Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Perang Akhir


__ADS_3

Tanpa menunggu lama lagi, Arya Pethak segera merapal mantra Ajian Serat Jiwa miliknya. Kekejaman Mahesa Linggapati yang membuatnya ingin secepatnya menghabisi nyawa salah satu petinggi Kelompok Kelabang Ireng itu.


Cahaya hijau terang dengan cepat berkumpul di tubuh Arya Pethak. Sang Adipati baru Wengker ini dengan cepat berjumpalitan menghindari serangan Mahesa Linggapati yang berupa sinar biru kehitaman.


Whhhuuummmm..


Blllaaammmmmmmm!!


Setelah berhasil menghindari ilmu kanuragan yang di lepaskan oleh Mahesa Linggapati, Arya Pethak langsung melompat tinggi ke udara dan dengan cepat membabatkan Pedang Setan di tangan kanannya.


Shreeeeettttthhh!!


Sinar hijau kehitaman berselimut angin berbau busuk menyengat langsung menerabas cepat kearah Mahesa Linggapati. Pimpinan Kelompok Kelabang Ireng itu segera berkelit menghindari tebasan pedang yang hendak merenggut nyawanya. Dia bergerak ke arah kanan dan ini sesuai dengan keinginan Arya Pethak.


Pendekar dari Bukit Kahayunan itu seraya menghantamkan tangan kirinya yang berselimut cahaya biru terang Ajian Serat Jiwa.


Zzzeeeerrrrrttthh!!


Cahaya hijau terang itu segera mengikat tubuh Mahesa Linggapati lalu menyedot seluruh tenaga dalam dan daya hidup yang dimilikinya. Bersamaan dengan itu, rasa sakit yang teramat sangat menyerang setiap persendian dan bagian tubuh dari pria bertubuh gempal itu.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Perlahan darah segar mengalir keluar dari mulut, hidung, telinga dan mata Mahesa Linggapati. Tubuhnya terus mengurus hingga menyisakan tulang dan kulit saja. Melihat lawannya sudah sampai batasnya, Arya Pethak segera membabatkan Pedang Setan ke tubuh Mahesa Linggapati.


Shreeeeettttthhh..


Blllaaammmmmmmm!!!


Tubuh Mahesa Linggapati seketika meledak dan hancur berkeping keping. Arya Pethak segera menghembuskan nafas panjang usai berhasil menghentikan perlawanan dari salah satu pimpinan utama Kelompok Kelabang Ireng itu.


Melihat pimpinan mereka terbunuh, sisa pengikut Mahesa Linggapati langsung ciut nyalinya. Sedangkan para prajurit Tanah Mandala Wengker semakin berkobar semangatnya untuk memenangkan pertarungan ini. Beberapa orang anak buah Mahesa Linggapati berhasil kabur namun sebagian besar terbunuh di tempat itu.


Sorak sorai terdengar dari mulut para prajurit Mandala Wengker bersamaan dengan kematian pengikut Mahesa Linggapati terakhir.


"Cukup!!


Jangan terlalu bergembira. Ini adalah awal dari kita untuk menyatukan kembali wilayah Mandala Wengker yang terpecah belah usai pergolakan di dalam Istana. Mulai sekarang juga kita harus bekerjasama untuk membangun kembali Tanah Mandala Wengker ini", ucap Arya Pethak lantang.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati!!", balas para prajurit Wengker sembari menghormat pada sang pimpinan.


Mulai hari itu, dimulai lah penertiban di Tanah Mandala Wengker. Dimulai dari wilayah Pakuwon Tapa, Arya Pethak menaklukkan satu persatu wilayah yang masih setia dengan Raden Ronggo.


Setelah Pakuwon Tapa takluk pada Adipati Arya Pethak, berlanjut pada Pakuwon Gringsing dan Pakuwon Panitih yang menjadi basis terakhir pertahanan Raden Ronggo dan para pengikutnya.


Di pertempuran sengit antara para prajurit Wengker dan Pakuwon Panitih, Arya Pethak mengerahkan seluruh prajurit Tanah Mandala Wengker untuk menaklukkan wilayah yang berada di kaki Gunung Wilis ini.


Dengan jumlah prajurit mencapai puluhan ribu orang, Arya Pethak memimpin pengepungan di Kota Pakuwon Panitih yang merupakan kota dengan pertahanan alami terbaik. Kota yang berdiri di antara 7 bukit kecil ini seakan memiliki benteng pertahanan alami yang sukar sekali di tembus. Namun pasukan Wengker di bawah Arya Pethak tidak putus asa dan terus mengepung kota ini tanpa kendur sedikitpun.


Hampir 2 pekan mengepung Kota Pakuwon Panitih, para prajurit Pakuwon Panitih yang mulai kekurangan bahan makanan pokok membuka pintu gerbang kota dengan harapan dapat menembus kepungan yang di lakukan oleh para prajurit Wengker. Namun ini adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan.


Pasukan Wengker di bawah pimpinan Senopati Lembu Kangko dan Tumenggung Subrata berhasil memukul mundur mereka hingga masuk ke dalam Kota Pakuwon. Perlahan tapi pasti, ribuan orang prajurit Raden Ronggo yang menyaru di dalam pasukan besar Pakuwon Panitih menjadi korban dari keganasan perang yang mereka lakukan.


Setelah melumpuhkan kekuatan lawan di dalam kota, selanjutnya pasukan Wengker mengepung istana Pakuwon Panitih yang menjadi tempat persembunyian terakhir Raden Ronggo.


Di dalam istana, Raden Ronggo mondar mandir kebingungan mencari cara agar dirinya bisa lolos dari maut.


"Cangak Biru, Bango Rowo..

__ADS_1


Cepat bantu aku berpikir! Pasukan si keparat Arya Pethak sudah mengepung tempat ini", Raden Ronggo menatap ke arah dua abdi setia nya itu dengan tatapan mata mengharap.


Bango Rowo dan Cangak Biru bukan nya tidak mau membantu tapi mereka sendiri juga bingung mau bagaimana. Mereka sepertinya sudah kehabisan akal untuk menghadapi pasukan Wengker yang terus memburu kemanapun mereka bersembunyi.


"Kita sudah tidak ada tempat lagi untuk kabur, Raden..


Kalau mau lolos dari sergapan Arya Pethak, jalan satu-satunya untuk kita hanya melawan mereka. Meskipun kemungkinannya kecil tapi hanya itu saja yang bisa kita lakukan sekarang", ucap Cangak Biru seraya menghormat pada Raden Ronggo.


Hemmmmmmm...


"Baiklah kalau begitu. Mari kita hadapi Arya Pethak. Kali ini kita tidak perlu repot-repot kabur lagi. Aku akan mengadu nyawa dengan pemberontak itu", ucap Raden Ronggo sembari mengepalkan tangannya erat-erat.


Setelah itu, Raden Ronggo segera mengenakan pakaian perang nya. Begitu rampung, dia segera melompat ke atas pelana kuda tunggangan nya yang sudah di persiapkan sebelumnya. Di depan gerbang istana, Akuwu Panitih Jaran Manoleh menghentikan langkah kaki kuda sang putra Adipati Warok Singo Ludro.


"Mau kemana kau Raden Ronggo? Di luar tembok istana, pasukan Wengker sedang mengepung tempat ini!", teriak Akuwu Jaran Manoleh segera.


Mendengar ucapan itu, Raden Ronggo tersenyum kecut.


"Sudah cukup aku bersembunyi, Paman Akuwu..


Saatnya aku sendiri yang akan turun tangan untuk mengantar nyawa si keparat Arya Pethak ke neraka!!", teriak Raden Ronggo sembari menggebrak kuda tunggangan nya menuju ke arah medan laga. Cangak Biru dan Bango Rowo pun turut serta menggebrak kuda mereka mengikuti langkah Raden Ronggo.


Hemmmmmmm...


Akuwu Panitih Jaran Manoleh menggeram keras karena omongannya tak didengar oleh Raden Ronggo. Dengan cepat ia segera melompat ke atas kuda nya sambil berteriak lantang pada para bawahannya.


"Maju!! Kalau Raden Ronggo sampai kalah di peperangan ini, maka kita semua juga akan di bunuh oleh Arya Pethak.


Lebih baik mati di medan perang daripada harus menjadi tawanan!!"


Teriakan keras Akuwu Jaran Manoleh ini seketika membuat para prajurit Pakuwon Panitih memegang erat gagang senjata mereka dan dengan penuh semangat untuk memenangkan pertempuran, mereka bergerak maju ke arah pasukan Wengker di bawah pimpinan Arya Pethak dan para perwira tinggi prajurit Wengker.


Raden Ronggo yang terus di kawal oleh Cangak Biru dan Bango Rowo terus mengamuk di medan perang. Satu persatu prajurit Wengker yang mencoba untuk menghadang laju pergerakan mereka, harus tewas bersimbah darah setelah terkena sabetan senjata mereka.


Jerit panjang kesakitan bercampur dengan suara teriakan prajurit yang kehilangan nyawa terdengar di setiap sudut medan peperangan. Kota Pakuwon Panitih banjir darah. Perlahan prajurit Wengker mulai merangsek masuk ke dalam Kota Pakuwon Panitih. Dengan keahlian mereka masing-masing, mereka dengan cepat menguasai medan perang.


Di saat itu, Raden Ronggo yang melihat Arya Pethak mulai bergerak maju ke dalam kota, segera memacu kuda tunggangan nya menuju ke arah sang Adipati baru Wengker. Begitu sampai di dekat Arya Pethak, Raden Ronggo yang bersenjatakan tombak langsung melompat tinggi ke udara dan menusukkan tombak pusaka di tangan kanannya ke arah Arya Pethak.


Whhuuuuuuuggggh!!


Melihat serangan cepat Raden Ronggo, Arya Pethak segera mengayunkan Pedang Setan nya menyambut kedatangan serangan musuh besar nya ini.


Thhraaaangggggggg!!!


Usai benturan keras senjata mereka, keduanya segera melompat turun ke tanah dan saling berhadapan.


"Hari ini biar Dewata Yang Agung, yang akan menjadi saksi bahwa aku menghabisi nyawa seorang pemberontak seperti mu, Arya Pethak!!", ujar Raden Ronggo sambil menggenggam erat gagang tombaknya.


"Kau merasa benar, Raden Ronggo dan aku juga merasa benar. Sedangkan kebenaran hanya ada satu. Maka hari ini, kita tentukan siapa yang benar dengan adu kemampuan beladiri.


Majulah, Raden Ronggo!!", Arya Pethak segera menggerakkan jari jemari tangan nya seolah memberi isyarat kepada Raden Ronggo untuk bergerak maju. Raden Ronggo mendengus keras lalu melesat cepat kearah Arya Pethak sambil menusukkan senjata nya ke arah Arya Pethak.


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!


Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!


Adu lincah dan adu gesit dalam gerakan tubuh menjadi pemandangan seru yang terlihat di pertarungan sengit antara Arya Pethak dan Raden Ronggo. Tak seperti yang diomongkan orang selama ini, Raden Ronggo ternyata memiliki ilmu kepandaian bela diri yang mengagumkan, bahkan lebih baik dari kakaknya Raden Singomengolo. Meskipun sempat kaget dengan kemampuan beladiri Raden Ronggo, namun Arya Pethak masih tetap tenang menghadapi tantangan orang ini.

__ADS_1


20 jurus berlalu, dan Raden Ronggo mulai terlihat kelelahan menghadapi Arya Pethak yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin yang membuat gerakan-gerakan nya begitu cepat dan mematikan.


Dhiiieeeessshh..


Oouuugghhhhhh!!


Satu kecohan cepat, membuat Raden Ronggo harus menerima tendangan keras kaki kanan Arya Pethak yang membuat nya terhuyung huyung mundur ke belakang. Melihat kesempatan emas ini, Arya Pethak memutar tubuhnya dengan cepat lalu menjejak tanah dengan keras dan melesat ke arah Raden Ronggo yang tak siap untuk melayani permainan pedang sang Adipati baru Wengker.


Satu tebasan cepat Pedang Setan terayun ke arah kepala Raden Ronggo. Saat yang kritis ini, Cangak Biru yang melihat bahaya besar bagi junjungan nya itu, segera berkelebat cepat ke depan Raden Ronggo dan mendorong tubuh putra Adipati Singo Ludro itu hingga tebasan Pedang Setan milik Arya Pethak langsung membabat punggungnya.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh...


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Raden Ronggo terpental mundur beberapa langkah ke belakang. Dia selamat dari maut tapi tidak halnya dengan Cangak Biru. Pria bertubuh kekar sedikit kurus ini langsung terjungkal menyusruk tanah dengan luka menganga lebar di punggungnya. Dia tewas beberapa saat kemudian dengan tubuh bersimbah darah.


"Cangak Biru...!!!!


Akan ku balaskan dendam kematian mu!!"


Raden Ronggo segera bangkit dari tempat jatuhnya dan menancapkan tombaknya di samping tempat nya berdiri. Segera merapal mantra Ajian Segoro Geni ilmu kanuragan pamungkas nya. Kedua telapak tangannya yang menangkup di depan dada seketika mengeluarkan asap putih. Selanjutnya muncul bulatan merah menyala berhawa panas menyengat diantara kedua telapak tangannya.


Melihat itu, Arya Pethak memejamkan matanya sebentar. Tubuhnya seketika itu juga di lambari cahaya kuning keemasan pertanda Ajian Lembu Sekilan selesai dia rapal. Sedangkan di telapak tangan kiri nya, cahaya putih kebiruan dengan kilat kecil menyambar terkumpul di sana. Rupanya dia juga menggunakan Ajian Tapak Brajamusti sekaligus untuk menghadapi perlawanan Raden Ronggo.


"Mampus kau bajingan..


Ajian Segoro Geni hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!"


Whhhuuummmm...


Sebuah bola cahaya merah menyala berhawa panas seketika melesat cepat kearah Arya Pethak dari tangan Raden Ronggo. Tak mau menunda lagi, Arya Pethak segera melesat cepat kearah bola cahaya merah menyala itu dengan menghantamkan tapak tangan kiri nya.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Raden Ronggo terpental jauh ke belakang. Putra kedua Adipati Singo Ludro itu berusaha untuk merubah gerakan tubuhnya yang terdorong mundur akibat kuatnya pengaruh gelombang kejut besar yang tercipta dari benturan keras dua ajian kanuragan tingkat tinggi ini. Saat dia berhasil memutar tubuhnya, tiba-tiba saja muncul Arya Pethak yang dengan cepat menusuk perut nya dengan Pedang Setan.


Jllleeeeeppppphhh!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Raden Ronggo menjerit keras saat Pedang Setan menembus perut hingga pinggang nya. Saat Arya Pethak mencabut pedang nya, Raden Ronggo langsung roboh ke tanah.


"K-kau bajing...an Ar..ya Pe...thhhaaakkkkk!!"


Setelah memaki Arya Pethak, Raden Ronggo kelojotan sebentar sebelum akhirnya diam untuk selamanya. Putra kedua Adipati Singo Ludro itu tewas di tangan Arya Pethak.


Kematian Raden Ronggo seketika membuat mental bertarung para prajurit Pakuwon Panitih runtuh seketika. Sebagian besar dari mereka langsung berupaya untuk menyelamatkan diri. Akuwu Jaran Manoleh sendiri akhirnya tewas di tangan Demang Klungsur. Dengan kematian mereka berdua, maka hari itu Kota Pakuwon Panitih yang menjadi wilayah terakhir Tanah Mandala Wengker yang memberontak berhasil di kuasai oleh para prajurit Wengker.


Setelah menaklukkan wilayah yang memberontak terhadap kekuasaannya, Adipati Arya Pethak kembali ke Istana Wengker. Dari sana, dia memerintah wilayah itu dengan adil dan bijaksana bersama dengan Nay Kemuning, Anjani dan Sekarwangi.


Semasa pergolakan politik di Kerajaan Singhasari yang menjadi negara induk, Wengker menjadi wilayah yang netral. Prabu Jayakatong yang berhasil mengalahkan Singhasari pun tak mengusik ketenangan Wengker karena Adipati Arya Pethak masih terhitung saudaranya. Bahkan setelah berdirinya kerajaan Majapahit, Wengker pun tak tersentuh oleh kebijakan Nararya Sangramawijaya atau yang lebih dikenal dengan nama Kertarajasa Jayawardhana. Sang Maharaja Majapahit ini masih mengingat semua budi baik Arya Pethak yang pernah menolongnya.


Dari Anjani dan Sekarwangi, Arya Pethak memperoleh dua putri sedangkan dari Nay Kemuning lahir Raden Panji Kemukus yang kelak akan menjadi Adipati Wengker yang berjuluk Adipati Warok Singo Manggolo.


------------------------- T A M A T------------------------------


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya author berhasil menamatkan cerita ini. Sekali lagi, ini adalah cerita fiksi sejarah. Bilamana ada kesalahan dalam penulisan, author mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sampai jumpa di cerita author selanjutnya.

__ADS_1


Salam sukses selalu..🙏🙏


__ADS_2