Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Giliran


__ADS_3

"Apa gunanya tubuh itu Kakang?


Bukankah sama saja dengan tubuh gadis lainnya?", Jalak Kuning mengernyitkan keningnya.


"Buat kita-kita yang tidak mempelajari Ajian Iblis Neraka, itu memang tidak ada gunanya Jalak Kuning, sama seperti tubuh gadis lainnya.


Tubuh Julung Kembang memiliki daya linuwih yang bisa menaikkan tingkat keberhasilan seorang pendekar melatih ilmu sesat. Syarat nya adalah menyetubuhi si pemilik tubuh Julung Kembang baru daya linuwih itu bisa berpindah.


Menurut Ki Macan Panuda, begitu tubuh itu di pakai oleh pengguna Ajian Iblis Neraka, maka kekuatan dan pelatihan nya akan meningkat 2 kali lipat", ujar Gagak Segara sembari menuangkan lagi tuak air nira aren ke cangkir nya dari jun bambu.


"Kalau begitu kita harus mengantar gadis ini ke Kembang Kuning ya Kang?


Raden Margapati kan tinggal di Kembang Kuning", ujar Jalak Kuning sembari mengintip ke arah Rara Larasati dan Seta Wahana di dalam tahanan bergerak itu.


"Tidak perlu kesana.


Raden Margapati menunggu gadis itu di Gunung Damalung. Tempat dia bertapa", jawab Gagak Segara sembari kembali meneguk tuak air nira aren. Suasana di tepi hutan kecil itu memang dingin, maka rasa hangat yang menjalar akibat menenggak minuman keras itu membuat Gagak Segara tidak merasa kedinginan lagi.


Mereka terus berbincang tentang banyak hal untuk mengusir kebosanan dan berjaga malam itu. Beranggotakan orang-orang berilmu tinggi, anggota Kelompok Kalajengking Hitam mengantar Rara Larasati ke Kembang Kuning sesuai perintah Raden Margapati, putra Adipati Kembang Kuning yang tengah melatih ilmu sesat.


Hari menjelang pagi. Suasana pagi hari itu sedikit lebih cerah dari biasanya karena awan tidak setebal beberapa hari kemarin.


Usai berpamitan pada kawan lamanya yang memberikan tumpangan bermalam, Randu Para beserta Arya Pethak, Nyi Sawitri dan Klungsur melanjutkan perjalanan ke dermaga penyeberangan Sungai Brantas di Utara Kota Tamwelang.


"Kira-kira masih berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di markas Kelompok Kalajengking Hitam itu, Nyi?


Aku sudah tidak sabar menunggu lagi", ujar Randu Para sambil menatap ke arah arus sungai Brantas yang keruh. Mungkin di sekitar hulu masih hujan hingga lumpur masih ikut terbawa air sungai.


"Aku juga tidak tahu, Randu Para..


Sebaiknya kita bertanya saja pada tukang perahu ini supaya kita tidak tersesat", jawab Nyi Sawitri sembari menatap ke arah seorang lelaki paruh baya yang bertelanjang dada sedang menggerakkan batang bambu sebagai pengatur pergerakan perahu. Ada 3 orang yang mengemudikan perahu yang tengah mengangkut penumpang dan barang menyeberangi Sungai Brantas.


Perahu hampir mencapai tepi sungai sebelah utara saat Randu Para mendekati mereka.


"Permisi Kisanak..


Aku mau bertanya. Apa Kisanak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Sungai Wulayu? Kami ingin menuju ke Kadipaten Bojonegoro", tanya Randu Para pada lelaki paruh baya yang tengah mengatur pergerakan perahu.


"Kalau dari sini, mungkin tengah hari nanti kau sudah sampai di Sungai Wulayu, Kisanak.


Tapi aku sarankan untuk tidak melewati jalur barat Hutan Lamong. Banyak begal dan rampok di barat hutan itu. Carilah jalan memutar lewat Tanjung Anom atau Wonorejo. Itu lebih aman Kisanak ", jawab lelaki paruh baya itu dengan hati-hati.


"Aku mengerti Kisanak. Terimakasih banyak atas saran mu", ujar Randu Para sambil mengangguk.


Setelah perahu penyeberangan merapat di dermaga, rombongan Arya Pethak segera turun dari perahu dan dengan cepat menggebrak kuda tunggangan mereka ke arah jalan yang menuju ke arah Hutan Lamong.


Tepat sebelum tengah hari, rombongan Arya Pethak memasuki barat Hutan Lamong. Namun perjalanan mereka terhenti saat sebuah kayu tiba-tiba saja roboh melintang di jalan.


Kraakkk..


Brrruuuaaaaakkkkh!!!!


Arya Pethak langsung menarik tali kekang kudanya begitu pula Nyi Sawitri, Klungsur dan Randu Para.


"Hati hati..


Rupanya kita sudah sampai di kawasan mereka!", ucap Arya Pethak sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Randu Para, Nyi Sawitri dan Klungsur mengangguk mengerti. Mereka pun segera bersiap.


Dan benar saja, dari balik rimbun pepohonan Hutan Lamong, puluhan orang berperawakan besar dan wajah seram muncul mengepung mereka.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal yang kelihatan adalah pemimpin kelompok mereka, mendekati rombongan Arya Pethak dengan memanggul pedang besar.


"Yang lewat tempat ini, harus bayar pajak!


Serahkan harta kalian jika ingin tetap hidup!


Kalau tidak....", ujar si lelaki bertubuh gempal itu sambil menyeringai ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Kalau tidak mau kenapa?", Arya Pethak berkata dengan nada dingin.


"Kalau tidak mau, tinggalkan nyawa kalian disini hahahaha", tawa keras keluar dari mulut lelaki bertubuh gempal itu yang di sambung tawa dari orang orang berwajah seram yang mengepung Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Dasar perampok busuk!


Kau pikir kami takut dengan kalian ha? Dasar manusia sampah!", sahut Nyi Sawitri tak kalah sengit.


"Kurang ajar!


Sudah bosan hidup kalian rupanya. Kalian semua, bunuh mereka jangan biarkan hidup!", teriak pemimpin perampok itu yang langsung membuat para lelaki berwajah seram itu melompat ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


Dengan menjadikan kuda sebagai tumpuan, Arya Pethak segera melompat tinggi ke udara dan mendarat di depan salah seorang perampok yang berlari cepat dengan pedang terhunus.


Si perampok segera mengayunkan pedangnya kearah Arya Pethak. Putra angkat Mpu Prawira itu segera menggeser tubuhnya sedikit kesamping lalu dengan cepat menghantam kepala sang perampok.


Plllaaakkkkk!!


Sang perampok langsung tersungkur ke tanah dengan kepala berpaling karena lehernya patah. Seorang perampok lain yang melihat kawannya tewas langsung menyerang ke arah Arya Pethak dengan beringas.


Satu gebukan gada melayang ke arah Arya Pethak namun lagi lagi pemuda tampan itu dengan mudah menghindari nya.

__ADS_1


Pertarungan sengit antara Arya Pethak dan kawan-kawan nya melawan kelompok perampok itu berlangsung sengit.


Si lelaki bertubuh gempal yang membawa pedang besar mendengus keras melihat anak buah nya berjatuhan satu persatu.


'Bangsat!


Kalau di biarkan bisa bisa anak buah ku habis oleh mereka. Ki Macan Panuda pasti akan menghukum ku kalau sampai itu terjadi.


Aku harus turun tangan', batin si lelaki bertubuh gempal itu yang segera melesat cepat kearah Arya Pethak sambil membabatkan pedang besarnya.


Whhhuuuggghhhh!!!


Angin dingin berdesir kencang kearah punggung Arya Pethak Satu hentakan keras Arya Pethak melenting tinggi menghindari sabetan pedang besar dari pimpinan perampok yang bernama Hayam Sangkil itu.


Sembari melenting ke udara, Arya Pethak mengibaskan tangannya ke arah Hayam Sangkil yang serangannya membabat udara kosong.


Whuuussshh..


Hayam Sangkil harus menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindari angin dingin tenaga dalam yang mengincar nyawanya.


Arya Pethak mendarat sejauh 2 tombak ke belakang sedangkan Hayam Sangkil segera berdiri sembari menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Rupanya kau cukup berisi juga, bocah tengik!


Pantas saja berani menantang Kelompok Kalajengking Hitam", ucap Hayam Sangkil seraya mulai mempersiapkan diri.


"Apa yang harus di takuti dari perampok busuk seperti kalian?


Hari ini aku ke tempat ini karena ingin memusnahkan kalian", Arya Pethak tersenyum sinis.


"Hahahaha hanya 4 orang busuk ingin memusnahkan Kelompok Kalajengking Hitam?


Sama juga kalian mengantar nyawa.


Hadapi aku dulu sebelum kau bermimpi tinggi, bocah tengik!", usai berkata begitu, Hayam Sangkil menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang besarnya. Tiba-tiba pedang besar itu mengeluarkan asap putih yang mengeluarkan bau busuk menyengat.


"Sekarang cobalah untuk menahan Pedang Pembelah Langit ku, bocah tengik!


Hiyyyyaaaaaaaatttttt...", Hayam Sangkil melompat tinggi ke udara dan mengayunkan pedang besarnya ke kepala Arya Pethak.


Seberkas sinar kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Arya Pethak. Dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Melihat itu Hayam Sangkil menyeringai lebar.


Thhraaaangggggggg..


Mata Hayam Sangkil melotot lebar melihat pedang besarnya seperti tertahan sesuatu yang keras seperti baja saat menghantam bahu Arya Pethak.


Arya Pethak tersenyum tipis lalu menghantam perut Hayam Sangkil dengan keras. Dia ingin Hayam Sangkil tetap hidup untuk mengantar nya ke markas Kelompok Kalajengking Hitam.


Aaauuuuggggghhhhh!!


Hayam Sangkil terpental ke belakang sejauh 2 tombak dan menghantam tanah dengan keras. Pria bertubuh gempal itu langsung muntah darah segar pertanda luka dalam serius.


Raut muka Hayam Sangkil memucat melihat kemampuan lawan. Menggunakan pedang besarnya sebagai tumpuan, Hayam Sangkil mencoba berdiri. Arya Pethak tersenyum dingin sembari melangkah ke arah Hayam Sangkil.


Seorang anak buah Hayam Sangkil melihat pemimpin mereka terpojok, melompat ke arah Arya Pethak sambil membabatkan goloknya.


Shreeeeettttthhh!!


Arya Pethak hanya menggeser posisi tubuhnya sedikit lalu tangan kiri nya menghantam kepala si perampok dengan cepat.


Prrraaaakkkkkkk!!


Si perampok pengganggu itu langsung terjungkal dengan rahang remuk. Melihat itu Hayam Sangkil gemetar ketakutan. Setiap langkah Arya Pethak terasa bagai kedatangan malaikat maut pencabut nyawa.


"Kalau aku harus mati, kau harus menemani ku di neraka bangsat!", teriak Hayam Sangkil sembari berlari cepat membabatkan pedang besarnya ke arah leher Arya Pethak.


Putra angkat Mpu Prawira itu hanya melebarkan kakinya. Tubuh pemuda tampan itu merendah menghindari sabetan pedang besar Hayam Sangkil lalu dengan gerakan cepat Arya Pethak menepuk bawah pusar Hayam Sangkil.


Bhuukk..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Hayam Sangkil langsung melengguh keras. Telur nya seperti pecah terkena tepukan tangan kiri lawan. Pria bertubuh gempal itu langsung berguling ke tanah merasakan telur burung nya seperti mau pecah.


"K-Kau baj-jingan aughh sakit sekali", maki Hayam Sangkil sembari meringkuk kesakitan.


Arya Pethak menyeringai lebar.


Di sisi lain pertarungan, gerombolan perampok itu tinggal menyisakan beberapa orang. Klungsur melepaskan seorang perampok yang sudah terkulai lemas dengan wajah lebam dan puluhan benjolan di kepala nya. Entah dia tewas atau pingsan tidak ada yang tahu.


Randu Para yang sangat membenci mereka, melesat cepat kearah salah seorang perampok yang sudah hancur nyalinya usai menebas leher seorang anggota perampok yang menjadi lawannya.


Rasa amarah atas kematian istrinya benar benar dia lampiaskan kepada para perampok yang menjadi musuhnya. Seorang perampok yang tersisa mencoba untuk kabur, namun Randu Para dengan cepat menghadang nya.


"Ampuni aku pendekar, aku kapok! Aku tidak akan merampok lagi", ujar si anggota Kelompok Kalajengking Hitam sembari berlutut dan membuang golok di tangan nya.


"Bagi kelompok perampok Kalajengking Hitam tidak ada ampun, yang ada hanya mati!", teriak Randu Para sambil melesat cepat kearah si anggota Kelompok Kalajengking Hitam itu.


Chrraaasssshhh!

__ADS_1


Kepala anggota Kelompok Kalajengking Hitam langsung menggelinding dan tubuhnya ambruk ke tanah. Randu Para mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu. Mayat mayat anggota Kelompok Kalajengking Hitam terlihat bergelimpangan tak tentu arah. Bau anyir darah manusia benar benar memenuhi udara tempat itu.


Arya Pethak menyeret Hayam Sangkil yang tak berdaya dengan tangan terikat. Melihat itu, Randu Para hendak membabat leher Hayam Sangkil namun Arya Pethak segera mencekal lengan Randu Para.


"Kendalikan dirimu, Saudara Randu Para..


Kita butuh dia untuk menjadi penunjuk jalan ke markas Kalajengking Hitam", ujar Arya Pethak segera.


"Benar omongan Arya Pethak, Randu Para. Kita butuh orang untuk memandu kita menyelamatkan Laras dan Seta. Mendengar penuturan itu Randu Para menghentikan gerakannya. Dia mendengus dingin kemudian menendang kepala Hayam Sangkil.


Hayam Sangkil hanya bisa pasrah saat di paksa mengantar Arya Pethak dan kawan-kawan nya menuju ke arah markas Kelompok Kalajengking Hitam yang terletak di tepi rawa selatan Sungai Wulayu.


Markas Kelompok Kalajengking Hitam tengah sepi, hanya ada kurang lebih 20 orang yang ada karena anggota mereka tengah menjalankan tugas mereka di tempat masing-masing.


Macan Panuda dan Matswa Salaka, dua dari 5 pemimpin tertinggi Kalajengking Hitam tengah berbincang di serambi kediaman Macan Panuda saat seorang anak buah Kelompok Kalajengking Hitam melaporkan bahwa Hayam Sangkil tengah di tawan oleh 4 orang pendekar di depan pintu gerbang markas mereka.


Dua orang dedengkot Kelompok Kalajengking Hitam itu saling berpandangan sejenak sebelum mereka berdiri.


"Kurang ajar!


Kita harus membunuh mereka Kakang Panuda. Jika sampai keberadaan markas kita di ketahui oleh oleh orang luar, bisa-bisa para prajurit Kadipaten Bojonegoro menyerang kemari.


Ayo kita lihat", ajak Matswa Salaka sembari melesat cepat kearah pintu gerbang markas diikuti oleh Macan Panuda.


Begitu sampai di pintu markas, Macan Panuda dan Matswa Salaka terkejut melihat keadaan Hayam Sangkil yang amburadul. Terlebih lagi ada Arya Pethak yang langsung di kenali oleh Macan Panuda.


"Menyatroni markas Kelompok Kalajengking Hitam? Kau cukup berani juga anak muda.


Apa kau tidak sayang dengan nyawa mu?", ujar Macan Panuda sembari menatap tajam ke arah Arya Pethak. Mendengar suara Macan Panuda, Arya Pethak langsung tahu bahwa dialah sosok bayangan hitam yang meninggalkan pertarungan di Desa Karang Kitri.


"Hei kau bayangan hitam yang datang ke Desa Karang Kitri..


Pasti kau yang menculik Larasati dan Seta bukan? Dasar bajingan!! Serahkan mereka, kalau tidak akan ku hancurkan Kalajengking Hitam sampai ke akar-akarnya", teriak Arya Pethak sambil menunjuk ke arah Macan Panuda.


"Hahahaha..


Gadis bertubuh Julung Kembang dan bocah kecil itu sudah tidak ada disini.


Menghancurkan Kalajengking Hitam? Kau jangan mimpi di siang bolong", Macan Panuda menyeringai lebar ke arah Arya Pethak.


"Jadi kau yang menculik Larasati?


Bangsat! Akan ku tebas batang leher mu!", Nyi Sawitri langsung mengayunkan pedangnya yang menggunakan Ilmu Pedang Sejuta Bayangan.


Ratusan pedang ilusi melesat cepat kearah para anggota Kelompok Kalajengking Hitam yang tidak siap serangan langsung.


Macan Panuda dan Matswa Salaka langsung melompat tinggi ke udara menghindari serangan Nyi Sawitri.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Aaarrrghh Aarrrggghhhhhhhhh!!!


8 anggota Kelompok Kalajengking Hitam yang berdiri paling depan langsung roboh bersimbah darah dengan mengenaskan. Ada yang putus lengan nya, ada yang robek perutnya bahkan ada yang kepalanya menggelinding karena putus terkena ilmu Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar.


Macan Panuda dan Matswa Salaka segera mendarat 2 tombak ke arah samping. Melihat itu, Arya Pethak langsung menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin dan melesat cepat kearah mereka dengan Pedang Setan terhunus.


"Sekarang giliran ku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Biar lambat asal tetap up ya 🤣🤣🤣

__ADS_1


Kalau ada typo mohon dimaafkan karena gak sempat ngedit nya 🙏🙏


__ADS_2