
Nyi Manikmaya nanar menatap kearah mayat Ki Jayasatru yang tergeletak begitu saja tak jauh dari tempat berdiri. Rasa geram bercampur marah campur aduk menjadi satu di hati nya. Perempuan itu langsung memasukkan pisau perak besar di tangan kirinya ke pinggang lalu merogoh pisau pisau yang tertata rapi di balik bajunya.
Satu hentakan keras, Nyi Manikmaya melesat ke arah Anjani sambil melemparkan empat pisau kecil ke arah kawan Arya Pethak itu.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Empat pisau kecil meluncur deras ke arah Anjani. Murid Dewi Ular Siluman itu langsung bersalto ke belakang menghindari serangan pisau Nyi Manikmaya.
Crepp creepp crreepppphhh!!
Pisau menancap pada tanah yang menjadi pijakan kaki Anjani. Setelah berhasil menghindar dari lemparan pisau perak Nyi Manikmaya, Anjani langsung melemparkan dua jarum berwarna hijau kehitaman kearah Nyi Manikmaya.
Whuuutt whuuthhh!!
Nyi Manikmaya yang melesat ke arah Anjani, langsung merubah gerakan tubuhnya dengan berguling ke tanah untuk menyelamatkan diri. Saat yang bersamaan, Anjani menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna hijau kehitaman akibat Ajian Tapak Ular Siluman.
Whhhuuussshhhhh!!
Melihat serangan bertubi-tubi dari Anjani, Nyi Manikmaya dalam sekejap berjumpalitan menghindar dari sinar hijau kehitaman yang di lepaskan Anjani.
Blllaaammmmmmmm!!
Lobang sebesar kerbau tercipta dari ledakan keras saat Ajian Tapak Ular Siluman menghantam tanah. Tak berhenti sampai di situ saja, Anjani memburu pergerakan Nyi Manikmaya dengan lemparan jarum beracun milik nya.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Nyi Manikmaya berusaha keras untuk menahan senjata rahasia Anjani dengan mengibaskan tangan kiri nya untuk menghentikan laju jarum beracun.
Whuuussshh!!
Blllaaaaaarrr!!!
Jarum beracun Anjani hancur berkeping keping terkena hantaman tenaga dalam Nyi Manikmaya, namun disaat yang sama Anjani telah bergerak di samping kanan Nyi Manikmaya sambil menghujamkan Pisau Dewa Kematian ke arah perut perempuan itu.
Jllleeeeeppppphhh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Nyi Manikmaya menjerit keras saat Pisau Dewa Kematian milik Anjani menembus perutnya. Perempuan itu terhuyung-huyung mundur saat Anjani mencabut Pisau Dewa Kematian dari perutnya. Perempuan itu baru jatuh setelah tersandung mayat Ki Jayasatru. Dia tewas di samping mayat Ki Jayasatru, pasangannya.
Malam itu, momok pembunuh berantai yang menakuti warga Kota Kadipaten Rajapura berakhir di tangan Arya Pethak dan Anjani.
Usai melihat lawannya tewas, Anjani segera mendekati Arya Pethak yang tengah menyalurkan tenaga dalam untuk membantu Senopati Singa Parna mengobati luka dalam nya.
Arya Pethak menurunkan tangannya sembari menghela nafas panjang. Raut muka Senopati Singa Parna yang sempat pucat berangsur membaik.
"Bagaimana Gusti Senopati? Sudah lebih baik?", tanya Arya Pethak sembari berdiri dari tempat duduknya di belakang punggung Senopati Singa Parna.
"Sudah baik, pendekar muda. Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan mu.
Kau harus ikut dengan ku pendekar muda", Senopati Singa Parna ikut berdiri di samping Arya Pethak.
"Untuk apa kami ikut? Bukankah kami sudah membantu mu Gusti Senopati?", sahut Anjani sambil menjajarkan diri di samping Arya Pethak yang mulai berjalan.
"Kau kan sudah membantu ku, tentu saja
untuk mengucapkan terima kasih.
Sudah jangan banyak tanya, kalian ikuti aku", ucap Senopati Singa Parna sambil melesat cepat kearah istana Kadipaten Rajapura. Anjani menatap ke arah Arya Pethak seakan meminta penjelasan, tapi melihat Arya Pethak mengangkat kedua bahunya, akhirnya Anjani dan Arya Pethak melesat mengikuti langkah Senopati Singa Parna.
Bulan sabit menggantung di langit barat bersama bintang yang berkelap-kelip di angkasa. Di antara kegelapan malam kota Kadipaten Rajapura, tiga bayangan berkelebat cepat kearah utara. Begitu sampai di sebuah rumah di luar tembok istana, tiga bayangan itu berhenti.
Senopati Singa Parna segera melangkah masuk ke dalam gapura kediamannya diikuti oleh Arya Pethak dan Anjani. 2 orang prajurit penjaga gerbang langsung menghormat pada sang perwira tinggi.
Begitu sampai di beranda rumah, Senopati Singa Parna segera bertepuk tangan. Mendengar tepuk tangan itu, dua orang emban kediamannya langsung berlari mendekati Senopati Singa Parna.
"Siapkan jamuan untuk kami bertiga. Aku lapar", perintah Senopati Singa Parna segera yang membuat dua pelayan itu langsung membungkuk hormat dan bergegas menuju ke arah dapur.
Arya Pethak, Anjani dan Senopati Singa Parna segera duduk bersila di lantai serambi kediaman sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Rajapura.
"Sekali lagi aku mewakili seluruh pemerintah Kadipaten Rajapura berterima kasih kepada kalian berdua atas bantuan yang kalian berikan.
Dua pembunuh itu benar benar membuat ku pusing beberapa waktu kemarin", ujar Senopati Singa Parna sambil tersenyum tipis.
"Hanya bantuan kecil Gusti Senopati. Sebagai pendekar, sudah selayaknya kami membantu memberantas kejahatan yang dilakukan oleh dua orang itu", sambut Arya Pethak dengan sopan.
__ADS_1
"Hehehehe aku suka dengan kerendahan hati mu, anak muda..
Kalau boleh tahu, kalian ini hendak kemana?", Senopati Singa Parna menatap wajah Anjani dan Arya Pethak bergantian. Sinar lampu minyak jarak yang menerangi tempat itu nampak bergoyang tertiup angin.
"Kami ingin ke Gunung Ciremai, Gusti Senopati. Ada sesuatu yang kami cari untuk menolong kawan kami yang sekarang ada di Kembang Kuning", Arya Pethak dengan jujur menjawab pertanyaan Senopati Singa Parna.
"Jauh juga ya tujuan kalian..
Kalau begitu tunggu sebentar disini", Senopati Singa Parna segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam kediamannya. Tak berapa lama kemudian dia kembali ke serambi kediaman nya menemui Arya Pethak dan Anjani.
"Ini untuk bekal perjalanan kalian, semoga lain waktu kita masih bisa bertemu kembali.
Pesan ku, berhati-hati lah saat masuk ke wilayah Galuh Pakuan. Terutama di wilayah Kadipaten Saunggalah. Aku dengar, para murid Perguruan Istana Atap Langit suka membuat masalah dengan orang asing terutama dari daerah wetan seperti kita", Senopati Singa Parna meletakkan sekantong kepeng perak di depan Arya Pethak.
"Kami masih punya bekal perjalanan Gusti Senopati. Kami membantu tidak mengharapkan imbalan", ujar Arya Pethak sambil menyorongkan kantong kepeng perak ke arah Senopati Singa Parna.
"Jangan di tolak. Ini adalah tanda persahabatan kita, pendekar muda", paksa Senopati Singa Parna sambil tersenyum simpul. Mau tidak mau, Arya Pethak mengambil sekantong kepeng perak dan menyerahkan nya pada Anjani yang memang bertugas untuk memegang keuangan mereka.
Malam itu mereka mengobrol dengan hangat. Usai menikmati makanan yang disajikan, Arya Pethak dan Anjani mohon diri untuk kembali ke penginapan tempat mereka bermalam. Dua orang prajurit mengantar mereka hingga ke depan pintu penginapan.
Malam dengan cepat berganti pagi. Suasana ramai di jalan raya pun terulang lagi. Pagi itu wilayah kota Kadipaten Rajapura di gegerkan oleh kabar terbunuhnya sepasang pembunuh berantai yang menjadi momok bagi mereka beberapa waktu lalu.
Saat kabar itu terdengar santer, Arya Pethak, Anjani dan Klungsur telah sampai di luar kota Kadipaten Rajapura. Di sebuah persimpangan jalan, Klungsur melompat turun dari kudanya untuk bertanya arah pada seorang lelaki pencari kayu bakar yang tengah beristirahat.
"Kisanak, jalan yang menuju Kali Pemali sebelah mana? Itu loh yang ada dermaga penyeberangan nya ke Galuh Pakuan", tanya Klungsur pada lelaki paruh baya itu.
"Kisanak ambil sisi kanan. Lurus saja sudah sampai di Desa Wanacala.. Nah di desa itu ada dermaga penyeberangan kalau mau ke wilayah Galuh Pakuan", jawab si pencari kayu bakar yang sedang duduk di bawah pohon rindang.
"Wah terimakasih kalau begitu. Aku permisi dulu kakek tua", ujar Klungsur sembari berbalik arah dan melompat ke atas kuda nya. Mereka bertiga segera mengambil jalur kanan dan menggebrak kudanya.
Menjelang tengah hari, rombongan Arya Pethak sampai di Desa Wanacala sebagaimana petunjuk dari pencari kayu bakar yang mereka temui tadi.
Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut buncit nampak berteriak lantang di tepi dermaga penyeberangan.
"Ayo siapa yang mau menyeberang ke wilayah Galuh Pakuan? Cepat cepat lah, kapal penyeberangan hampir penuh, sebentar lagi berangkat!
Ayo kisanak, Nisanak..
Cepat bergegas, ini adalah dua penyeberangan terakhir sebelum di tutup. Kalau telat, kalian harus menunggu besok pagi", teriak si gendut sambil menatap orang yang baru datang di dermaga penyeberangan.
"Jangan dengarkan dia, hanya orang tolol saja yang percaya dengan omongan si gendut itu. Penyeberangan baru di tutup saat senja mulai turun. Ayo kita cari makan dulu", jawab sang kawan sambil menggelandang tangan lelaki muda itu ke arah sebuah warung makan yang ada di dekat pintu masuk dermaga.
Percakapan mereka berdua terdengar jelas oleh Arya Pethak, Klungsur dan Anjani.
"Ndoro Pethak, sebaiknya bagaimana? Kalau kita telat, nanti penyeberangan itu tutup kita yang repot.
Tapi perut ku lapar Ndoro, bingung aku", Klungsur menatap ke arah Arya Pethak yang masih santai menuntun kuda mereka.
"Kau dengar omongan dua orang tadi, Sur..
Hanya orang bodoh yang percaya dengan omongan si gendut itu. Kita lapar ya cari makan dulu lah", sahut Anjani sambil celingukan mencari keberadaan warung makan. Atas saran Anjani, mereka langsung menuju ke sebuah warung makan yang terletak di salah satu sudut jalan dekat dermaga.
Usai mengisi perut, Arya Pethak dan kedua kawannya langsung menuntun kuda mereka masing-masing menuju ke perahu penyeberangan. Si pria gendut itu langsung menyambut mereka bertiga.
"Kisanak bertiga mau menyeberang?
Ini perahu penyeberangan terakhir hari ini kisanak. Peraturan baru dari penguasa Kadipaten Saunggalah untuk membatasi jumlah orang asing dari daerah wetan karena sebentar lagi akan ada pertandingan di Istana Atap Langit untuk memilih jago-jago silat baru.
Biayanya cukup 1 kepeng perak per orang, kalau tambah kuda ya tambah 2 kepeng perunggu. Sok mangga atuh Akang kasep dan Eneng geulis naik", ujar si lelaki gendut itu dengan ramah.
Anjani langsung membayar biaya penyeberangan mereka pada si gendut. Karena tidak memiliki kepeng perunggu, Anjani mengulurkan 4 kepeng perak nya yang berarti masih ada kembalian uang.
"Kembalian uang nya buat kamu saja", Anjani melangkah masuk ke dalam perahu. Si gendut langsung membungkuk hormat kepada Anjani. Sisa kembalian uang dari Anjani cukup untuk makan 3 kali buat nya.
"Hatur nuhun Eneng geulis", Si gendut tersenyum lebar. Perahu penyeberangan itu langsung bergerak meninggalkan dermaga menuju ke seberang sungai Pemali yang menjadi batas wilayah Kerajaan Singhasari dan Galuh Pakuan.
Riak gelombang sungai Pemali sedikit kecoklatan yang memang membawa lumpur dari hulu nya.
"Untung aku jadi orang bodoh yang tidak tolol seperti dua orang tadi..
Kalau kita telat menyeberang, pasti kita bermalam di pinggir sungai ini dan habis darah ku oleh nyamuk nyamuk sialan", ujar Klungsur sembari menatap riak sungai.
"Kau menyindir ku Sur?", Anjani melotot lebar ke arah Klungsur.
"Tidak berani tidak berani.. Aku ngomong sama diriku sendiri kog", Klungsur memang takut dengan Anjani, apalagi dengan racun yang dia miliki. Urusan bacok sama pukulan, dia memang kebal karena Jimat Lulang Kebo Landoh pemberian Arya Pethak, tapi kalau kena racun ya pasti modar Klungsur.
__ADS_1
"Sudah jangan ribut terus. Kita hampir sampai ini", Arya Pethak menengahi perdebatan mereka. Dan memang kapal penyeberangan yang mereka tumpangi, perlahan merapat di dermaga penyeberangan wilayah Kadipaten Saunggalah Kerajaan Galuh Pakuan.
Mereka bertiga segera memacu kudanya menuju ke arah kota Barisan yang merupakan wilayah Wado Kadipaten Saunggalah yang bernama Harya Permana.
Setelah melewati beberapa desa yang ada di sekitar jalan raya menuju Kawadoan Barisan, Arya Pethak terpaksa menghentikan langkah kaki kuda mereka di pinggir sungai kecil dengan hutan. Siang telah beranjak petang sedangkan sepertinya pemukiman penduduk masih belum terlihat juga.
"Sepertinya kita harus bermalam di tempat ini, Anjani...
Ayo Sur kita siapkan tempat dan kayu bakar untuk api unggun", ujar Arya Pethak sambil melompat turun dari kudanya. Anjani dan Klungsur pun segera mengikuti langkah sang pendekar muda tanpa banyak bicara. Mereka segera berbagi tugas untuk persiapan bermalam mereka.
Usai melakukan perburuan sebentar di dalam hutan kecil, Arya Pethak mendapatkan seekor babi hutan yang lumayan besar untuk mengisi perut mereka malam itu.
Malam menjelang tiba. Perlahan malam mengganti cahaya terang sang surya dengan gelap yang dingin. Cahaya bulan sabit menggantung di langit barat.
Arya Pethak terus memutar babi hutan yang di panggang di atas api unggun yang menyala. Bergantian dengan Klungsur, perlahan wangi aroma daging panggang menyebar ke sekeliling tempat itu.
Di kegelapan malam, beberapa bayangan hitam bergerak mendekati tempat Arya Pethak dan kawan-kawan nya yang tengah asyik menikmati babi hutan panggang sambil bercengkrama bersama.
Kreeekkk!
Suara ranting kering yang terinjak kaki terdengar oleh telinga Arya Pethak. Namun pendekar muda itu nampak tenang sambil terus menggigit potongan daging babi hutan panggang yang baru saja di berikan Anjani.
Seperti perkiraan Arya Pethak, 5 orang yang terdiri dari 3 perempuan dan dua orang lelaki muncul dari balik kegelapan malam. 5 orang ini segera mendekat ke arah api unggun. Klungsur yang baru menyadari kehadiran mereka, langsung melompat ke arah Gada Galih Asem nya.
"Siapa kalian? Mau apa kemari?", tanya Klungsur sambil menggenggam gagang Gada Galih Asem. Arya Pethak tetap meneruskan acara makan malam nya sambil sesekali melirik ke arah 5 orang itu.
"Hampura atuh Den, lamun abdi ngagangu..
Kenging urang ngiring ngagabung di dieu?", ujar seorang lelaki paruh baya yang merupakan pria paling sepuh diantara kelima orang itu.
"Urang urang apa? Urang Windu?
Ngomong yang jelas dong", Klungsur yang sama sekali tidak mengerti bahasa Sunda jelas kebingungan.
"Urang windu gundul mu itu Sur. Kalau tidak mengerti, jangan asal menyahut omongan orang. Tutup mulut mu, jangan asal bunyi.
Sok mangga atuh Aki, tempat na keneh cekap kanggo diuk sareng", Anjani menatap ke lima orang itu dengan tersenyum tipis. Rupanya Anjani sedikit mengerti bahasa orang Galuh Pakuan. Mereka berlima segera duduk di depan api unggun untuk berdiang menghangatkan tubuh.
"Mangga? Mana mangga nya An? Kita tidak makan mangga, belum musim sekarang", Klungsur ngeyel bertanya kepada Anjani. Arya Pethak tersenyum simpul mendengar omongan Klungsur.
"Tetap jadilah orang bodoh yang tidak tolol Sur.
Makan daging babi hutan panggang itu agar otak mu encer sedikit", ujar Anjani sambil tersenyum lebar. Mendengar ucapan itu, Klungsur terdiam sejenak.
'Itu seperti omongan ku tadi siang', batin Klungsur sambil menggaruk kepalanya. Sadar bahwa ia tengah di balas Anjani, Klungsur langsung berkata,
"Anjani, kau sedang balas dendam padaku?".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau banyak salah kata dalam bahasa Sunda nya, mohon di maafkan ya.. Author masih coba ingat ingat memory internal otak waktu masih di Bogor dulu nih 🤣✌️😁
__ADS_1
Untuk yang menjalankan ibadah puasa, semangat.. Sebentar lagi adzan magrib ✌️✌️🙏🙏