot dunia persilatan golongan hitam.
Mereka berdua berhasil membantai hampir separuh lebih anggota Kelompok Kelabang Ireng namun pembunuh kedua orang tua ku berhasil lolos Ndoro.. Sejak saat itu aku di pelihara oleh mereka, meskipun kejam tapi setidaknya mereka memberikan perlindungan kepada ku.
Selama 18 tahun ini, aku selalu mengikuti langkah Dewi Ular Siluman. Adapun sebab Nyi Gitarja sangat dendam pada Si Tapak Kilat karena orang itu yang membunuh Sanca Keling, suami Dewi Ular Siluman ", Anjani menutup cerita nya sambil menghembuskan nafas panjang.
Sekarwangi dan Paramita yang sedari tadi ikut mendengarkan cerita Anjani langsung saling berpandangan sejenak. Mereka turut tersentuh dengan kisah hidup Anjani.
Hemmmmmmm...
"Aku percaya kau jujur pada ku... Kau boleh mengikuti ku tapi aku minta kau jaga sikap dan kehormatan mu sendiri...
Aku tidak menganggap mu sebagai budak ku tapi sebagai kawan seperjalanan yang saling bahu membahu dalam menghadapi setiap tantangan yang datang", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Anjani.
Perempuan muda itu segera membungkuk hormat kepada Arya Pethak.
"Terimakasih banyak Ndoro", ucap Anjani dengan cepat.
Hujan lebat terus mengguyur tempat itu hingga sore hari. Arya Pethak, Sekarwangi, Paramita, Anjani dan Klungsur terus bercakap-cakap hingga larut malam.
Keesokan paginya, Arya Pethak yang sudah terbangun lebih dulu. Ini hari ke 31 pelatihan ilmu baru para penerus Perguruan Pedang Perak. Seharusnya hari ini Rara Pujawati dan kawan-kawan nya kembali ke tempat itu. Arya Pethak sendiri sudah menyiapkan barang-barangnya yang hendak di bawa berkelana kembali ke Kadiri.
Saat matahari sepenggal naik di langit timur, dari arah selatan terlihat Rara Pujawati, Jalak Biru dan Wironegoro melesat ke arah pintu gerbang Perguruan Pedang Perak.
Kedatangan mereka di sambut sorak sorai para murid Perguruan Pedang Perak yang kebetulan memang menunggu kedatangan pemimpin masa depan Perguruan Pedang Perak itu. Mereka begitu gembira karena akhirnya Perguruan Pedang Perak bisa tegak kembali.
Keriuhan para murid Perguruan Pedang Perak langsung menarik perhatian Arya Pethak dan kawan-kawan yang baru saja mempersiapkan barang bawaan mereka. Sekarwangi dan Paramita langsung berjalan menuju Rara Pujawati, Jalak Biru dan Wironegoro yang berjalan dengan diikuti oleh puluhan murid Perguruan Pedang Perak. Arya Pethak dan Klungsur segera menyusul mereka, di belakangnya Anjani menyusul.
Sorot mata Rara Pujawati langsung bengis saat melihat ada Anjani disana.
"Perempuan iblis,
Kau harus mati!", teriak Rara Pujawati yang segera melesat cepat kearah Anjani. Tangan kanannya yang di lambari Ajian Surya Pamungkas langsung terarah pada Anjani.
Whuuussshh...
Serangkum angin panas berseliweran mengikuti sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata, yang melesat cepat dari tangan kanan Rara Pujawati.
Anjani yang tak menduga kalau ada serangan cepat, hanya bisa bertahan dengan menyorongkan kedua tapak tangan nya yang di lambari Ajian Tapak Nagagini, ajaran Dewi Ular Siluman. Sebuah sinar hijau kemerahan menghadang sinar merah kekuningan dari Ajian Surya Pamungkas.
Blllaaammmmmmmm!!!
Rara Pujawati terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Dia muntah seteguk darah segar. Begitu pula dengan Anjani yang terpelanting ke belakang. Belum sempat dia menyusruk tanah, dia merubah gerakan tubuhnya dan bersalto di udara kemudian mendarat dengan sempurna.
Kejadian cepat itu benar benar mengejutkan semua orang.
__ADS_1
Saat Rara Pujawati hendak melesat lagi, satu teriakan keras Arya Pethak menghentikan langkahnya.
"Cukup Pujawati!
Hentikan keinginan mu!", ujar Arya Pethak dengan cepat.
"Apa maksud mu menghentikan ku Kakang Pethak?
Perempuan itu adalah murid Dewi Ular Siluman yang sudah membunuh Kakang Wondo. Aku akan menuntut balas kematian saudara saudara ku", Rara Pujawati menunjuk ke arah Anjani yang baru saja bangkit dari tempat nya mendarat.
"Apa kau tidak mendengar omongan ku sedikit, Pujawati?", terdengar suara dingin dari bibir Arya Pethak yang membuat Jalak Biru dan Wironegoro yang masih diam langsung mendekat ke arah Rara Pujawati.
"Dinda Pujawati,
Sebaiknya kita dengar dulu omongan Pendekar Pedang Setan. Ingat lah, kita semua masih ada hari ini karena dia", ujar Wironegoro dengan cepat. Dia takut menyinggung perasaan Arya Pethak.
"Benar kata Wironegoro, Pujawati...
Kita selayaknya mendengar suara Pendekar Arya Pethak. Jangan gegabah", timpal Jalak Biru dengan cepat. Mendengar nasehat kedua saudara seperguruan nya, Rara Pujawati mengangguk mengerti. Dia menyadarkan perbedaan tingkat ilmu kanuragan antara dia dan Arya Pethak. Meski dia sudah menguasai Ajian Surya Pamungkas tingkat 5 dari 7 tingkat ilmu itu dan di gabung dengan Wironegoro yang tingkat 4 dan Jalak Biru yang tingkat 5, tidak mungkin bisa mengalahkan Arya Pethak.
"Baik Kakang Pethak..
Sekarang apa penjelasan mu untuk perempuan iblis itu? Coba terangkan pada kami", tanya Rara Pujawati sambil menatap ke arah Arya Pethak.
"Anjani bukan pelaku pembunuhan saudara seperguruan mu, kau lihat sendiri itu. Dewi Ular Siluman sendiri sudah aku bunuh saat kalian berlatih kemarin.
Sedangkan Anjani selama ini hanya pengikut saja, karena dia yatim piatu yang di pelihara oleh Dewi Ular Siluman dan Sanca Keling.
Sekarang dia adalah pelayan ku. Apa kau masih mempermasalahkan hal ini?", Arya Pethak menatap tajam ke arah Rara Pujawati. Sorot mata Arya Pethak yang dingin langsung membuat nyali Rara Pujawati menciut seketika.
"Baiklah Kakang, aku mengerti. Kalau kau yang bicara, aku percaya sepenuhnya kepada mu", ujar Rara Pujawati sembari menghormat pada Arya Pethak.
"Karena kau sudah kembali, maka hari ini juga aku dan kawan-kawan ku akan melanjutkan perjalanan pulang ke Kadiri.
Kami sudah terlalu lama tinggal di tempat ini", mendengar ucapan Arya Pethak, buru-buru Rara Pujawati mendekati nya.
"Kenapa buru-buru sekali Kakang Pethak? Aku baru sampai, kenapa kau ingin pergi?", Rara Pujawati menatap wajah tampan Arya Pethak sambil tersenyum manis.
Ku doakan semoga Perguruan Pedang Perak menjadi perguruan besar yang mempunyai nama besar di dunia persilatan.
Aku permisi dulu", Arya Pethak membungkukkan badannya, kemudian meninggalkan Rara Pujawati dan kedua kakak seperguruan nya menuju ke geladakan kuda yang menjadi tempat menambat kuda tunggangan nya. Sekarwangi, Paramita, Klungsur dan Anjani membungkuk hormat kepada para anggota Perguruan Pedang Perak lantas mengikuti langkah Arya Pethak. Mereka segera melompat ke atas punggung kuda mereka masing-masing dan memacu kudanya kearah timur.
Rara Pujawati hanya menatap kepergian mereka hingga mereka menghilang dari pandangan tanpa bisa berkata apa-apa.
Rombongan Arya Pethak terus memacu kudanya menuju ke arah timur. Setelah melewati sebuah sungai kecil, mereka terus menggebrak kuda tunggangan nya kearah Pakuwon Wilangan yang ada di barat Kadipaten Anjuk Ladang.
Hingga tengah hari, mereka telah sampai di kota Pakuwon Wilangan yang ramai. Sambil bergerak pelan, kelima orang itu mengamati keramaian jalan di kota.
Setelah mengisi perut di sebuah warung makan, rombongan Arya Pethak melanjutkan perjalanan ke arah kota Kadipaten Anjuk Ladang. Menjelang senja, mereka memasuki tapal batas kota Anjuk Ladang.
Seorang lelaki bertubuh kurus tengah berdiri di depan sebuah penginapan saat Arya Pethak dan kawan-kawan nya melintas. Melihat dandanan Arya Pethak yang mirip dengan pengembara, si lelaki tua bertubuh kurus itu segera menghadang laju pergerakan nya.
"Kisanak,
Apa kalian butuh tempat bermalam? Kalau iya cepat ikut aku. Kota Kadipaten Anjuk Ladang sedang ada jam malam. Kalau kalian memaksa masuk dan terkena jam malam, kalian akan di tangkap oleh para prajurit", ujar si lelaki tua bertubuh kurus itu segera.
Arya Pethak segera menoleh ke arah keempat kawannya. Melihat mereka mengangguk, Arya Pethak segera melompat turun dari kudanya diikuti oleh kawan-kawan nya.
"Dimana tempat untuk bermalam Ki? Tunjukkan jalan nya ", Arya Pethak menatap wajah sepuh di hadapannya.
"Mari ikuti aku, anak muda", ujar lelaki tua bertubuh kurus itu yang segera melangkah menuju ke sebuah bangunan besar yang memang merupakan sebuah penginapan. Di atas pintu masuk ke halaman, ada tulisan 'Penginapan Kembang Sore '.
Dua orang pekatik (perawat kuda) langsung menuntun kuda mereka ke arah kandang kuda yang terletak di samping penginapan.
Arya Pethak dan kawan-kawan nya terus mengikuti langkah si lelaki tua bertubuh kurus yang bernama Ki Panggih itu masuk ke dalam. Seorang wanita paruh baya yang disana langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di Penginapan Kembang Sore, para pendekar. Berapa kamar tidur yang kalian butuhkan?
Aku Nyi Arum Dalu, pemilik penginapan ini", ujar perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tidak muda lagi.
"Kami butuh 5 kamar Nyi..
__ADS_1
Apakah ada? Jika ada, kami juga pesan makanan. Nanti diantar saja ke dalam kamar", Arya Pethak menatap wajah Nyi Arum Dalu.
"Semuanya 5 kepeng perak. Untuk makanan cukup 3 kepeng perak, itu sudah termasuk perawatan kuda kuda kalian", ucap Nyi Arum Dalu sambil tersenyum tipis.
Sekarwangi yang memegang keuangan, langsung mengeluarkan kantong kain berisi kepeng perak yang merupakan pemberian dari Adipati Kurawan. Dia segera mengulurkan 8 kepeng perak pada Nyi Arum Dalu. Perempuan itu langsung tersenyum dan meminta Ki Panggih untuk mengantar mereka ke kamar tidur mereka masing-masing.
Beberapa pasang mata yang tengah berada di ruang depan penginapan yang juga berfungsi sebagai warung makan melirik ke arah mereka.
"Siapa mereka Kakang?
Sepertinya bukan orang Kadipaten Anjuk Ladang", tanya seorang lelaki bertubuh gempal yang wajahnya tak jelas karena caping bambu yang menutupi sebagian wajah nya. Sejak Arya Pethak dan kawan-kawan nya memasuki Penginapan Kembang Sore, dia terus mengamati Arya Pethak. Bersama 3 orang lain nya, mereka menikmati hidangan di sudut ruangan warung makan itu.
"Aku tidak tahu adik. Sepertinya mereka hanya pengelana biasa yang lewat. Sudah jangan terlalu banyak di pikirkan. Asal mereka tidak ikut campur dengan urusan kita, biarkan saja", ujar seorang lelaki yang sepertinya merupakan pemimpin dari keempat orang itu segera.
Si lelaki bertubuh gempal dengan caping bambu itu mengangguk mengerti, begitu pula dengan kedua temannya yang ada di sebelah nya. 4 orang di meja sebelah mereka pun ikut mengangguk tanda mengerti.
Malam itu hujan deras mengguyur wilayah kota Kadipaten Anjuk Ladang. Cuaca begitu dingin menusuk tulang. Untung saja kamar Arya Pethak tidak bocor meski hujan deras seakan tercurah dari langit. Saat Arya Pethak hendak bersiap tidur, terdengar ketukan pada pintu kamar tidur nya.
Thok thok thokkk..
"Siapa?", tanya Arya Pethak sambil menoleh ke arah pintu.
"Aku Kakang Pethak, Paramita..
Kamar tidur ku bocor. Aku bingung mau tidur dimana?", terdengar suara Paramita dengan pelan. Arya Pethak bergegas menuju ke arah pintu kamar tidur. Begitu kamar tidur terbuka, ternyata bukan cuma Paramita saja, tapi juga Anjani dan Sekarwangi.
"Kalian semua kenapa kemari?", Arya Pethak menatap heran kearah mereka.
"Sssssttttttttt, pelankan suara mu Kakang..
Biarkan kami masuk dulu", bisik Paramita sambil melangkah masuk ke dalam kamar tidur Arya Pethak tanpa menunggu persetujuan dari pemuda tampan itu. Anjani dan Sekarwangi segera mengikuti langkah Paramita.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian ketakutan seperti itu?", tanya Arya Pethak segera usai menutup daun pintu kamar tidur nya.
Paramita lalu menceritakan tentang percakapan antara beberapa orang yang tak sengaja dia dengar dari kamar sebelahnya.
"Tadi aku dengar, orang yang tidur di sebelah kamar ku berencana ingin menghabisi nyawa Tumenggung Kebo Biru.
Aku khawatir, kita yang tidak tahu apa apa akan terkena getahnya Kakang. Makanya aku membangunkan Sekarwangi dan Anjani untuk berkumpul di tempat mu ini. Bagaimana ini Kakang? Apa sebaiknya kita pergi dari tempat ini?", tanya Paramita dengan penuh kekhawatiran.
Hemmmmmmm...
"Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan ini, Paramita. Kalau kita pergi sekarang, pasti akan membuat mereka curiga", jawab Arya Pethak sambil mengelus dagunya.
"Sebaiknya malam ini kita bergiliran berjaga".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaga kesehatan semuanya
__ADS_1
Jangan banyak begadang agar terhindar dari angin malam 😁😁✌️✌️