
Arya Pethak tersenyum penuh arti. Dia tadi hanya menerka saja karena melihat tahi lalat di sudut kiri mata Ajeng Candrakanti. Bisa saja dia salah namun Ajeng Candrakanti sendiri sudah mengakui bahwa dia adalah Walet Merah dengan pertanyaan nya itu.
Sambil melompat mundur, Ajeng Candrakanti terus menatap ke arah Arya Pethak.
"Hentikan Ndoro Putri, sudah cukup!", ujar Arya Pethak yang membuat Sekarwangi menghentikan pergerakan nya.
"Tapi Kakang Pethak, perempuan itu..."
Belum Sekarwangi menyelesaikan omongannya sudah di potong Arya Pethak.
"Tidak ada tapi tapian. Pertengkaran kalian sudah membuat pasar ini bubar. Coba Ndoro Putri lihat, semua pedagang kabur karena kalian bertarung", ujar Arya Pethak yang membuat Sekarwangi mengedarkan pandangannya ke sekeliling pasar yang sepi.
Tak satupun pedagang atau pembeli terlihat di pasar besar yang tadinya ramai dikunjungi.
"Terus bagaimana ini Kakang?", tanya Sekarwangi yang kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan.
Dari arah timur pasar, serombongan prajurit keamanan Kurawan bergerak cepat mendekati mereka. Rupanya ada yang melaporkan pertarungan mereka pada prajurit Kurawan. adaUntung saja, salah seorang dari mereka mengenali Arya Pethak sebagai tamu agung Kadipaten Kurawan yang sempat dia antar masuk ke dalam istana Kurawan bersama Tumenggung Jaran Gandi.
"Ada apa ini Kisanak?
Kenapa kau ribut di tempat ini?", tanya si prajurit bertubuh gempal itu pada Arya Pethak.
"Mohon maaf, Prajurit.
Tadi ada sedikit kesalahpahaman antara teman ku ini dengan wanita itu. Hingga mereka bertengkar yang membuat para pedagang dan pengunjung pasar ketakutan.
Mohon dimaafkan kesalahan ini. Kami tidak bermaksud membuat kekacauan", jawab Panji Watugunung dengan sopan.
"Hemmmmmmm..
Karena memandang kau sebagai tamu agung kami, maka permasalahan ini kami anggap selesai. Tapi jika kalian membuat keributan lagi, maka kami tidak akan segan lagi terhadap kalian", ujar sang prajurit penjaga keamanan itu segera.
"Kami mengerti Prajurit. Kami berjanji tidak akan membuat keonaran lagi. Kami mohon diri", ujar Arya Pethak yang segera menarik tangan Sekarwangi untuk segera menyingkir dari tempat itu. Paramita pun segera mengikuti langkah Arya Pethak. Begitu juga Klungsur yang mulutnya penuh jajan pasar. Tangan nya masih sempat meraup beberapa potong kue nagasari sebelum berlari menyusul Arya Pethak.
Wantini pun segera menarik tangan Ajeng Candrakanti yang masih berdiri menatap kepergian Arya Pethak yang perlahan menghilang di balik tikungan sudut pasar.
"Ayo Ndoro Putri,
Kita pergi dari sini", ujar Wantini sembari menggelandang tangan Ajeng Candrakanti. Dua orang gadis itu bergegas menyusuri jalan menuju ke rumah mereka seraya menenteng barang belanjaan mereka.
Sesampainya di rumah yang mereka tinggali, kedua perempuan itu segera meletakkan barang belanjaan mereka.
"Tini, sepertinya kita harus pergi dari tempat ini", Ajeng Candrakanti terlihat sudah mempertimbangkan masalah dia dan Arya Pethak berulang kali.
"Loh kenapa Ndoro? Kan kita baru 2 pekan disini sedangkan perjanjian sewa kita dengan Ki Suro selama 2 purnama. Kan sayang duitnya hilang sia-sia Ndoro Putri", protes Wantini sembari mendekat ke arah Ajeng Candrakanti.
"Pemuda itu tahu kalau aku adalah Walet Merah, Tini", ujar Ajeng Candrakanti yang langsung membuat Wantini terkejut.
"Haahhhhh...
Bagaimana bisa Ndoro?", Wantini seakan tak percaya dengan omongan Ajeng Candrakanti.
"Kau biasa saja, jangan bikin raut muka heboh begitu.
Pemuda itu yang membuat aku luka dalam tadi malam. Rupanya dia bisa menilai orang dari perawakan dan suara padahal tadi malam aku tidak bicara sama sekali.
Kau segera kemasi barang barang kita Wantini, besok pagi kita tinggalkan tempat ini", perintah Ajeng Candrakanti segera. Wantini mengangguk pasrah saja. Sebenarnya dia kerasan tinggal di Kadipaten Kurawan namun dia juga patuh pada perintah Ajeng Candrakanti selaku majikannya.
Sedangkan Ajeng Candrakanti entah kenapa tidak bisa melupakan wajah tampan Arya Pethak. Meski hanya pertemuan singkat dengan pemuda itu, tapi ada sesuatu di hati nya yang ikut terbawa oleh Arya Pethak.
Hari itu, Wantini mengemasi barang-barang berharga yang mereka punya. Tak lupa dia menghubungi Ki Wiro, kusir kereta yang bisa disewa untuk mengantarkan Ajeng Candrakanti dan dirinya ke Kadipaten Anjuk Ladang.
"Lho kok buru-buru pindah Nisanak? Kalian kan baru beberapa hari menyewa tempat Ki Suro", tanya Ki Wiro. Lelaki berusia 4 warsa dengan kumis tipis dan tubuh kurus itu nampak keheranan.
"Majikan saya tidak kerasan tinggal di sini Kang.. Katanya pengen pulang ke rumah saudaranya di Anjuk Ladang.
Saya sendiri juga heran dengan sikap nya", jawab Wantini sedikit berbohong kepada Ki Wiro agar lelaki itu tidak banyak bertanya.
"Ya sudahlah,
Besok pagi ya nisanak kita berangkat nya. Saya tak menata persiapan barang sama memperbaiki roda kereta dulu", ujar Ki Wiro sambil tersenyum. Wantini hanya mengangguk saja lalu pamit pulang ke tempat kediaman nya.
Sesampainya di rumah, Wantini melihat Ajeng Candrakanti tengah melamun menatap ke arah langit barat hingga tak menyadari bahwa Wantini, si abdi setia nya sudah pulang dari rumah Ki Wiro.
"Ndoro.. Ndoro Putri...", Wantini memanggil Ajeng Candrakanti namun perempuan itu tak menyahut seruan Wantini.
Baru setelah Wantini menepuk pundak nya, Ajeng Candrakanti segera menoleh ke arah abdi setia nya itu.
"E-eh kau mengagetkan ku saja, Tini..!!", seru Ajeng Candrakanti sambil bersungut-sungut.
"Lha salahnya sendiri siang bolong begini malah melamun...
Hayo lagi memikirkan siapa??", goda Wantini sembari tersenyum.
"Ah kau ini ada saja yang kau lakukan untuk menggoda ku...
Sudah sana selesaikan kemas kemas mu biar besok pagi Ki Wiro datang, kita bisa segera berangkat", usir Ajeng Candrakanti yang berupaya mengalihkan pembicaraan antara mereka.
"Huuuuu dasar Ndoro Putri, ada saja caranya untuk mengusir aku...
__ADS_1
Awas Ndoro Putri, jangan kebanyakan ngelamun nanti kesambet perjaka ganteng loh", goda Wantini sembari berlari menuju ke dalam rumah karena Ajeng Candrakanti melempar nya dengan jajan pasar yang mereka beli tadi.
**
Arya Pethak terus menggelandang tangan Sekarwangi menyusuri jalan menuju Katumenggungan.
Setelah cukup jauh dari pasar kota Kadipaten Kurawan, Arya Pethak melepaskan pegangannya pada tangan Sekarwangi alias Si Ragil Kuning.
Arya Pethak melongok kearah pasar. Begitu melihat para prajurit Kurawan tidak terlihat, Arya Pethak segera menoleh ke arah Sekarwangi.
"Ndoro Putri, saya minta dengan hormat, tolong besok jangan menciptakan keributan lagi seperti tadi.
Saya tidak ingin menarik perhatian dari orang banyak. Ingat tugas kita masih belum selesai. Surat yang dikirim oleh Gusti Patih pasti surat penting, buktinya Gusti Adipati Lembu Panoleh saja butuh waktu untuk menjawabnya.
Jadi saya minta Ndoro Putri untuk sedikit menahan diri dan menghindari segala hal yang akan memancing keributan", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Sekarwangi.
"Jadi Kakang Pethak lebih membela perempuan itu daripada aku?", Sekarwangi yang masih gusar dengan Ajeng Candrakanti, tersulut emosi nya lagi mendengar kata kata Arya Pethak.
"Aku tidak membela siapa siapa Ndoro Putri..
Aku hanya ingin Gusti Putri Sekarwangi lebih bijaksana dalam menyikapi keadaan. Lagipula menurut saya, tugas dari Gusti Patih ini sangat penting, jadi kita harus mengedepankan tugas itu di banding kepentingan pribadi masing masing.
Ingat,
Waktu berangkat kemarin Gusti Putri sudah berjanji untuk patuh terhadap semua omongan ku. Apa Gusti Putri sudah lupa??" , mendengar jawaban itu Sekarwangi segera terdiam.
"Benar omongan Kakang Pethak, Sekarwangi..
Sebaiknya kita lebih berhati-hati di tempat ini. Wilayah Kadipaten Kurawan terkenal dengan kekacauan keamanan nya", timpal Paramita yang sedari tadi hanya diam saja.
"Baik aku mengerti Kakang.
Maafkan aku karena sikap ku yang gampang naik darah tadi", ujar Sekarwangi sambil menunduk. Dia akhirnya menyadari kesalahannya.
"Sudahlah,
Mari kita kembali ke Katumenggungan. Hari sudah sore, sebentar lagi senja akan turun", ajak Arya Pethak segera. Mereka berempat berjalan lurus menuju ke arah Katumenggungan.
Dari arah depan, muncul 5 orang berpakaian merah dengan ikat kepala hitam. Kelihatannya mereka adalah para pendekar dan masih satu perguruan karena pakaian yang mereka pakai serupa. Juga sebilah pedang yang masing-masing di miliki mereka merupakan bukti bahwa mereka adalah orang-orang dunia persilatan.
Salah seorang dari mereka menatap ke arah Arya Pethak. Pria berkumis jarang dengan jenggot lebat itu menatap Arya Pethak dengan pandangan tak berkedip. Seolah memastikan sesuatu.
Saat mereka hendak berpapasan, orang itu lalu berbisik pada seorang lelaki berpakaian merah yang bertubuh kurus di sampingnya.
"Paksi Jambon,
"Bagaimana kalau kita ringkus mereka sekarang, Kakang Bandil?
Ketua kita pasti senang dan kita bisa mendapat hadiah dan kedudukan tinggi di Perguruan Pedang Setan", jawab Paksi Jambon mengompori Cangak Bandil yang langsung tersenyum lebar.
"Tumben kau pintar, Jambon..
Ayo kita tangkap orang itu", ajak Cangak Bandil yang langsung menghadang langkah Arya Pethak dan kawan-kawan.
Melihat gelagat yang tidak baik, Arya Pethak segera mendekati orang yang menghadang langkahnya.
"Permisi Kisanak,
Ada tujuan apa kalian menghadang langkah kami? Sepertinya kita tidak pernah ada masalah sebelumnya", tanya Arya Pethak dengan suara berat dan tenang.
"Kau memang tidak pernah berurusan dengan kami tapi kau telah membunuh saudara seperguruan kami.
Ikut kami ke Perguruan Pedang Setan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mu", hardik Cangak Bandil dengan keras.
"Aku tidak merasa membunuh orang dari Perguruan Pedang Setan. Kalian kan mengada-ada", ujar Arya Pethak yang masih berbicara dengan nada santun.
"Apa kau lupa pernah membunuh seorang lelaki yang bernama Jurang Grawah? Dia adalah kakak seperguruan ku.
Sekarang kau ikut dengan kami, kalau tidak..", Cangak Bandil tidak melanjutkan omongannya.
"Kalau tidak apa?", sahut Paramita yang mulai terpancing amarahnya.
"Jangan salahkan kami bertindak kasar terhadap kalian", lanjut Cangak Bandil sambil menyeringai lebar.
Phuihhhh..
"Kalian pikir kami takut dengan orang orang macam kalian?
Kalau ingin membawa kami, langkahi dulu mayat kami", ucap Paramita yang benar-benar marah. Cucu Begawan Tirta Wening itu kali ini benar benar tak bisa mengendalikan emosi nya.
"Kurang ajar!!
Rupanya kalian ingin mati cepat. Kawan-kawan, kita bunuh mereka!", teriak Cangak Bandil yang langsung membuat keempat kawannya mencabut pedang mereka masing-masing.
Murid murid Perguruan Pedang Setan itu segera menerjang maju ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan.
Arya Pethak, Sekarwangi dan Paramita segera menyambut sabetan pedang dari Cangak Bandil dan kawannya, sedangkan Klungsur memilih bersembunyi di balik pohon besar sambil menghabiskan jajan pasar nya.
Di kepung Cangak Bandil dan Paksi Jambon, Arya Pethak dengan gesit menghindari sabetan pedang Cangak Bandil yang mengincar perut.
__ADS_1
Shreeeeettttthhh...!
Paksi Jambon melihat peluang, langsung mengayunkan pedangnya kearah Arya Pethak yang baru saja lolos dari sabetan pedang Cangak Bandil yang besar.
Dengan cekatan, pedang Paksi Jambon terarah pada leher Arya Pethak. Angin dingin berdesir dari ayunan pedang Paksi Jambon membuat pendekar muda itu jatuhkan diri menghindari sabetan pedang.
Dengan cepat, tangan Arya Pethak bertumpu di tanah lalu kaki kanan Arya Pethak menyapu kaki Paksi Jambon yang sedang rapuh kuda-kuda nya.
Dhiiieeeessshh..
Paksi Jambon meraung keras dan jatuh terjengkang. Tubuh kurus nya menghantam tanah.
Melihat kesempatan, Arya Pethak bergerak cepat hendak menendang kepala Paksi Jambon namun Cangak Bandil yang melihat itu, buru buru membabatkan pedang pada kaki Arya Pethak.
Brreeeeeeeetttttt..
Arya Pethak tarik gerakan kakinya hingga tebasan pedang Cangak Bandil hanya menebas tanah di samping tubuh Paksi Jambon yang terjatuh.
Dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya, Arya Pethak merubah gerakan tubuhnya dan dengan cepat menyikut punggung kiri dengan siku tangan kiri nya.
Dheeeeepppphhh..
Ouuuuggghhhh!!
Cangak Bandil limbung karena kerasnya sikutan Arya Pethak. Gagal menguasai keseimbangan tubuhnya, Cangak Bandil jatuh tengkurap di samping Paksi Jambon yang berusaha untuk bangkit.
Mereka berdua segera bangkit meski sambil meringis menahan rasa sakit. Cangak Bandil pada punggungnya dan Paksi Jambon pada betis kanan nya.
"Bangsat!
Rupanya dia bisa dianggap enteng, Paksi Jambon. Ayo kita keroyok dia", ucap Cangak Bandil yang segera melesat ke arah Arya Pethak bersama Paksi Jambon.
Dengan Ajian Langkah Dewa Angin, gerakan tubuh Arya Pethak bagai kilat melesat cepat kearah dua orang itu.
Gerakan Arya Pethak membuat kedua murid Perguruan Pedang Setan terkejut bukan main karena tiba-tiba saja Arya Pethak sudah di depan mereka sambil mengayunkan kedua tangan nya. Sebisa mungkin mereka menahan hantaman Arya Pethak dengan tenada dalam masing-masing.
Blaaarrr!!
Cangak Bandil dan Paksi Jambon terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dua orang itu langsung muntah darah kehitaman pertanda bahwa mereka menderita luka dalam.
Melihat Paksi Jambon dan Cangak Bandil luka dalam, salah satu orang yang mengeroyok Paramita melesat ke arah Arya Pethak sambil mengayunkan pedangnya.
Whuuthhh..
Shreeeeettttthhh!!!
Saat mereka sibuk bertarung, Cangak Bandil yang batuk batuk kecil segera berbisik pada Paksi Jambon.
"Kau pergilah Paksi Jambon, beritahu ketua bahwa orang dia cari ada di sini. Cepatlah sebelum Wanara Abrit di kalahkan oleh nya", perintah Cangak Bandil dengan cepat.
"Tapi bagaimana dengan kau Kakang Bandil?", tanya Paksi Jambon yang berusaha untuk membantu rencana Cangak Bandil.
"Kau jangan bodoh!
Cepat pergi. Kalau aku mati, tolong balaskan dendam ku. Cepat!", mendengar ucapan itu, Paksi Jambon segera melesat cepat kearah barat daya kota Kadipaten Kurawan.
Setelah Paksi Jambon berhasil kabur, Cangak Bandil segera mengusap darah yang keluar dari mulut nya. Dengan sisa sisa tenaga nya, dia berlari cepat kearah Arya Pethak yang baru menendang perut Wanara Abrit hingga pria bertubuh pendek seperti kera itu terpental ke belakang sejauh hampir 3 tombak.
Angin dingin berbau busuk berdesir kencang kearah punggung Arya Pethak. Menggunakan jurus pamungkas Ilmu Pedang Setan, Cangak Bandil membabatkan pedang nya.
"Mati kau!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁
Selamat membaca 🙏😁😁🙏
__ADS_1