Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Menggempur Kota Wengker


__ADS_3

"Aku tidak tahu Kangmas Singomenggolo..


Tapi yang ku dengar tadi pagi, mereka bergerak dari arah Pakuwon Sendang. Jangan jangan ini adalah ulah Akuwu Surenggono karena selama ini Kanjeng Romo Adipati terlalu memberikan kebebasan kepada Akuwu bermata satu itu", ucap Raden Ronggo sembari menatap ke arah ribuan orang prajurit yang mulai mendekati benteng pertahanan Kota Wengker.


Sementara itu dari kubu pasukan Arya Pethak dan Nay Kemuning, sang pimpinan pasukan yakni Arya Pethak dan Nay Kemuning di temani oleh Mpu Wikarto, Akuwu Lembu Sukmo dan beberapa Akuwu pendukung mereka nampak menjalankan kuda mereka maju begitu jarak antara pasukan mereka dengan benteng pertahanan Kota Wengker sekitar 100 depa. Ini adalah jarak terjauh yang bisa di jangkau oleh para pemanah yang nampak sudah bersiaga di atas tembok benteng pertahanan Kota Wengker.


Arya Pethak yang mengendarai kuda putih nampak menatap ke arah tembok pertahanan kota yang penuh dengan para prajurit yang bersiaga. Nay Kemuning yang menyertainya nampak berkuda di sampingnya. Sedikit mengerahkan tenaga dalam nya, Arya Pethak berteriak keras.


"Hai wong wong Istana Wengker, aku kemari ingin meminta hak atas tahta Mandala Wengker yang kalian kuasai secara tidak sah!


Menyerahlah atau kami terpaksa harus mengambil jalan kekerasan!"


Mendengar ucapan keras yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi itu, Pangeran Singomenggolo dan Raden Ronggo terhenyak dan segera menatap ke arah sosok Arya Pethak dan Nay Kemuning yang di apit oleh para Akuwu dan pimpinan desa pendukung mereka.


"Lancang sekali mulut mu, hai orang asing!


Atas dasar apa kau mengatakan bahwa ayahanda Adipati Warok Singo Ludro menguasai tahta Mandala Wengker dengan cara tidak sah ha?!", Raden Singomenggolo menatap tajam ke arah Arya Pethak dari atas tembok kota.


"Atas dasar ayah mu sudah membunuh ibu ku Dewi Windradi selaku pewaris sah singgasana Mandala Wengker. Dialah yang menyuruh Surenggono untuk menghabisi nyawa ibu ku di Tanah Pasundan.


Aku adalah saksi mata perbuatan keji yang di lakukan oleh ayah mu. Dan hari ini aku ingin mengambil kembali hak atas tahta Mandala Wengker yang seharusnya menjadi milik ibuku!", sahut Nay Kemuning dengan cepat. Kaget Raden Singomenggolo dan Raden Ronggo mendengar jawaban Nay Kemuning.


"Sekarang kalian tinggal pilih, menyerah baik baik dan tidak terjadi pertumpahan darah diantara kita atau mati mempertahankan tahta yang seharusnya bukan milik kalian?!", ucap Arya Pethak dengan lantang.


"Huhhhh, benar atau salah kami juga tidak tahu tapi yang jelas kami akan mempertahankan Kota Wengker dengan darah dan nyawa kami!", teriak Raden Ronggo yang memang telah di butakan oleh kekuasaan.


"Baik kalau itu mau kalian!


Pasukan bersiap....!!!!!", teriak Arya Pethak dengan lantang.


Thhuuuuuuuuuutttttttttthhhh !!


Terompet tanduk kerbau dan genderang perang langsung berbunyi. Para prajurit Pakuwon Sendang yang berdiri di deretan depan langsung mengangkat tameng mereka. Dengan isyarat bende yang berbunyi nyaring, mereka bersiap untuk maju.


Sedangkan di atas tembok istana Mandala Wengker, ratusan prajurit pemanah telah bersiap dengan memasang anak panah di busur panah mereka setelah ada isyarat dari Raden Ronggo untuk bersiap.


Arya Pethak langsung merapal mantra Ajian Halimun nya. Kabut putih tipis perlahan mulai menutupi seluruh tubuhnya. Sekejap mata kemudian tubuhnya menghilang dari pandangan mata semua orang. Sebentar kemudian dia muncul di hadapan pintu gerbang kota Mandala Wengker lalu menghantamkan tangan kanannya yang di lambari Ajian Tapak Brajamusti pada pintu gerbang kota yang terbuat dari kayu jati.


"Tapak Brajamusti...

__ADS_1


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"


Blllaaammmmmmmm !!!


Ledakan keras terdengar dari pintu gerbang kota. Serpihan kayu jati berhamburan ke udara bersamaan dengan robohnya pintu gerbang Kota Wengker di sertai bunyi yang keras. Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu baik dari Pasukan Wengker maupun para pasukan Arya Pethak sendiri. Sekejap mata kemudian Arya Pethak telah kembali duduk di atas punggung kuda tunggangan nya. Melihat hancur nya pintu gerbang kota, Mpu Wikarto yang berdiri di samping Nay Kemuning langsung berteriak keras.


"Semuanya ayo maju.......!!!"


Mendengar teriakan Mpu Wikarto, para prajurit Pakuwon Sendang langsung bergerak cepat menuju ke arah pintu gerbang kota. Melihat itu, Raden Ronggo dengan cepat berteriak lantang.


"Jangan biarkan mereka masuk ke dalam kota..


Panah mereka !"


Teriakan lantang Raden Ronggo langsung membuat para pemanah dengan cepat menarik busur panah mereka sekuat tenaga dan melepaskan anak panah yang ada.


Shhrrriiingggg shhrrriiiinggggg !!


Ratusan anak panah melesat cepat kearah pasukan Pakuwon Sendang yang bergerak maju ke arah tembok kota Wengker.


Chhreepppppph chhreepppppph chhreepppppph!!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Para perwira tinggi Istana Wengker seperti Patih Macan Putih, Tumenggung Kebo Gunung dan Senopati Jaran Gamping langsung menggebrak kuda tunggangan mereka maju ke arah depan mengikuti kuda Pangeran Singomenggolo yang terlebih dulu maju. Mereka dengan cepat mengayunkan senjata di tangan mereka ke arah para prajurit Pakuwon Sendang.


Patih Macan Putih dengan cepat mengayunkan pedangnya ke arah leher salah seorang prajurit Pakuwon Sendang yang menghadang laju pergerakan sang warangka praja Wengker ini.


Chhrrraaaaasshhhhhh !!


Kepala sang prajurit langsung menggelinding ke tanah dan tubuhnya roboh bermandikan darah segar. Patih Mandala Wengker ini terus mengamuk dengan membantai setiap prajurit Pakuwon Sendang yang mencoba untuk menghadangnya. Puluhan prajurit Pakuwon langsung tumbang bergelimpangan dengan bersimbah darah. Melihat hal itu, Mpu Wikarto langsung menggebrak kudanya ke arah Patih Macan Putih. Begitu sampai di dekatnya, Mpu Wikarto langsung melompat ke arah Patih Macan Putih sembari menyabetkan pedang di tangan nya.


Whhhuuuuuugggggghhh !


Melihat nyawanya dalam bahaya, Patih Macan Putih segera melompat turun dari kudanya menghindari sabetan pedang Mpu Wikarto. Kini kedua orang tua itu berhadapan dengan senjata di tangan mereka masing-masing.


"Wikarto, Lurah Desa Girimulyo.. Rupanya kini kau menjadi salah satu dari pemberontak Pakuwon Sendang.


Hari ini aku akan memenggal kepala mu sebagai hukuman atas tindakan makar mu ini", ujar Patih Macan Putih sembari memutar gagang pedang di tangan kanannya.

__ADS_1


"Patih Macan Putih, kau orang dungu..


Membela penguasa yang salah dan lalim hanya demi pangkat dan jabatan saja. Kau tidak pantas menjadi patih dari penguasa Wengker selanjutnya. Kau benar-benar begundal menyedihkan", balas Mpu Wikarto sembari mengejek pada lelaki sepantaran dengan nya itu.


"Keparat !! Mulut beracun mu ini pantas aku robek-robek pemberontak!", dengan penuh amarah, Patih Macan Putih menerjang maju ke arah Mpu Wikarto sembari mengayunkan pedangnya ke arah leher lawan. Mpu Wikarto mundur selangkah untuk menghindari sabetan pedang warangka praja Wengker ini lalu memutar tubuhnya sembari membabatkan pedang nya ke arah perut lawan.


Whhhuuuuuttttthhh !


Dengan sigap, Patih Macan Putih menggeser tubuhnya dan kembali menyerang ke arah Lurah Desa Girimulyo itu dengan serangan cepat nan mematikan. Pertarungan mereka berlangsung alot dan sengit. Kelihatannya mereka berdua berimbang baik dari segi tenaga dalam maupun kemampuan bela diri nya. Hampir 15 jurus berlalu dan belum ada tanda tanda bahwa mereka akan kalah.


Shhreeeetttthhh...


Thhriiingggg thrriiiingggggg !


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!!!


Baik Mpu Wikarto maupun Patih Macan Putih sama sama terdorong mundur beberapa langkah ke belakang setelah tangan kiri mereka beradu tenaga dalam. Nafas Patih Macan Putih nampak ngos-ngosan sementara Mpu Wikarto pun terlihat mulai kepayahan.


"Huhhh huhhhh...


Ku akui kau memang hebat Wikarto. Tapi jangan senang dulu. Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuan kanuragan ku. Sekarang bersiaplah untuk menemui Dewa Yama di neraka, pemberontak!", setelah berkata demikian Patih Macan Putih segera melemparkan pedangnya ke tanah dan kedua tangannya mulai bergerak memutar di depan dada. Perlahan cahaya kemerahan muncul di kedua telapak tangan Patih Macan Putih. Rupanya dia bersiap mengeluarkan Ajian Cadas Ngampar yang selama ini menjadi ajian ilmu kanuragan andalannya.


Mpu Wikarto tak mau kalah. Dengan cepat ia menangkupkan kedua telapak tangan di depan kepala yang segera turun ke depan perut. Selarik cahaya hijau terang tercipta di tangan Lurah Desa Girimulyo ini. Pada masa mudanya dia memang seorang pendekar yang cukup di segani di seputar wilayah selatan Wengker karena memiliki Ajian Sampar Banyu.


"Wikarto, sampaikan salam ku pada Dewa Yama di neraka..


Chiiiyyyyyaaaaaaaaaattttt...!!!"


Usai berteriak keras, Patih Macan Putih segera hantamkan tapak tangan kanannya kearah Mpu Wikarto yang juga segera menghantamkan tapak tangan kanannya kearah Patih Macan Putih. Selarik sinar merah berhawa panas melesat ke arah Mpu Wikarto dan beradu dengan sinar hijau terang dari sang Lurah Desa Girimulyo.


Bllllaaaaaaaaaaaaaammmmmm !!


Ledakan dahsyat terdengar saat dua ajian ini beradu. Mpu Wikarto terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Lurah Desa Girimulyo ini langsung muntah darah segar. Dia menderita luka dalam yang cukup parah. Sedangkan Patih Macan Putih meski terjatuh usai terdorong mundur dan muntah darah, namun luka dalamnya tidak seberapa parah. Warangka praja Wengker ini dengan cepat segera bangkit dari tempat jatuhnya dan mencabut sebilah keris pusaka di pinggangnya sembari menyeringai lebar menatap ke arah Mpu Wikarto yang tak berdaya di atas tanah.


"Sudah saatnya kau mati Wikarto!", setelah berkata demikian Patih Macan Putih langsung melompat ke arah Mpu Wikarto sembari menusukkan keris pusaka di tangannya. Saat yang tepat, sebuah bayangan melesat cepat ke hadapan Mpu Wikarto dan menerima tusukan keris pusaka itu di perutnya yang sedikit buncit.


Thhraaaaaangggggg !!


Patih Macan Putih melotot lebar melihat senjata pusaka nya tidak mampu menembus kulit orang di depannya itu. Dia dengan cepat melompat mundur sejauh beberapa tombak sembari menatap tajam ke arah seorang lelaki bertubuh bogel yang nampak menyeringai lebar ke arah nya. Di tangan kanannya, sebuah senjata yang berbentuk gada berwarna hitam legam nampak di panggul pada pundak kanan. Lelaki bertubuh bogel yang tak lain adalah Klungsur itu kemudian berkata,

__ADS_1


"Ayo patih tua,


Tusuk bagian tubuh ku lagi dengan keris butut mu itu hehehehe"


__ADS_2