Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Kawan Seperjalanan Baru


__ADS_3

Begitu meninggalkan tempat itu, mereka memasuki wilayah Pakuwon Ngrowo. Sebuah wilayah yang merupakan bekas wilayah Kadipaten Karang Anom dulu nya namun kini pusat pemerintahan beserta wilayah nya menjadi hak Keling, sebuah negeri bawahan Kerajaan Singhasari yang di perintah oleh pemimpin dengan gelar Bhre Keling.


Seperti layaknya perubahan dalam tata pemerintahan Kerajaan Singhasari, semua wilayah Kadipaten mendapat nama Mandala atau negeri bawahan dengan raja daerah atau raja bawahan yang masih kerabat dekat Istana Singhasari kecuali di beberapa wilayah seperti Gelang-gelang, Lamajang dan Blambangan.


Meski raja bawahan ini punya hak atas tanah Mandala, namun pemerintahan sesungguhnya di daerah ini adalah Patih karena kebanyakan para Bhre atau raja bawahan ini tinggal di Kotaraja Singhasari.


Pakuwon Ngrowo sendiri merupakan daerah berawa yang kurang baik untuk pertanian. Hanya beberapa tempat saja yang bisa di gunakan untuk bertani karena di bagian selatan merupakan daerah gunung kapur yang tidak bisa di tanami.


Pun lagi sangat jarang penduduk yang tinggal di seputar daerah pedalaman nya karena sulitnya jalan karena melewati daerah rawa rawa yang luas dan di huni oleh ratusan ekor buaya. Hingga kebanyakan penduduk tinggal di pesisir daerah rawa-rawa ini.


Arya Pethak dan para pengikutnya terus memacu kudanya ke arah barat, menyusuri tepian Sungai Brantas. Setelah menyeberangi sungai kecil yang bernama Kali Lembu Peteng, rombongan itu terus bergerak ke arah barat.


Menjelang sore mereka tiba di sebuah hutan yang menjadi batas wilayah Pakuwon Ngrowo dan wilayah Pakuwon Pungging.


"Ndoro Pethak,


Sebaiknya kita bermalam di sini saja. Sepertinya malam akan segera tiba ini", ujar Klungsur sembari menatap ke arah langit barat yang mulai memerah pertanda senja telah tiba.


"Iya Klungsur,


Kalau begitu sebaiknya kita mencari tempat untuk bermalam. Sepertinya di tepi hutan itu ada sungai kecil. Kita bermalam disana saja", Arya Pethak yang berkuda di samping nya menunjuk ke arah sebuah rimbun pepohonan hutan kecil.


Mereka berlima segera menuju ke arah tempat yang di tunjuk oleh Arya Pethak. Pohon rindang bertambi besar itu tempat yang nyaman untuk bermalam. Akarnya yang lebar akan bisa menghalangi hembusan angin malam yang dingin.


Sekarwangi, Anjani dan Nay Kemuning segera menata tempat untuk bermalam. Nirmala mengumpulkan kayu kering dan ranting pohon yang berserakan di sekitar tempat itu untuk membuat api unggun. Sementara Klungsur dan Arya Pethak berpencar mencari sesuatu yang bisa menjadi pengganjal perut mereka nanti malam.


Klungsur terus menyusuri sungai kecil itu. Cahaya sore yang memerah cukup menyulitkan nya untuk berburu sesuatu. Mata Klungsur terus nanar menatap riak air sungai kecil dengan seksama.


Tiba-tiba mata Klungsur menatap ke arah seekor ikan keting yang terjebak dalam aliran air sungai kecil. Secepat kilat, pria bertubuh bogel itu langsung melompat ke arah ikan keting sebesar lengan orang dewasa itu. Keahlian Klungsur dalam menangkap ikan dengan tangan kosong memang tidak di ragukan lagi.


"Nah, nanti malam kau akan jadi makanan ku, ikan keting", ujar Klungsur sembari menepuk kepala ikan keting yang menggelepar tak berdaya dalam cengkeraman tangan Klungsur. Dia segera mencari akar tumbuhan menjalar untuk mengikat ikan keting hasil tangkapannya.


Baju Klungsur basah karena dia menceburkan diri ke dalam kubangan air sungai kecil itu.


'Sekalian mandi saja', batin Klungsur sambil menyiramkan air sungai kecil yang jernih ke punggungnya.


Saat Klungsur asyik mandi, tiba-tiba dia merasakan sesuatu masuk ke dalam celana nya.


"Loh loh loh..

__ADS_1


Apa ini? Kog geli geli licin begini?", Klungsur menggeliat-geliat kegelian ketika merasakan benda itu mulai masuk ke dalam celana nya. Dengan sigap Klungsur segera menangkap mahkluk kurang ajar yang berani masuk ke dalam celana nya.


Dengan gemas, Klungsur langsung menarik hewan yang masuk ke celananya. Ternyata seekor ikan gabus berukuran sedang.


"Woh ikan gabus nakal.. Berani sekali kau meraba raba paha ku yang masih perjaka. Eh aku bukan perjaka lagi ya hehehe..


Awas kau nanti tak panggang diatas api", ujar Klungsur sembari memasukkan akar tumbuhan menjalar ke insang ikan gabus untuk mengikat nya.


Sore itu Klungsur berhasil mengumpulkan 2 ekor ikan gabus, seekor ikan keting dan 3 ekor ikan lele. Merasa sudah cukup, Klungsur kembali ke arah tempat mereka bermalam sembari menenteng hasil buruan nya berikut satu ketela pohon yang di cabut Klungsur dari tepi sungai kecil.


Arya Pethak sendiri kembali dengan membawa seekor babi hutan yang berukuran sedang. Anjani dan Nay Kemuning langsung mengeluarkan isi perut babi hutan itu dan mencucinya di sungai kecil sementara Arya Pethak membakarnya untuk membersihkan bulu-bulu nya. Setelah cukup bersih, Arya Pethak di bantu Sekarwangi mencuci babi hutan itu lalu memanggangnya. Bau harum langsung tercium dari babi hutan sedang yang di panggang mereka.


Senja dengan cepat berganti malam. Suasana di tempat bermalam Arya Pethak dan kawan-kawan terlihat meriah karena semuanya menikmati makanan hasil buruan Arya Pethak dan Klungsur.


Saat mereka tengah asyik mengobrol sembari menikmati makan malam mereka, dari arah utara terdengar suara langkah kaki mendekat.


Kreekkk..! Kreekkk !


Suara daun kering dan ranting yang terinjak telapak kaki terdengar semakin mendekat. Semua orang segera bersiaga sembari menatap ke arah suara langkah kaki yang terus mendekati tempat mereka bermalam.


Wajah seorang lelaki bertubuh gempal terlihat meringis menahan rasa sakit menyembul di kegelapan. Bersama nya seorang pemuda berusia belasan tahun memapahnya. Di lihat dari cara berpakaian nya, mereka adalah para prajurit dari sebuah negara bawahan Singhasari.


"Per-permisi Kisanak..


"Silahkan saja..


Disini masih banyak tempat untuk kalian berdiang", jawab Arya Pethak sambil terus memutar babi hutan panggang nya di atas api unggun yang menyala berkobar.


"Kisanak,


Sepertinya paman mu itu terluka. Kalau mau aku punya sedikit obat untuk meredakan rasa sakit nya", ujar Anjani sembari tersenyum tipis.


"Terimakasih Nisanak. Rombongan kami si sergap oleh kelompok perampok di sisi Utara hutan ini. Semua teman kami di bunuh dan aku bersama paman ku berhasil melarikan diri dari mereka meski paman harus terluka", Si pemuda tanggung itu mengangguk dengan sopan saat Anjani memberikan sebotol kecil bubuk berwarna kekuningan yang merupakan obat pereda rasa sakit.


"Sebenarnya kalian ini mau kemana? Kog kelihatannya banyak yang memusuhi begitu", Klungsur bertanya sambil mengunyah daging ikan bakar hasil tangkapannya tadi sore.


"Ah dimana sopan santun ku sampai lupa memperkenalkan diri.


Nama ku Subrata. Ini Paman ku Warok Simo Biru. Kami ini berasal dari Pakuwon Granti di wilayah Negeri Wengker. Paman ku ini seorang Juru Prajurit, kebetulan kami bertugas sebagai pengawal dari Tumenggung Gunosentiko, pejabat tinggi Istana Wengker. Entah karena apa, dalam perjalanan pulang ke Wengker rombongan kami di serang orang. Kelihatannya mereka bukan perampok sebenarnya karena tujuan utama adalah membunuh Tumenggung Gunosentiko", ujar sang pemuda tanggung dengan dandanan prajurit yang bernama Subrata itu segera.

__ADS_1


Simo Biru yang mendapat obat dari Anjani langsung menimpali.


"Sepertinya itu adalah anak buah Raden Ronggo, putra Warok Singo Ludro sang Bhre Wengker sekarang. Aku mengenali salah satu dari mereka yang bernama Walang Biru itu adalah orang kepercayaan dari Raden Ronggo.


Rupanya kasak kusuk yang sedang beredar mengenai rencana Raden Ronggo yang ingin menguasai Tanah Wengker selepas kematian ayahanda nya benar benar akan terjadi. Saat ini Bhre Wengker sedang sakit keras, dan Raden Ronggo yang hanya putra selir berniat menggulingkan putra mahkota Raden Singomenggolo. Kalau ini benar benar terjadi Wengker akan banjir darah karena perang saudara ", Ki Simo Biru mengelus jenggotnya yang memutih. Pria paruh baya itu terlihat meringis menahan sakit.


Kriiuuukkkkk... !


Terdengar bunyi perut dari Subrata yang menandakan bahwa dia sedang kelaparan. Maklum saja, sejak tadi siang di tidak sekalipun bisa mengisi perutnya karena khawatir di kejar oleh anak buah Raden Ronggo hingga terus bergerak sembari memapah tubuh paman nya Ki Simo Biru yang terluka. Tenaga Subrata nyaris habis.


"Kau lapar, Subrata? Mau daging babi hutan panggang ini?", tanya Arya Pethak sambil tersenyum tipis. Subrata dengan cepat mengangguk. Arya Pethak segera mengiris daging babi hutan panggang nya dan memberikan pada Nay Kemuning. Satu lagi irisan daging babi hutan panggang di buat untuk di berikan pada Ki Simo Biru.


"Kalau kurang, nanti boleh iris sendiri", ujar Arya Pethak sambil tersenyum.


Sekarwangi segera mengulurkan jun bambu berisi air bersih pada Subrata sedangkan Nay Kemuning memberikan sepotong daging babi hutan panggang pada pemuda tanggung itu. Juga pada Ki Simo Biru, mereka berdua memberikan air minum dan sepotong daging babi hutan panggang.


"Kalau boleh tau kemana tujuan kalian semua ini, Kisanak?", tanya Ki Simo Biru di sela sela makan nya.


"Kami semua ingin ke Wengker untuk mencari seseorang, Ki Simo..", jawab Arya Pethak segera.


"Kalau boleh tau, kalian mencari siapa ke Wengker? Barangkali aku tahu orang yang kalian cari", kembali Ki Simo Biru menatap ke arah Arya Pethak.


"Kami mencari seorang pertapa tua yang tinggal di pesisir pantai selatan. Dia adalah ayah dari Dewi Windradi, istana dari Pangeran Ranawijaya dari Pakuan Sunda", Arya Pethak melirik ke arah Nay Kemuning yang hanya diam saja.


"Dewi Windradi? Bukankah itu nama putri Resi Candramaya, Bhre Wengker sebelumnya?", Ki Simo Biru sedikit terkejut mendengar perkataan Arya Pethak.


"Benar sekali ucapan mu, Kisanak..


Kami memang ingin bertemu dengan ayah Dewi Windradi itu. Ada sesuatu yang perlu kami ketahui dari dia", Arya Pethak menghela nafas panjang.


"Dewi Windradi adalah satu satunya putri permaisuri dari Warok Singo Condro, Bhre Wengker sebelumnya. Jika dia laki laki seharusnya dia yang menjadi Penguasa Tanah Wengker selanjutnya, namun putra selir Raden Singo Ludro dengan liciknya mengirim kakak sulungnya itu ke Tanah Sunda agar tidak menggangu jalannya menuju singgasana Wengker", Nay Kemuning terus mendengarkan omongan Ki Simo Biru tanpa bicara sepatah kata pun. Tapi tangan perempuan cantik itu nampak mengepal erat. Arya Pethak mencoba menenangkan pikiran Nay Kemuning dengan mengelus tangan perempuan cantik itu segera.


Dari Ki Simo Biru, Arya Pethak banyak mengetahui seluk beluk Istana Wengker juga kemelut yang tengah terjadi disana.


Malam semakin larut. Cuaca malam yang dingin perlahan tergantikan oleh hangatnya sinar matahari saat pagi menjelang tiba. Burung burung mulai berkicau riang dari atas ranting pohon yang tumbuh lebat di tepi hutan kecil itu.


Ki Simo Biru dan Subrata akhirnya memilih untuk bergabung dengan rombongan Arya Pethak. Kini mereka menjadi kawan seperjalanan baru bagi Arya Pethak, Klungsur, Sekarwangi, Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala. Mereka bersama melanjutkan perjalanan menuju ke wilayah Wengker. Setengah hari perjalanan, melewati puluhan desa di wilayah Keling, mereka sampai di perbatasan wilayah antara Negeri Wengker dan Keling. Sebuah tugu batu menjadi batas wilayah antara Mandala atau negeri bawahan Kerajaan Singhasari itu.


Saat Arya Pethak dan rombongannya hendak melanjutkan perjalanan, sekelompok orang berbadan besar berpakaian serba hitam terlihat menghadang laju pergerakan mereka. Salah seorang diantara mereka langsung maju ke depan kuda Arya Pethak.

__ADS_1


Ki Simo Biru yang berkuda di samping Arya Pethak langsung berbisik pada Arya Pethak dengan cepat.


"Mereka anak buah Raden Ronggo"


__ADS_2