Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Iblis Golok Pucat


__ADS_3

Arya Pethak melompat tinggi ke udara usai melihat mayat Kebo Gunung yang terkapar di tanah. Pemuda tampan berbaju putih itu langsung melesat turun ke arah para pengacau keamanan yang merusak desa Karangan.


Beberapa mayat prajurit Kadipaten Kurawan dan anggota Kelompok Kelabang Ireng bergelimpangan dimana-mana. Jerit kesakitan dan kematian yang memilukan hati terbentang di ujung barat Desa Karangan. Asap tebal membumbung tinggi ke udara dari beberapa rumah yang di bakar Kelompok Kelabang Ireng.


Melihat kematian Kebo Gunung, sisa sisa anggota Kelompok Kelabang Ireng berniat untuk mundur. Bango Ireng yang baru saja menghajar Bekel Menjangan Kalung melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi dia dan kelompoknya, menjejak tanah dengan keras kearah barat bermaksud untuk melarikan diri.


Namun, Arya Pethak yang melihat pergerakan lelaki bertubuh kurus itu dengan cepat mencegat di depan nya.


"Mau kemana kau?", tanya Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah Bango Ireng yang terperanjat melihat kecepatan Arya Pethak.


"Huuuhhhh...


Hanya karena sudah mengalahkan Kebo Gunung belum tentu kau bisa mengalahkan ku, anak muda.


Ayo kita bertarung!", ucap Bango Ireng sambil mengacungkan sebilah sabit panjang yang menjadi senjata andalan nya.


"Ku penuhi permintaan mu, lelaki kurus.


Dan aku berjanji jika aku bisa mengalahkan mu maka seluruh anggota Kelompok Kelabang Ireng akan aku hancurkan", ujar Arya Pethak sambil menyeringai lebar. Usai berkata demikian, Arya Pethak segera melesat cepat kearah Bango Ireng menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin nya.


Bango Ireng segera ayunkan sabit panjang nya, memangkas pergerakan Arya Pethak yang menuju kearah nya.


Bhreeeeeetttttt...


Sabetan sabit panjang Bango Ireng ternyata hanya menghajar udara kosong karena perubahan gerakan Arya Pethak. Mata pria kurus berpakaian hitam-hitam itu melotot lebar. Dengan bantuan Ajian Sampar Awan nya dia berusaha untuk menghindari tendangan Arya Pethak yang tiba-tiba saja terarah pada perutnya. Tubuh kurusnya melesat cepat kearah samping sambil membabatkan sabit panjang nya.


Whuuuuuutttthhhh..


Namun sekejap mata kemudian terdengar suara jeritan dari mulut Bango Ireng.


Aaauuuuggggghhhhh!.


Sebuah pukulan menghantam pinggang Bango Ireng, membuat pria bertubuh kurus itu terpelanting ke samping kanan dan menghantam tanah dengan keras. Serangan terakhir Arya Pethak tidak sempat di hindari oleh orang yang di hormati pada Kelompok Kelabang Ireng itu.


Bango Ireng mengusap darah yang mengalir dari mulut nya. Pukulan keras Arya Pethak rupanya di lambari tenaga dalam tingkat tinggi. Dada Bango Ireng terasa sesak. Pria kurus itu berusaha untuk bangkit dari tempat jatuhnya. Sabit nya terlempar jauh dan menancap pada sebatang pohon randu yang ada di rumah warga Desa Karangan.


"Keparat kau anak muda!


Kau tidak akan ku ampuni!", maki Bango Ireng sambil menatap tajam ke arah Arya Pethak. Diam diam dia menggenggam tanah dari tempat jatuhnya.


Sambil berusaha bangkit, tangan kanannya tiba-tiba di liputi oleh sinar hijau kehitaman yang menimbulkan bau busuk yang menyengat hidung.


"Ajian Penghancur Mayat...


Hiyyyyaaaaaaaatttttt!!!"


Tangan kiri Bango Ireng melemparkan debu di tangan kiri nya dengan cepat. Arya Pethak yang terkejut dengan tindakan pengecut itu segera menutup mata nya dan menyilangkan kedua tangan nya di depan wajah. Secepat kilat Bango Ireng menghantamkan tangan kanannya ke arah dada Arya Pethak.


Blaaarrrhhh!!!


Ledakan keras terdengar saat sinar hijau kehitaman Ajian Penghancur Mayat menghantam tubuh Arya Pethak. Asap tebal menutupi seluruh tubuh pendekar dari Bukit Kahayunan itu. Bango Ireng menyeringai lebar namun itu hanya sebentar karena tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam perut Bango Ireng.


Dhiiieeeessshh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Bango Ireng menjerit keras. Tubuhnya terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.


Huooooggghhhh!


Pria kurus itu muntah darah kehitaman pertanda dia menderita luka dalam serius. Sambil mendekap dadanya yang terasa sakit, mata Bango Ireng melotot melihat Arya Pethak yang masih segar bugar melangkah ke arah nya.


"Kaaauuu...


Bagaimana bisa?", tanya Bango Ireng dengan terbata bata. Dia benar-benar terkejut. Ajian Penghancur Mayat nya yang mampu membunuh seekor gajah tidak mampu melukai kulit Arya Pethak.


"Kau kenapa? Kaget melihat ku masih baik baik saja?


Ajian kedigdayaan mu tidak akan mampu menembus Ajian Lembu Sekilan ku keparat. Sekarang akan ku antar kau ke neraka", ucap Arya Pethak lalu bersiap untuk mengambil nyawa Bango Ireng.


"Tu-tunggu pendekar mu-muda..


Ampuni nyawa ku. Akan ku berikan semua yang kau inginkan", hiba Bango Ireng memohon agar nyawa nya diampuni. Arya Pethak tertegun sejenak.


"Baik,


Beritahukan kepada ku dimana markas Kelompok Kelabang Ireng. Cepat!", hardik Arya Pethak dengan lantang.

__ADS_1


"Markas Kelompok Kelabang Ireng terbagi menjadi 4 wilayah. Timur ada di wilayah Pakuwon Wanakerta di Kadipaten Anjuk Ladang, Tengah ada di Pakuwon Gangsir Kadipaten Lewa, Utara di barat Kadipaten Lasem, Barat di Pakuwon Gangsir di lereng Gunung Lawu wilayah Kadipaten Kurawan", ujar Bango Ireng sambil meringis menahan rasa sakit pada dadanya.


"Lalu dimana keberadaan Kumaradewa yang berjuluk Kelabang Ireng itu tinggal?


Cepat katakan", tanya Arya Pethak sambil mendelik tajam ke arah Bango Ireng.


"A-aku tidak tahu..


Pemimpin tertinggi tidak pernah di satu tempat yang sama untuk waktu yang lama. Ta-tapi dia selalu memakai topeng kayu berwarna merah dengan hiasan kelabang.


Aku sudah memberi tahukan semuanya, sekarang lepaskan aku", Bango Ireng sambil meremas dadanya yang terasa sesak berusaha berdiri untuk menjauh dari tempat itu.


Dari keseluruhan anggota Kelompok Kelabang Ireng, hanya dia yang tersisa. Anak buah dan kawan-kawan nya sudah tewas di bantai Paramita, Sekarwangi, Gajah Wiru dan Klungsur serta para prajurit Kadipaten Kurawan yang terbilang jago jago dalam ilmu beladiri.


"Baiklah akan ku penuhi janji ku. Pergilah dari sini", ujar Arya Pethak dengan cepat. Mendengar jawaban itu, Bango Ireng segera berjalan tertatih menjauhi desa Karangan.


"Kakang Pethak,


Kenapa kau lepaskan dia?", tanya Sekarwangi yang berjalan mendekati Arya Pethak.


"Apa kau pikir aku sebodoh itu Ndoro Putri?


Hanya dia yang masih hidup. Jika kembali ke markas Kelompok Kelabang Ireng di Kurawan, maka dia akan mati di tangan pemimpin kelompok itu karena sudah membocorkan rahasia kelompok Kelabang Ireng.


Jika dia tidak kembali, maka seumur hidup dia akan di buru oleh kelompok Kelabang Ireng karena dianggap berkhianat. Dan itu sudah menjadi hukuman yang setimpal atas perbuatannya", jawab Arya Pethak sambil tersenyum simpul.


Sekarwangi hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Arya Pethak.


Ki Lurah Tondowongso yang menyaksikan pertarungan mereka dari jauh buru buru mendekat ke arah mereka.


Hari itu dari ke 15 prajurit Kadipaten Kurawan, 5 orang tewas, 2 luka berat, 1 luka sedang dan satu lagi luka ringan. Tumenggung Jaran Gandi sendiri menderita luka dalam sedang hingga dia harus beristirahat 3 hari untuk memulihkan keadaan tubuhnya. Bekel Menjangan Kalung juga luka dalam serius setelah di hajar Bango Ireng habis-habisan. Andai Bango Ireng tidak berniat melarikan diri pasti nyawa Bekel Menjangan Kalung berakhir di tangan Bango Ireng.


Sedangkan dari pihak Arya Pethak, hanya Gajah Wiru saja yang menderita luka dalam sedang. Klungsur meski mata dan pipi kirinya gosong serta bibir pecah karena pukulan anak buah Kelompok Kelabang Ireng tapi masih bisa bergerak bebas. Pun Sekarwangi dan Paramita juga, hanya menderita beberapa luka sayat kecil. Sedangkan Arya Pethak bajunya hancur akibat serangan Bango Ireng tadi namun dia masih baik baik saja.


Lurah Tondowongso di bantu oleh warga Desa Karangan membawa para prajurit Kadipaten Kurawan kembali ke rumah kediaman sang lurah. Sementara para warga desa yang lain menguburkan mayat mayat dari para prajurit Kadipaten Kurawan. Untuk para anggota Kelompok Kelabang Ireng, mereka menumpuk nya di hutan tapal batas desa lalu mereka membakar nya agar tidak menjadi sarang penyakit.


Seorang tabib dari Desa Karangan di datangkan untuk mengobati luka luka para prajurit Kadipaten Kurawan, sedangkan untuk kawan-kawan Arya Pethak diurus sendiri oleh Paramita sang cucu Begawan Tirta Wening, sang Dewa Obat dari Selatan.


Klungsur tengah beristirahat di beranda kediaman Ki Lurah Tondowongso senja itu. Bekas pukulan anak buah Kelompok Kelabang Ireng masih membekas hitam di mata kirinya. Bobok beras kencur yang di buntal kain buatan Paramita dia tekan perlahan ke memar di matanya. Sesekali mulutnya meringis menahan rasa sakit.


Dari arah belakang, Rara Saraswati berjalan mendekati nya.


"Eh ada putri Ki Lurah,


Walah tidak apa apa kog. Cuma memar biasa saja, sudah biasa kalau habis bertarung ya pasti begini Nimas", ujar Klungsur sembari tersenyum kecut.


Rara Saraswati lantas duduk di samping Klungsur seraya meletakkan nampan berisi jagung rebus dan satu kendi air minum di samping pria bertubuh bogel itu.


"Oh begitu ya..


Tapi teman mu yang satu itu kog tidak apa apa Kang? Padahal Gusti Tumenggung Jaran Gandi dan para prajurit Kadipaten Kurawan saja babak belur begitu", tanya Rara Saraswati yang terlihat begitu penasaran dengan keadaan Arya Pethak yang masih baik baik saja.


"Woh kalau dia jangan disamakan Nimas..


Ilmu kanuragan nya bukan sembarangan. Ini bukan omong kosong belaka. Aku sudah berulang kali melihat dia melawan pendekar pendekar tangguh, dan semuanya kalah melawan Ndoro Pethak", jawab Klungsur sembari meletakkan bobok beras kencur yang di buntal kain. Tangan kanan nya mengambil jagung rebus dan memakannya.


"Memang dia dari perguruan silat mana Kang?


Bisa sehebat itu", tanya Rara Saraswati sambil menatap ke arah Klungsur.


"Aku kurang tau Nimas, tapi yang jelas Ndoro Pethak itu berasal dari sebuah wilayah di kaki Gunung Kelud.


Yang aku dengar, orang tuanya di bunuh Kelompok Kelabang Ireng", ujar Klungsur sambil terus mengunyah jagung rebus nya. Habis satu potong, dia mengambil sepotong lagi.


Rara Saraswati manggut-manggut saja mendengar penjelasan Klungsur. Dalam hati dia semakin mengagumi Arya Pethak, sosok pria tampan yang telah mencuri hati nya sejak pertama kali datang di kediaman Ki Lurah Tondowongso.


Langit barat semakin memerah pertanda sang malam akan segera turun menguasai seisi bumi. Ratusan kelelawar dari hutan kecil di selatan Desa Karangan nampak keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Burung burung malam pun perlahan bergerak sambil mengeluarkan bunyi bunyi yang menambah suasana sepi di wilayah Desa Karangan.


**


Di barat Desa Karangan, tepatnya di kota Pakuwon Binangun, nampak seorang lelaki berumur 3 warsa nampak duduk di kursi kayu sebuah warung makan yang cukup ramai.


Rambutnya yang panjang nampak menutupi hampir separuh wajah nya hingga wajah pria itu tidak terlihat jelas. Hanya sepasang mata tajam bagai mata elang tengah mencari mangsa yang tampak dari pria itu. Kulit nya yang pucat bagai kapuk randu terlihat saat tangan pria itu menarik kendi air minum dari atas meja.


Bajunya yang robek disana sini di tambah sebuah golok besar yang terpasang di punggungnya semakin menambah kesan menyeramkan pada diri sang lelaki.


Sekumpulan pria bersenjatakan pedang masuk ke dalam warung makan itu. Pandangan mereka langsung tertuju pada si lelaki yang duduk di meja pada sudut ruangan warung makan.

__ADS_1


"Itu dia orangnya. Kepung dia!", teriak seorang lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos sambil mengacungkan pedangnya ke arah lelaki berkulit pucat itu segera.


Puluhan orang itu segera mengepung si lelaki berkulit pucat. Orang orang yang ada di dalam warung makan langsung berhamburan keluar karena takut ikut menjadi korban serangan nyasar.


"Huhhhhh..


Sekarang kau tidak bisa lolos, Iblis Golok Pucat.


Hari ini kau akan mati disini", hardik si pria berkepala plontos itu segera. Dia adalah salah satu murid Padepokan Gunung Hijau. Dia sudah memburu Iblis Golok Pucat selama hampir satu purnama.


Lelaki berjuluk Iblis Golok Pucat telah membantai seorang murid utama Padepokan Gunung Hijau tempo hari beserta 3 orang anak murid padepokan yang lain waktu ada masalah di tepi kota Kadipaten Kurawan. Iblis Golok Pucat memenggal kepalanya dan membantai dengan kejam 3 orang pengikutnya.


Satu anggukan kepala dari pria berkepala plontos membuat anak buah nya maju sambil membabatkan pedang nya.


Iblis Golok Pucat segera melemparkan tulang ayam yang baru dia makan kearah si penyerang.


Whuuthhh..


Plaaaakkkk...


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Si penyerang langsung menjerit keras saat tulang ayam menghantam dada nya. Dia terpental dan menabrak meja makan yang ada di belakang nya. Meja makan warung itu langsung hancur berantakan.


Melihat kawannya jatuh, puluhan orang segera membabatkan pedang nya kearah Iblis Golok Pucat.


Lelaki bertampang menakutkan itu segera menepuk meja makan. Tubuhnya melenting tinggi ke langit langit warung makan hingga puluhan pedang anak murid Padepokan Gunung Hijau menghajar meja makan warung itu.


Bhhruuuaaaakkk!!


Meja makan warung itu hancur terkena sabetan pedang. Sementara Iblis Golok Pucat menyeringai lebar melihat itu semua. Lalu lelaki itu melompat turun ke arah pintu warung makan.


Si lelaki berkepala plontos itu segera mengejar Iblis Golok Pucat sambil membabatkan pedang nya.


Shhhrreeeetttthhhh..


Si Iblis Golok Pucat langsung melesat ke arah halaman warung makan sambil menghunus golok besar nya. Golok besar itu terlihat berkilat di timpa cahaya obor yang menerangi halaman. Sambil menyeringai lebar, Iblis Golok Pucat berteriak lantang dengan suara berat nya.


"Ayo ku ladeni kemauan kalian disini, cecunguk Padepokan Gunung Hijau!".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁


__ADS_2