
Puluhan orang berpakaian serba hitam dengan mengenakan sebuah kalung berliontin gambar kelabang muncul dari balik rimbun pohon tepat di sebelah pohon besar yang tumbang tadi. Sebuah bayangan hitam berkelebat cepat dan mendarat di atas batang kayu yang melintang di tengah jalan raya. Begitu bayangan itu menoleh, nampak jelas bahwa dia adalah seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian serba hitam dengan pelisir merah pada ujung-ujungnya.
Hemmmmmmm
"Para bajingan Kelompok Kelabang Ireng..
Mau apa kalian menghalangi jalan kami?", ucap Arya Pethak sambil mendengus dingin. Melihat kalung dengan liontin bergambar kelabang di leher si lelaki bertubuh gempal yang tak lain adalah Mahesa Linggapati itu membuat Arya Pethak seperti diingatkan dengan kejadian yang menimpa nya 25 tahun yang lalu.
Mahesa Linggapati terkekeh kecil sebelum berbicara.
"Arya Pethak, dasar pemberontak busuk!!
Hari ini aku akan mewakili pemilik sah Tanah Mandala Wengker untuk menuntut agar kau mengembalikan tahta pada yang berhak. Ikut aku menghadap Raden Ronggo untuk meminta pengampunan dosa mu sekarang. Kalau kau menolak, akan ku bawa kepala mu sebagai tumbal bangkitnya kembali keturunan Adipati Singo Ludro!", ujar Mahesa Linggapati dengan penuh ancaman.
"Hahahaha lucu sekali omongan mu, heh antek Kelabang Ireng..
Adipati Singo Ludro merebut hak atas tahta Mandala Wengker dari Dewi Windradi. Itu pun dengan cara yang licik. Sudah sewajarnya saja jika keturunan Dewi Windradi menuntut balik atas hak yang memang menjadi miliknya.
Kau yang bukan siapa-siapa, tidak perlu repot-repot ikut campur dalam urusan istana Mandala Wengker. Kalau kau masih juga ngotot ingin menantang pemerintah baru Mandala Wengker, jangan salahkan aku jika aku bertindak tegas terhadap mu", ucap Arya Pethak tanpa ada rasa gentar sedikitpun menghadapi tantangan Mahesa Linggapati.
Mendengar jawaban itu, Mahesa Linggapati langsung mendengus keras. Tangan kiri Kelompok Kelabang Ireng ini mengepal erat. Dia segera menoleh ke arah orang orang yang mengepung rombongan pasukan Arya Pethak.
"Kalian semua !!
Bunuh mereka semua ! Jangan sampai ada satupun yang tersisa!!", teriak Mahesa Linggapati. Mendengar perintah dari Mahesa Linggapati, seluruh orang yang ada di sekitar tempat itu segera menerjang maju ke arah rombongan prajurit Mandala Wengker.
Bersamaan dengan itu, sekitar 500 orang pengikut Raden Ronggo juga turut menyerang ke arah rombongan pasukan Arya Pethak. Pertempuran sengit antara pasukan Arya Pethak melawan anak buah Mahesa Linggapati itu segera pecah.
Senopati Lembu Kangko dan Tumenggung Subrata langsung melompat turun dari atas kuda mereka masing-masing. Keduanya segera mencabut pedang yang tersandang di pinggang mereka lalu menerjang maju ke arah musuh.
Thhraaaangggggggg !!!
Bunyi senjata beradu diikuti oleh raungan kesakitan dari mereka yang terkena senjata lawan langsung terdengar di hutan kecil barat Pakuwon Tapan ini.
Senopati Lembu Kangko yang merupakan salah satu murid dari Padepokan Gunung Pedang di lereng Gunung Wilis, langsung membabatkan pedang nya ke arah leher salah seorang anggota Kelompok Kelabang Ireng yang baru saja menghabisi nyawa seorang prajurit Wengker.
Chhrrrraaaaaassss..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Darah segar muncrat keluar dari batang leher anggota Kelompok Kelabang Ireng ini. Kepalanya langsung menggelinding ke tanah dan tubuhnya pun roboh kemudian. Melihat kawan mereka terbunuh, dua orang anggota Kelompok Kelabang Ireng langsung melesat cepat kearah Senopati Lembu Kangko. Bersenjatakan pedang dan trisula, kedua orang itu menyerang Senopati Lembu Kangko dari dua arah yang berlawanan.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh !!!
Senopati Lembu Kangko dengan cepat menghindari sabetan senjata tajam yang mengincar leher dan kaki dengan memutar tubuhnya di udara. Saat putaran terakhir, putra Sang Pamgat Jaksa Negara Lembu Sukmo ini membabatkan pedang nya ke arah senjata lawan yang terdekat.
Thhraaaangggggggg !!
Kuatnya tenaga dalam yang di miliki oleh Senopati Lembu Kangko membuat tangan lawan sampai bergetar hingga pedangnya terpental dan nyaris terlepas dari genggaman.
Begitu berhasil menjauhkan si pemegang pedang, Senopati Lembu Kangko segera melesat cepat kearah ke arah lawan yang bersenjatakan trisula usai menjejak tanah.
Gerakan cepat ini langsung disambut dengan tusukan trisula yang mengincar dada sang Senopati. Secepat kilat, Senopati Lembu Kangko segera menangkis tusukan trisula itu dengan pedang nya sambil merubah gerakan tubuhnya. Dia menjejak tanah lalu membuat gerakan berputar cepat dan melayangkan tendangan keras kearah perut pria bersenjata trisula ini.
__ADS_1
Dhiiieeeessshh...!!
Oouuugghhhhhh !!!
Anggota Kelompok Kelabang Ireng ini terhuyung huyung mundur karena perutnya sakit seperti baru di hantam balok kayu besar. Dia sama sekali tidak siap saat Senopati Lembu Kangko melesat cepat kearah belakang tubuhnya dan langsung menusuk pinggang nya sekuat tenaga.
Jllleeeeeppppphhh !!
Mata pria bersenjata trisula itu melotot lebar manakala matanya melihat ujung pedang Senopati Lembu Kangko mencuat dari perutnya. Dengan gerakan kasar, Senopati Lembu Kangko segera mencabut pedangnya dari tubuh lawannya hingga anggota Kelompok Kelabang Ireng ini langsung roboh dengan posisi telungkup. Darah segar segera menggenang di bawah tubuhnya.
Seorang yang berpedang langsung menerjang maju ke arah Senopati Lembu Kangko. Mereka terus mengadu ilmu kepandaian bela diri yang mereka miliki.
Di satu sisi lainnya, Demang Klungsur yang bertubuh bogel langsung melompat dari atas kudanya sembari mengayunkan Gada Galih Asem di tangan kanannya ke arah seorang anggota Kelompok Kelabang Ireng.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaauuuuggggghhhhh !!
Si anggota Kelompok Kelabang Ireng yang bernasib sial ini langsung tersungkur dengan kepala remuk terkena keprukan Gada Galih Asem. Dua orang lainnya segera melesat cepat kearah Demang Klungsur sambil membacokkan senjata mereka masing-masing ke arah tubuh pria bogel ini. Jaraknya sedemikian dekat hingga tak mungkin lagi Demang Klungsur menghindar.
"Mampus kau bogel!!
Thrrraaannnnggggg !!!
Mata dua orang anggota Kelompok Kelabang Ireng itu langsung melotot lebar saat melihat senjata mereka tidak mampu menembus kulit pria bogel yang mereka keroyok. Segera keduanya melompat mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ba-bagaimana mungkin pedang ku menjadi tumpul?!", gumam salah seorang diantara mereka berdua segera. Karena ingin mencoba ketajaman pedangnya, orang itu segera menggoreskan ujung jemari tangannya ke bilah pedang.
Aaauuuuggggghhhhh!!
Darah segar langsung mengucur keluar dari luka di ujung jemari tangan kiri lelaki berkalung hitam dengan liontin bergambar kelabang ini. Dia langsung sadar bahwa senjata nya memang tajam, sedangkan tubuh Demang Klungsur memang kebal terhadap senjata mereka.
"Hehehehe...
Mau main belakang ya? Kalian berdua tidak pantas untuk melakukannya!", sembari menyeringai lebar, Demang Klungsur langsung melesat ke arah dua orang anggota Kelompok Kelabang Ireng itu seraya mengayunkan Gada Galih Asem nya pada salah satu dari mereka.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Salah satu dari dua orang pengeroyok Demang Klungsur langsung menjerit keras saat Gada Galih Asem menghantam kepalanya. Dia langsung tewas dengan kepala hancur dan isi otak berhamburan. Melihat salah satu lawannya tewas, Demang Klungsur langsung berbalik badan dan memburu ke arah satu lawan yang tersisa.
Di sisi lain pertempuran, Mahesa Linggapati menyeringai lebar seperti seekor serigala melihat mangsa empuk pada Arya Pethak yang ada di atas kudanya.
Telapak tangan kanan nya segera berputar cepat di samping tubuhnya dan membentuk cakar. Diantara jari jemari itu muncul sebuah cahaya biru kehitaman. Secepat kilat dia segera melemparkan cahaya itu kearah Arya Pethak.
Whhhuuuuuusssshhh...
Melihat bahaya mengancam nyawa, Arya Pethak segera melompat dari atas punggung kuda tunggangan nya. Cahaya biru kehitaman itu langsung menghajar kuda putih tunggangan sang Adipati Mandala Wengker.
Blllaaammmmmmmm..!!
Hiiieeeeeewwwwkkkhh!
__ADS_1
Ringkik kuda putih terdengar keras berbarengan dengan ledakan keras saat sinar biru kehitaman itu menghajar badannya. Kuda tunggangan Arya Pethak itu langsung roboh dengan sisi perut kiri nya hangus seperti terbakar api. Tak lama kemudian, kuda putih itu mati.
Arya Pethak mendengus keras melihat kematian kuda tunggangan nya itu. Pendekar muda yang kini menjadi Adipati baru Wengker ini pun segera mencabut Pedang Setan di punggungnya lalu melesat bak anak panah lepas dari busurnya ke arah Mahesa Linggapati.
Angin dingin berbau busuk menyengat langsung menyebar mengikuti tebasan Pedang Setan yang memancarkan cahaya hijau kehitaman.
Shhrreeettthhh!!!
Sadar bahwa ia sedang dalam bahaya, Mahesa Linggapati segera jatuhkan diri ke tanah dan berguling beberapa kali. Begitu dia sudah punya jarak cukup jauh dari Arya Pethak, lelaki paruh baya bertubuh gempal itu segera kembali hantamkan sinar biru kehitaman dari tangan kanannya ke arah Arya Pethak.
Whhhuuuuuusssshhh..!!
Sang Adipati baru Wengker ini yang baru saja kehilangan lawannya, langsung berbalik arah secepat mungkin. Tanpa rasa takut sedikitpun, suami Nay Kemuning, Anjani dan Sekarwangi itu segera membabatkan pedang nya ke arah bola cahaya biru kehitaman yang di lemparkan oleh Mahesa Linggapati.
Chhrrrraaaaaassss..
Pedang Setan mampu membelah cahaya biru kehitaman itu menjadi dua bagian yang kemudian melenceng ke samping kanan dan kiri Arya Pethak.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Hebatnya sinar tipis hijau kehitaman Pedang Setan terus menerabas cepat kearah Maheswara Linggapati. Pria paruh baya bertubuh gempal itu langsung mengumpat keras sambil melompat ke samping.
"Edaaaannnnnn....!!!!", maki Mahesa Linggapati yang bergidik ngeri melihat kemampuan pedang pusaka di tangan Arya Pethak.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!!
Seorang anak buah Raden Ronggo yang sedang bertarung melawan salah seorang Bekel prajurit Wengker, harus menjadi korban dari tebasan pedang pusaka milik Arya Pethak. Tubuhnya nyaris terbelah menjadi dua bagian saat sinar tipis hijau kehitaman itu menghajar punggungnya. Dia tewas bersimbah darah.
Melihat keampuhan senjata di tangan lawan, Mahesa Linggapati buru-buru menarik sebuah rantai baja yang memiliki bola bergerigi tajam sebesar kepalan tangan orang dewasa. Segera Mahesa Linggapati memutar-mutar rantai baja itu di samping tubuhnya.
Whuuthhh whuuthhh whuuthhh!!
Begitu persiapannya sudah cukup, Mahesa Linggapati segera melemparkan ujung rantai baja yang memiliki bola bergerigi tajam itu ke arah Arya Pethak.
Whhhuuuggghhhh!!
Arya Pethak segera berkelit menghindari. Melihat lawannya mampu menghindari serangannya, Mahesa Linggapati segera tarik ujung rantai baja itu. Bandul bola bergerigi tajam tertarik ke arah tubuhnya, namun secepat kilat dia kembali menyentak ujung rantai baja itu sehingga bola bergerigi tajam itu kembali meluncur ke arah sang Adipati baru Wengker.
Shhraaaaaakk!!
Kecepatan tinggi gerakan Mahesa Linggapati mampu membuat ujung bandul bergerigi tajam itu mengikat bilah Pedang Setan di tangan Arya Pethak. Tarik menarik antara mereka segera terjadi.
Arya Pethak segera menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi ke Pedang Setan. Kilatan cahaya biru menjalar cepat kearah rantai baja milik Mahesa Linggapati. Saat yang sama, pria bertubuh gempal itu juga menyalurkan tenaga dalam nya.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan keras terdengar saat dua tenaga dalam tingkat tinggi itu beradu. Rantai baja itu putus dan kedua orang itu segera mundur beberapa langkah. Mahesa Linggapati geram bukan kepalang karena senjata andalan nya putus menjadi dua bagian. Dengan kesal dia melemparkan sisa rantai baja itu ke arah Arya Pethak sambil melesat cepat kearah sang Adipati baru Wengker. Keduanya tangan nya memancarkan cahaya biru kehitaman.
"Bajingan tengik!!
Ku bunuh kau bangsaaaaattttt..!!!"
__ADS_1