
"Aku Arya Pethak, Nyi..
Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ku?", tanya Arya Pethak sambil menghentikan gerakannya yang hendak menikmati makanan. Dia meletakkan kembali piring nya kembali ke atas meja.
"Darimana asal mu Arya Pethak? Maaf menyela acara makan mu tapi ini penting untuk ku anak muda", kembali Nyi Sekati melontarkan pertanyaan pada Arya Pethak.
"Aku berasal dari Bukit Kahayunan, Nyi..", jawab Arya Pethak sambil menatap heran kearah Nyi Sekati. Wajah perempuan paruh baya itu sedikit terkejut lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu, setelah kau selesai bersantap, aku ingin sekali berbincang-bincang dengan mu nanti.
Selesaikan dulu makan mu pendekar muda ", usai berkata demikian, Nyi Sekati segera berbalik arah dan melangkah kembali ke arah dapur nya.
"Ndoro, perempuan tua itu agak aneh ya..
Jangan jangan dia sedikit kurang waras", ujar Klungsur sambil melirik ke arah Nyi Sekati yang berlalu menuju ke arah dapur.
"Aku rasa tidak Sur..
Sepertinya dia tahu sesuatu yang tidak aku. Sebaiknya kita cepat makan setelah itu kita temui perempuan itu dan tanyakan apa maunya", jawab Arya Pethak segera.
Mendengar perkataan Arya Pethak, Sekarwangi, Nay Kemuning dan Anjani mengangguk mengerti. Nirmala dan Klungsur melakukan hal yang sama. Santapan siang itu benar benar lezat. Nyi Sekati memang pintar memasak.
"Wah masakan warung ini benar benar enak ya Kakang..
Aku mau belajar masak sama pemilik warung makan ini agar Kakang Pethak bisa makan enak tiap hari ", ujar Sekarwangi sambil mengusap sisa kuah yang menempel di bibir Arya Pethak.
"Alah aku gak yakin Gusti Putri bisa masak, wong masuk ke dalam dapur Kepatihan saja tidak mesti setahun sekali", cerocos Klungsur langsung tanpa ada kendali. Dewi Sekarwangi mendengus keras sambil mendelik tajam ke arah Klungsur, sementara Nay Kemuning dan Anjani mengulum senyumnya.
Nirmala dengan cepat menginjak jempol kaki Klungsur dengan cepat.
"Waaaddddaaaawwwwhhh..!!
Wong edan! Kenapa kau injak jempol kaki ku Nir?", Klungsur menoleh ke arah Nirmala. Melihat tatapan mata tajam Nirmala dan isyarat kepalanya, Klungsur menoleh ke arah Dewi Sekarwangi yang seperti ingin membunuhnya. Sadar tingkahnya sudah keliru, Klungsur langsung ketakutan.
"Maaf Gusti Putri,
Klungsur kelewatan. Mohon ampun Gusti Putri", ujar Klungsur sembari menyembah pada Dewi Sekarwangi.
Hemmmmmmm...
Saat Sekarwangi hendak menjawab, Nyi Sekati menghampiri mereka hingga Sekarwangi tak jadi bicara.
"Kalian semua sudah selesai makan nya? Ayo kita ke belakang saja agar tidak menggangu kenyamanan para pelanggan warung makan yang lain", ajak Nyi Sekati sembari berjalan menuju ke arah belakang warung makan yang merupakan rumah nya.
Sekarwangi melirik kearah Klungsur sambil berkata pelan, " kali ini pemilik warung makan ini menyelamatkan mu, tapi nanti .....".
Dua jari tangan Sekarwangi menggores leher perempuan itu seperti hendak memotong nya. Klungsur langsung bergidik ngeri dan buru buru mendekati Arya Pethak yang sudah berjalan lebih dulu mengikuti langkah Nyi Sekati.
Nyi Sekati segera mempersilahkan mereka semua untuk duduk di ruang tamu kediaman nya. Mereka semua segera duduk di kursi kayu yang mengelilingi sebuah meja besar di tengah ruangan.
"Maaf sebelumnya Nyi..
__ADS_1
Apa ada sesuatu yang penting sehingga Nyi Sekati meminta kami semua kesini?", tanya Arya Pethak segera.
"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu Arya Pethak, darimana kau dapat kalung berliontin kepala naga itu?", tanya Nyi Sekati sembari menatap wajah tampan Arya Pethak seolah menunggu setiap kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Ayah angkat mengatakan bahwa kalung berliontin kepala naga ini ada di leher ku saat aku di temukan.
Memangnya kenapa Nyi?", Arya Pethak balik bertanya pada Nyi Sekati.
Hemmmmmmm...
"Apa kau punya tanda lahir pada pangkal paha mu sebelah kanan?", kembali Nyi Sekati melayangkan pertanyaan yang menggelitik rasa penasaran semua orang.
"Darimana Nyi tahu tanda lahir suami ku? Coba jelaskan", Dewi Sekarwangi menyahut omongan Nyi Sekati segera.
"Tidak salah lagi. Tidak salah lagi..
Oh Jagat Dewa Batara,
Kau kau adalah Raden Panji Dandungwacana, putra Panji Kertapati majikan ku huhuhuhuhuhuu", tangis haru bercampur bahagia terdengar dari mulut Nyi Sekati.
HAAAHHH??!!!!
Terkejut semua orang mendengar ucapan Nyi Sekati. Cerita menghilangnya Padepokan Padas Lintang yang di pimpin oleh Panji Kertapati dalam semalam menjadi cerita turun temurun yang pernah semua orang dengar dari orang tua mereka.
"Tunggu dulu Nyi, coba tenanglah dulu..
Kau bilang tadi siapa nama ku?", tanya Arya Pethak dengan cepat.
"Raden Panji Dandungwacana, putra Panji Kertapati dan Dewi Sekar Lembayung", ulang Nyi Sekati sembari menyunggingkan senyumnya.
"Darimana Nini tau semua itu? Seingat ku Gusti Patih Pranaraja hanya menyebut nama ayah ku adalah Panji Kertapati. Siapa Nyi ini sebenarnya?", berjuta pertanyaan melintas di kepala Arya Pethak.
"Namaku Sekati, pelayan Gusti Sekar Lembayung dan Raden Panji Kertapati, cucu raja terakhir Kerajaan Daha Prabu Dandang Gendis atau juga di kenal dengan nama Kertajaya.
Sewaktu peristiwa pembantaian Padas Lintang, saat ayahmu bertarung melawan Kumaradewa dan Gagak Cemani, aku membawa lari dirimu yang masih berusia 7 bulan. Ibu mu Dewi Sekar Lembayung di bunuh oleh Gagak Cemani sedangkan ayahmu di bantai Kumaradewa.
Aku menyembunyikan mu di antara mayat-mayat para anak murid Padepokan Padas Lintang, sial nya aku tertangkap dan di seret oleh anak buah Gagak Cemani yang ingin memperkosa ku. Aku diseret ke semak belukar untuk memuaskan nafsu bejat nya. Saat anak buah Gagak Cemani sudah hampir memperkosa ku, aku menarik golok nya dan menusuk perut lelaki durjana itu. Aku yang sudah tidak bertenaga lalu pingsan. Saat aku siuman, aku kembali mendatangi tempat aku menyembunyikan mu namun kau sudah tidak ada.
Berbulan-bulan lamanya aku mencari mu di sekitar Mondoluku namun kau bagai menghilang di telan bumi. Aku merasa begitu bersalah pada Gusti Panji Kertapati dan Dewi Sekar Lembayung yang sudah mempercayakan mu kepada ku.
Akhirnya aku memutuskan untuk berpindah tempat karena putus asa dengan pencarian ku yang sia sia.
Selama dua puluh tiga tahun ini, aku terus di hantui perasaan bersalah karena tak menemukan mu. Hari ini aku benar benar merasa lega. Aku akan menebus dosa ku pada Dewi Sekar Lembayung dan Raden Panji Kertapati dengan mengabdi kepada mu, Raden Panji Dandungwacana ", ujar Nyi Sekati menutup cerita masa lalu Arya Pethak.
Wajah tampan Arya Pethak nampak menghela nafas berat. Perasaan nya kini campur aduk menjadi satu.
"Nyi Sekati tidak perlu melakukannya. Aku percaya semua ini adalah jalinan takdir yang harus aku jalani.
Aku sudah cukup berterima kasih pada mu Nyi soal cerita mu dan siapa saja orang yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua ku.
Biarlah aku yang akan menuntut balas kematian mereka di kemudian hari", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Siang itu Nyi Sekati menjawab semua pertanyaan Arya Pethak tentang kedua orang tua nya dan kedua kakaknya yang terbunuh pada malam pembantaian itu.
Sebenarnya siang itu juga Arya Pethak berniat untuk meneruskan perjalanan nya ke Tanah Wengker tapi Nyi Sekati memohon kepada Arya Pethak agar di ijinkan barang sehari untuk menjalankan tugas nya sebagai pelayan Panji Kertapati.
Tak tega dengan permintaan Nyi Sekati, akhirnya Arya Pethak memutuskan untuk menunda keberangkatan nya ke Tanah Wengker esok hari setelah meminta persetujuan ketiga istrinya.
"Jadi nama asli Ndoro Pethak itu Panji Dandungwacana ya?
Wah terdengar seperti nama seorang bangsawan ya. Eh selanjutnya Ndoro Pethak tetap menggunakan nama Arya Pethak atau Panji Dandungwacana?", tanya Klungsur segera.
"Sampai aku bisa membalas dendam kematian kedua orang tua dan di saudara ku, aku akan tetap menggunakan nama Arya Pethak Sur..
Tapi jika pembunuh pembunuh itu sudah lenyap maka aku akan menggunakan nama Panji Dandungwacana", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis. Klungsur manggut-manggut mengerti.
Sementara Arya Pethak dan pengikutnya berbincang di dalam rumah Nyi Sekati, di warung makan Nyi Sekati, sore itu kedatangan tamu istimewa.
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis dan wajah lonjong serta menggunakan pakaian laya seorang perwira tinggi prajurit Kabupaten Gelang-gelang masuk ke dalam warung makan itu bersama beberapa pengikutnya.
Dia adalah Tumenggung Jaran Guyang, salah satu perwira tinggi prajurit Gelang-gelang yang tersohor suka main perempuan. Sore itu Jaran Guyang sedang kelaparan karena baru saja di tugaskan oleh Bupati Gelang-gelang, Jayakatwang untuk mengirim barang ke Kadipaten Ngrowo.
Setelah menyiapkan makanan pesanan Jaran Guyang, Nyi Sekati mengantarkan makanan ke meja Jaran Guyang.
Anjani masuk ke dalam warung setelah di suruh suami nya untuk meminta segelas wedang jahe. Tumenggung Jaran Guyang yang sedang menikmati makanan nyaris tersedak melihat kecantikan Anjani yang terlihat anggun dengan gaun berwarna biru tua.
Jaran Guyang segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Anjani yang sedang menunggu wedang jahe buatan Nyi Sekati.
"Hai wanita cantik,
Aku tidak pernah melihat mu sebelumnya? Kau bukan orang sini ya?", tanya Jaran Guyang dengan senyum lebar merekah di bibirnya. Anjani sama sekali tidak mengacuhkan omongan Jaran Guyang. Mendapat perlakukan seperti ini, Tumenggung Jaran Guyang langsung marah besar.
"Kurang ajar!
Kau tidak pernah di ajari tatakrama oleh orang tua mu ya? Jangan seenaknya mengacuhkan omongan seorang perwira tinggi prajurit Gelang-gelang.
Hei Nisanak, jangan kurang ajar ya ", Jaran Guyang segera memegang pundak Anjani dari belakang. Namun istri Arya Pethak itu dengan cepat menangkap pergelangan tangan Tumenggung Jaran Guyang dan memuntir nya.
"Hai apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku Nisanak aaarrrghh sakit sekali ", Jaran Guyang mengerang kesakitan karena puntiran Anjani nyaris mematahkan lengan nya.
"Aku tidak ingin berbuat kasar tapi kau memaksa ku untuk melakukan nya", tukas Anjani dengan cepat.
"Hei Nisanak,
Cepat kau lepaskan Gusti Tumenggung Jaran Guyang, kalau tidak...", si prajurit tidak meneruskan omongannya.
"Kalau tidak apa? Kalian mau membunuh ku? Coba saja kalau kalian bisa", tantang Anjani segera.
Pertengkaran antara mereka semakin memuncak.
Nyi Sekati segera berlari menuju ke tempat kediamannya. Kebetulan Arya Pethak sedang duduk bersama dengan Klungsur di serambi. Dengan cepat ia mendekati Arya Pethak sembari berkata,
"Raden,
__ADS_1
Istri mu bertengkar di depan"