Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Delapan Malaikat Pembunuh


__ADS_3

Klungsur langsung waspada dan menyambar gagang Gada Galih Asem nya. Pun juga Nay Kemuning langsung meraba gagang Pedang Cambuk Naga yang selalu melingkar di pinggang nya. Anjani diam diam juga memasukan tangan kanannya ke dalam balik bajunya, dimana kantong berisi Jarum Penghancur Sukma tersimpan.


Shriingg shriingg shriingg!!


Puluhan anak panah kembali melesat cepat kearah mereka. Nay Kemuning, Anjani melompat tinggi menghindari anak panah yang ternyata beracun, sedangkan Klungsur memutar Gada Galih Asem nya untuk menghalau beberapa anak panah yang datang mengincar nyawa mereka.


Thrang thrang!!


Anak panah langsung mental begitu beradu dengan Gada Galih Asem nya Klungsur.


Dari kegelapan malam, muncul 8 orang berpakaian hitam dengan topeng kayu separuh wajah yang berwarna putih. Tatap mata mereka tajam penuh hajat membunuh yang pekat.


Lembu Bungkul yang terlindung di belakang Arya Pethak dan kawan-kawan, terperanjat tak percaya melihat 8 orang berpakaian hitam-hitam dengan topeng kayu bercat putih. Semua orang di kalangan masyarakat Kadipaten Matahun begitu mengenal nama mereka yang terkenal suka membunuh tanpa ampun dan selalu berhasil melenyapkan orang yang mereka bidik.


Mereka dikenal sebagai Delapan Malaikat Pembunuh.


Lembu Bungkul benar benar tidak menyangka bahwa nama besar kelompok pembunuh bayaran kondang itu hari ini menginginkan kematiannya.


"Delapan Malaikat Pembunuh,


Hari ini ada urusan apa datang ke Kepatihan Matahun? Kalau kalian ingin melakukan pembunuhan di tempat ini, bersiaplah untuk di buru oleh Pemerintah Kadipaten Matahun. Apa kalian sudah siap untuk itu?", ujar Lembu Bungkul sembari menatap ke arah 8 sosok hitam yang sanggup membuat nyali pendekar berilmu tinggi pun menciut saat harus berurusan dengan mereka.


Seorang dari Delapan Malaikat Pembunuh itu maju, melihat kumis dan jenggot nya sepertinya dia adalah yang paling tua diantara mereka berdelapan. Senyum sinis tersungging di bibir nya.


"Lembu Bungkul,


Sudah mau mampus masih juga mengancam orang, kau benar-benar tak tahu diri ya? Kami menginginkan nyawa mu malam ini, maka tak seorangpun bisa menghentikannya", ujar pimpinan Delapan Malaikat Pembunuh sembari melesat cepat kearah Lembu Bungkul.


Kejadian itu terlalu cepat hingga dalam sekejap Si pimpinan pembunuh bayaran itu sudah hampir mencengkeram leher Lembu Bungkul. Namun saat genting itu, tiba-tiba saja Arya Pethak muncul di depan Lembu Bungkul.


Kemunculan Arya Pethak yang tiba-tiba, membuat si pimpinan kelompok pembunuh ini terkejut bukan main. Jarak yang terlalu dekat hingga dia hanya bisa merubah gerakan tangan nya menjadi serangan tapak bertenaga dalam tinggi.


"Minggir kau bangsat!"


Arya Pethak yang tubuhnya bersinar kuning keemasan hanya tersenyum tipis saat serangan tapak tangan pimpinan kelompok pembunuh bayaran ini menghantam dada nya.


Blllaaammmmmmmm!!!


Saat tangan kanan nya sang pembunuh bayaran menyentuh dada Arya Pethak, satu tenaga menolak tubuh si pimpinan kelompok pembunuh itu hingga dia terpental jauh ke belakang. Dua orang pembunuh bertopeng putih langsung melesat cepat untuk menghentikan laju tubuh sang pimpinan yang tak lain adalah Gagak Bumi.


Darah segar meleleh keluar dari sudut bibir Gagak Bumi.


"Pimpinan, apa kau tidak apa-apa?", tanya seorang lelaki bertopeng putih yang menolong Gagak Bumi segera.


"Aku hanya sedikit lengah. Pemuda itu memiliki tenaga dalam tinggi. Kita harus berhati-hati", ujar Gagak Bumi sembari menyeka darah yang keluar dengan tangan kiri nya.


Arya Pethak tersenyum simpul sembari menatap ke arah 8 sosok hitam yang satu persatu mulai menghunus senjata mereka masing-masing.


"Mau mencelakai kawan ku? Kalian masih belum pantas", ucap Arya Pethak yang langsung membuat marah para pembunuh bayaran ini.


"Anak muda,


Hanya karena bisa melukai ku, lantas kau mau sombong di hadapan kami? Aku tadi sedikit lengah, tapi kali ini jangan harap kau bisa selamat.


Delapan Malaikat Pembunuh, maju!", teriak Gagak Bumi segera melesat cepat kearah Arya Pethak.


Klungsur langsung memutar Gada Galih Asem nya berlari menghadang begitu pula Anjani yang langsung melempar satu Jarum Penghancur Sukma milik nya ke arah para anggota Kelompok Delapan Malaikat Pembunuh.


Shrrriinnnggg!


"Awas senjata rahasia!", teriak seorang dari mereka yang rupanya seorang perempuan dengan mengibaskan kipas besi yang menjadi senjata nya kearah Jarum Penghancur Sukma yang melesat cepat kearah mereka.


Whhuuuuuuuggggh!


Serangkum angin dingin berdesir kencang kearah Jarum Penghancur Sukma yang dilemparkan oleh Anjani.


Blllaaaaaarrr!


Jarum Penghancur Sukma meledak di udara. Anjani mendengus dingin sembari mencabut Pisau Dewa Kematian yang tersimpan di balik pinggang nya. Perempuan cantik murid Dewi Ular Siluman itu langsung melesat cepat kearah si anggota perempuan pembunuh bayaran ini.


Anjani segera menyalurkan tenaga dalam nya pada Pisau Dewa Kematian yang beracun lalu dengan cepat menyabetkan pisau itu dua kali kearah lawan.


Whuuutt whuuthhh!!


Dua larik sinar merah redup kehitaman melesat cepat kearah si anggota perempuan dari Delapan Malaikat Pembunuh itu. Namun perempuan cantik itu rupanya sadar bahwa ia tengah dalam bahaya saat dua larik sinar merah redup kehitaman yang berhawa panas dengan bau busuk laksana bangkai hewan mati mendecit keras di udara.


Buru buru dia berjumpalitan beberapa kali ke samping menghindari serangan yang dilepas oleh Anjani kearahnya.


Blllaaammmmmmmm blammmmm!!


Ledakan beruntun terdengar. Dua lobang sebesar tampah tercipta di halaman rumah Lembu Bungkul.


Setelah berhasil menghindar dari maut, perempuan anggota Kelompok Delapan Malaikat Pembunuh itu dengan cepat melesat cepat kearah Anjani. Satu sabetan belati tajam yang merupakan senjata andalannya langsung menebas cepat kearah lawan.


Shreeeeettttthhh!!


Anjani merunduk menghindari sabetan belati. Tangan kiri nya yang berwarna hijau kehitaman akibat Ajian Tapak Ular Siluman langsung mengarah ke perut lawannya namun kegesitan kembali menyelamatkan nyawa si perempuan anggota pembunuh bayaran ini.


Dengan cepat ia berguling ke samping menghindari hantaman Ajian Tapak Ular Siluman dari Anjani. Namun Anjani tidak melepaskan kesempatan ini begitu saja. Perempuan cantik itu langsung melesat memapak gerakan lawan dengan hujaman Pisau Dewa Kematian ke arah pinggang lawan sekuat tenaga.


Jllleeeeeppppphhh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Si anggota perempuan pembunuh bayaran ini hanya bisa melengguh keras saat Pisau Dewa Kematian yang beracun menembus perutnya. Perempuan bertopeng putih itu menggelepar sejenak sebelum tewas dengan mulut berbusa putih.


Di sisi lain, Klungsur yang kebal terhadap segala macam senjata dan pukulan hanya menyeringai lebar saat satu pukulan anggota Delapan Malaikat Pembunuh menghantam punggungnya.

__ADS_1


Pria bertubuh bogel itu langsung berbalik arah dan langsung mengayunkan Gada Galih Asem nya kearah lawannya.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Sang lawan dengan gesit menghindar dari hantaman gada Klungsur hingga Gada Galih Asem menghantam tanah. Melihat lawan lolos, Klungsur langsung memburu sambil kembali mengayunkan Gada Galih Asem.


Whuuutt!!


Kembali lawan berguling ke tanah untuk menghindar namun Klungsur tak kurang akal. Kali ini dia sengaja maju agar lawan mengincar perutnya dan lawan pun memakan umpan yang di berikan Klungsur. Pria berkumis tebal yang memakai topeng kayu bercat putih itu langsung menusukkan pedang nya ke arah perut Klungsur sambil menyeringai lebar.


"Mati kau, bogel!!"


Cllegghh..


Pedang si kumis tebal bertopeng kayu berwarna putih langsung menghujam ke perut Klungsur yang sedikit buncit. Namun senjata tajam itu seperti menusuk lempengan besi tebal. Mata si kumis tebal membeliak lebar.


"Bukan aku, tapi kau bangsat!", teriak Klungsur sembari mengayunkan Gada Galih Asem ke arah kepala lawan.


Prrraaaakkkkkkk!!


Si kumis tebal anggota Delapan Malaikat Pembunuh itu langsung roboh dengan kepala hancur terkena hantaman Gada Galih Asem nya Klungsur.


Seorang kawan nya yang melihat si kumis tebal terbunuh, langsung menghantam punggung Klungsur dengan tangan kanan nya yang diliputi asap putih.


Blllaaaaaarrr!!


Klungsur terjungkal ke depan dan menyusruk tanah. Namun pria bertubuh bogel itu segera bangkit sambil melotot lebar ke arah orang yang membokongnya. Dia tidak terluka sama sekali.


"Setan alas!


Kau berani menyerang ku dari belakang? Akan ku hancurkan batok kelapa mu", maki Klungsur sambil mendengus keras.


Nay Kemuning yang baru menghabisi nyawa salah seorang anggota Delapan Malaikat Pembunuh, langsung menyabetkan Pedang Cambuk Naga nya ke arah leher orang yang membokong Klungsur.


Pedang Cambuk Naga memanjang dan langsung membelit leher si pembokong. Klungsur yang geram, tidak membuang peluang. Dia segera melompat dan mengayunkan Gada Galih Asem ke kepala lawan yang meronta dalam belitan Pedang Cambuk Naga nya Nay Kemuning.


Brraaakkkk!!


Kepala sang pembokong langsung hancur berantakan. Nay Kemuning menyentak Pedang Cambuk Naga hingga belitan nya lepas. Si pembokong itu tersungkur bersimbah darah.


"Bagus atuh Akang", puji Nay Kemuning sambil mengacungkan jempol tangan kanannya ke arah Klungsur yang memegang Gada Galih Asem yang berlumuran darah.


"Lanjut Nay", ujar Klungsur sembari berlari menuju ke arah dua lelaki bertubuh gempal yang mengepung Anjani. Nay Kemuning pun ikut melesat cepat kearah tujuan Klungsur.


Gagak Bumi mendengus keras melihat kematian orang orang nya satu persatu. Kini 8 orang Malaikat Pembunuh hanya menyisakan 4 orang termasuk dirinya.


Segera Gagak Bumi mencabut sebilah keris pusaka berlekuk tujuh yang memancarkan cahaya kuning kebiruan.


Arya Pethak terkejut melihat perwujudan pusaka di tangan Gagak Bumi. Melihat kekagetan Arya Pethak itu, Gagak Bumi menyeringai lebar.


Kenapa rupa mu itu? Sudah takut melihat Keris Mpu Gandring di tangan ku?", ujar Gagak Bumi dengan penuh kesombongan.


"Barang palsu..


Mana pantas di banggakan sebagai pusaka?", Arya Pethak tersenyum penuh arti.


Mendengar penuturan Arya Pethak, Gagak Bumi terkejut. Benda pusaka ini adalah warisan dari guru nya. Tidak mungkin barang palsu.


"Huhhhhh, kau pintar sekali mengada ada anak muda. Ini adalah pemberian guru ku, Begawan Sidikrama. Mana mungkin barang palsu?


Kalau kau bilang ini palsu, memang kau tahu dimana yang asli?", Gagak Bumi mendengus keras.


"Tentu saja..


Tapi aku tidak akan menunjukkan yang asli pada mu. Cukup aku simpan sendiri", balas Arya Pethak sambil tersenyum simpul.


"Keparat!


Kau sengaja mengulur-ulur waktu dengan mengatakan keris ku palsu. Tubuh mu akan membuktikan keris ini asli atau palsu keparat!!", usai berkata demikian Gagak Bumi melesat cepat kearah Arya Pethak sembari menusukkan keris pusaka nya yang mirip dengan Keris Mpu Gandring ke arah perut Arya Pethak.


Murid Mpu Prawira itu hanya tersenyum simpul karena tubuhnya telah diliputi oleh sinar kuning keemasan dari Ajian Lembu Sekilan.


"Modar kowe, bajingan!!"


Thrrraaannnnggggg!!


Mata Gagak Bumi melebar ketika melihat keris pusaka nya yang terkenal sakti dan memiliki daya linuwih yang mampu membuatnya seorang kepala prajurit dengan mudah, tak mampu menembus kulit Arya Pethak yang keras seperti baja.


Segera dia melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Kemudian melontarkan sinar kuning kebiruan dari Keris Mpu Gandring palsu nya.


Whhuuuuuuuggggh!!


Selarik sinar kuning kebiruan melesat cepat kearah Arya Pethak yang masih tegak berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Asap tebal menutupi seluruh tubuh Arya Pethak. Gagak Bumi tersenyum lebar dengan penuh semangat kemenangan.


Plokk plokk plokk!!


Terdengar suara tepuk tangan disertai sesosok bayangan berjalan menembus asap tebal. Gagak Bumi terkejut bukan main.


"Sudah ku bilang kalau keris pusaka mu itu palsu. Kalau keris pusaka mu itu asli maka aku pasti akan terluka", ujar Arya Pethak sambil berjalan keluar dari asap tebal.


"Kau kau...


Bagaimana mungkin?", Gagak Bumi melotot tak percaya. Kini di hati nya mulai muncul rasa takut melihat Arya Pethak. Keris pusaka andalan nya tak mampu menggores kulit pemuda itu, ajian nya pun pasti tidak akan bisa mengalahkan nya. Satu satunya yang terpikir oleh Gagak Bumi adalah segera kabur dari tempat itu, apalagi kini tinggal seorang anak buah nya yang tersisa.

__ADS_1


Gagak Bumi segera melesat cepat kearah seorang anggota 8 Malaikat Pembunuh yang tersisa.


"Mau kabur? Tidak semudah itu", ujar Arya Pethak sambil memburu Gagak Bumi.


Gagak Bumi segera menyambar tubuh anak buah nya dan melemparkannya ke arah Arya Pethak untuk menghalangi jalan pemuda tampan itu.


Namun tak sesuai harapan Gagak Bumi, Arya Pethak tiba tiba menghilang dari pandangan dan muncul di hadapan Gagak Bumi sembari menghantam rusuk kanan pimpinan Delapan Malaikat Pembunuh itu.


Dhiiieeeessshh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!!


Raungan keras terdengar dari mulut Gagak Bumi saat pukulan Arya Pethak telak menghajar rusuk kanan nya. Tubuh Gagak Bumi terhempas keras ke tanah.


Saat akan bergerak, tiga senjata berlumuran darah menempel di leher Gagak Bumi yang baru saja muntah darah segar.


Melihat Gagak Bumi sudah tidak berdaya, Lembu Bungkul yang sejak tadi dalam pengawalan ketat para anak buah Raden Wira Ganggeng langsung mendekati Gagak Bumi sembari meraih topeng kayu bercat putih yang menutupi sebagian wajah nya.


"Jadi kau rupanya yang di sebut dengan nama Delapan Malaikat Pembunuh yang tersohor itu, Gagak Bumi?", Lembu Bungkul mengenali sosok Gagak Bumi sebagai bekas prajurit Kadipaten Matahun.


"Sekarang katakan siapa yang menyuruh mu mencelakai ku?", Lembu Bungkul menatap tajam ke arah Gagak Bumi.


"Hahahaha, bunuh saja aku Raden Lembu Bungkul..


Sebab percuma kau memaksa ku untuk bicara", ujar Gagak Bumi sembari tertawa lepas.


"Oh benarkah demikian?


Anjani, gunakan racun penghancur tulang mu untuk menyiksa bajingan ini", ucap Arya Pethak dengan cepat. Mendengar perintah itu, Anjani segera mengambil sebuah jarum dari balik bajunya dan dengan cepat menancapkan jarum kecil berwarna putih kebiruan itu ke dada Gagak Bumi.


Rasa panas menyengat segera menyebar ke tubuh Gagak Bumi. Rasa sakit perlahan mulai masuk ke dalam tulang hingga Gagak Bumi sampai berguling guling ke tanah karena tak kuat menahan sakit. Tulangnya seperti di tumbuk dengan palu.


"Ampun ampuni aku...


Bunuh saja aku, cepat!! Aku tidak tahan lagi ampun", teriak Gagak Bumi sambil mengejang hebat karena sakit yang teramat sangat.


"Kau tenang saja.. Kau tidak akan mati dengan mudah. Racun ku akan menyiksa mu selama 3 hari sampai seluruh tulang di tubuh mu hancur tak bersisa", ujar Anjani sambil tersenyum simpul.


"Ampuni aku, tobat tobat...


Akan ku katakan siapa yang menyuruh ku, tapi berikan aku penawar racun nya. Cepat berikan penawar nya", teriak Gagak Bumi keras.


Anjani menoleh ke arah Arya Pethak, begitu melihat Arya Pethak mengangguk, Anjani segera mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam dari botol keramik kecil bersumbat kayu randu dan menjejalkan separuh pil itu ke mulut Gagak Bumi.


Tak berapa lama kemudian, rasa sakit yang dirasakan Gagak Bumi berangsur mereda.


"Kalau kau mau racun penghancur tulang ku hilang seluruh nya, separuh penawar ini akan ku berikan pada mu, tapi jika kau bohong bersiap lah untuk mati 6 hari lagi", ujar Anjani segera.


"Aku tidak berani...


Yang menyuruh ku membunuh Raden Lembu Bungkul adalah Nyi Runting atas nama majikannya. Majikan nya siapa aku tidak tahu. Aku sudah berkata sejujurnya, sekarang berikan aku sisa penawar racun nya", jawab Gagak Bumi dengan cepat. Anjani segera melemparkan sisa pil penawar racun itu ke arah Gagak Bumi. Pimpinan Delapan Malaikat Pembunuh itu dengan cepat meraihnya dan menelan pil penawar racun itu segera.


Arya Pethak segera mendekati Lembu Bungkul.


"Saudara Lembu Bungkul, apa kau kenal dengan nama Nyi Runting itu?", tanya Arya Pethak sambil menatap wajah Lembu Bungkul.


Suara dengusan nafas dingin terdengar dari hidung Lembu Bungkul sebelum dia bicara.


"Dia adalah abdi setia ibu tiri ku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Persiapan lebaran kak, ribet banget di rumah.


Baru sekarang sempat up..


Terimakasih banyak atas kesabarannya menunggu update episode terbaru nya ya..

__ADS_1


__ADS_2