
Mulai dari saat itu, perubahan besar-besaran terjadi pada tatanan masyarakat Wengker. Jika dulu hanya kerabat dekat Istana saja yang bisa menduduki jabatan penting di pemerintahan, kini tindakan seperti itu tidak ada lagi. Semua orang yang memiliki kemampuan beladiri tinggi dan kecerdasan dalam berpikir mendapatkan tempat dalam tata laksana pemerintahan Mandala Wengker.
Setelah tersiar kabar Kota Wengker jatuh, Resi Candramaya mendatangi Istana Mandala Wengker untuk menemui cucu dan cucu menantu nya yakni Nay Kemuning dan Arya Pethak. Kedatangan sang kakek mendapat sambutan hangat dari kedua nya. Saat itu di pendopo agung Mandala Wengker sedang diadakan pertemuan tentang langkah-langkah yang harus dilakukan kedepannya. Seluruh pengikut dan kawan-kawan Arya Pethak turut hadir di tempat itu, seperti Ki Simo Biru, Subrata, Klungsur, Lurah Mpu Wikarto, Akuwu Lembu Sukmo dan putranya Lembu Kangko, Anjani dan Dewi Ragil Kuning alias Sekarwangi.
"Salam hormat kami, Eyang Resi Candramaya", ucap Arya Pethak dan Nay Kemuning bersamaan begitu Resi Candramaya sang Adipati Sepuh Mandala Wengker menginjakkan kakinya di pendopo agung Mandala Wengker. Keduanya segera berlutut dihadapan sang resi sepuh berjenggot putih lebat itu.
"Bangunlah cucu-cucu ku...
Kalian benar benar hebat dalam menegakkan kebenaran yang seharusnya memang mesti menjadi tonggak penting dalam kehidupan masyarakat Wengker ini", ujar Resi Candramaya sembari tersenyum lebar.
"Mohon Eyang Resi Candramaya memaafkan saya karena terpaksa menghabisi nyawa Raden Singomenggolo dan Adipati Warok Singo Ludro. Cucunda sudah berupaya baik-baik meminta agar mereka mengembalikan tahta Mandala Wengker kepada yang berhak namun mereka bersikeras untuk mempertahankan nya. Terpaksa cucunda ambil jalan kekerasan untuk mengatasinya", ucap Arya Pethak sambil terus berlutut di hadapan Resi Candramaya.
Pertapa sepuh bekas penguasa Mandala Wengker ini menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara.
"Dalam pertikaian antara kebenaran dan kebatilan, selalu akan ada yang menjadi korban Cucu ku...
Itu bisa saja sanak saudara, kerabat dekat dan bahkan kawan kita sendiri pun bisa menjadi musuh jika kita memilih untuk menegakkan hukum kebenaran di atas segalanya. Aku tidak menyalahkan mu untuk kematian Singo Ludro dan Singomenggolo. Itu adalah jalan takdir yang telah mereka pilih sendiri. Yang terpenting sekarang adalah kau bersama Kemuning memimpin wilayah ini dengan sebaik mungkin. Jangan sampai ada sedikit warga mu yang menderita karena ketidakadilan maupun yang nyandang cingkrang ( tidak cukup untuk makan dan berpakaian)", nasehat bijaksana terucap dari bibir Resi Candramaya.
"Akan aku lakukan semua perintah Eyang Resi dengan sekuat tenaga", usai berkata demikian Arya Pethak segera bangun dari tempat berlutut nya.
"Mohon ampun bila hamba lancang Gusti Pangeran Arya Pethak..
Karena Gusti Adipati Sepuh telah sampai di tempat ini, alangkah baiknya jika penobatan Gusti Pangeran Arya Pethak di pimpin langsung oleh Gusti Adipati Sepuh. Ini tentunya akan semakin membuat rakyat Mandala Wengker percaya bahwa Gusti Pangeran lah yang cocok memegang tampuk kekuasaan Mandala Wengker ini selanjutnya karena di nobatkan oleh penguasa sebelumnya ", ujar Ki Simo Biru sembari menghormat pada Arya Pethak dan Resi Candramaya karena telah berani menyela omongan kedua orang itu.
"Aku setuju dengan pendapat Ki Simo Biru, Kangmas..
Dengan penobatan Kangmas Arya Pethak sebagai pengganti Adipati Wengker yang baru, maka hilanglah sudah keraguan di hati para warga masyarakat Mandala Wengker tentang keabsahan kepemilikan tahta Mandala ini di tangan Kangmas Arya Pethak", imbuh Nay Kemuning segera.
__ADS_1
Semua orang langsung manggut-manggut mengerti dan setuju dengan pendapat Ki Simo Biru dan Nay Kemuning.
Mendengar perkataan mereka semua di tambah lagi dengan persetujuan dari para hadirin yang hadir di acara itu, Resi Candramaya mengangguk setuju dengan usulan dari Ki Simo Biru dan Nay Kemuning. Maka persiapan untuk penobatan Arya Pethak sebagai Raja Mandala atau Adipati Wengker yang baru pun mulai di persiapkan hari itu juga.
Seluruh istana Mandala Wengker di hias dengan rangkaian janur kuning dan bebungaan. Penjor Penjor di dirikan dan di tata rapi sedemikian rupa di sekeliling tembok istana.
Ki Simo Biru di bantu oleh Subrata mengawasi persiapan hidangan untuk acara besok hari. Mereka memerintahkan kepada juru masak istana untuk menyembelih hewan ternak seperti kerbau dan kambing yang menjadi menu utama bagi acara besar esok hari.
Akuwu Lembu Sukmo dan putranya Lembu Kangko bertugas menghiasi seluruh sudut Istana Mandala Wengker. Di bantu oleh para prajurit dan warga masyarakat Kota Mandala Wengker, mereka bahu membahu bergotong royong menghiasi istana agar terlihat menarik dan meriah.
Sedangkan sisi pengamanan acara di serahkan kepada Lurah Desa Girimulyo, Mpu Wikarto beserta para penduduk desa itu yang masih tinggal di istana Kota Wengker. Para prajurit Wengker yang sudah menyerah, di ikutkan dalam pengamanan acara itu hingga mereka yang semula sudah tidak punya harapan menjadi prajurit lagi kini semangat dalam menjalani tugas-tugas mereka. Mereka begitu bersyukur karena Arya Pethak dan Nay Kemuning bersedia untuk menerima mereka dalam jajaran pasukan Wengker di bawah pimpinan nya.
Klungsur sang abdi dalem setia Arya Pethak, selalu mengikuti kemanapun langkah sang calon Adipati Wengker itu. Kesetiaan Klungsur benar benar patut diacungi jempol.
Dua hari kemudian, acara penobatan Adipati Mandala Wengker yang baru dilaksanakan. Seluruh rakyat Kota Wengker bersukacita menyambut perhelatan acara besar ini. Lenyapnya pengaruh Adipati Singo Ludro beserta Raden Ronggo yang banyak menyengsarakan rakyat, benar benar mereka syukuri.
Bau harum kemenyan dan dupa menyeruak ke seluruh tempat itu bersamaan dengan asap putih yang keluar dari bara arang yang mereka bakar. Taburan bunga mawar dan melati menghiasi lantai Pendopo Agung Mandala Wengker juga di singgasana. Semua pengikut setia Arya Pethak dan Nay Kemuning ikut hadir di pendopo agung dengan mengenakan pakaian bagus.
Di samping kanan singgasana Wengker, Resi Candramaya langsung berdiri dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Arya Pethak dan Nay Kemuning. Arya Pethak mengenakan pakaian berwarna putih dengan sulaman benang emas pada tepi bajunya sedangkan Nay Kemuning berdandan cantik layaknya seorang wanita bangsawan dengan pakaian serupa dengan suaminya. Keduanya berjalan mendekati singgasana Wengker yang diatasnya terdapat sebuah mahkota kebesaran Mandala Wengker. Sepanjang langkah mereka memasuki pendopo agung, para dayang istana terus menaburkan bunga mawar dan melati ke arah mereka. Bunyi tetabuhan gamelan dengan lembut mengiringi setiap langkah mereka yang akan di nobatkan sebagai penguasa Mandala Wengker selanjutnya.
Begitu sampai di depan singgasana, Maharesi Mpu Kumba dan Danghyang Bikshu Daniswara segera melakukan ritual mereka. Maharesi Mpu Kumba menyipratkan air suci ke badan Arya Pethak dan Nay Kemuning, sementara Danghyang Bikshu Daniswara melakukan hembusan asap putih dupa harum mengelilingi mereka sambil terus membaca doa dan mantra.
Setelah selesai melakukan ritual mereka, keduanya kembali duduk di tempat mereka masing-masing. Begitu kedua pemuka agama itu selesai, Resi Candramaya angkat tangan kanannya dan bunyi tetabuhan gamelan pun langsung berhenti hingga suasana menjadi hening.
"Hari ini, aku Candramaya akan melakukan penobatan pada cucu cucu ku sebagai Adipati dan Ratu Wengker yang baru. Selanjutnya mereka lah yang akan memimpin Mandala Wengker dalam lingkaran pemerintahan Kerajaan Singhasari.
Arya Pethak, majulah cucu ku.. Kau Kemuning, dampingi suami mu", ucap Resi Candramaya sembari menatap ke arah Arya Pethak dan Nay Kemuning. Keduanya segera berjongkok dan menyembah pada singgasana Wengker.
__ADS_1
Resi Candramaya segera mengambil mahkota kebesaran Mandala Wengker dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas agar bisa di saksikan oleh para hadirin yang ada di pendopo agung.
"Dengan ini, kuangkat Arya Pethak menjadi Adipati Wengker dengan gelar Adipati Warok Singo Pethak. Dia akan memerintah dengan bantuan cucu ku Nay Kemuning yang ku beri nama baru Kanjeng Ratu Kemuning", suara lantang Resi Candramaya terdengar saat memakaikan mahkota kebesaran Mandala Wengker kepada Arya Pethak.
Dari arah para hadirin langsung terdengar suara teriakan keras.
"Hidup Gusti Adipati Singo Pethak !
Hidup Gusti Adipati Singo Pethak !"
Teriakan itu langsung sambung menyambung hingga suasana menjadi riuh rendah oleh suara hadirin yang meneriakkan nama besar Arya Pethak yang sekarang. Setelah selesai pemakaian mahkota sebagai tanda penobatan, Arya Pethak segera berdiri dari tempat jongkok nya dan berbalik badan ke arah para pengikutnya bersama dengan Nay Kemuning. Resi Candramaya segera duduk di kursi yang di samping kanan bawah singgasana Wengker.
"Hari ini, aku Adipati Warok Singo Pethak..!!
Berjanji kepada kalian semua bahwa tidak akan ada lagi yang mengalami ketidakadilan. Semuanya akan di perlakukan sama.
Aku ucapkan terima kasih atas kepercayaan dan dukungan kalian semua hingga aku bisa duduk sebagai penguasa Mandala Wengker.
Oleh karena itu aku akan mengangkat semua orang yang telah berjasa besar dalam upaya kita mengembalikan tata laksana pemerintahan Mandala Wengker ini..", ujar Arya Pethak sambil tersenyum simpul. Dia segera duduk di singgasana Wengker dan Nay Kemuning duduk di kursi samping kiri nya, sejajar dengan Sekarwangi dan Anjani yang tersenyum lebar menyaksikan suami mereka kini menjadi seorang Adipati.
Arya Pethak kemudian mengangkat Mpu Wikarto, Lurah Desa Girimulyo sebagai Mantri Dharmadyaksa yang menjadi penasehat utama bersama dengan Klungsur. Ki Simo Biru diangkat menjadi Patih Wengker Sedangkan Akuwu Lembu Sukmo diangkat menjadi Sang Pamgat Jaksa Negara. Putranya Lembu Kangko diangkat menjadi Senopati sedangkan Subrata kini menjabat sebagai Tumenggung.
Mereka semua nya merasa puas dengan keputusan yang diambil oleh Arya Pethak yang menempatkan mereka pada posisi yang pas dengan kemampuan mereka. Semuanya merasa gembira dengan penunjukan ini. Resi Candramaya pun manggut-manggut senang melihat kecakapan Arya Pethak dalam menata tata laksana pemerintahan Mandala Wengker.
Setelah semuanya selesai, Arya Pethak kembali berdiri dari singgasana nya sembari berkata dengan nada suara penuh semangat berapi-api,
"Tugas kita yang pertama sebagai penguasa Mandala Wengker, agar tidak menjadi duri dalam daging,
__ADS_1
Bersihkan semua pengikut Raden Ronggo"