
Lembu Sora langsung mengerahkan tenaga dalam nya begitu juga Kebo Anabrang setelah mendengar omongan Arya Pethak.
"Seperti nya ada yang ingin menyusup masuk kemari, Pendekar Pethak..
Sebaiknya kita berpura pura terkena aji sirep ini untuk memancing mereka", ujar Lembu Sora segera.
"Aku setuju dengan pendapat mu, Kakang..
Mari kita lihat siapa yang berani macam-macam dengan kerabat istana Kotaraja Singhasari", sahut Kebo Anabrang dengan cepat.
Arya Pethak segera mengangguk mengerti. Bersama Klungsur, mereka berpura pura tertidur pulas di sembarang tempat.
Tepat sesuai dengan dugaan mereka, seorang lelaki tua berjanggut putih dengan baju merah tua melesat turun ke halaman Puri Agung Dyah Lembu Tal. 4 orang yang masih muda, dua perempuan dan dua laki laki yang juga berbaju merah menyusul di belakang lelaki tua bertubuh gempal itu.
"Rupanya ilmu para perwira prajurit Singhasari hanya seujung kuku.
Menghadapi Ajian Sirep Megananda ku langsung tertidur pulas mirip kambing congek hahahahahahaha ", tawa si kakek tua berjanggut putih itu langsung terdengar.
"Ilmu guru tidak ada tandingannya. Para prajurit Singhasari ini tidak ada apa-apa nya. Membunuh mereka sekarang ibarat menepuk nyamuk yang ketiduran guru", ujar seorang lelaki bertubuh kekar yang mengenakan ikat kepala hitam itu segera.
Mendengar pujian dari mulut manis muridnya, lelaki tua berjanggut putih itu langsung tersenyum lebar.
"Kau benar, Jaran Kiting..
Prajurit prajurit Singhasari ini sangat tidak berguna. Mudah sekali untuk mengalahkan mereka. Membunuh mereka hanya akan mengotori tangan Mahesa Rangkah saja.
Kalian semua, bantai mereka dengan cepat. Aku akan mengambil calon menantu Kertanegara itu", perintah lelaki tua berjanggut putih yang memanggil dirinya dengan nama Mahesa Rangkah.
"Baik guru", jawab keempat orang berbaju merah itu yang langsung mencabut sepasang pedang pendek dari punggung mereka masing-masing.
Mereka berempat segera melesat cepat kearah Arya Pethak, Lembu Sora, Kebo Anabrang dan Klungsur yang bergelimpangan tak tentu arah.
"Biar aku yang memulai nya lebih dulu", ujar Jaran Kiting sembari melompat ke arah Klungsur yang terlihat mengiler.
Saat Jaran Kiting mengayunkan pedangnya kearah leher Klungsur, tiba tiba dengan cepat sebuah tendangan menghajar pinggangnya dari belakang.
Dhiiieeeessshh..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Jeritan Jaran Kiting dan terjungkal nya murid Mahesa Rangkah itu sontak mengagetkan Mahesa Rangkah dan tiga murid nya yang lain.
Arya Pethak, Lembu Sora dan Kebo Anabrang bangun dari tempat tidur nya sambil menatap tajam ke arah Mahesa Rangkah.
"Pendekar Sabit Berdarah...
Nyali mu besar juga berani menyatroni Puri Agung Dyah Lembu Tal ini", ujar Lembu Sora dengan nada suara yang dingin.
"Hahahaha..
Rupanya masih ada punya kemampuan beladiri di sini. Upah untuk membawa Nararya Sanggramawijaya itu sangat besar, sayang jika di lewatkan", Mahesa Rangkah tertawa lepas sambil mengelus janggutnya.
"Jadi rupanya nama besar mu hanya seharga 300 kepeng emas, Mahesa Rangkah?
Kau sangat memalukan!", Lembu Sora mendelik tajam ke arah lelaki tua berjanggut putih itu segera. Ingin sekali dia menghancurkan tubuh pendekar tua itu hingga berkeping keping.
"Tutup mulut mu, Lembu Sora.
Aku sudah cukup menghargai mu karena guru mu adalah pendekar yang disegani. Tapi jika kau tidak bisa menjaga mulut mu, akan ku hancurkan batok kepala mu", marah sudah Mahesa Rangkah mendengar ucapan Lembu Sora.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Untuk apa menjaga lisan ku, Mahesa Rangkah jika yang aku ungkapkan adalah kebenaran. Kau memang tak lebih dari seorang pendekar murahan yang menjual harga diri demi kepeng emas", Lembu Sora meludah dengan kasar ke tanah.
"Bangsat!
Mulut tajam mu akan menjadi penyebab kematian mu bajingan!", usai berkata demikian, Mahesa Rangkah melesat cepat kearah Lembu Sora.
Whuuthhh!!
Satu hantaman keras kearah dada dari Mahesa Rangkah dengan cepat di hindari oleh Lembu Sora. Jual beli pukulan dan tendangan langsung terjadi dengan cepat.
Dua orang murid laki laki Mahesa Rangkah, Jaran Kiting dan Jalak Awu langsung menyerang maju ke arah Kebo Anabrang. Arya Pethak yang hendak maju menyepak kaki Klungsur yang masih tergeletak di lantai serambi balai tamu.
"Sur, sudah cukup pura pura nya..
Cepat bangun!", ujar Arya Pethak dengan cepat.
Bukannya bangun, malah terdengar dengkuran halus dari mulut Klungsur. Rupanya dia malah bablas tidur.
__ADS_1
"Dasar kebo!
Di suruh pura pura malah tidur beneran", omel Arya Pethak sambil kembali menyepak pantat Klungsur dengan keras sebelum melesat cepat kearah halaman Puri Agung yang sekarang menjadi arena pertarungan.
Klungsur langsung terbangun karena sepakan Arya Pethak cukup keras juga. Pria bertubuh bogel itu langsung mengelus pantatnya yang terasa sakit seperti remuk redam tertimpa hantaman kayu gelondongan.
"Aduh brengsek...
Siapa sih yang berani menendang bokong ku? Sakit sekali! Aku tidak terima...
Pasti keparat keparat itu yang melakukannya, kurang ajar... Akan ku kepruk kepala mereka", sembari mengelus bokong nya yang sakit, dengan sedikit terpincang-pincang Klungsur ikut nimbrung dalam pertarungan itu.
Blllaaammmmmmmm!!!
Jalak Awu muntah darah segar setelah sinar putih kebiruan seperti petir menghantam dua pedang pendek nya yang dia gunakan untuk pertahanan. Tubuh lelaki muda bertubuh gempal itu terpental mundur dan terseret ke belakang dengan posisi jatuh terduduk. Tubuhnya baru berhenti setelah menabrak pohon sawo manila yang tumbuh di pinggir halaman Puri Agung.
Arya Pethak menghela nafas panjang sebelum kembali melepaskan Ajian Guntur Saketi ke arah seorang perempuan yang mengeroyok Kebo Anabrang.
Whhhhuuuummmm..
Jaran Kiting yang menyadari serangan Arya Pethak, langsung mendorong tubuh si murid perempuan Mahesa Rangkah itu untuk menyelamatkan nya.
Blllaaammmmmmmm!!
Patung Archa Bhutakala yang ada di samping halaman langsung meledak dan hancur berantakan saat sinar putih kebiruan Ajian Guntur Saketi menghantam nya.
Murid perempuan Mahesa Rangkah itu memang selamat tapi tindakan Jaran Kiting membuat pertahanan nya lengah. Kebo Anabrang dengan cepat melesat ke arah samping Jaran Kiting yang bergerak ke samping kanan. Dengan cepat ia menusukkan keris pusaka andalan nya ke arah pinggang Jaran Kiting sekuat tenaga.
Jllleeeeeppppphhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!
Jaran Kiting yang tidak menyadari kesalahannya hanya bisa meraung keras saat keris pusaka Kebo Anabrang menghujam keras pinggang nya. Laki laki bertubuh kekar itu terhuyung huyung mundur beberapa langkah sebelum akhirnya roboh ke tanah. Sebentar dia masih bergerak namun kemudian diam dengan darah segar menggenang di bawah tubuhnya.
Klungsur yang melawan perempuan bertubuh gempal itu dua kali di bacok dengan pedang pendek nya.
Thrangg thrangg!!
Mata perempuan bertubuh gempal itu melotot lebar saat melihat senjata andalannya tidak mampu menembus kulit Klungsur yang seperti baja.
"Hehehe..
Saatnya balik menyerang agar wajah jelek mu tak merusak pemandangan", ujar Klungsur sembari mengayunkan Gada Galih Asem nya.
Whuuussshh!
Perempuan bertubuh gempal berbaju merah itu merunduk sambil membabatkan pedang pendek nya ke arah paha Klungsur. Bukannya terluka, namun celana Klungsur justru robek. Dua sabetan lagi diarahkan perempuan bertubuh gempal itu kearah kaki namun lagi lagi hanya bisa merobek celana Klungsur hingga sobek sobek.
"Bajingan tengik!
Kau mau menelanjangi ku ya? Sudah jelek, hitam, hidup eh mesum pula. Kau layak mampus", geram Klungsur yang segera melesat cepat kearah perempuan bertubuh gempal itu sembari mengayunkan Gada Galih Asem ke arah kepala perempuan itu.
Whhhhuuuuggghhh!
Perempuan bertubuh gempal berbaju merah itu langsung menghindari serangan Klungsur namun Klungsur langsung melayangkan tendangan keras kearah perut nya. Perempuan bertubuh gempal itu segera membabatkan pedang pendek nya kearah kaki Klungsur, namun dia lupa Klungsur kebal senjata tajam.
Thrrraaannnnggggg..
Dhiiieeeessshh!!
Kerasnya tendangan Klungsur membuat perempuan berbaju merah itu terhuyung huyung mundur. Tanpa membuang kesempatan, Klungsur berlari cepat kearah perempuan berbaju merah itu sembari mengayunkan Gada Galih Asem nya ke dada perempuan bertubuh gempal itu dengan keras.
Bhhhuuuuuuggggh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Gebukan gada Klungsur langsung membuat perempuan bertubuh gempal itu terpental ke belakang dan muntah darah segar. Rupanya gebukan Klungsur mematahkan beberapa tulang iga perempuan itu hingga menyebabkan paru paru nya tertusuk patahan tulang. Sebentar kemudian dia tewas sambil mulutnya masih mengeluarkan darah segar.
Di sisi lain, pertarungan antara Lembu Sora dan Mahesa Rangkah tak kalah sengit. Puluhan jurus telah terlewati. Satu sabetan sabit merah bergagang panjang memaksa Lembu Sora menekuk lutut nya untuk menghindari sabetan sabit merah yang mengincar lehernya.
Melihat serangan nya berhasil di hindari, Mahesa Rangkah langsung melayangkan tendangan keras kearah dada Lembu Sora.
Bhhhuuukkkkkhhh!!
Lembu Sora terjatuh ke belakang. Darah segar muncrat keluar dari mulutnya. Melihat itu, Mahesa Rangkah menyeringai lebar sambil melompat ke atas tubuh Lembu Sora dengan mengayunkan sabit merah bergagang panjang nya.
Saat yang genting itu, Arya Pethak dengan cepat menarik tubuh Lembu Sora mundur.
Jhrraaaagghh!!
__ADS_1
Blllaaaaaarrr!!!
Saat sabit merah bergagang panjang itu menghantam tanah, ledakan keras terdengar hingga lobang sebesar tampah tercipta di halaman Puri Agung Dyah Lembu Tal. Melihat Arya Pethak ikut campur dalam pertarungan nya, Mahesa Rangkah mendengus keras.
Lelaki tua berjanggut putih itu segera melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan sabit merah bergagang panjang nya. Arya Pethak hanya menatap dingin ke arah Mahesa Rangkah tanpa bergerak sedikitpun.
"Mati kau!"
Whhhhuuuuggghhh...
Thrrraaannnnggggg!!!
Sabit merah bergagang panjang di tangan Mahesa Rangkah bergetar hebat saat menghantam tubuh Arya Pethak yang bersinar kuning keemasan. Nyaris saja senjata itu terlepas dari genggaman tangan Mahesa Rangkah andai dia tidak cepat cepat menggenggamnya kembali.
Mahesa Rangkah langsung melompat mundur beberapa tombak ke belakang sembari menatap tajam ke arah Arya Pethak.
"Bocah busuk!
Darimana kau belajar Ajian Lembu Sekilan itu ha? Apa hubungan mu dengan Patih Pranaraja dari Kadiri?", hardik Mahesa Rangkah dengan cepat.
"Orang yang mau mampus tak perlu banyak tahu", ucap Arya Pethak sambil mencium Pedang Setan di punggungnya.
Sesaat kemudian kabut tipis menyelimuti tubuh Arya Pethak yang selanjutnya membuat tubuh pemuda tampan itu segera menghilang dari pandangan.
Mahesa Rangkah terkejut bukan main melihat kemampuan ilmu kanuragan Arya Pethak. Lelaki tua berjanggut putih itu segera membuat gerakan berputar cepat yang semakin lama semakin cepat. Ajian Giling Bumi yang jarang dia keluarkan terpaksa harus di lakukan karena lawan yang dihadapi oleh nya bukan pendekar muda biasa.
Saat Arya Pethak dengan Ajian Halimun muncul, Mahesa Rangkah langsung bergerak menyergap. Putaran cepat sambil membawa sepasang sabit merah bergagang panjang benar benar berbahaya.
Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg!!
Dua babatan cepat Mahesa Rangkah memaksa Arya Pethak mundur 2 tombak ke belakang. Jelas Ajian Giling Bumi yang di lepaskan Mahesa Rangkah adalah ilmu pertahanan dan penyerangan yang sempurna.
Arya Pethak terus bergerak cepat mengambil kuda kuda setelah memperhatikan gerakan tubuh Mahesa Rangkah. Dia sudah menemukan kelemahan Ajian Giling Bumi. Tangan kanannya segera diliputi oleh sinar putih kebiruan seperti petir. Dengan cepat, Arya Pethak menghantamkan tangan kanannya ke arah kaki Mahesa Rangkah.
Blllaaammmmmmmm!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!!
Kaki kanan Mahesa Rangkah hancur terkena Ajian Guntur Saketi yang di lepaskan oleh Arya Pethak. Darah segar keluar dari luka yang di alami oleh Sang Pendekar Sabit Berdarah.
"Jahanam kau bocah tengik!
Aku akan mencincang mu dan ku berikan daging mu pada anjing!", sumpah serapah penuh kedengkian dan amarah terlontar dari mulut Mahesa Rangkah. Rasa sakit yang teramat sangat dia rasakan dari kaki kanan nya yang hancur dan terus mengeluarkan darah.
"Mahesa Rangkah,
Aku akan mengampuni nyawa mu jika kau beri tahu siapa yang menyuruh mu untuk mencelakakan Gusti Pangeran Sanggramawijaya", ujar Lembu Sora sembari berjalan mendekati Arya Pethak yang masih berdiri di hadapan Mahesa Rangkah.
"Hahahaha..
Sampai mati pun aku tidak akan membuka mulut ku, Lembu Sora. Agar masih ada orang lain yang akan mencelakai Raden Wijaya karena kalian tidak bisa menangkap dalang nya", Mahesa Rangkah langsung tertawa terbahak bahak meski rasa sakit nya semakin membuat tubuhnya lemah.
Kebo Anabrang yang memiting tubuh seorang perempuan murid Mahesa Rangkah, langsung berteriak lantang.
"Bunuh saja keparat itu Kakang Lembu Sora..
Kita masih bisa memperoleh keterangan dari mulut perempuan ini".
Mendengar perkataan Kebo Anabrang, Lembu Sora segera mencabut kerisnya dan dengan cepat mengayunkan nya ke leher Mahesa Rangkah.
Chhrrrraaaaaassss!!
Kepala Mahesa Rangkah langsung menggelinding ke tanah dan tubuhnya kemudian roboh. Melihat kematian Pendekar Sabit Berdarah, Jalak Awu langsung melemparkan senjata rahasianya ke arah leher adik seperguruan nya sebelum melompat ke atas tembok istana. Dia segera menghilang di balik kegelapan malam.
Kepala perempuan berbaju merah itu langsung terkulai dan mulut nya mengeluarkan busa pertanda dia tewas keracunan.
Kejadian itu begitu cepat hingga mereka tidak sempat untuk mengejar pelarian Jalak Awu.
Usai kematian Mahesa Rangkah sang Pendekar Sabit Berdarah, semua orang di Puri Agung Dyah Lembu Tal tersadar dari Ajian Sirep Megananda. Mereka yang melihat mayat Mahesa Rangkah dan ketiga muridnya langsung bergegas memukul kentongan bertalu-talu tanda adanya rajapati.
Ratusan prajurit Kotaraja Singhasari langsung membuat pagar betis di sekeliling Puri Agung Dyah Lembu Tal.
Seorang punggawa istana yang bernama Kebo Anengah Sang Apanji Aragani yang merupakan Mapatih Singhasari langsung datang ke Puri Agung Dyah Lembu Tal dengan di kawal oleh puluhan prajurit. Para prajurit yang berjaga langsung memberikan jalan kepada sang Mapatih.
Lembu Sora dan Kebo Anabrang langsung menghormat pada Kebo Anengah Sang Apanji Aragani begitu pula dengan Arya Pethak dan Klungsur. Melihat kepala Mahesa Rangkah yang sudah terpisah dari badannya, Kebo Anengah Sang Apanji Aragani langsung menatap ke arah Lembu Sora, Kebo Anabrang, Arya Pethak dan Klungsur.
"Katakan pada ku,
Siapa yang membunuhnya?"
__ADS_1