
Debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Karena terlalu banyak orang, Arya Pethak tidak mungkin bisa membawa mereka semua dengan Ajian Halimun, hingga terpaksa harus berkuda. Hanya ada waktu setengah purnama tersisa sebelum nyawa Rara Larasati benar benar tak tertolong lagi. Mereka mengejar waktu.
Menjelang tengah hari, rombongan Arya Pethak sampai di Kawadoan Barisan. Usai mengisi perut sebentar sambil mengisyaratkan kuda tunggangan nya, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Hingga hari menjelang senja, Arya Pethak dan kawan-kawan nya terpaksa menginap di sebuah desa kecil yang terletak di timur Kawadoan Barisan. Seorang Rama Desa bernama Aki Karta dengan sukarela memberi tumpangan bermalam pada keempat orang itu.
Kesopanan Anjani juga pintar nya Nay Kemuning mengambil hati Aki Karta membuat rombongan itu benar benar di perlakukan seperti keluarga sendiri oleh Aki Karta.
Keesokan paginya, setelah sarapan pagi bersama dengan Aki Karta dan keluarganya, Nay Kemuning mewakili Arya Pethak, Anjani dan Klungsur berpamitan kepada Aki Karta dan keluarganya. Rama Desa itu mengantar mereka hingga tapal batas desa.
Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan mereka ke arah timur. Menjelang tengah hari, mereka sampai di tepi Sungai Pemali yang merupakan batas alam Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Sunda Galuh.
"Ndoro Pethak,
Cari makan dulu yuk. Lapar nih", ujar Klungsur sambil mengelus perutnya yang sedari tadi berbunyi.
"Ayo Sur, kebetulan aku juga sudah lapar. Sebentar lagi kita sampai di dermaga penyeberangan", balas Arya Pethak sambil menggebrak kudanya menuju ke arah dermaga penyeberangan kearah Desa Wanacala di wilayah Singhasari. Ramai orang lalu lalang dengan pedati, juga para penduduk yang ingin menyeberang ke wilayah Kadipaten Rajapura.
Begitu memasuki tepi dermaga penyeberangan, Arya Pethak mengarahkan rombongan ke sebuah warung makan yang terlihat ramai dikunjungi orang. Mereka berempat langsung melompat turun dari kudanya dan mengikat hewan pelari itu pada geladakan kuda lalu masuk ke dalam warung makan.
Tak di nyana, dalam warung makan itu ada si gendut tukang perahu penyeberangan yang mereka temui tempo hari.
"Ndoro Pethak, itu bukan nya si gendut tukang perahu ya? Ada apa dia di warung sini?", bisik Klungsur sambil melihat ke meja makan yang tak jauh dari tempat duduk mereka. Terlihat si gendut sedang berdiri di samping dua perempuan cantik berbaju merah.
"Iya Ndoro, sepertinya si gendut sedang ketakutan dengan dua wanita itu ya", Anjani ikut menimpali omongan Klungsur.
"Si gendut saha teh? Aku tidak paham yang kalian bicarakan", Nay Kemuning celingukan kesana kemari menyisir sekeliling ruangan warung makan. Karena dia bingung ada tiga orang gendut di warung makan itu.
"Itu yang dekat pojokan Nay", jawab Anjani singkat.
"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Teruskan makan kalian, jangan ikut campur urusan orang", sahut Arya Pethak sambil meneruskan makannya. Mereka menikmati hidangan makan siang.
Setelah membayar makanan mereka sebesar dua kepeng perak, Arya Pethak menuntun kuda nya diikuti oleh Klungsur, Anjani dan Nay Kemuning ke dekat dermaga penyeberangan. Sekitar 4 orang juga ikut mengantri untuk menyeberang. Si gendut yang biasanya berteriak teriak mengajak orang menyeberang, nampak diam tak seperti biasanya.
Klungsur langsung menyerahkan tali kekang kudanya pada Anjani, dan mendekati si gendut.
"Eh gendut,
Hari ini ada penyeberangan tidak? Kog tumben kamu anteng banget", tanya Klungsur begitu sampai di dekat si gendut.
"Sssssttttttttt...
Jaga mulutmu, bogel. Aku ada tugas penting. Kau jangan menggangguku. Hari ini ada penyeberangan. Sudah sana pergi", usir si gendut dengan raut wajah penuh ketakutan.
"Pergi ya pergi. Gitu saja kog marah.. Dasar gendut sialan ", gerutu Klungsur sambil mendekati rombongan Arya Pethak.
Dua orang wanita cantik berbaju merah yang di dekat si gendut langsung mendekati pria bertubuh tambun itu.
"Siapa orang itu? Kenapa kau bisa kenal dengan nya?", tanya si wanita cantik berbaju merah yang kelihatan nya lebih tua dari wanita satu nya dengan cepat.
"Sa-saya tidak kenal, Nyi..
Di-Dia adalah orang yang menumpang perahu penyeberangan saya tempo hari. Kemarin mereka cuma bertiga, sekarang jadi berempat. Itu saja yang saya tahu Nyi", si gendut menjawab dengan terbata-bata.
Hemmmmmmm...
"Pemuda tampan itu kelihatannya menarik, Kangmbok. Kalau pimpinan melihat nya, pasti akan senang.
Bagaimana kalau kita bawa dia ke Lembah Seribu Bunga?", ucap wanita cantik yang lebih muda sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ide mu boleh juga, Banawati..
Kita tangkap dia setelah menyeberangi Sungai Pemali ini. Tapi sepertinya dia adalah seorang pendekar. Kita harus hati-hati agar tidak celaka", ujar wanita cantik yang lebih tua sambil tersenyum lebar.
"Kita gunakan saja Jala Sukma pemberian penguasa Lembah Seribu Bunga, Kangmbok..
Sesakti apapun dia, tidak akan mampu memutuskan benang merah pusaka itu", ujar wanita bernama Banawati itu segera. Mendengar ucapan itu, si wanita cantik berbaju merah yang lebih tua itu langsung tersenyum dan mengangguk mengerti.
Semua percakapan mereka di dengar oleh si gendut.
Perlahan perahu penyeberangan mulai merapat ke dermaga penyeberangan. Semua orang mulai bergerak ke bibir dermaga. Satu persatu mulai naik ke atas perahu penyeberangan. Tak kurang 8 orang menumpang diatas perahu. Termasuk kuda dan barang.
Anjani langsung membayar biaya penyeberangan sebesar 6 kepeng perak kepada seorang lelaki paruh baya yang mengenakan caping bambu.
Setelah semua orang naik, perlahan perahu penyeberangan mulai bergerak menuju seberang sungai. Riak air sungai Pemali sedikit lebih jernih di tembus perahu penyeberangan yang di kemudikan oleh 4 orang lelaki berbadan kekar.
Dengan alasan memeriksa barang bawaan, si gendut berjalan ke arah buritan kapal penyeberangan dimana Arya Pethak dan kawan-kawan nya berada. Dengan sengaja dia menabrak tubuh Klungsur sambil membisikkan sesuatu di telinga Klungsur.
Hampir saja Klungsur memaki si gendut andai saja tidak mendengar bisikan nya. Usai itu, si gendut kembali ke samping dua perempuan cantik berbaju merah yang ada di dekat haluan kapal.
Setelah si gendut kembali ke tempat nya, Klungsur langsung mendekati Arya Pethak dan membisikkan omongan si gendut. Arya Pethak langsung manggut-manggut mengerti.
Perahu penyeberangan semakin mendekati tepi dermaga penyeberangan Desa Wanacala. Tak berapa lama kemudian perahu itu merapat di dermaga. Seorang lelaki bertubuh kekar langsung melompat ke dermaga dan dengan cepat mengikat tali perahu pada salah satu pohon randu.
Satu persatu para penumpang mulai turun dari perahu penyeberangan.
__ADS_1
Dua perempuan cantik berbaju merah paling awal turun. Mereka segera bergegas menuju ke sebuah rumah yang tak jauh dari dermaga penyeberangan. Tak berapa lama kemudian seekor merpati terbang melesat ke arah timur.
Arya Pethak menunggu di tepi dermaga bersama Anjani, Klungsur dan Nay Kemuning. Satu persatu kuda tunggangan mereka di turunkan dari perahu. Setelah semua beres, mereka berempat segera naik kuda mereka masing-masing dan memacu kudanya menuju ke arah timur.
Dua wanita cantik berbaju merah itu tersenyum lebar dan dengan cepat mengejar Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
"Semoga kalian bisa lolos dari sergapan setan setan betina itu', batin si gendut tukang perahu penyeberangan sembari menatap ke arah perginya Arya Pethak dan kawan-kawan.
Setelah cukup lama berkuda, di pertigaan sebelum menyeberangi Kali Gung, di tengah hutan kecil, 4 orang perempuan berbaju merah menghadang laju perjalanan mereka. Arya Pethak langsung menarik tali kekang kudanya dan hewan tunggangan nya itu meringkik keras sebelum berhenti.
Tak berapa lama kemudian dua orang perempuan cantik yang mengikuti mereka dari Sungai Pemali sampai.
"Ada urusan apa kalian menghadang kami?", Arya Pethak menatap tajam ke arah 4 orang yang menghadang.
"Urusannya? Karena kau terlalu tampan, pendekar hahahaha...", sahut si wanita cantik penunggang kuda yang mengikuti mereka.
"Dasar ******!
Ucapan mu mirip dengan pelacur yang menggoda lelaki hidung belang. Minggir atau kalian akan menyesal telah mengganggu perjalanan kami", Anjani langsung menyahut omongan si wanita cantik penunggang kuda itu dengan ketus.
Phhuuuiiiiiihhhhh!!
"Aku tidak ada urusan dengan mu, perempuan jelek! Aku hanya mau bicara dengan pemuda tampan itu, bukan dengan perempuan yang dandanan nya mirip gembel seperti mu", sahut perempuan cantik lain di sampingnya.
"Kauu....", Anjani hendak melompat ke arah perempuan cantik berbaju merah yang menghinanya, tapi ucapan Arya Pethak menghentikan niat nya.
"Tahan Anjani..
Kalian sebenarnya siapa? Tidak ada dendam diantara kita. Sebaiknya kalian tidak menggangu perjalanan kami", Arya Pethak mengalihkan pandangannya pada perempuan cantik berbaju merah yang menunggang kuda.
Hahahaha...
"Aku Kekayi dan dia Banawati, kami adalah anggota dari Lembah Seribu Bunga pimpinan Dewi Merak Lembayung di perbatasan Kalingga dan Rajapura.
Kami mengundang mu untuk menemui pimpinan Lembah", ujar si wanita cantik berbaju merah yang merupakan pimpinan kelompok ini.
"Aku tidak mengenal pimpinan kalian, jadi mohon maaf aku tidak bisa memenuhi undangan kalian. Kami masih ada urusan penting. Kami mohon diri", Arya Pethak menjawab dengan sopan.
"Kalau tidak kenal ya harus kenalan dulu, pemuda tampan hahahaha..
Ini bukan permintaan tapi kau harus ikut kami suka atau tidak suka. Jangan paksa kami untuk berbuat kekerasan agar kau patuh", ujar perempuan muda yang bernama Banawati sambil tersenyum simpul.
"Bedebah!
Kau pikir kami takut dengan kalian ha? Mulut mu layak mendapat pelajaran ", Anjani langsung melesat cepat kearah Kekayi dan Banawati sambil menghantamkan kedua tangan kanannya. Dua larik sinar hijau kehitaman menerabas cepat kearah dua wanita cantik berbaju merah itu.
Kekayi dan Banawati langsung melompat tinggi ke udara menghindari sinar hijau kehitaman dari Ajian Tapak Ular Siluman yang di lepaskan Anjani. Nay Kemuning langsung mencabut Pedang Cambuk Naga nya dan ikut menyerang ke arah Kekayi dan Banawati.
Sementara itu 4 orang berbaju merah lainnya langsung mengepung Klungsur dan Arya Pethak dengan senjata terhunus.
Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.
"Hehehe ayo maju gadis cantik, mari kita bermain sebentar", ujar Klungsur sambil memutar Gada Galih Asem nya. Satu gadis berbaju merah langsung membabatkan pedang nya. Dengan tenang Klungsur mengayunkan Gada Galih Asem nya, memapak serangan lawan.
Thrrraaannnnggggg!!
Satu orang wanita berbaju merah langsung mengayunkan pedangnya kearah punggung Klungsur yang sedang beradu senjata dengan perempuan lain.
Whhhuuuggghhhh...
Thriiiinnngggggg!!
Tebasan pedang telak mengenai tubuh Klungsur, tapi yang membuat gadis cantik berbaju merah itu melotot lebar adalah pedang nya seperti menghantam batu. Klungsur menyeringai lebar dan berbalik arah sambil melayangkan tendangan keras kearah perut si gadis berbaju merah yang membokongnya.
Bhhhuuuuuuggggh..
Auuuggghhhhh!!
Si gadis berbaju merah itu langsung terhuyung huyung mundur sambil memegang perutnya yang sakit. Klungsur dengan cepat mengayunkan gada nya kearah si pembokong, tapi gadis berbaju merah itu langsung menyilangkan pedang nya untuk bertahan.
Dhhaaaassshhh!!
Si gadis berbaju merah terpental sembari muntah darah segar. Kawannya dengan cepat melompat ke arah Klungsur seraya mengayunkan pedangnya kearah leher Klungsur.
Klungsur langsung berkelit menghindari tebasan pedang, lalu dengan menggunakan gagang Gada Galih Asem dia menyodok punggung si gadis berbaju merah yang menyerangnya.
Bhuuukkkhhh!!
Ouuuuggghhhh!!!
Gadis itu langsung terjungkal ke samping kawannya yang sudah lebih dulu muntah darah.
Di sisi lain, Arya Pethak dengan mudah menaklukkan dua wanita berbaju merah yang mengeroyoknya. Dalam dua jurus saja mereka telah terjungkal.
Sementara itu Anjani dan Nay Kemuning yang menghadapi Kekayi dan Banawati bertarung sengit. Dalam 10 jurus mereka telah membuat Kekayi dan Banawati muntah darah segar.
__ADS_1
Dengan cepat Kekayi dan Banawati melemparkan dua bola kecil berwarna kuning ke arah Anjani. Melihat itu, Anjani sadar musuh mereka menggunakan racun.
Belum sempat Anjani memperingatkan Nay Kemuning, murid Perguruan Gunung Ciremai itu langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah dua bola kecil berwarna kuning.
Blllaaaaaarrr!!
Bola meledak dan hancur menyebarkan asap kuning. Asap itu langsung terhirup oleh Nay Kemuning dan Anjani yang berusaha untuk menjauh. Namun terlambat.
"Ra-racun pelemah tena..ga..."
Nay Kemuning dan Anjani langsung roboh akibat terkena racun yang di lemparkan Kekayi dan Banawati.
Melihat itu, Arya Pethak dan Klungsur segera melesat cepat kearah Anjani dan Nay Kemuning. Arya Pethak dengan cepat menghantamkan kedua tangan nya ke arah lawan.
Whhhuuuggghhhh!!!
Dua larik sinar biru terang menerabas cepat kearah Kekayi dan Banawati. Dua perempuan itu langsung melompat tinggi ke udara menghindari serangan dari Arya Pethak.
Banawati dan Kekayi saling berpandangan sejenak sebelum mengeluarkan dua jala yang terbuat dari benang merah. Dengan cepat mereka melemparkan jala ikan ke arah Arya Pethak yang mendekati Nay Kemuning dan Klungsur yang berusaha menolong Anjani.
Whuuutt whuuthhh!!
Gerakan cepat Kekayi dan Banawati membuat Arya Pethak dan Klungsur tertangkap oleh Jala Sukma, pusaka andalan mereka. Mereka berdua meronta berusaha untuk melepaskan diri. Namun satu hantaman keras di belakang kepala membuat mereka oleng dan pingsan dalam jaring jala.
Keenam perempuan berbaju merah itu tersenyum lebar dan segera membawa mereka berempat menuju ke arah timur.
Arya Pethak tersadar dari pingsan dalam keadaan terikat tali yang di gantung pada kayu atap bangunan. Kepalanya pusing bukan main. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali agar pusing nya mereda. Pemuda tampan itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan luas itu dengan seksama. Klungsur, Anjani dan Nay Kemuning tidak ada disana. Hanya sebuah ranjang indah dengan taburan bunga bunga, juga buah buahan segar yang tertata rapi di atas bokor kuningan.
Meski kamar itu tertutup rapat, namun ia dapat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu kamar tidur. Arya Pethak langsung menutup mata, pura pura pingsan lagi.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!
Pintu kamar terbuka dan seorang wanita cantik berbaju merah dengan tubuh ramping dan pakaian yang mengundang gairah lelaki untuk melihatnya, masuk ke dalam kamar tidur. Perempuan cantik itu berjalan mendekati Arya Pethak dan mengelus pipi Arya Pethak.
"Hemmmmmmm kau betul betul tampan.. Kekayi dan Banawati benar benar tahu selera ku seperti apa.
Sebentar lagi kau akan berada di pelukan ku. Aku yakin kau mampu memuaskan hasrat ku hahahaha", ujar perempuan cantik cantik berbaju merah itu sambil tertawa lepas. Dia segera membalikkan badannya dan berjalan keluar dari kamar tidur itu.
"Siapa kau sebenarnya?".
Mendengar ucapan Arya Pethak, perempuan cantik berbaju merah langsung menoleh. Setelah sempat terkejut sebentar, dia segera tersenyum lebar.
"Rupanya sudah sadar ya?
Baguslah, aku lebih suka yang beringas di atas ranjang daripada yang seperti gedebok pisang hihihihihi...
Aku Dewi Merak Lembayung, penguasa Lembah Seribu Bunga. Kau beruntung anak muda, sebentar lagi kau aku bawa terbang ke langit ketujuh.
Oh iya satu hal lagi yang perlu kau ingat. Jangan coba coba untuk berusaha kabur dari tempat ini. Nyawa dua gadis dan si bogel itu ada di tangan ku. Lagi pula, Tali Cencang Jagad itu tak mungkin kau bisa putuskan. Jadi pasrah saja saat kau menjadi pasangan ku malam ini hahahahahahaha", Dewi Merak Lembayung tertawa lepas sambil berjalan keluar dari dalam kamar tidur tempat Arya Pethak di ikat.
Dengan seluruh tenaga nya, Arya Pethak mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan itu namun tali itu justru semakin terasa mengikat kuat.
Saat hampir putus asa untuk melepaskan diri, tiba tiba sebuah senyum terukir di wajah tampan Arya Pethak. Ada satu harapan yang bisa menolongnya lepas dari tempat itu.
Dawuk Ireng.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih banyak atas segala dukungan nya ya kakak reader semua nya. Dukungan kalian adalah semangat berkarya bagi author. Yang belum sahur, ayo buruan sahur 😁😁✌️✌️
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa 🙏🙏