
Liu Shing terkejut bukan main mendengar ucapan Ma Huang. Kepala pengawalan saudagar Hu Jintao dari negeri Tiongkok itu langsung sadar bahwa ia di jebak oleh Juragan Bandil. Dia langsung menyesali kebodohannya menerima perintah pembunuhan itu.
Asal tahu saja, dalam surat yang ditulis oleh Ratu Dewi Sekar Rinonce di sebutkan agar Juragan Bandil mencari kambing hitam untuk membuat keributan di istana Kadipaten Kembang Kuning agar perhatian para masyarakat juga kecurigaan Raden Wira Ganggeng atas keterlibatan ibu tiri nya itu dalam pemberontakan Akuwu Semanding Raden Margapati teralihkan.
Tapi sepanjang tindakan Padmi yang di ketahui oleh Raden Wira Ganggeng sebagai utusan Dewi Sekar Rinonce, juga pergerakan Juragan Bandil untuk mencari kambing hitam itu tak lepas dari pengamatan telik sandi yang di tugaskan khusus untuk memata-matai pergerakan mereka.
Malam itu, penjagaan di sekitar istana Kadipaten Kembang Kuning sengaja di longgarkan untuk membuat para pembunuh bayaran ini bisa masuk dengan mudah. Arya Pethak sendiri juga sudah di beri tahu tentang rencana jebakan itu oleh Raden Wira Ganggeng. Kecuali Klungsur, Anjani dan Arya Pethak sudah tahu ini semua.
Tujuan mereka membuat jebakan ini adalah untuk menangkap hidup hidup para pembunuh bayaran yang akan di gunakan untuk menjerat Dewi Sekar Rinonce dan para pengikutnya.
Liu Shing mendengus keras sembari menatap ke arah Arya Pethak.
"Kalau owe harus terbunuh malam ini, itu olang harus ikut sama kita", teriak Liu Shing sembari melesat cepat kearah Arya Pethak. Lima teman Liu Shing pun langsung ikut menerjang maju ke arah Arya Pethak.
Di pintu masuk samping balai tamu kehormatan, Tumenggung Surontanu dan Raden Wira Ganggeng muncul. Juga Nyi Sawitri dan Randu Para yang keluar dari kamar tidur mereka masing-masing usai mendengar ledakan keras tadi. Tumenggung Surontanu, Nyi Sawitri dan Randu Para langsung ikut bergabung dengan Arya Pethak, Klungsur dan Anjani menyambut kedatangan serangan Liu Shing dan kawan kawan nya.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!
Terdengar suara saat dua pedang di tangan Liu Shing menebas udara. Dua larik angin tajam menerabas cepat kearah Arya Pethak mendahului langkah Liu Shing yang bergerak menuju ke arah nya.
Arya Pethak dengan tenang menghindari larikan angin tajam yang menderu kencang kearah nya. Namun Liu Shing yang menggunakan ilmu pedang Sekte Kunlun tak membiarkan Arya Pethak lolos dengan mudah.
Dia bergerak cepat sembari membabatkan pedang nya ke samping kiri Arya Pethak yang merupakan titik mati pergerakan sang Pendekar Pedang Setan.
Tangan kiri Arya Pethak segera menepak ujung sarung pedang. Pedang Setan terlontar dari sarungnya di punggung Arya Pethak ke udara. Dengan cepat Arya Pethak meraih gagang pedang lalu menangkis sabetan pedang Liu Shing segera.
Thrrriiinnnggggg!!
Benturan dua senjata mereka menciptakan bunga api kecil hingga keduanya sama-sama melompat mundur beberapa langkah. Bilah pedang Liu Shing bergetar setelah benturan, hampir saja lepas andai saja genggaman tangan nya tidak kuat.
'Keparat ini rupanya jagoan hebat. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuan ku untuk mengalahkannya', batin Liu Shing sembari menatap tajam ke arah Arya Pethak.
Dengan menjejak tanah dengan keras, Liu Shing segera melesat cepat kearah Arya Pethak. Sabetan pedang nya mengarah pada leher sang pendekar muda.
Shreeeeettttthhh..
Arya Pethak mundur selangkah ke belakang lalu membabatkan Pedang Setan memotong pergerakan Liu Shing segera.
Thhraaaangggggggg!!
Liu Shing terdorong mundur selangkah, di saat yang bersamaan Arya Pethak merubah gerakan tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut Liu Shing.
Pendekar asal Negeri Tiongkok itu memutar pedangnya dan mengayunkan pedang ke arah kaki Arya Pethak dengan sepenuh tenaga dalam nya.
Arya Pethak tidak menghindar dari sabetan pedang Liu Shing karena Ajian Lembu Sekilan sudah melindungi tubuh nya sejak awal pertarungan.
Thrrriiinnnggggg!!
Mata sipit Liu Shing membelalak lebar melihat pedangnya seperti menghantam logam keras. Saat yang bersamaan Arya Pethak menghantam dada Liu Shing dengan tapak kiri nya.
Liu Shing sekuat tenaga menahan hantaman tapak tangan kiri Arya Pethak dengan seluruh tenaga dalam nya dengan menyilangkan tangan kiri di depan dada.
Blllaaaaaarrr!!!
Liu Shing terpelanting ke belakang dan mendarat dengan terdorong mundur nyaris 2 tombak jauhnya. Seteguk darah segar dia muntahkan akibat luka dalam yang di deritanya usai menahan hantaman tapak tangan kiri Arya Pethak.
Dari semua pendekar tanah Jawa yang selama ini ia hadapi, baru Arya Pethak yang mampu membuatnya terluka setelah 4 jurus. Biasanya kecepatan bertarung nya akan membuat para pendekar yang dia hadapi kerepotan, namun berbeda halnya dengan Arya Pethak yang bahkan mampu mengimbangi permainan pedang nya.
"Kau hebat juga, tapi owe masih belum kalah", ujar Liu Shing sembari mengusap sisa darah di sudut bibirnya.
"Kisanak menyerah saja.
Tidak mungkin Kisanak bisa lolos dari kepungan para prajurit Kadipaten Kembang Kuning ini", Arya Pethak tersenyum simpul.
Memang di lihat dari manapun, kelompok Liu Shing tidak mungkin bisa lolos dari sergapan para prajurit Kembang Kuning. Rekan rekan Liu Shing sedang repot melawan teman teman Arya Pethak. Ma Huang keteteran menghadapi Anjani, Li Chung Yun juga sibuk dengan serangan Nyi Sawitri yang menggunakan ilmu pedang andalannya, Wu Ming Tian sedang di hajar Randu Para dengan golok nya. Sedangkan Guo Feng tengah berhadapan dengan Tumenggung Surontanu, beberapa luka sudah menghiasi tubuhnya.
Klungsur mengayunkan kayu yang dia temukan dari samping beranda balai tamu kehormatan untuk melawan salah seorang anggota Kelompok Liu Shing yang bernama Chang Yu. Pedang milik Chang Yu sudah terlepas dari genggaman tangannya.
Chang Yu dengan cepat merunduk menghindari gebukan Klungsur sembari menghantam perut Klungsur dengan sekuat tenaga.
Bhhhuuukkkkkhhh!!
Klungsur terhuyung mundur tapi segera kembali melesat maju ke arah Chang Yu, sembari mengayunkan kayu di tangan nya. Chang Yu terkejut melihat lawan nya tidak mempan dengan hantaman tangan kanan nya yang di lambari tenaga dalam nya. Pria bertubuh kurus itu lebih kaget lagi saat Klungsur sudah di depan nya sembari menghantamkan kayu sebesar betis orang dewasa itu kearah kepalanya.
Whuuutt!!
Chang Yu dengan cepat menangkap ujung kayu dan menahan sekuat tenaga. Melihat itu Klungsur langsung menjejak perut Chang Yu dengan keras.
Bhhhuuuuuuggggh..
__ADS_1
Oouugghhhh!!!
Chang Yu terpental ke belakang dan jatuh terduduk. Tendangan keras Klungsur membuat perutnya sakit dan organ dalam nya seperti hancur.
Tidak membuang kesempatan, Klungsur berlari ke arah Chang Yu yang masih belum berdiri. Dengan cepat ia menghantam kepala Chang Yu dengan kayu nya sekuat tenaga.
Prrraaaakkkkkkk!!!
Chang Yu langsung roboh dengan kepala pecah berlumur darah. Klungsur langsung meludahi mayat Chang Yu setelah memastikan bahwa lawannya itu tewas.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
Usai melampiaskan kekesalannya, Klungsur berlari menuju Anjani yang masih melawan Ma Huang.
Liu Shing menatap geram melihat kawan nya yang terlihat mulai tidak bisa berbuat banyak melawan kawan kawan Arya Pethak. Pria bertubuh kekar itu mulai menggunakan ilmu pamungkas yang jarang dia pergunakan, Ilmu 18 Pedang Kunlun.
Tangan kanan Liu Shing segera bergerak mundur dengan ujung pedang lebih tinggi dari kepala. Sedangkan tangan kirinya merentang sejajar dengan jari telunjuk dan tengah merendah setinggi pinggang. Usai menghembuskan nafas keras, Liu Shing melesat cepat kearah Arya Pethak.
Perubahan kecepatan gerak Liu Shing membuat Arya Pethak sedikit kaget sebelum tersenyum tipis. Pendekar muda itu langsung merapal Ajian Langkah Dewa Angin karena tahu lawan menggunakan kecepatan tinggi.
Dengan sabetan cepat, pedang Liu Shing menebas ke arah leher Arya Pethak. Seketika Arya mengayunkan pedangnya untuk menangkis tebasan pedang Liu Shing.
Thrrriiinnnggggg!!
Liu Shing segera merubah gerakan tubuhnya, dan kembali menyerang Arya Pethak pada titik-titik tertentu yang sanggup melemahkan lawan. Meski kecepatan gerak Liu Shing sangat tinggi, namun dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya, Arya Pethak mampu mengimbangi sabetan pedang bertubi-tubi yang dia lancarkan. Bahkan pada jurus ke sepuluh, Arya Pethak mampu menyarangkan satu pukulan keras kearah bahu kiri Liu Shing setelah menghindari sabetan pedang yang mengincar nyawanya.
Bhuuukkkhhh...
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Liu Shing terdorong mundur sejauh 2 tombak. Nafas pengawal Saudagar Hu Jintao itu ngos-ngosan sembari memegang bahu kiri nya yang seperti dihantam balok kayu besar. Nyeri bercampur sakit dirasakan oleh Liu Shing.
"Apa masih mau dilanjutkan perlawanan mu, pendekar negeri seberang?", Arya Pethak tersenyum tipis ke arah Liu Shing.
"Sombong kau olang..
Owe masih belum kalah", ucap Liu Shing sembari menggerakkan pedangnya ke depan dada. Liu Shing bermaksud melepaskan jurus pamungkas Ilmu 18 Pedang Kunlun dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya.
Pedang di tangan Liu Shing memancarkan hawa dingin yang membekukan. Lelaki bertubuh kekar itu segera mengayunkan pedangnya kearah Arya Pethak.
"Jurus ke 18 Pedang Kunlun, Pedang Dewa Membelah Langit..
Selarik sinar keperakan menerabas cepat kearah Arya Pethak. Desiran angin dingin mengiringi sinar perak itu.
Shreeeeettttthhh!!
Arya Pethak segera menyalurkan Ajian Guntur Saketi ke Pedang Setan di tangan kanannya. Kilatan petir tercipta di Pedang Setan bercampur asap putih berbau busuk. Dengan cepat Arya Pethak mengayunkan pedangnya kearah sinar keperakan yang menuju ke arah nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar dari benturan dua hawa senjata mereka. Arya Pethak terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Liu Shing terpental sambil kembali memuntahkan darah segar. Luka dalam nya cukup serius.
Secepat kilat Arya Pethak melesat cepat kearah Liu Shing dan segera menempelkan Pedang Setan ke arah leher Liu Shing.
"Kau sudah kalah. Menyerah atau mati!", ujar Arya Pethak sembari menatap tajam ke arah Liu Shing yang terduduk di tanah sambil mulutnya masih mengeluarkan darah segar.
Liu Shing pun akhirnya melemparkan pedangnya ke tanah sebagai tanda bahwa dia menyerah. Kawan nya yang lain seperti Ma Huang juga telah berlutut di depan Anjani. Guo Feng terbunuh oleh Tumenggung Surontanu. Wu Ming Tian kehilangan sebelah tangan nya dan Li Chung Yun pingsan setelah di hajar habis-habisan oleh Nyi Sawitri.
Begitu para penyusup itu menyerah, dan para prajurit Kembang Kuning mengikat mereka, Raden Wira Ganggeng segera mendekat.
"Aku ingin dengar dari mulut kalian sendiri. Jika kalian bilang sejujurnya, setelah urusan ku selesai, aku akan memberi kesempatan kepada kalian untuk hidup..
Sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk berani masuk ke dalam istana Kadipaten Kembang Kuning? Dan apa tujuan kalian kemari? Meskipun aku sudah tau siapa orang nya, aku ingin kalian mengaku", Raden Wira Ganggeng menatap tajam ke arah Liu Shing yang berlutut di hadapan nya.
"Ka-kami di suruh Juragan Bandil untuk menghabisi nyawa Arya Pethak, Raden..
Hanya itu yang kami tahu", jawab Liu Shing dengan jujur. Jika Raden Wira Ganggeng menjatuhkan hukuman mati, maka Juragan Bandil harus ikut merasakan kematian juga, pikir Liu Shing.
Seorang lelaki bertubuh kekar langsung mendekat ke arah Raden Wira Ganggeng dan membisikkan sesuatu di telinga pangeran Kembang Kuning itu. Mendengar itu, Raden Wira Ganggeng tersenyum simpul.
"Prajurit!
Bawa mereka semua ke dalam penjara Kota Kadipaten Kembang Kuning. Siapapun orangnya di larang menemui dia tanpa ada ijin dari ku, termasuk kerabat istana.
Cepat bawa mereka!", perintah Raden Wira Ganggeng dengan cepat.
Para prajurit yang mengepung tempat itu langsung membawa Liu Shing dan kawan kawan nya ke penjara Kota Kadipaten Kembang Kuning. Beberapa membereskan mayat Guo Feng dan seorang kawan Liu Shing yang di hajar Klungsur.
"Pendekar Pedang Setan,
__ADS_1
Aku minta bantuan mu untuk menyelesaikan masalah malam ini hingga tuntas. Ayo kita pergi ke tempat Juragan Bandil untuk membongkar rahasia yang tersembunyi di balik tembok istana ini", ajak Raden Wira Ganggeng sambil menatap ke arah Arya Pethak.
"Mari kita segera berangkat", sambut Arya Pethak sambil berjalan keluar dari tempat itu diikuti oleh Klungsur dan Anjani. Randu Para kembali ke kamar nya untuk menjaga Seta Wahana sedangkan Nyi Sawitri juga memilih untuk kembali ke kamar Rara Larasati yang masih terbujur dalam kutuk pasu yang di alaminya.
Juragan Bandil yang baru selesai bermain dengan seorang pelacur tampak mengenakan pakaian nya. Raut wajah pria paruh baya itu menyeringai puas setelah menerima pelayanan dari pelacur yang menjadi primadona tempat itu. Saat dia melangkah keluar, seorang centeng berbadan gempal berlari menuju ke arah nya.
"Gan Juragan Bandil ...
Puluhan prajurit Kadipaten Kembang Kuning ada di depan pintu tempat ini. Mereka mencari mu", ujar sang centeng berbadan besar itu dengan penuh kekhawatiran.
"Apa kau bilang?
Gusti Ratu Dewi Sekar Rinonce sendiri bilang bahwa mereka akan berterima kasih, apa ini yang dia maksudkan? Hehehehe... Kalau begitu aku harus segera menemui mereka", Juragan Bandil tersenyum lebar. Dia mengira bahwa kedatangan para prajurit untuk membawakan hadiah dari Dewi Sekar Rinonce untuk nya. Pria kaya itu langsung bergegas menuju ke arah yang ditunjukkan oleh sang centeng. Dan memang benar, seorang Bekel Prajurit nampak memimpin para prajurit Istana Kembang Kuning.
"Gusti Bekel, malam malam begini mencari hamba..
Apa ada yang bisa hamba bantu?", tanya Juragan Bandil sambil tersenyum penuh arti.
Begitu melihat kedatangan Juragan Bandil, empat orang prajurit bergerak cepat meringkus Juragan Bandil. Lelaki paruh baya itu terkejut bukan main melihat perlakuan yang dia terima.
"Apa maksud semua ini, Gusti Bekel? Bukankah kalian kemari untuk mengantar hadiah?", teriak Juragan Bandil sambil berusaha meronta. Tiba tiba para prajurit langsung membelah pasukan, dan 5 orang melangkah maju ke arah Juragan Bandil. Pria paruh baya itu terkejut bukan main melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
"Hadiah?
Kau memang akan mendapat hadiah setelah mengatakan semua kebenaran pada ku, Juragan Bandil. Jawab pertanyaan ku baik baik, jika tidak setiap kali kau berusaha untuk berbohong pada ku, satu jemari mu akan ku potong.
Katakan, siapa orang yang menyuruh mu mengirim pembunuh bayaran ke istana Kembang Kuning?", tanya Raden Wira Ganggeng dengan menatap tajam ke arah Juragan Bandil.
"Hamba tidak mengerti maksud dari pertanyaan Gusti Pangeran Wira Ganggeng", jawab Juragan Bandil segera.
Raden Wira Ganggeng segera menoleh ke arah seorang prajurit berbadan gempal yang membawa sebuah kapak besar. Segera si prajurit bertubuh gempal itu maju dan meletakan jari kelingking kiri Juragan Bandil ke atas sebuah bonggol kayu yang diusung oleh dua orang prajurit. Sekuat apapun Juragan Bandil meronta namun dia tetap kalah kuat dengan tenaga 4 orang prajurit yang meringkusnya.
Kreesshhhh...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Juragan Bandil. Satu jari nya kini telah hilang. Raden Wira Ganggeng menyeringai lebar melihat itu semua.
"Aku ulang sekali lagi, siapa yang menyuruh mu mengirim pembunuh bayaran itu?", tanya Raden Wira Ganggeng dengan lantang.
Juragan Bandil yang tak mau kehilangan jari nya lagi langsung buka mulut nya. Siksaan kejam Raden Wira Ganggeng pasti akan terus berlanjut andai dia tidak buka mulut.
"Gusti Ratu Dewi Sekar Rinonce yang menyuruh hamba melalui Padmi. Surat perintah nya ada di dalam baju hamba, Gusti Pangeran", jawab Juragan Bandil dengan cepat. Seorang prajurit langsung menggeledah tubuh Juragan Bandil dan menemukan surat yang di maksud. Dia segera menyerahkan pada Raden Wira Ganggeng.
Satu persatu pertanyaan mengenai persekongkolan antara Dewi Sekar Rinonce dan kelompok pemberontak di jawab oleh Juragan Bandil. Raden Wira Ganggeng tersenyum lebar saat pertanyaan terakhir di jawab Juragan Bandil dengan rinci.
"Para prajurit Kadipaten Kembang Kuning, hari ini kalian menjadi saksi dari kebenaran yang diungkapkan Juragan Bandil. Mari kita semua berangkat ke Dalem Keputren Kembang Kuning.
Kita tangkap ibu tiri ku!".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menulis nya dadakan usai ziarah kubur. Mohon dimaafkan jika ada typo ya 😁😁🙏🙏
__ADS_1