
Seorang gadis berkulit hitam manis mendekati Wide Pitrang dan kawan-kawan nya yang hendak masuk ke dalam kediaman Syahbandar pelabuhan Kalianget yang bernama Pu Aeng Raja. Tinggi gadis manis ini kira kira setinggi Klungsur lebih sedikit. Rambut nya hitam legam, sorot matanya berseri seri dan bibirnya terlihat merah meski tanpa pemerah bibir.
"Huh dasar pengacau..
Kog dia bisa tau kalau aku ada disini?", gerutu Wide Pitrang sambil bersungut-sungut kesal.
"Kau kenapa bapak pucung?
Muka mu kog mirip wajah orang kebelet buang air besar begitu?", ujar Klungsur yang keheranan dengan sikap Wide Pitrang.
"Sssssttttttttt pelankan suara mu..
Gadis itu sudah sejak lama mengejar ku tapi aku tidak mau karena sifatnya yang aneh. Aku tidak mau dekat-dekat dengan nya", bisik Wide Pitrang segera.
Gadis cantik berkulit hitam manis itu segera mendekati Wide Pitrang yang ogah-ogahan dan segera berusaha bersembunyi di balik tubuh Arya Pethak.
"Hai kampret,
Disapa bukannya membalas malah sembunyi. Kau minta di hajar ya?", teriak si gadis cantik berkulit hitam manis itu sambil melotot ke arah Wide Pitrang. Mendengar ucapan itu, Wide Pitrang menjulurkan kepalanya dari balik tubuh Arya Pethak.
"Bukan begitu Nirmala..
Sengko sedang benahi ikat pinggang celana yang kendur. Malu jika ba'na lihat", alasan Wide Pitrang segera.
"Halah itu bisa bisanya ba'na saja..
Ba'na kenapa di tempat Aeng Raja? Ada keperluan apa?", berondong pertanyaan terlontar dari mulut gadis cantik berkulit hitam manis yang dipanggil Nirmala oleh Wide Pitrang.
"Sengko mengantar tretan sengko untuk menginap di rumah Aeng Raja menunggu kapal penyeberangan di perbaiki..
Ba'na kenapa bisa ada disini?", Wide Pitrang balik bertanya kepada Nirmala.
"Sengko lihat Pitrang kemarin di Kota Kadipaten Songeneb, makanya sengko susul kemari hehehe", Nirmala tersenyum penuh arti.
'Dasar gila', gerutu Wide Pitrang dalam hati.
"Saudara Pethak, Den Raden Wira Ganggeng..
Silahkan saudara semua beristirahat di rumah ini. Sengko masih ada urusan penting untuk dilakukan.
Aeng Raja, aku titip tretan sengko sebentar ya", ujar Wide Pitrang sambil mempersilakan rombongan Arya Pethak dan Raden Wira Ganggeng untuk masuk ke dalam rumah Pu Aeng Raja. Syahbandar pelabuhan Kalianget itu mengangguk mengerti dan membawa rombongan itu ke dalam rumah nya.
Sementara itu Wide Pitrang segera menggelandang tangan Nirmala untuk pergi entah kemana.
Perbaikan kapal penyeberangan milik Mpu Nala tidak memakan waktu lama. Menjelang tengah hari, perbaikan kerusakan kecil itu rampung. Mpu Nala langsung melaporkan itu kepada Raden Wira Ganggeng dan mengatakan bahwa kapal penyeberangan milik nya telah siap untuk digunakan. Barang bawaan mereka juga sudah di naikkan ke atas kapal.
Mendengar ucapan itu, rombongan itu segera bergegas menuju ke arah Pelabuhan Kalianget untuk segera berangkat berlayar pulang ke Tanah Jawadwipa.
Di tepi pelabuhan Kalianget, Wide Pitrang sudah menunggu mereka.
"Sengko pasti akan merindukan kalian, tretan..
Jaga diri baik-baik selama perjalanan pulang ke Kadipaten Kembang Kuning", ujar Wide Pitrang sambil menatap ke arah rombongan Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
"Kami pasti juga akan merindukan mu, Saudara Wide..
Terimakasih banyak atas bantuannya selama kami berada di sini. Jika kita berjodoh lagi pasti akan bertemu", ujar Raden Wira Ganggeng sambil tersenyum tipis dan menepuk-nepuk pundak Wide Pitrang.
Wide Pitrang membungkukkan badannya pertanda hormat kepada Raden Wira Ganggeng. Satu persatu anggota rombongan itu mulai menaiki tangga menuju ke arah kapal penyeberangan milik Mpu Nala. Klungsur yang paling terakhir naik langsung di dekati oleh Wide Pitrang.
"Cong,
Sengko punya hadiah besar buat ba'na. Nanti sampai di pelabuhan Hujung Galuh tolong kau buka hadiah itu. Tolong titip barang sengko ya, itu cinderamata dari Kadipaten Songeneb", bisik Wide Pitrang sambil tersenyum jahil.
"Hadiah apa bapak pucung? Kog tidak kau serahkan kepada ku?", tanya Klungsur segera.
"Sudah sengko masukkan ke dalam barang bawaan kalian.
Ya sudah hati hati saja ya, sampai jumpa lagi ", ujar Wide Pitrang yang kemudian berjalan menuju ke samping Pu Aeng Raja. Klungsur langsung mengangkat kedua bahunya lalu menyusul Arya Pethak dan kawan-kawan nya yang sudah lebih dulu naik ke atas kapal.
Perlahan kapal penyeberangan milik Mpu Nala bergerak meninggalkan pelabuhan Kalianget. Rombongan Arya Pethak melambaikan tangan pada Wide Pitrang yang masih berdiri di dermaga pelabuhan. Wide Pitrang langsung membalas mereka yang semakin lama semakin menjauh dari pelabuhan Kalianget. Hingga kapal penyeberangan milik Mpu Nala menghilang di tengah laut, Wide Pitrang masih berdiri di dermaga.
'Selamat jalan tretan. Sengko pasti merindukan kalian semua ', ujar Wide Pitrang dalam hati. Setelah kapal penyeberangan yang di tumpangi Arya Pethak dan kawan-kawan menghilang, Wide Pitrang segera berbalik badan dan menuju ke arah kudanya yang tertambat di tepi dermaga kemudian melompat ke atas kuda nya lalu menggebrak kuda itu menuju ke arah Kota Kadipaten Songeneb.
Kapal penyeberangan milik Mpu Nala terus bergerak cepat menuju ke arah barat daya. Memanfaatkan angin laut, kapal itu melaju cepat kearah Pelabuhan Hujung Galuh.
Hari telah menjelang sore. Cahaya matahari tak seterik tadi siang. Para anak buah kapal Mpu Nala mempersiapkan makanan yang mereka bawa dari pelabuhan Kalianget tadi. Meski hanya daging kering dan beberapa buah buahan, namun setidaknya itu bisa mengganjal perut sebelum sampai di Pelabuhan Hujung Galuh.
"Sur, kau tidak makan?", tanya Arya Pethak sambil menggigit potongan daging kering. Mata sang pendekar muda tertuju pada wajah Klungsur yang memerah. Sepertinya mabuk laut nya kambuh lagi.
"Nan.. Nanti aku makan Ndoro, sekarang masih belum lapar", jawab Klungsur yang perutnya mual mau muntah.
__ADS_1
"Kalau kau mabuk laut lagi, sebaiknya kau jangan di luar. Angin laut akan semakin menambah rasa mual mu", ujar Anjani yang duduk di samping kiri Arya Pethak.
"Leres atuh Akang..
Sok atuh istirahat di dalam. Tapi jangan di kamar. Itu tempat untuk Teh Anjani dan abdi. Di penyimpanan barang-barang masih ada tempat. Akang Klungsur teh bisa beristirahat disana", sambung Nay Kemuning sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku permisi dulu Ndoro..
Aku pengen tidur", Klungsur langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan sempoyongan menuju ke tempat penyimpanan barang bawaan mereka.
Usai membuka pintu tempat penyimpanan barang, mata Klungsur berputar melihat sekeliling. Dengan segera ia menyambar sebuah kain lusuh di pojok ruangan dan membeberkan nya di samping sebuah kantor kain berwarna hitam yang cukup panjang.
Segera Klungsur merebahkan diri di samping kantong kain panjang berwarna hitam itu. Rasa pusing nya begitu hebat hingga Klungsur langsung menutup mata. Tak berapa lama kemudian dia tertidur pulas sambil memeluk kantong kain panjang berwarna hitam itu.
Menjelang senja, kapal penyeberangan milik Mpu Nala terus bergerak menuju ke arah Pelabuhan Hujung Galuh.
Tiba-tiba saja kantong kain panjang berwarna hitam yang tengah di peluk Klungsur bergerak. Gerakan ini semakin lama semakin banyak hingga Klungsur yang sedang tidur langsung terbangun.
"Huuwwwaaaaaaaa....
Ada setan! Tolooooonnggggg!!!"
Teriakan keras Klungsur langsung membuat Arya Pethak, Nay Kemuning, Anjani, Raden Wira Ganggeng dan Mpu Nala berhamburan masuk ke dalam ruang penyimpanan barang bawaan mereka.
"Ada apa Sur? Kenapa kau teriak teriak?", tanya Arya Pethak pada Klungsur yang pucat dan berkeringat dingin di sudut ruangan.
"I-itu Ndoro, itu..
Guling nya bergerak-gerak Ndoro. Itu pasti setan Ndoro, itu pasti demit", teriak Klungsur sembari menunjuk ke arah kantong kain hitam panjang yang terus bergerak.
Mendengar jawaban Klungsur, semua mata langsung tertuju pada kantong kain panjang berwarna hitam yang di tunjuk Klungsur.
"Ndoro Pethak, pakai pedang mu..
Tebas setan itu cepat hiiiiii", Klungsur yang ketakutan bergidik ngeri.
"Tunggu Kakang..
Sepertinya itu makhluk hidup. Biar aku yang membuka kantong kain itu", sahut Anjani yang segera melangkah mendekati kantong kain panjang berwarna hitam itu. Perlahan tangan Anjani langsung memegang kain dan merobeknya dengan cepat.
Wheeeeekkkkk!!!
Dari dalam kantong kain panjang berwarna hitam muncul sesosok tubuh perempuan berkebaya hijau muda dengan gelang emas ada di kedua kakinya. Tangan nya diikat di belakang, begitu juga kakinya. Sedangkan mulut nya di sumpal dengan kain untuk mencegahnya bersuara. Semua mata terbelalak lebar melihat itu semua
Bukankah kau teman Wide Pitrang? Bagaimana bisa kau disini?", tanya Anjani segera.
Heeemmmpppphhhhh hemmmph..
Hanya itu yang terdengar dari mulut Nirmala sambil matanya berkedip kedip seakan memberi isyarat kepada Anjani untuk melepaskan ikatan tali yang membelenggunya. Sadar dengan itu, Anjani langsung melepaskan sumpalan kain di mulut Nirmala.
"Tolong lepaskan aku, tretan..
Tangan sengko sakit sekali", pinta Nirmala dengan cepat. Anjani pun langsung melepaskan ikatan yang diminta oleh Nirmala.
Begitu lepas, Nirmala langsung mengibaskan tangannya yang kaku karena terikat hampir seharian.
Selanjutnya Raden Wira Ganggeng langsung mengajak Nirmala keluar dari ruangan itu. Mereka bergegas keluar. Klungsur mengekor di belakangnya.
"Eh teman nya bapak pucung,
Bagaimana ceritanya kau bisa sampai di ruangan penyimpanan barang bawaan itu? Kau mau mencuri ya?", tanya Klungsur begitu mereka semua duduk di lantai kapal penyeberangan.
"Enak saja kau menuduh. Masak gadis secantik sengko ini seperti maling? Jaga mulut ba'na jika tak ingin gigi mu ompong", omel Nirmala sembari mendelik tajam ke arah Klungsur.
"Kalau tidak ingin mencuri, lantas apa mau mu hingga masuk ke dalam kantong kain itu ha?", Klungsur bertanya sedikit keras. Semua orang menatap ke arah Nirmala.
Nirmala lalu menceritakan kejadian sebelumnya.
Selepas Wide Pitrang menggelandang tangan nya dari depan kediaman Syahbandar pelabuhan Kalianget tadi siang, Wide Pitrang mengajak nya makan di sebuah warung makan yang tak jauh dari dermaga.
Setelah makan mendadak kepalanya terasa pusing hingga dia tak sadarkan diri. Ketika dia sadar dia mendengar suara dengkuran Klungsur hingga dia mencoba membebaskan diri sampai akhirnya mereka membebaskan diri nya.
"Jadi semua ini ulah Wide Pitrang?", tanya Anjani segera.
"Benar sekali, tretan..
Sengko sama sekali tidak menduga bahwa Pitrang akan sekejam itu sama sengko huhuhuhuhuhuu", air mata Nirmala langsung meleleh keluar dari sudut matanya.
"Sudahlah Nisanak..
Mungkin dia hanya bercanda. Tidak ada maksud untuk menyakiti mu. Kalau dia ingin berbuat jahat sudah pasti dia akan membuang mu ke laut atau mungkin lebih kejam lagi.
__ADS_1
Besok pagi saat kapal penyeberangan ini sampai di Pelabuhan Hujung Galuh, aku akan meminta bantuan Raden Wira Ganggeng untuk mencarikan mu kapal penyeberangan yang akan menuju ke Kadipaten Songeneb lagi", bujuk Anjani yang tak tega melihat air mata Nirmala.
"Tidak!
Aku tidak mau kembali ke Kadipaten Songeneb lagi. Aku tidak mau melihat wajah Wide Pitrang lagi. Pokoknya aku tidak mau", ujar Nirmala sambil terus terisak.
"Lantas kau mau apa? Apa kau tidak memikirkan keluarga mu yang akan menanti kedatangan ku, hai teman nya bapak pucung?", Klungsur ikut menimpali.
"Bapak ku sudah kawin lagi, dia tak peduli apakah aku masih hidup atau tidak.
Aku ikut kalian saja ya? Aku tidak mau pulang ke Songeneb lagi", kali ini Nirmala langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya, menatap wajah Anjani, Nay Kemuning, Arya Pethak dan Klungsur.
"Hah pasti merepotkan..
Kau tidak bisa bela diri pasti kami harus susah payah untuk melindungi mu", ujar Klungsur dengan acuh tak acuh. Mendengar ucapan itu, Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning langsung melotot ke arah Klungsur.
"Siapa bilang aku tidak bisa ilmu silat? Wide Pitrang saja tidak pernah menang melawan ku", Nirmala mendelik tajam ke arah Klungsur.
"Jangan dengarkan ocehan dia, Teh..
Kalau teteh sudah ingin seperti itu, kami tidak punya alasan untuk menolak lagi ya Akang?", Nay Kemuning menyenggol pinggang Arya Pethak.
"Ya tentu saja..
Toh pasti akan lebih seru jika perjalanan kita lakukan dengan kawan kawan", ujar Arya Pethak mengiyakan omongan Nay Kemuning.
Raut wajah Nirmala langsung cerah mendengar ucapan Arya Pethak dan kedua gadis cantik disampingnya.
"Terimakasih banyak kalian sudah bersedia mengajak ku..
Aku berjanji untuk tidak akan merepotkan kalian semua", Nirmala langsung tersenyum lebar.
Malam itu rombongan Arya Pethak bertambah satu orang lagi dengan kehadiran Nirmala, si gadis cantik hitam manis dari pulau Madura.
Klungsur yang hilang rasa mabuk laut nya setelah ketakutan tadi terngiang ucapan Wide Pitrang mengenai hadiah cinderamata dari Kadipaten Songeneb.
"Hemmmmmmm..
Apa maksud ucapan si bapak pucung itu si Nirmala? Si brengsek itu memberikan Nirmala untuk ku?
Ah tidak mungkin si bapak pucung itu sampai seperti ini.
Tapi kalau di telusuri sih memang ini maksud si brengsek bapak pucung itu. Ah sialan dia, menambah beban perjalanan kami saja', berjuta-juta pertanyaan melintas di kepala Klungsur yang merebahkan tubuhnya di haluan kapal penyeberangan milik Mpu Nala hingga dia tertidur pulas di sana sampai pagi.
Matahari sudah mulai muncul di ufuk timur. Meski mendung kelabu bergelayut di langit, cahaya sang Surya masih mampu menembus dari sela sela awan. Beberapa burung laut nampak berseliweran di atas kapal penyeberangan yang terus melaju ke arah barat daya. Mpu Nala yang memegang kemudi menggantikan anak buah nya melihat titik hitam di atas cakrawala langit.
Itu adalah Pelabuhan Hujung Galuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sumpah ya, di kampung author lebaran sampai tujuh hari gaes 🤣✌️😁🙏
Sampai keliling seluruh kabupaten 😁😁
Yang mulai beraktivitas selamat beraktifitas ya..
__ADS_1
Biar author saja yang masih menikmati suasana lebaran 🤣🤣✌️✌️