
Semua mata langsung tertuju pada asal suara. Serombongan orang berpakaian mewah dengan dandanan layaknya para prajurit dan bangsawan muncul dari jalan. Pakaian mewah mereka bergoyang tertiup angin yang berhembus perlahan.
Mereka adalah rombongan dari Kepatihan Kadiri. Rombongan itu dipimpin langsung oleh Patih Pranaraja dan Sekarwangi alias Ragil Kuning.
Kehadiran mereka langsung menarik perhatian semua orang yang hadir di upacara pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning.
Klungsur yang melihat kedatangan mereka langsung menoleh ke arah Arya Pethak. Setelah melihat anggukan kepala dari Arya Pethak, Klungsur segera berdiri dari tempat duduknya.
"Gusti Putri Sekarwangi?
Selamat datang di upacara pernikahan Ndoro Pethak, Gusti Putri. Monggo silahkan Gusti Putri duduk bersama para tamu yang datang. Monggo Gusti Putri..", ujar Klungsur yang segera berlari menyambut kedatangan Dewi Sekarwangi dan Patih Pranaraja.
"Minggir kau Sur!", Sekarwangi alias Ragil Kuning terus melangkah maju menuju ke arah pelaminan sembari mendorong tubuh Klungsur agar tidak menghalangi jalan nya.
Klungsur nyaris saja hilang keseimbangan andai Nirmala tidak menahan tubuhnya.
"Kakang Pethak,
Bagaimana bisa kau menikah dengan perempuan itu? Aku tidak terima", Sekarwangi yang sudah di depan pelaminan langsung menunjuk ke arah Anjani yang berdiri di samping kanan Arya Pethak.
"Ragil Kuning!
Jaga sikap mu! Kau jangan membuat malu keluarga Kepatihan Kadiri".
Suara Patih Pranaraja begitu tegas terdengar di telinga semua orang. Semua orang saling berpandangan tak mengerti apa yang sedang terjadi di depan mata mereka. Suasana terasa sangat canggung.
Mpu Prawira dan Nyi Ratih bergegas berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Patih Pranaraja.
"Apa sebenarnya yang terjadi Kakang Pranaraja? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?", tanya Mpu Prawira sembari menatap wajah tua Patih Pranaraja.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, Adhi Prawira. Sebaiknya kita cari tahu sekarang ", jawab Patih Pranaraja sembari berjalan mendekati Arya Pethak, Anjani, Nay Kemuning dan Sekarwangi yang berdiri tak jauh dari tempat nya. Mpu Prawira dan Nyi Ratih segera mengikuti langkah Patih Pranaraja.
Setelah menatap wajah mereka berempat, Patih Pranaraja mulai angkat bicara.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Ragil Kuning?
Kenapa kau tidak menyetujui pernikahan Arya Pethak? Jawab jujur karena aku tidak mau ada kebohongan sedikit pun dari keterangan mu", Patih Pranaraja menatap wajah cantik Sekarwangi yang terlihat merah padam menahan amarahnya.
"Aku tidak rela Kakang Pethak menikah dengan perempuan itu Romo, dia adalah murid Dewi Ular Siluman yang pernah hampir mencelakai ku dan Paramita di Kadipaten Anjuk tempo hari", ujar Sekarwangi dengan keras.
"Itu memang benar guru ku berniat mencelakai Kakang Pethak.. Tapi kakang Pethak juga bisa mengalahkan nya bukan, Gusti Putri?
Itu tidak bisa kau jadikan alasan untuk keberatan dengan pernikahan kami. Toh Kakang Pethak dan aku sekarang sudah resmi menjadi suami istri ", balas Anjani tak mau kalah.
Meski pun baru saja mereka menikah, tapi Anjani memang sudah sah menjadi istri dari Arya Pethak.
"Atas dasar apa kau berani menikahi Kakang Pethak?
Apa kau ingin memanfaatkan kedekatan kalian untuk membalas dendam kematian guru mu Anjani?", Sekarwangi tak kalah sengit beradu pendapat.
"Tentu saja atas dasar cinta kasih.
Kematian Dewi Ular Siluman memang di sebabkan oleh Kakang Pethak tapi itu semua karena kesalahannya sendiri. Meski aku belajar kepandaian ilmu beladiri dari nya, aku tak lebih dari seorang budak yang harus menuruti kemauan nya, Gusti Putri. Lantas kematiannya menjadi awal kebebasan ku. Lalu untuk apa aku membalas dendam pada orang yang sudah membebaskan ku dari belenggu perbudakan Dewi Ular Siluman?", jawab Anjani sambil tersenyum tipis.
"Kauuuu....
Pokoknya aku tidak percaya dengan mu Anjani dan aku keberatan jika kau menikah dengan Kakang Pethak. Titik!", balas Sekarwangi tak mau mengalah sedikitpun.
"Sekarwangi,
Kau jangan keras kepala Ngger Cah Ayu. Anjani sudah memberikan alasannya. Kau tidak boleh memaksakan kehendak mu sendiri", ujar Patih Pranaraja dengan lembut.
"Pokoknya aku tidak terima Romo..
Aku tetap saja mengkhawatirkan keadaan Kakang Pethak jika terus bersama perempuan itu. Mulai saat ini aku akan terus mengikuti Kakang Pethak kemanapun dia pergi", sahut Sekarwangi dengan cepat.
__ADS_1
"Kau ini seorang bangsawan. Untuk apa mengikuti suami orang, Ragil Kuning? Yang mengikuti langkah seorang suami tentu saja adalah istri nya", sergah Anjani memotong pembicaraan Sekarwangi dan Patih Pranaraja. Itu membuat Sekarwangi semakin geram dengan omongan Anjani.
"Huhhhhh...
Perempuan licik. Jangan kira kau sudah menang ya? Aku.. Aku juga akan jadi istri Kakang Pethak", Sekarwangi mendelik tajam ke arah Anjani.
Semua orang terkejut mendengar perkataan Dewi Sekarwangi alias Ragil Kuning. Mereka saling berpandangan sejenak tanpa bisa berkata apa-apa. Semuanya hanya menunggu bagaimana kelanjutan pertengkaran ini.
"Sekarwangi, kau jangan keterlaluan!", ucap Anjani yang sudah tidak bisa menahan diri lagi mendengar kengototan Sekarwangi.
"Apa nya yang keterlaluan?
Sekarang kau dengar jawaban Romo ku dan Paman Prawira sebelum mengatakan aku keterlaluan.
Kanjeng Romo, Paman Prawira..
Sekarang aku tanya pada kalian. Apa benar aku dan Kakang Pethak sudah di jodohkan sejak kecil? Tolong jawab jujur. Yang berbohong akan mendapat balak dari Hyang Akarya Jagat", ucap Sekarwangi sembari menatap ke arah Mpu Prawira dan Patih Pranaraja.
Kejutan besar itu langsung membuat semua orang terpana termasuk Arya Pethak. Dia yang sedari tadi diam saja langsung ikut menatap ke arah Mpu Prawira dan Patih Pranaraja yang saling berpandangan mendengar pertanyaan Dewi Sekarwangi.
"Darimana kau tahu itu semua Sekarwangi?", tanya Patih Pranaraja segera.
"Sepulang dari Kadipaten Anjuk Ladang, aku membantu dayang istana Kepatihan untuk membersihkan kamar tidur Kanjeng Romo karena lemari tempat penyimpanan barang pribadi Romo patah landasannya dan hampir menimpa salah seorang dayang.
Tak sengaja aku membaca sebuah surat yang tercecer di lantai kamar tidur Romo. Itu surat dari Paman Prawira yang menerima perjodohan ku dengan Kakang Pethak.
Sebenarnya aku tidak ingin membongkar rahasia ini semua, tapi keadaan sekarang berbeda. Makanya aku memaksa ikut kemari untuk menuntut hak ku.
Kalau kalian tidak percaya, ini surat itu", Sekarwangi merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan segulung daun lontar yang sudah lapuk dimakan usia namun isi dari tulisannya masih bisa terbaca dengan jelas.
Angin semilir bertiup lembut di sekitar tempat itu.
"Sebenarnya aku tidak ingin masalah ini terjadi Ngger Cah Bagus..
"Romo tidak perlu merasa tidak nyaman dengan ini semua.. Aku adalah putra Romo, sudah kewajiban ku untuk mikul duwur mendem jero ( menghormati orang tua ) apa yang sudah menjadi perjanjian lama dari Kanjeng Romo dan Biyung..
Aku tidak mau membebani masa tua Romo dengan permasalahan ini.
Sekarwangi, sekarang aku tanya apa mau mu sekarang?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah Dewi Sekarwangi.
"Aku mau Kakang Pethak meninggalkan perempuan itu", Sekarwangi menunjuk ke arah Anjani. Mendengar perkataan Sekarwangi, tangis Anjani langsung pecah. Nay Kemuning langsung memeluk tubuh Anjani untuk menenangkan nya.
"Maaf aku tidak bisa, Sekarwangi..
Bagaimana pun kami sudah sah menjadi suami istri. Aku tidak mungkin meninggalkan nya begitu saja", Arya Pethak tersenyum kecut.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan meminta nya pada Kakang.
Sekarang aku minta hak ku untuk kau nikahi Kakang Pethak. Hari ini juga, tak mau menunggu hari esok. Itu syarat yang harus kau penuhi agar Kakang Pethak tetap bisa bersama dengan nya", ucap Sekarwangi dengan cepat.
Mendengar permintaan itu, Arya Pethak langsung menoleh ke arah Anjani dan Nay Kemuning. Nay Kemuning mengangguk mengerti dan Anjani tersenyum tipis sembari mengangguk cepat.
Melihat kesediaan dua istri nya, Arya Pethak menoleh ke arah Dewi Sekarwangi yang masih berdiri di hadapannya.
"Baiklah Sekarwangi.. Mereka sudah setuju dan aku juga tidak punya alasan untuk menolaknya", ujar Arya Pethak sambil tersenyum simpul.
Semua orang menarik nafas lega setelah melihat permasalahan itu berakhir tanpa perlu mengorbankan salah satu pihak.
Mpu Prawira segera mendekati Resi Jnanabajra yang sempat melongo melihat pertengkaran tadi.
"Cepat persiapkan upacara nya Resi... Aku tidak mau mendapat malu di depan Gusti Patih Pranaraja", bisik Mpu Prawira.
"Jangan mendesak ku, Mpu Prawira..
Kemarin janji mu cuma sekali saja. Lah sekarang jadi dua. Tidak bisa grusa grusu begitu", balas Resi Jnanabajra dengan cepat.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kau siapkan segalanya secepat mungkin..
Nanti aku tambahi upah mu", ujar Mpu Prawira sembari berbalik arah menuju ke arah Patih Pranaraja.
"Huhhhhh kau pikir air suci pernikahan itu tinggal ambil di sungai..
Dasar geblek", gerutu Resi Jnanabajra sembari menengok air kuali kecil yang di gunakan untuk penyucian pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning tadi. Resi Jnanabajra menghela nafas lega melihat masih ada cukup air suci pernikahan disana.
Nyi Ratih senyum senyum sendiri sembari menggiring Dewi Sekarwangi untuk berganti pakaian pengantin di dalam rumah. Setelah berdandan sebentar, Dewi Sekarwangi keluar dari dalam rumah dengan dandanan pengantin yang memakai kain putih dan sumping bunga di telinga.
Suasana yang sedikit mendung tak membuat acara pernikahan yang kembali di gelar hari itu menjadi kurang khidmat.
Untuk kedua kalinya, hari itu Arya Pethak melangsungkan pernikahan. Kali ini Dewi Sekarwangi yang duduk bersanding dengan nya di pelaminan. Senyum manis terukir di wajah cantik Dewi Sekarwangi sembari sesekali melirik ke arah Arya Pethak yang nampak tenang saja.
Anjani dan Nay Kemuning duduk di samping Mpu Prawira dan Nyi Ratih. Dua istri yang baru saja di nikahi Arya Pethak beberapa saat lalu nampak mengikuti acara pemberkatan pernikahan itu dengan tenang.
"Apa kalian tidak sakit hati melihat suami kalian menikah lagi?", tanya Nyi Ratih sembari menatap ke arah Nay Kemuning dan Anjani yang duduk di samping nya.
"Untuk apa kami sakit hati Biyung? Kakang Pethak masih mempertahankan kami, itu artinya dia benar benar sayang pada kami.
Sekarang yang di jalani nya adalah wujud dharma bakti nya pada Romo dan Biyung, tentu saja kami tidak akan membantah. Karena berbakti kepada orang tua itu wajib hukumnya", jawab Anjani sambil tersenyum tipis.
"Abdi teh juga sudah bersyukur Ambu..
Akang Pethak teh tidak melepaskan kami untuk melaksanakan tugas nya sebagai seorang anak. Itu sudah cukup untuk abdi", sambung Nay Kemuning yang segera membuat Nyi Ratih terharu dengan jawaban mereka berdua. Dia segera memeluk tubuh kedua istri Arya Pethak itu dengan mata berkaca-kaca.
Suasana pernikahan Arya Pethak dan Sekarwangi yang berlangsung khidmat berakhir dengan penghormatan kepada kedua orang tua.
Patih Pranaraja nampak berkaca-kaca matanya saat Dewi Sekarwangi sungkem kepada nya. Dia tak menyangka bahwa hari ini dia akan menyaksikan putri bungsunya itu menikah.
"Pethak, aku titipkan putri ku padamu.. Tolong kau jaga dia dan kau sayangi dia seperti aku menyayanginya..
Aku tahu sifat Sekarwangi sering menyebalkan dan keras kepala tapi di balik itu semua, dia hanya seorang gadis polos yang tidak pernah mendapat perhatian dan kasih sayang karena dia kehilangan ibunya saat masih kecil", ucap Patih Pranaraja saat Arya Pethak sungkem kepada nya.
"Kanjeng Romo Patih tenang saja..
Aku sudah hapal betul dengan sifat Sekarwangi. Aku berjanji untuk selalu menyayangi dan melindungi nya dengan sepenuh hati ku Kanjeng Romo", jawab Arya Pethak sambil menghormat pada Patih Pranaraja. Warangka praja Kadiri tersenyum simpul sambil menepuk pundak Arya Pethak.
Setelah itu di adakan hiburan dan ramah tamah dengan acara makan makan yang sudah di siapkan.
Serombongan penari keliling di sewa Mpu Prawira untuk memeriahkan acara malam hari itu. Semuanya terlihat bahagia dan gembira. Salah seorang anggota rombongan Patih Pranaraja tadi siang sempat turun ke arah Pakuwon Ganter lalu membeli puluhan jun bambu tuak penghangat tubuh karena cuaca di wilayah Bukit Kahayunan cukup dingin. Suasana malam itu benar benar meriah. Bunyi gamelan yang rancak di tambah goyangan para penari keliling semakin membuat suasana semakin meriah.
Arya Pethak, Anjani, Sekarwangi dan Nay Kemuning nampak menonton pertunjukan itu dari jendela rumah.
Klungsur yang duduk bersama Nirmala, melirik ke arah jendela rumah tempat Arya Pethak dan para istri nya menonton. Dia segera menyikut pinggang Nirmala pelan. Gadis cantik asal Kadipaten Songeneb itu segera menoleh ke arah Klungsur.
"Ada apa Kang?", tanya Nirmala dengan cepat.
"Sssttttt...
Jangan keras-keras suara mu. Coba kau lihat ke arah jendela di belakang itu", Klungsur memberi isyarat tangan pada Nirmala. Gadis berkulit hitam manis itu segera mengikuti petunjuk Klungsur lalu menoleh ke arah Klungsur lagi.
"Memangnya kenapa Kang?", tanya Nirmala yang tak mengerti maksud ucapan Klungsur. Pemuda bertubuh bogel itu langsung menepuk jidatnya sendiri sembari menggelengkan kepalanya.
"Wes benar-benar tidak nyambung..
Kau mau bertaruh dengan ku tidak Nir?", Klungsur mengeluarkan sekantong kecil kepeng perak dan mengulurkan nya pada Nirmala.
"Taruhan apa Kang? Sengko tidak suka judi ya", Nirmala menatap heran kearah Klungsur.
"Tenang saja ini bukan taruhan judi kog. Kalau kau menang kau boleh ambil uang itu untuk beli baju baru. Kalau kalah kau harus mencium pipi ku. Gampang kan?", Klungsur tersenyum tipis.
"Enteng kalau cuma begitu. Memang apa yang mau dijadikan taruhan Kang?", Nirmala kembali menatap Klungsur. Pemuda bertubuh bogel itu segera tersenyum lebar sebelum berbicara.
"Siapa yang di tiduri Ndoro Pethak lebih dulu malam ini?"
__ADS_1