Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Pertapaan Sapta Arga


__ADS_3

Ki Simo Biru segera memacu kuda nya ke arah Pantai Selatan Tanah Wengker. Subrata dan kelompok Arya Pethak segera mengikuti di belakangnya. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka menembus jalanan berbatu di timur daerah Wengker.


Setengah hari perjalanan, mereka mengisi perut mereka di sebuah warung makan yang cukup ramai di tepian kota Wengker. Warung yang terkenal murah dan bersih ini sangat terkenal di kalangan masyarakat kelas bawah yang melintas di sekitar Kota Wengker dan sekitarnya.


"Paman Simo,


Apa kita tidak kembali dulu ke Katumenggungan untuk memberitahu bahwa kita ada urusan penting ke pantai selatan?", tanya Subrata pada Ki Simo Biru usai mereka makan siang sambil menuntun kuda nya.


"Kau ini terlalu lugu, Subrata..


Apa kau pikir kita bisa aman setelah mengunjungi rumah? Raden Ronggo pasti menempatkan telik sandi nya di sekitar kediaman Tumenggung Gunosentiko. Ini sangat berbahaya, Subrata. Sebaiknya kita menyingkir dulu beberapa waktu menunggu masalah ini mereda. Raden Ronggo bukan lawan kita", jawab Ki Simo Biru yang segera melompat ke atas kuda nya. Subrata segera mengangguk mengerti dan mengikuti langkah sang paman.


Rombongan itu segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah selatan.


Sepasang mata lelaki bertubuh kurus dan berpakaian rakyat jelata saling berpandangan setelah melihat Ki Simo Biru dan Subrata.


"Kakang, bukankah mereka itu adalah Ki Simo Biru dan Subrata, pengawal pribadi Tumenggung Gunosentiko?


Kog mereka bisa ada di sini?", tanya si lelaki bertubuh kurus yang lebih muda.


"Iya ya, wah jangan jangan ada yang tidak beres dengan Suro Handoko?


Ayo cepat kita laporkan ini pada Raden Ronggo", ajak lelaki bertubuh kurus yang lebih tua dengan cepat. Si lelaki yang lebih muda mengangguk mengerti. Dua orang berpakaian rakyat jelata itu segera bergegas menuju ke sebuah rumah indah yang tersembunyi di lereng bukit timur Kota Wengker.


Seorang lelaki muda berpakaian bagus dari bahan mahal sedang duduk di kursi kayu sembari menikmati buah. Kumis tipis dan raut muka yang licik terpampang di wajahnya. Tubuhnya yang kekar nampak sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Arya Pethak, namun terlihat lebih berotot. Dua orang gadis muda yang cantik nampak menemaninya dengan berdiri di samping kanan kiri.


Dia adalah Raden Ronggo, putra penguasa Tanah Wengker dari selir. Saat ini bisa di katakan bahwa dia lah orang yang paling kuat di Tanah Wengker setelah Bhre Wengker sekarang. Namun karena Bhre Wengker sedang sakit keras, maka tidak seorang pun yang bisa sebanding dengan Raden Ronggo, termasuk sang putra mahkota Wengker, Raden Singomenggolo.


Dua orang berbadan kurus itu langsung masuk ke dalam puri tersembunyi itu. 4 orang pengawal pribadi Raden Ronggo yang bertugas tidak menghalangi mereka karena mereka telah mengenal mereka berdua, Cangak Biru dan ****** Rowo. Mereka berdua adalah telik sandi setia Raden Ronggo yang sudah lama mengikuti sang putra selir dari awal membangun kekuatan besar di Wilayah Wengker. Mereka lah yang berjasa besar menjadi mata dan telinga Raden Ronggo untuk menentukan siasat jitu.


"Mohon maaf Raden, ada berita penting yang perlu diperhatikan segera", ujar Cangak Biru sembari menghormat pada Raden Ronggo. Putra Bhre Wengker Singo Ludro itu langsung mengangkat tangan sebagai isyarat kepada dua gadis cantik yang menemani nya untuk pergi. Dua perempuan cantik itu dengan patuh langsung bergegas masuk ke dalam Puri.


"Katakan saja.."


.


"Mohon maaf Raden, tadi hamba baru saja melihat Ki Simo Biru sedang bergerak bersama rombongan kecil ke arah selatan. Sepertinya mereka menuju ke arah pantai selatan", lapor Cangak Biru dengan cepat.


"APAAAAAAA??!!


Bagaimana mungkin dia bisa lolos dari sergapan Suro Handoko? Bodoh Suro Handoko! Dia ceroboh sekali.. Apa kalian tidak salah lihat??", Raden Ronggo segera berdiri dan membanting cawan perak di tangan nya ke tanah dengan keras.

__ADS_1


"Kami tidak mungkin salah lihat, Raden..


Mereka ada 7 orang. Kami juga melihat keponakan Ki Simo Biru, Subrata dalam rombongan itu", imbuh ****** Rowo segera.


Dari arah luar, dua orang berpakaian serba hitam bergegas masuk. Mereka berdua adalah anak buah Suro Handoko yang ikut mengepung rombongan Arya Pethak kemarin. Mereka adalah orang-orang yang berhasil kabur setelah melihat Suro Handoko terbunuh oleh Arya Pethak.


"Nah ini dia anak buah Suro Handoko..


Hei kemana pimpinan kalian, si Suro Handoko ha? Cepat suruh dia kemari", ujar Raden Ronggo begitu melihat mereka berdua datang.


Dua orang itu saling berpandangan sejenak seakan kebingungan bagaimana cara menjawab pertanyaan Raden Ronggo.


"Malah diam? Cepat katakan sesuatu, sebelum aku menghukum kalian", bentak Raden Ronggo dengan keras.


"Am-ampuni kami Raden..


Ki Lurah Suro Handoko.. dia dia..", si anak buah Suro Handoko terlihat ragu-ragu menjawab.


"Dia dia apa? Jangan berbelit-belit. Cepat katakan apa yang terjadi", Raden Ronggo mulai gusar.


"Ki Ki Lurah Suro Handoko sudah di bunuh kawan Ki Simo Biru di perbatasan masuk Tanah Wengker. Orang nya memakai baju putih dan masih muda Raden", si anak buah Suro Handoko segera menghormat pada Raden Ronggo.


"Hah??!! Bagaimana mungkin?


Anak buah Suro Handoko lalu bercerita tentang kejadian yang dialami oleh Lurah Desa Pulung itu. Raden Ronggo meski sedikit merasa tidak percaya dengan cerita itu, namun jika di hubungkan dengan kemunculan Ki Simo Biru dan Subrata di selatan Kota Wengker, cerita itu benar adanya. Putra selir Bhre Wengker itu segera menghela nafas berat.


"Kalau begitu, aku harus segera menemui Resi Ranugati di lereng Gunung Wilis, guru Suro Handoko untuk mengabarkan berita ini sekaligus meminta bantuan nya untuk membalas dendam kematian Suro Handoko.


Cangak Biru dan ****** Rowo,


Kalian ku tugaskan untuk mengikuti Ki Simo Biru. Laporkan semua hal yang kau lihat. Tapi jangan bertindak gegabah. Kau bukan lawan orang itu. Tunggu kedatangan Resi Ranugati.


Dan kalian berdua,


Cari Walang Biru dan suruh menghadap pada ku secepatnya. Apa kalian sudah mengerti?", perintah Raden Ronggo segera.


"Sendiko dawuh Raden".


Keempat orang itu segera menyembah pada Raden Ronggo dan dengan cepat meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka.


Setelah mereka pergi, Raden Ronggo segera menepuk tangannya dan dua orang wanita cantik yang tadi menemani nya segera masuk.

__ADS_1


"Kalian berdua, pijati aku di kamar. Aku sedang pusing, perlu menyegarkan otak ku", ujar Raden Ronggo segera. Dua sosok perempuan cantik itu segera tersenyum simpul dan buru buru mengekor langkah Raden Ronggo menuju kamar karena tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh putra Bhre Wengker itu.


Selanjutnya dari dalam kamar tidur Raden Ronggo, terdengar jerit jerit kecil keenakan di padu dengan nafas ngos-ngosan yang memburu.


Di selatan Kota Wengker, rombongan Arya Pethak terus memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah sebuah wilayah yang menjadi tempat tinggal Resi Candramaya, bekas Bhre Wengker yang sekarang telah meninggalkan urusan keduniawian untuk menghadapi alam keabadian, Pertapaan Sapta Arga.


Setelah melewati puluhan desa di wilayah selatan Wengker, rombongan itu akhirnya sampai di sebuah perbukitan yang terletak di tepi Laut Selatan setelah 2 hari semalam menempuh perjalanan. Pemandangan alam di tempat itu begitu indah. Bukit bukit hijau menjulang tinggi dengan tujuh puncak berdekatan seperti hendak menjangkau langit. Di tengah pertemuan puncak bukit ini, ada sebuah bangunan keagamaan yang sederhana namun indah di pandang mata.Semilir angin dingin yang berhembus dari laut membuat tempat itu terasa sejuk. Burung burung pun terdengar berkicau riang di atas ranting pepohonan yang tumbuh di sepanjang perjalanan mereka seakan menyambut kedatangan Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


Dari penduduk sekitar mereka tahu bahwa mereka telah mendekati Pertapaan Sapta Arga.


Rombongan Arya Pethak terus memacu kudanya melintasi jalan berbatu yang ada di kaki bukit. Debu debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka.


Setelah cukup lama berkuda, jalan yang mereka lalui semakin menyempit sehingga hanya seekor kuda saja yang bisa melewatinya. Jalan itu menanjak dengan kemiringan yang cukup curam hingga mereka tidak bisa terburu buru untuk sampai ke puncak.


Seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang berbadan gempal dengan pakaian serba putih yang menjadi ciri khas seorang pertapa nampak duduk bersila di depan sanggar pamujan. Tangan kanannya nya terus memutar tasbih kayu gaharu sebesar jempol tangan orang dewasa. Matanya terpejam rapat sementara mulutnya terus komat kamit membaca mantra puja dewa. Meski wajah nampak tua dengan keriput yang menghiasi wajah, namun lelaki tua ini nampak agung dan berwibawa seperti wajah seorang lelaki bangsawan atau keturunan raja.


Dia adalah Resi Candramaya, atau pada masa mudanya dikenal sebagai Warok Singo Condro, bekas raja daerah Wengker yang bergelar Bhatara ring Wengker atau biasa disingkat dengan sebutan Bhre Wengker. Selepas masa pemerintahan nya yang penuh pergolakan politik di Kerajaan Singhasari, Warok Singo Condro menyerahkan kekuasaan nya pada putra sulung dari selirnya, Warok Singo Ludro setelah perginya putri satu-satunya dari permaisuri yang bernama Dewi Windradi ke Tanah Sunda untuk di nikahi Pangeran Ranawijaya. Dia begitu berduka cita atas perginya putri kesayangannya itu, hingga memilih untuk mundur dari tahta Wengker dan menjadi pertapa. Di Pertapaan Sapta Arga, dia menekuni ilmu agama Siwa dan menjauhi segala urusan dunia termasuk pemerintahan Tanah Wengker.


Entah mengapa, tangan Resi Candramaya tiba tiba terhenti saat memutar tasbih kayu gaharu nya. Tiba tiba saja, kenangan indah bersama putri kesayangannya Dewi Windradi melintas di kepala nya. Resi Candramaya membuka mata nya dan menghela nafas berat.


"Windradi putri ku ...


Kenapa akhir akhir ini aku selalu teringat dengan mu Ngger? Apa terjadi sesuatu pada mu? Atau ini adalah pertanda dari Hyang Siwa?"


Karena teringat pada Dewi Windradi terus, Resi Candramaya segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud untuk meninggalkan tempat itu saat seorang cantrik Pertapaan Sapta Arga datang kepadanya dengan sedikit terburu buru.


"Mohon ampun bila saya mengganggu, Guru..


Ada hal penting yang harus saya sampaikan", ujar si cantrik Pertapaan Sapta Arga bertubuh kekar itu dengan penuh hormat. Resi Candramaya segera mengangkat tangan kanannya, " Katakan saja ada apa Galungan?"


"Ada serombongan pendekar yang datang ke tempat kita. Mereka ingin bertemu dengan Guru.


Salah seorang diantara mereka adalah seorang perempuan cantik menyerahkan ini untuk guru. Katanya Guru akan mengenali benda ini", si cantrik Pertapaan Sapta Arga yang bernama Galungan itu segera menyerahkan selendang biru bersulam gambar seekor burung merak dari benang emas.


Wajah Resi Candramaya langsung terkejut bukan main melihat selendang biru ini.


"Dimana mereka sekarang, Galungan?".


"Mereka saya tempatkan di pendopo kediaman utama Pertapaan Sapta Arga, Guru", Galungan menghormat pada Resi Candramaya. Tanpa menunggu omongan Galungan, Resi Candramaya langsung bergegas menuju ke arah yang di maksud oleh murid nya itu. Kedatangan Resi Candramaya yang terburu buru langsung membuat rombongan Arya Pethak terkejut. Terlebih lagi di tangan nya menggenggam erat sebuah selendang biru bersulam gambar seekor burung merak dari benang emas.


"Katakan pada ku,

__ADS_1


Siapa yang memiliki selendang ini?"


__ADS_2