Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Keributan di Warung Makan


__ADS_3

Sekarwangi langsung sumringah mendengar suara itu. Perempuan cantik itu segera berbalik badan dan langsung memeluk Arya Pethak tanpa malu malu di depan Klungsur, Paramita dan Resi Jathayu.


"Kakang Pethak,


Kapan kau kembali? Aku kangen sekali pada mu", ujar Sekarwangi sambil memeluk tubuh gagah Arya Pethak.


"Baru saja Gusti Putri. Kau lihat sendiri tadi bukan?", jawab Arya Pethak yang memerah wajahnya karena malu di peluk oleh Sekarwangi.


Ehheeeemmmmmm ehheeeemmmmmm..


Paramita mendehem keras dua kali. Dia sebal bukan main melihat ulah Sekarwangi yang main peluk seenaknya di depan orang banyak.


Mendengar deheman Paramita, Arya Pethak langsung tersadar dan segera melepaskan pelukan Sekarwangi.


"Memang hanya Sekarwangi saja yang kangen dengan mu Kakang Pethak, kami disini juga merindukan mu.


Dasar putri tak punya tata krama", geram Paramita yang kesal dengan ulah Sekarwangi alias Dewi Ragil Kuning.


"Apa kau bilang? Kau mau ribut dengan ku Paramita?", hardik Sekarwangi yang tidak terima di hina oleh Paramita.


"Memang benar kau tak punya tata krama. Buktinya di depan orang banyak main peluk sembarangan.


Kalau Kakang Pethak suami mu, aku tidak mempermasalahkannya. Tapi siapa kau hingga berani memeluk Kakang Pethak sembarangan" , cerocos Paramita sambil mendengus dingin.


"Kau kau...", Sekarwangi menunjuk kearah Paramita. Gigi gadis itu gemeretuk menahan marah.


"Apa ha? Kau apa?


Mau menantang bertarung? Kau pikir aku takut menghadapi mu?", Paramita sudah bersiap untuk bertarung melawan Sekarwangi.


"Sudah diam!


Apa tidak bisa kalian menahan diri sebentar saja? Disini ada guru ku. Bisa tidak kalian menghargai ku ha?", hardik Arya Pethak yang panas kepalanya karena pertengkaran antara Sekarwangi dan Paramita.


"Tapi Kakang Pethak, dia...", belum selesai Sekarwangi bicara, Arya Pethak sudah membentaknya.


"Cukup!


Kalau kalian masih ingin bertengkar silahkan saja. Aku yang akan pergi dari sini dan kalian berdua jangan pernah mengikuti ku lagi kalau kalian tidak bisa berdamai.


Guru Resi, Klungsur..


Ayo kita pergi dari tempat ini", ajak Arya Pethak pada Resi Jathayu dan Klungsur.


"Jangan pergi Kakang", ucap Sekarwangi dan Paramita bersamaan. Arya Pethak mendengus dingin sembari menoleh ke arah mereka berdua.


"Kalau kalian belum bisa berdamai, jangan pernah mendekati ku", ujar Arya Pethak sambil melangkah halaman Katumenggungan Kurawan menuju ke serambi balai peristirahatan nya. Resi Jathayu tersenyum simpul sembari mengikuti langkah Arya Pethak. Klungsur pun segera mengekor di belakangnya.


Tumenggung Jaran Gandi yang baru saja pulang dari istana Kadipaten Kurawan langsung melangkah mendekati Arya Pethak dan Resi Jathayu. Tentu saja Tumenggung Jaran Gandi mengenali Resi Jathayu karena pertapa tua itu termasyhur di kalangan masyarakat Kurawan sering menolong orang saat mereka di ganggu anggota Kelompok Kelabang Ireng.


"Suatu kehormatan bagi saya Resi Jathayu bersedia mampir ke Katumenggungan Kurawan ini", ujar Tumenggung Jaran Gandi dengan penuh hormat.


"Aku hanya mengantar pulang Arya Pethak sesuai janji ku pada Dandang Mangore, Tumenggung Jaran Gandi. Jadi jangan salah sangka.


Nah bocah bagus, kau sudah sampai di tempat ini berarti janji ku pada Senopati Dandang Mangore sudah selesai. Sekarang aku akan pulang ke Pertapaan Giri Lawu. Jaga diri mu baik-baik. Jika Dewata masih memberikan kesempatan kita untuk bertemu lagi, ku harap kau sudah bertambah kuat.


Tumenggung Jaran Gandi, Arya Pethak..


Aku permisi dulu", usai berkata demikian, Resi Jathayu melesat cepat bagai kilat meninggalkan Katumenggungan Kurawan.


Tumenggung Jaran Gandi yang sebenarnya ingin mendekatkan Resi Jathayu agar mau menerima murid Kuda Amerta, terpaksa harus menunda keinginan nya karena Resi Jathayu telah menghilang dari pandangan.


"Sungguh pertapa berilmu tinggi. Andai Kuda Amerta jadi muridnya, pasti dia bisa menjadi prajurit andalan di Kadipaten Kurawan", gumam Tumenggung Jaran Gandi sambil terus menatap arah perginya Resi Jathayu.


"Kalau Gusti Tumenggung ingin Gusti Kuda Amerta menjadi murid pertapa tua itu, ya antar saja ke pertapaan nya.


Kan beres", celetuk Klungsur yang membuat Tumenggung Jaran Gandi segera menoleh kearah nya.


"Kenapa aku tidak terpikirkan hal semacam itu?


Terimakasih Klungsur, sudah memberikan pemecahan masalah ini. Kau hebat", puji Tumenggung Jaran Gandi sambil tersenyum simpul.


"Siapa dulu..


Klungsur ini", ucap Klungsur dengan membusungkan dada. Arya Pethak hanya tersenyum tipis melihat kesombongan Klungsur.


"Oh iya Gusti Tumenggung, bagaimana dengan surat yang di janjikan oleh Gusti Adipati Lembu Panoleh?


Apakah sudah ada?", tanya Arya Pethak segera.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Tumenggung Jaran Gandi mengeluarkan kantong kain berwarna merah dari balik bajunya. Segera dia memberikan nya pada Arya Pethak.


"Ini titipan dari Gusti Adipati Lembu Panoleh. Beliau berpesan agar kau jangan sampai membuka surat itu.


Apa kau mengerti?", Tumenggung Jaran Gandi menatap ke arah Arya Pethak.


"Hamba mengerti Gusti Tumenggung.


Kalau begitu, hari ini juga hamba mohon diri untuk pulang ke Kadiri. Terimakasih selama ini Gusti Tumenggung sudah banyak membantu kami", ujar Arya Pethak sambil menghormat pada perwira tinggi prajurit Kurawan itu segera.


"Ya aku pun juga mengucapkan banyak terima kasih kepada mu Arya Pethak. Tanpa bantuan mu, mungkin aku sudah mati tempo hari.


Ambillah ini sebagai bekal perjalanan mu ke Kadiri", ucap Tumenggung Jaran Gandi sembari mengulurkan sekantong kepeng perak untuk bekal perjalanan Arya Pethak dan kawan-kawan nya.

__ADS_1


"Terimakasih Gusti Tumenggung. Hamba mohon diri", ujar Arya Pethak sambil berdiri menuju ke dalam kamar tidur nya dan mengambil buntalan kain berisi beberapa potong pakaian nya.


Klungsur pun ikut mengambil buntalan kain nya. Dia segera mengekor langkah Arya Pethak yang berjalan mendekati kuda yang tertambat di geladakan.


Sekarwangi dan Paramita berlari cepat mendekati Arya Pethak. Nafas mereka sampai tersengal-sengal karena terburu-buru.


"Kakang Pethak,


Tunggu aku. Aku ikut dengan mu", ujar Sekarwangi sambil memegangi tangan Arya Pethak.


"Aku juga ikut dengan mu Kakang Pethak", Paramita ikut berbicara.


Hemmmmmm


"Apa kalian sudah berdamai?", tanya Arya Pethak sambil menatap kedua gadis cantik itu segera.


Paramita dan Sekarwangi langsung mengangguk bersamaan.


"Kami sudah menyadari kesalahan kami Kakang Pethak. Mohon ijinkan aku ikut bersama mu", ujar Sekarwangi yang mendapat anggukan kepala dari Paramita.


Melihat itu Arya Pethak menghela nafas panjang.


"Baiklah aku ijinkan kalian ikut", ujar Arya Pethak yang segera membuat dua gadis cantik itu tersenyum senang.


"Tapi...


Jika kalian ribut lagi, akan ku tinggalkan kalian berdua dan jangan harap aku akan menerima kalian lagi untuk ikut bersama ku", ancam Arya Pethak yang langsung membuat senyum manis dua gadis cantik itu menghilang.


"Sepertinya kalian keberatan jika aku minta kalian untuk rukun. Kalau begitu aku berangkat bersama Klungsur saja", Arya Pethak kembali mengancam dua gadis cantik itu.


"Jangan Kakang Pethak, begitu saja kog marah sih..


Aku berjanji akan rukun dengan Paramita, berbagi semua dengan nya. Benar kan Mita?", siku tangan kiri Sekarwangi segera menyenggol lengan kanan Paramita.


"I-iya Sekarwangi. Iya kita akan selalu rukun kog Kakang Pethak.. Hek eh, rukun..", sahut Paramita dengan cepat.


"Baiklah kalau begitu,


Cepat kalian ambil barang barang kalian. Aku tunggu disini. Jangan terlalu lama", perintah Arya Pethak yang membuat dua gadis cantik itu segera berlari menuju ke tempat peristirahatan mereka masing-masing.


Tak berapa lama kemudian mereka kembali sembari membawa bungkusan kain.


Dengan cepat Sekarwangi dan Paramita segera melepaskan tali kekang kuda mereka masing-masing kemudian melompat ke atas kuda mereka.


"Tunggu,


Kemana saudara Gajah Wiru? Apa kalian melihat nya?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah ketiga kawannya itu.


"Gajah Wiru sudah pergi Kakang, pada hari ketiga Kakang Pethak di bawa Resi tua itu.


Hemmmmmm..


"Ya sudahlah, mungkin ini memang takdir dari para Dewa.


Ayo kita pulang ke Kadiri", ujar Arya Pethak sembari menggebrak kudanya yang segera melesat meninggalkan tempat itu. Paramita, Sekarwangi dan Klungsur langsung mengikuti langkah Arya Pethak. Debu debu beterbangan mengiringi perjalanan mereka meninggalkan Katumenggungan Kurawan.


Selepas melalui tapal batas kota Kadipaten Kurawan, Arya Pethak dan kawan-kawan nya trus menggebrak kuda mereka menyusuri jalan raya menuju ke wilayah timur. Mereka menghentikan langkah kaki kuda tunggangan mereka di sebuah percabangan jalan karena mereka menghindari jalan yang melewati hutan Kali Mati ataupun melewati Desa Karangan.


"Sebaiknya kita kemana Kakang Pethak? Kanan atau kiri?", tanya Paramita dari atas kuda hitam nya.


"Aku juga tidak tahu Mita, karena kita melewatkan pertigaan di belakang tadi", jawab Arya Pethak sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ndoro Pethak,


Itu ada warung makan. Kita bisa mengisi perut sambil bertanya arah jalan hehehe", Klungsur menunjuk sebuah warung makan yang tak jauh dari tempat mereka berhenti.


"Kau benar Klungsur..


Sebaiknya kita makan dulu setelah itu kita lanjutkan perjalanan", ujar Arya Pethak sambil mengarahkan kuda tunggangan nya kearah warung makan. Mereka berempat segera bergegas menuju tempat makan itu.


Usai menambatkan kuda mereka di geladakan, Arya Pethak dan kawan-kawan nya masuk ke dalam warung makan.


Seorang pelayan dengan cepat menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang di warung makan kami Kisanak..


Mau pesan apa?", tanya si pelayan warung makan itu dengan ramah.


"Berikan kami makanan apa saja yang paling enak, pelayan", jawab Arya Pethak sambil menatap ke sekeliling ruangan itu. Hanya nampak 3 orang berpakaian serba putih sedang duduk di sudut ruangan sedangkan 2 orang wanita berbeda usia seperti guru dan murid nampak makan lahap di sudut ruangan dekat jendela.


"Saya siapkan kisanak. Mari saya antar ke tempat duduk nya", ucap si pelayan warung sambil melangkah ke salah satu meja yang kosong. Arya Pethak, Sekarwangi, Paramita dan Klungsur segera duduk di kursi kayu yang di sediakan. Sang pelayan warung segera berlalu meninggalkan mereka untuk menyiapkan makanan pesanan mereka.


Dari arah pintu muncul 4 orang pria berpakaian hijau tua dengan membawa pedang. Mereka terlihat seperti satu perguruan karena pakaian mereka sama.


Sang pelayan warung makan buru buru menghampiri mereka dan menanyakan pesanan. Mereka nampaknya juga ingin makan di tempat itu. Salah seorang dari mereka, yakni si lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal terlihat berbisik pada kawan di sebelahnya.


"Bango Kuning,


Sepertinya mereka dari Perguruan Pedang Perak. Ini kesempatan bagus untuk membalas dendam pada mereka. Kau panggil kawan kawan kita kemari. Kita sikat mereka disini", ujar si lelaki gempal berkumis tebal itu sambil melirik ke arah tiga orang berpakaian serba putih itu.


"Baik Kakang Macan Wungu..


Aku keluar lebih dulu. Kakang tunggu kedatangan ku sebelum membuat keributan dengan mereka", jawab si lelaki yang di panggil Bango Kuning itu segera. Macan Wungu mengangguk mengerti.

__ADS_1


Rombongan berbaju hijau tua segera duduk tak jauh dari 3 orang berpakaian serba putih itu. Para lelaki berbaju hijau tua itu berasal dari Padepokan Gunung Hijau. Tempo hari, salah satu murid utama padepokan itu meregang nyawa di tangan putri Ketua Perguruan Pedang Perak karena berani mengganggu perempuan itu sewaktu mereka bertemu di perayaan pernikahan di salah satu bangsawan penting Pakuwon Cempaka. Akibat kejadian itu, Padepokan Gunung Hijau bermusuhan dengan Perguruan Pedang Perak. Dimana pun tempat mereka bertemu pasti akan bentrok.


Sang pelayan warung makan datang dengan membawa nampan berisi beberapa jenis makanan ke meja Arya Pethak. Klungsur yang kelaparan langsung menyambar paha ayam bakar yang tersaji di hadapannya.


"Sur kalau makan jangan terburu buru begitu, nanti tersedak", ujar Arya Pethak sambil tersenyum menatap Klungsur yang makan mirip orang sepuluh hari tidak menyentuh makanan.


"Maaf Ndoro Pethak,


Klungsur lapar banget ini", jawab Klungsur sambil terus memasukkan daging ayam bakar ke mulutnya.


"Iya makan pelan pelan saja, perjalanan kita tidak buru buru kog Sur", Arya Pethak tersenyum sambil mulai mengunyah ikan bakar yang ada di meja mereka.


Mereka berempat menikmati makan siang itu dengan penuh kenikmatan. Namun sayangnya kenikmatan yang mereka dapat tak bertahan lama saat delapan orang berbaju hijau tua masuk ke dalam warung makan itu.


Melihat kedatangan Bango Kuning dan kawan-kawan nya, Macan Wungu segera melemparkan tulang ayam kearah orang orang dari Perguruan Pedang Setan.


Whuuthhh...


Salah seorang dari tiga orang berpakaian serba putih itu yang merupakan seorang wanita muda langsung mengibaskan tangan kiri nya. Tulang ayam yang meluncur deras kearahnya langsung mental dan berbalik arah pada Macan Wungu.


Plaaakkk..


Auuuggghhhhh!!


Macan Wungu yang berusaha menghindar tulang ayam yang berbalik arah, berhasil melakukan nya. Namun kawan yang duduk di sebelahnya tak sempat menghindar hingga tulang ayam menghantam pelipis kiri nya. Dia langsung terjengkang usai mengaduh kesakitan.


"Kurang ajar!


Kalian berani menyerang kami. Apa kalian pengen mampus di tempat ini ha?", hardik Macan Wungu sambil menunjuk ke arah wanita muda berpakaian serba putih.


"Aku hanya membela diri dari serangan pengecut yang kau lakukan, setan baju hijau", balas si perempuan muda itu segera.


"Keparat,


Berani kau menghina murid Padepokan Gunung Hijau di wilayah kekuasaannya. Kau benar benar bosan hidup.


Kawan-kawan,


Kita habisi para anggota Perguruan Pedang Perak itu. Ayo!", ujar Macan Wungu dengan lantang hingga para lelaki berbaju hijau tua itu langsung mengepung ketiga orang dari Perguruan Pedang Perak.


Melihat kepungan para murid Padepokan Gunung Hijau, ketiga anggota Perguruan Pedang Perak langsung bersiaga.


Bango Kuning langsung maju sambil membacokkan pedang nya ke arah leher seorang anggota Perguruan Pedang Perak. Lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal itu hanya merunduk sedikit lalu menghantamkan tangan kanannya ke dada Bango Kuning.


Blllaaaaaarrr!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Bango Kuning terlempar usai menjerit keras. Tubuh pria bertubuh kurus itu langsung menghantam meja makan yang di tempati wanita tua yang memakai banyak tusuk konde perak di kepalanya.


Bruakkkk!!


Nenek tua berkonde perak itu mendengus keras kemudian melompat menjauh dari meja makan nya yang hancur tertimpa tubuh Bango Kuning.


Dia mendelik tajam ke arah orang-orang yang tengah bertarung itu karena menggangu acara makan siang nya.


"Kutu busuk!


Kalian cari mati!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tetap semangat jalani hari sobat,


Meski apa yang kita harapkan tak sesuai dengan keinginan.

__ADS_1


Yang mau berteman dengan author, bisa cek IG author : ebez2812✌️✌️🙏🙏


__ADS_2