Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Kekuatan Baru


__ADS_3

"Kau jangan macam-macam Klungsur...


Kalau kau masuk ke dalam goa ini sekarang, kau hanya akan menjadi pengganggu pertapaan Arya Pethak. Sudah tunggu saja disini", ujar Nyi Sawitri sambil menatap tajam ke arah Klungsur.


"Tapi Nyi...", belum sempat Klungsur menyelesaikan omongannya, Nyi Sawitri sudah memotong nya.


"Tidak ada tapi tapian. Kalau kau memang abdi setia nya, kau harus bisa bertahan menunggu kedatangan nya", imbuh Nyi Sawitri dengan cepat.


Klungsur langsung terdiam mendengar semua omongan Dewi Bukit Lanjar. Saat yang bersamaan, Mayang Koro dan Jalu Langit datang ke mulut Goa Selomangleng dengan membawa aneka makanan karena mereka baru saja turun ke pemukiman penduduk terdekat.


"Sudah jangan di pikir Sur..


Kakang Pethak pasti baik baik saja. Ayo sekarang kita makan dulu", hibur Rara Larasati yang melihat Klungsur masih termangu di mulut Goa Selomangleng.


"Klungsur belum lapar Nisanak", jawab Klungsur yang seolah tak betah berlama-lama menunggu kedatangan Arya Pethak.


Kriiuukk krrruukkkk...


Bunyi perut Klungsur terdengar keras. Rara Larasati tersenyum tipis mendengar nya.


"Sudah jangan alasan lagi. Mulut mu bisa bilang tidak Sur, tapi bunyi perut mu tak bisa berbohong.


Ayo makan", Rara Larasati langsung menarik tangan Klungsur menuju ke bawah pohon rindang dan tumbuh di dekat mulut Goa Selomangleng. Mereka lantas menikmati makanan yang di beli oleh Mayang Koro dan Jalu Langit bersama-sama.


Sementara itu, Arya Pethak merasakan kekuatan nya berangsur meningkat secara dramatis. Setiap titik nadi dan urat syaraf nya penuh dengan tenaga dalam yang luar biasa.


Setelah bulan purnama ke empat di alam kasat mata , Arya Pethak yang terus menerus meningkatkan upaya nya untuk meleburkan Batu Inti Naga ke dalam tubuhnya akhirnya tinggal sedikit lagi menuju keberhasilan.


Dari kejauhan Sang Naga Api terus memperhatikan perubahan wujud tenaga dalam dari Arya Pethak. Dari yang semula kecil hingga kini ke titik luar biasa.


"Bocah ini hebat. Pasti akan menjadi pendekar pilih tanding di masa depan.


Aura dan tubuh nya mirip dengan si raja tukang kawin itu hehehe..


Ahhh setelah sekian ratus tahun akhirnya aku hampir menyelesaikan tugas ku sebelum moksa ke nirwana", gumam Sang Naga Api sambil melihat tubuh Arya Pethak yang bersinar kuning keemasan dengan terangnya.


Mendekati tahap akhir peleburan Batu Inti Naga, godaan di pertapaan Arya Pethak sungguh hebat. Bayangan ayah angkat nya Mpu Prawira dan Nyi Ratih yang tengah meminta pertolongan, Dewi Retno Wulan yang memanggil nya, juga Sekarwangi dan Paramita yang menggoda nya untuk menghentikan pertapaan nya membuat Arya Pethak harus sekuat tenaga bertahan.


Setelah hampir 5 purnama bertapa dalam alam kasat mata, Arya Pethak berhasil meleburkan Batu Inti Naga ke dalam tubuh nya. Kini tenaga dalam nya sudah meningkat 4 kali lipat dari sebelumnya. Jika dia menghadapi Pengemis Tapak Darah ataupun Kalayaksa hari ini, mereka sudah bukan tandingan Arya Pethak lagi.


Saat butiran kecil terakhir melebur, Sang Naga Api membangunkan pertapaan Arya Pethak.


"Arya Pethak, bangunlah dari semedi mu!


Sudah waktunya kau untuk kembali", ucap Sang Naga Api yang membuat Arya Pethak membuka mata nya.


"Kau sudah menyelesaikan pertapaan mu dalam meleburkan Batu Inti Naga untuk bersatu dengan jasad mu.


Kini kau sudah menjadi pendekar pilih tanding. Namun sebelum aku mengantar mu ke alam manusia, aku akan memberikan hadiah perpisahan untuk mu. Ini adalah hak setiap keturunan Lokapala", imbuh Sang Naga Api sembari menyentuh kening Arya Pethak dengan ujung kuku jari nya.


Tiba-tiba sebuah lingkaran berwarna kuning keemasan muncul di kening Arya Pethak.


"Apa ini Eyang Naga Api?", tanya Arya Pethak segera.


"Ini adalah Rajah Kala Cakra Buana. Setiap satu generasi keturunan Lokapala, akan ada seorang yang terpilih untuk menjadi penjaga kedamaian Tanah Jawadwipa.


Sekarang sudah saatnya kau pulang. Teman teman mu masih setia menunggu mu di luar Goa Selomangleng ini", ujar Sang Naga Api yang kemudian mengeluarkan sinar menyilaukan mata. Mata Arya Pethak langsung terpejam rapat. Saat membuka mata nya, Arya Pethak telah kembali ke tempat semula dia bersemedi.


"Sudah purna tugas ku menjadi penjaga keturunan Lokapala. Aku sekarang bebas.


Selamat tinggal Arya Pethak ", ujar Sang Naga Api yang tubuhnya perlahan menghilang. Saat Sang Naga Api menghilang seluruh nya, tiba-tiba langit langit Goa Selomangleng mulai runtuh. Suara gemuruh nya terdengar oleh kawan kawan Arya Pethak yang ada di luar Goa Selomangleng.


"Celaka!


Goa nya runtuh!! Aku harus menolong Ndoro Pethak ", teriak Klungsur sembari hendak berlari menuju ke arah mulut Goa Selomangleng. Mayang Koro langsung memegangi tangan Klungsur untuk tidak masuk ke dalam goa.


Anjani pun hendak melesat maju ke arah Goa Selomangleng namun secepat kilat, Nyi Sawitri segera mencekal lengan nya sembari menggelengkan kepalanya.


Debu beterbangan dari dalam mulut Goa Selomangleng. Semua orang hanya bisa pasrah saja sembari menatap mulut goa dengan mata berkaca-kaca.


Saat semua orang telah putus asa dengan kehidupan Arya Pethak, sebuah suara muncul di mulut Goa Selomangleng.


"Uhhhuukkk uhuukkkk!!!"


Semua orang segera menatap sosok yang muncul dari debu beterbangan itu. Begitu mereka melihat sosok Arya Pethak yang muncul, mereka segera menghambur ke arah Arya Pethak.


"Puja Dewa Wisnu,


Ndoro Pethak kau selamat!", ujar Anjani sambil memeluk tubuh Arya Pethak.


"Syukurlah Ndoro Pethak selamat. Aku sempat ketakutan tadi", Klungsur menimpali.


Arya Pethak tersenyum simpul melihat tingkah Klungsur dan Anjani. Pun Nyi Sawitri, Rara Larasati, Mayang Koro dan Jalu Langit mendekati mereka bertiga.


"Sepertinya kau berhasil mendapatkan batu mustika itu, Arya Pethak..


Aku lihat tenaga dalam mu sudah meningkat jauh lebih tinggi dari sebelumnya", ujar Nyi Sawitri sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Semua atas dukungan dari mu Nini Dewi, juga kalian semua. Aku mengucapkan terima kasih banyak kepada semua nya", Arya Pethak membungkukkan badannya.


"Tapi tunggu dulu Arya Pethak..


Bagaimana bisa Goa Selomangleng ini runtuh? Padahal goa ini sudah lama aku tahu", Mayang Koro menatap wajah Arya Pethak sembari mengernyitkan keningnya.


"Penunggu Gunung Penanggungan yang mendiami Goa Selomangleng sudah moksa ke nirwana. Tentu saja goa ini runtuh", mendengar penuturan Arya Pethak, semua orang nampak terkejut. Berbagai pertanyaan melintas di kepala mereka.


"Ah sudahlah, yang penting Arya Pethak sudah mendapatkan yang dia cari. Ayo kita turun dari tempat ini", ujar Jalu Langit sembari melangkah ke jalan setapak yang menuruni tempat itu.


Mereka bertujuh segera menuruni jalan itu untuk kembali ke Kota Pakuwon Bandar.


Begitu sampai di kota, Mayang Koro dan Jalu Langit berpamitan kepada Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Senang mengenal mu, Arya Pethak..


Semoga Hyang Tunggal memberikan umur panjang agar kelak kita bisa bersama lagi", ujar Mayang Koro dengan cepat.


"Aku juga senang mengenal mu, Kisanak.


Aku berterimakasih kepada mu telah membantu menjaga kawan kawan ku selama aku bertapa kemarin", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Kalau ada kesempatan, main lah ke Kota Kadipaten Matahun. Cari saja aku di istana Kadipaten. Aku pasti akan sangat senang sekali", ucap Mayang Koro sembari melompat ke atas kuda nya diikuti oleh Jalu Langit. Dua orang kerabat Istana Matahun itu dengan cepat menggebrak kudanya menuju ke arah Utara.


Rombongan Arya Pethak langsung bergerak ke barat. Meninggalkan Kota Pakuwon Bandar menuju Pakuwon Nangkan.


Sepanjang perjalanan ini udara segar terasa mengalir dari sisi Gunung Arjuna di sebelah selatan.


Hari menjelang sore. Langit terlihat memerah pertanda sebentar lagi malam akan turun di wilayah Pakuwon Nangkan. Untung saja rombongan Arya Pethak sudah memasuki sebuah perkampungan kecil bernama Desa Karang Kitri yang ada timur hutan perbatasan Pakuwon Nangkan dan Pakuwon Lantir. Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang terletak paling ujung timur.


Arya Pethak segera melompat turun dari kudanya diikuti oleh keempat anggota rombongan nya. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam halaman rumah. Seorang lelaki berusia 3 warsa segera menyambut kedatangan Arya Pethak.


"Permisi Kisanak..


Kami pengembara dari Kadiri. Dalam perjalanan pulang. Kalau boleh tau, apakah ada penginapan di tempat ini?", tanya Arya Pethak dengan sopan. Lelaki berkumis tipis itu sejenak menatap wajah Arya Pethak. Setelah yakin dia orang baik, lelaki berkumis tipis itu tersenyum.


"Di kampung kami tidak ada penginapan, Kisanak..


Kalau bersedia untuk menginap di rumah kami, kalian aku ijinkan. Tapi maaf jika tempat ini tidak sebersih dan sebagus penginapan", ujar si lelaki berkumis tipis itu dengan ramah.


"Sudah mendapatkan tempat untuk bermalam saja, kami sangat bersyukur Kisanak..


Aku Arya Pethak sangat berterima kasih", balas Arya Pethak sambil tersenyum.


Malam itu rombongan Arya Pethak bermalam di tempat Randu Para, si lelaki berkumis tipis itu. Di dalam rumah itu ada Ratnawati istrinya dan Seta Wahana, putra semata wayangnya. Keakraban segera terjalin antara Seta Wahana dan Klungsur yang suka bermain dengan anak kecil.


Malam semakin larut. Suasana tenang yang baru saja mereka miliki terganggu dengan suara keras dari kentongan bertalu-talu tanda adanya bahaya.


"Ada perampok menyerang desa!! Ada rampok!!", teriakan keras terdengar dari rumah kepala desa Karang Kitri.


Arya Pethak dan Nyi Sawitri segera melompat keluar rumah beserta Randu Para dan Klungsur. Nyi Ratnawati dan Seta Wahana meringkuk ketakutan di sudut rumah.


Dari arah barat, terlihat asap tebal dan semburat merah tanda kebakaran sedang terjadi. Arya Pethak segera menoleh ke arah Anjani dan Rara Larasati yang ada di belakang nya.


"Anjani, Laras..


Kalian berdua tolong berjaga di tempat ini. Aku dan saudara Randu Para akan melihat keadaan", pinta Arya Pethak segera.


"Kami mengerti ", jawab Anjani dan Rara Larasati bersamaan.


"Arya Pethak, aku ikut melihat ", ujar Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar segera. Arya Pethak langsung mengangguk mengerti.


"Ndoro Pethak, aku ikut!", Klungsur berlari menyusul Arya Pethak yang melesat cepat kearah kobaran api yang menyala di barat Desa Karang Kitri.


Suasana kacau balau. Puluhan orang berlarian menyelamatkan diri dari api juga dari sekelompok orang berpakaian hitam-hitam yang menaiki kuda sambil mengayunkan senjata mereka ke arah penduduk Karang Kitri.


"Ayo hancurkan desa ini hahahaha..


Kroco kroco ini pantas mati!", teriak seorang lelaki berpakaian hitam-hitam yang mengenakan topeng kayu bercat biru sembari mengayunkan pedang tombak nya ke arah seorang lelaki muda yang mencoba melarikan diri.


Chrraaasssshhh!!


Si penduduk desa Karang Kitri itu langsung terjungkal dengan luka tebas pada punggungnya.


"Perampok keji!


Kalian cari mati rupanya!!", teriak Randu Para sembari melesat cepat kearah para perampok itu sembari mengayunkan golok besar nya.


Whhuuuuuuuggggh


Seorang perampok yang tengah memanggul peti kayu hasil rampokan bernasib sial. Tebasan golok besar Randu Para langsung menebas leher nya.


Chhrrrraaaaaassss..


Kepala perampok itu langsung menggelinding ke tanah. Usai menghabisi nyawa seorang perampok, Randu Para melesat cepat kearah beberapa perampok yang sudah bersiap dengan senjata mereka masing-masing.


Nyi Sawitri melesat cepat kearah dua perampok yang tengah menarik seorang perempuan muda sambil tertawa-tawa. Dengan geram Nyi Sawitri mengayunkan pedangnya kearah si perampok itu.

__ADS_1


Whuuussshh..


Perampok yang tidak menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, langsung menjerit keras saat pedang Nyi Sawitri membabat lengannya.


Chhrrrraaaaaassss!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Tidak berhenti sampai disitu, Nyi Sawitri merubah gerakan tubuhnya dan kembali melesat ke arah perampok yang tengah kesakitan karena lengannya putus. Kali ini sabetan pedang Nyi Sawitri langsung memotong lehernya hingga akhirnya si perampok roboh dengan kepala terpisah dari badan.


Klungsur tak mau kalah. Abdi setia Arya Pethak itu langsung menyambar pemukul kentongan yang terbuat dari kayu Sono di dekat nya. Kayu sebesar lengan orang dewasa dan sepanjang setengah depa itu langsung dia hantamkan pada kepala seorang anggota perampok yang baru saja keluar dari sebuah rumah.


Prrraaaakkkkkkk..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Si perampok naas langsung tersungkur ke tanah dengan kepala pecah berlumur darah segar.


"Nah itu, rasakan tabuh kentongan ini. Nikmat bukan? Mampus kau sekarang!", ujar Klungsur sembari menyepak tangan si perampok untuk memastikan bahwa dia sudah benar benar mati atau masih hidup.


Klungsur yang tidak waspada, langsung di tebas pedang seorang perampok dari belakang.


Thrrraaannnnggggg!!


Klungsur yang mendapat Jimat Lulang Kebo Landoh langsung menoleh ke belakang. Dia mendelik tajam ke arah penyerang tadi yang terkejut melihat pedangnya seperti tidak mampu menembus kulit Klungsur.


"Ehh ehhh main belakang to? Kau benar benar cari mati ya", ujar Klungsur yang segera melompat ke arah si penyerang sambil mengayunkan tabuh kentongan nya.


Si perampok sedikit terlambat menghindar hingga gebukan tabuh kentongan menghantam pinggang nya.


Bhuuukkkhhh...


Ouuuuggghhhh!!!


Si perampok langsung terhuyung huyung kesamping sembari memegang pinggang nya yang sakit. Dari arah yang berlawanan, Arya Pethak langsung menghantam kepala sang perampok dengan keras.


Brrraaaakkkkkkkk!!


Arya Pethak melihat sebuah kalung berliontin kalajengking di leher sang perampok yang baru dia habisi. Dengan cepat ia meraih kalung berliontin kalajengking itu untuk memastikannya.


"Kelompok Kalajengking Hitam!


Kenapa mereka bisa sampai di tempat ini?", Arya Pethak meremas liontin kalung itu hingga hancur.


Saat Arya Pethak hendak beranjak, dua sinar kuning berbentuk setengah lingkaran melesat cepat kearah nya. Menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak segera menyambar tubuh Klungsur untuk menjauhi tempat itu.


Whhhuuuuuttttthhhh whhhuuuggghhhh..


Blllaaammmmmmmm blammmmm!!!


"Keparat!


Tunjukkan rupa mu! Jangan cuma jadi pengecut yang menyerang sembunyi-sembunyi", teriak Arya Pethak sembari menurunkan tubuh Klungsur di sampingnya.


Dari atas rimbun pohon, seorang lelaki bertubuh kekar dengan pakaian hitam dan memakai topeng setengah wajah bercat biru melayang turun ke hadapan Arya Pethak dan Klungsur. Melihat dari rambutnya yang putih juga kumis dan jenggotnya yang berwarna putih sepertinya dia tidak muda lagi. Di kedua tangannya ada dua buah pedang kembar aneh yang melengkung seperti bulan sabit.


"Hahahaha...


Kau lumayan! Kau bisa menghindari Tebasan Bulan Sabit ku, itu artinya aku layak untuk turun tangan.


Tapi aku Pendekar Bulan Sabit Emas tidak akan bermurah hati menghadapi cecunguk seperti kau!", ujar si lelaki bertopeng biru itu dengan keras. Arya Pethak menyeringai lebar melihat kemunculan pimpinan anggota Kelompok Kelabang Ireng itu.


'Saatnya mencoba kekuatan baru ku'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Pasukan begadang siapkan kopi dan cemilan nya. Kita begadang lagi malam ini hehehe..


__ADS_2