Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Menuju Saunggalah


__ADS_3

"Tidak ada niat balas dendam Sur, hanya sekedar mengingatkan mu saja", Anjani tersenyum penuh kemenangan.


"Alah itu alasan mu. Aku tahu kau suka menyimpan dendam sama orang.


Kawan macam apa kau ini", gerutu Klungsur sambil meletakkan kembali gagang Gada Galih Asem nya. Pria bogel itu lalu memotong daging babi hutan panggang dengan pisau yang biasa dia bawa untuk mengolah makanan. Tak berapa lama kemudian, sepotong daging babi hutan panggang sudah dia kunyah. Bibir nya penuh dengan minyak.


Melihat itu, salah seorang perempuan muda menatap dengan penuh hasrat. Perutnya yang sedari tadi pagi tidak di masuki makanan meronta minta di isi.


Krriuukkkk...


Anjani yang mendengar bunyi perut nya langsung tersenyum tipis. Dia segera menoleh kearah perempuan muda itu.


"Anjeun haranga, Eneng geulis? Anjeun hoyong neda ieu ( Kau lapar, gadis cantik? Kamu mau makan ini)?".


Mendengar pertanyaan Anjani, si perempuan muda itu langsung mengangguk cepat.


"Ah anjeun ieu damel isin ( Ah kau ini bikin malu), Sumarna ", gumam si lelaki paling sepuh dari 5 orang itu. Dia merasa malu, keponakannya Sumarna si gadis muda itu tidak bisa menahan diri.


"Henteu nanaon Aki. Urang oge tiasa meakkeun ieu sadaya (Tidak apa apa Aku. Kami juga tidak bisa menghabiskan ini semua)", jawab Anjani sambil mengiriskan daging babi hutan panggang itu dan memberikan nya pada Sumarna, serta 4 orang lain nya.


Mereka berbincang hangat sambil menikmati daging babi hutan panggang di malam yang dingin itu. Dari percakapan mereka, di ketahui mereka adalah para pelarian dari Desa Babakan Sari di wilayah Kawadoan Barisan. Laki laki paruh baya yang memimpin mereka bernama Aki Soma. Lelaki muda yang pendiam satu nya bernama Ujang, sedangkan tiga perempuan yang lain adalah Sumarna, Kentring dan Icih.


Tujuan mereka adalah Kota Kadipaten Saunggalah. Mereka berniat menemui Nunangganan Wiguna yang merupakan atasan langsung Wado Harya Permana untuk melaporkan tindakan sewenang-wenang Wado Harya Permana. Penguasa daerah Barisan itu telah menaikkan pajak seenaknya, memeras rakyat serta menindas mereka yang berani melawan. Aki Soma sendiri ikut kelompok yang menentang keras tindakan sewenang-wenang Harya Permana. Namun karena kalah kekuatan, Aki Soma terpaksa melarikan diri bersama 2 keponakan dan 2 anak nya.


Sepanjang perjalanan mereka terus menerus di buru oleh orang orang suruhan Wado Harya Permana hingga sampai di tempat itu.


Arya Pethak yang sedari tadi hanya diam saja mulai mengerti duduk permasalahannya setelah di jelaskan oleh Anjani. Pendekar muda itu menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Kita tidak bisa ikut campur dalam urusan dalam negeri orang lain, Anjani.


Kalau kita ingin membantu mereka, paling banyak kita hanya bisa mengantar mereka hingga ke Saunggalah. Lagipula ingat kata Resi Jati Waluyo, kita hanya punya waktu 3 purnama untuk menyelamatkan nyawa Rara Larasati", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah 5 orang yang tinggal menyisakan Aki Soma dan Ujang yang terjaga. Sumarna, Kentring dan Icih sudah tertidur pulas karena kecapekan setelah berjalan jauh.


Ada seberkas rasa kasihan di hati Arya Pethak melihat penderitaan mereka.


"Anjani tanyakan pada mereka, apakah mereka tahu jalan tercepat untuk sampai di Saunggalah?", Arya Pethak menatap Anjani segera.


"Hampura Aki. Aki terang jalan ka Saunggalah? Anu langkung enggal eta mending ( Maaf Aki. Aki tahu jalan ke Saunggalah. Yang lebih cepat itu lebih baik)", ucap Anjani yang segera membuat Aki Soma tersenyum.


"Aki teh hapal jalan ka Saunggalah, Eneng.


Ayeu naon ( Aki hapal jalan ke Saunggalah, Eneng. Ada apa)?", Aki Soma menatap wajah Anjani lekat-lekat.


"Bilang padanya Anjani, besok kita berangkat bersama ke Saunggalah", Arya Pethak tersenyum tipis.


"Majikan abdi teh ngomong, enjing urang mios sareng ka Saunggalah ( Majikan ku ngomong, besok pagi kita berangkat bersama ke Saunggalah)", mendengar ucapan Anjani, Aki Soma tersenyum lebar. Pria paruh baya itu benar-benar lega mendengar nya. Semakin banyak orang, akan semakin baik. Apa lagi melihat bahwa Anjani, Klungsur dan Arya Pethak bukan orang sembarangan.


"Hatur nuhun, Eneng jawara ( Terimakasih, Gadis Pendekar)", ucap Aki Soma segera.


Klungsur yang ada tak jauh dari mereka, menggerutu dalam hati.


'Ah repot kalau aku tidak mengerti bahasa orang orang ini. Bisa jadi ucapan mereka memaki ku tapi aku tidak tahu. Apes'


Malam semakin larut. Udara dingin turun melingkupi sekitar tempat itu apalagi saat pagi menjelang tiba. Suara kokok ayam jantan bersahutan ditambah kicau burung menandakan bahwa sebentar lagi mentari pagi akan segera muncul di ufuk timur.


Usai membereskan barang bawaan nya, mereka bergegas menuju ke arah selatan meninggalkan wilayah Kawadoan Barisan ke wilayah Kawadoan Lingga.


Karena Aki Soma dan keempat pengikut nya berjalan kaki, pergerakan mereka sangat lambat. Setelah melewati beberapa desa, mereka sampai di perbatasan Kawadoan Barisan dengan Kawadoan Lingga.


Saat mereka berdelapan orang melintasi jalan raya penghubung wilayah Kadipaten Saunggalah, mereka di cegat oleh 7 orang berbaju biru langit dan seorang lelaki muda berpakaian hitam dengan ikat kepala biru.


Aki Soma terkejut melihat kedatangan mereka, apalagi adanya sosok lelaki berpakaian hitam berikat kepala biru itu.


"Hariang Siksa pengkhianat..


Kenapa kau halangi jalan kami? Belum cukup kau membuat orang-orang Desa Babakan Sari menderita ha?", teriak Aki Soma sambil menunjuk wajah si lelaki berpakaian hitam dengan nama Hariang Siksa.


"Hahahaha... Aki Soma, kau tetap saja bodoh dengan sikap keras kepala mu.


Bukankah Gusti Wado Harya Permana sudah memberikan kemudahan untuk mu, tapi kenapa kau justru melawan nya? Meskipun Nunangganan Kartawiguna ada di pihak mu, tapi Mantri Harjakusumah tentu tidak akan tinggal diam jika Nunangganan Kartawiguna berani menindak Wado Harya Permana.


Ikuti aku sekarang. Akan ku minta Wado Harya Permana untuk memberi mu kekuasaan dan harta", ujar Hariang Siksa sambil tersenyum lebar.


"Aku tidak akan menjual rakyat Desa Babakan Sari untuk kepuasan pribadi ku, Hariang Siksa.


Aku bukan pengkhianat seperti kau!", balas Aki Soma sambil menatap tajam ke arah Hariang Siksa. Pria bertubuh gempal itu langsung mendengus keras. Raut muka nya langsung berubah kelam.


"Dasar tak tahu di untung..


Kau tahu orang orang ini siapa? Mereka adalah orang-orang Istana Atap Langit. Gusti Harya Permana sudah membayar mereka untuk memusnahkan serangga serangga pengacau seperti mu.


Bersiaplah untuk mati", usai berkata demikian, Hariang Siksa memberikan isyarat kepada ketujuh orang berbaju biru langit untuk menyerang.


Melihat itu Ujang dan tiga perempuan pengikut Aki Soma langsung mundur ke belakang. Pertarungan rupanya akan segera terjadi.


Ketujuh orang berbaju biru langit yang merupakan anak murid Perguruan Istana Atap Langit langsung melesat cepat kearah rombongan Arya.

__ADS_1


Klungsur yang kesal karena harus berjalan kaki dari tadi, langsung menyambar gagang Gada Galih Asem. Pemuda bogel itu segera berlari menyongsong ketujuh murid Perguruan Istana Atap Langit untuk melampiaskan kekesalannya.


Dengan geram, Klungsur langsung mengayunkan Gada Galih Asem nya ke arah seorang anak murid Perguruan Istana Atap Langit yang paling depan.


Whhhuuuggghhhh!!


Si pria berbaju biru langit dengan bekas luka di pipi kanannya itu menghindari hantaman Klungsur. Dia berhasil lolos sembari membabatkan pedang nya ke arah perut Klungsur.


Breeeetttth!!


Klungsur hanya menyeringai lebar melihat pedang menebas perutnya. Melihat lawan tidak menghindar, si pria berbaju biru langit dengan bekas luka itu tersenyum penuh kemenangan.


"Mampus sia, Bogel!"


Trrraaakkkkkh!!


Mata si anak murid Perguruan Istana Atap Langit itu melotot lebar saat pedangnya seperti menebas batu. Apes nya lagi, kawannya yang berada di belakang nya tak sempat menghindar dari gebukan Gada Galih Asem nya Klungsur yang telak menghantam kepalanya.


Prrraaaakkkkkkk...


Aaauuuuggggghhhhh!!


Anak murid Perguruan Istana Atap Langit yang sial langsung roboh dengan kepala pecah berlumuran darah.


Melihat Klungsur yang maju, Anjani dan Arya Pethak tidak tinggal diam. Dua pendekar muda itu segera menerjang maju ke arah para murid Perguruan Istana Atap Langit yang mulai mengepung Klungsur.


Enam orang berpakaian biru langit itu tak menyangka kedatangan lawan yang ternyata lebih mengerikan di banding Klungsur.


Chrraaasssshhh!!


Dua orang murid Perguruan Istana Atap Langit langsung tersungkur terkena tebasan Pedang Setan dari Arya Pethak dan Pisau Dewa Kematian kepunyaan Anjani.


Empat orang anak murid Perguruan Istana Atap Langit saling pandang seakan tak percaya melihat ketiga kawan nya di habisi semudah itu.


Tiga orang berpakaian biru langit langsung melesat ke arah Arya Pethak, Anjani dan Klungsur. Sementara seorang lagi melesat cepat kearah Sumarna yang rupanya hendak di jadikan sandera.


Melihat gelagat mencurigakan itu, Aki Soma langsung mencabut golok di pinggangnya dan menghadang laju pergerakan si anak murid Perguruan Istana Atap Langit.


Satu sabetan golok terayun cepat kearah anak murid Perguruan Istana Atap Langit.


Shreeeeettttthhh!!


Satu sosok yang tidak lain adalah Hariang Siksa mencabut pedang nya menghalangi niat Aki Soma. Pedang Hariang Siksa langsung menangkis sabetan golok Aki Soma.


Aki Soma melompat mundur beberapa langkah usai golok nya berbenturan dengan pedang Hariang Siksa. Murid Istana Atap Langit langsung menarik tangan Sumarna. Ujang mencoba untuk menghalangi niat si lelaki berbaju biru langit itu, namun pemuda tanggung itu justru terpental setelah anak murid Perguruan Istana Atap Langit yang ingin menyandera Sumarna melayangkan tendangan keras kearah perut nya.


Arya Pethak yang baru menghabisi nyawa seorang murid Istana Atap Langit terlambat beberapa saat, langsung melesat cepat kearah si anak murid Istana Atap Langit yang menyandera Sumarna.


"Hentikan!


Kalau kau masih ingin gadis ini hidup", ancam si anak murid Istana Atap Langit itu sambil menempelkan pedangnya ke leher Sumarna. Arya Pethak langsung menghentikan gerakannya melihat Sumarna yang ketakutan. Dia menatap tajam ke arah si murid Istana Atap Langit.


Anjani yang baru saja menancapkan Pisau Dewa Kematian ke lawannya, langsung melenting tinggi ke udara sambil melemparkan satu jarum beracun nya ke punggung tangan sang penyandera.


Shrrriinnnggg!!


Jarum Penghancur Sukma melesat cepat tepat saat tangan anak murid Perguruan Istana Atap Langit hendak menggorok leher Sumarna.


Crreepppphhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Pedang di tangan sang penyandera langsung jatuh ke tanah. Arya Pethak memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelamatkan Sumarna.


Pendekar muda yang di juluki sebagai Pendekar Pedang Setan itu melesat cepat kearah Sumarna. Tangan kanannya langsung menyambar tubuh Sumarna sementara tangan kirinya menghantam dada anak murid Perguruan Istana Atap Langit.


Bhhhuuuuuuggggh..


Lelaki berbaju biru langit itu langsung terpental ke belakang. Belum sempat dia jatuh, muncul Klungsur dengan Gada Galih Asem nya mengayunkan senjata itu ke arah kepala si lelaki berbaju biru langit.


Brrraaaakkkkkkkk!!!


Tubuh si lelaki berbaju biru langit itu langsung terhempas ke tanah dengan kepala hancur. Dia tewas tanpa sempat bersuara.


Hariang Siksa yang menyaksikan keganasan Arya Pethak dan kawan-kawan langsung ciut nyalinya. Dia dengan cepat melesat ke arah Aki Soma sambil mengayunkan pedangnya untuk membuka jalan pelariannya.


Shreeeeettttthhh!!


Aki Soma berkelit ke samping menghindari sabetan pedang Hariang Siksa. Namun inilah yang di harapkan oleh lelaki bertubuh gempal itu. Di bibirnya tersungging senyum seringai lebar.


Namun belum genap dua depa jarak pelariannya, Anjani melemparkan satu jarum kecil berwarna merah kehitaman ke arah punggung Hariang Siksa.


Creepp..


Aaauuuuggggghhhhh!!

__ADS_1


Sambil menahan rasa panas menyengat di punggungnya, Hariang Siksa melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan pelari itu ke arah utara. Aki Soma berniat untuk mengejarnya, namun teriakan Anjani menghentikan langkahnya.


"Tak kedah diudag Aki. Racun abdi bade maehan keparat eta (Tak usah dikejar Aki. Racun ku akan membunuh keparat itu)", ujar Anjani sambil tersenyum simpul.


Mendengar itu Aki Soma tersenyum tipis.


Penyergapan itu selain sempat mengancam nyawa mereka, rupanya juga membawa berkah tersendiri bagi rombongan Arya Pethak. Klungsur langsung menggeledah tubuh mayat murid Perguruan Istana Atap Langit dan menemukan beberapa barang berharga seperti beberapa kantong kepeng perak dan sebuah lencana dari kayu berukir gambar gapura istana dengan lingkaran bulan di belakangnya.


Aki Soma langsung menerangkan pada Anjani bahwa lencana itu adalah tanda murid Perguruan Istana Atap Langit. Usai mendengar ucapan Anjani yang menterjemahkan bahasa Aki Soma, Klungsur langsung melemparkan lencana kayu itu ke semak belukar.


"Barang tidak berguna sebaiknya di buang saja", ujar Klungsur sambil melangkah menuju ke arah beberapa kuda yang tertambat tak jauh dari tempat mereka bertarung.


Dengan kuda kuda yang ditinggalkan oleh para murid Perguruan Istana Atap Langit, mereka melanjutkan perjalanan. Ujang berkuda dengan Icih, Sumarna naik kuda sendiri sedangkan Aki Soma bersama Kentring yang tidak bisa mengendarai kuda. Perjalanan mereka menjadi lebih cepat dari tadi pagi.


Sesampainya di desa terdekat, Aki Soma menjual tiga kuda yang lain setelah mendapat persetujuan dari Arya Pethak. Rombongan itu terus bergerak ke selatan, ke arah kota Kawadoan Lingga.


Hari menjelang sore saat rombongan itu sampai di kota Kawadoan Lingga. Aki Soma yang menjadi penunjuk jalan membawa rombongan itu ke sebuah rumah besar yang ada di barat kota.


Seorang lelaki sepuh berjenggot panjang menyambut kedatangan Aki Soma dan anggota rombongan itu dengan penuh rasa kekeluargaan. Melihat dari pakaian yang dia kenakan, orang tua itu adalah seorang brahmana.


"Selamat datang di kediaman ku, adik Soma. Tumben sekali kau berkunjung kemari", ujar sang brahmana dengan senyum nya yang penuh kewibawaan.


"Aku kebetulan lewat, Akang Resi Pucukwesi..


Kalau diijinkan, aku ingin minta ijin untuk bermalam disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Saunggalah", Aki Soma membungkukkan badannya pertanda dia hormat kepada lelaki sepuh berjenggot panjang yang dia panggil dengan sebutan Resi Pucukwesi itu.


"Hehehe kau ini masih saja sungkan seperti aku bukan saudara mu saja.


Ayo bawa semua pengikut mu untuk masuk ke dalam rumah", Resi Pucukwesi tersenyum tipis sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


"Ieu imah saha Aki (Ini rumah siapa Aki)?", tanya Anjani sembari menatap ke sekeliling halaman rumah yang luas itu.


"Ieu teh imah raka seperguruan abdi, Resi Pucukwesi. Anjeunna nyaeta pandita di dieu Eneng geulis ( Ini rumah kakak seperguruan ku, Resi Pucukwesi. Dia jadi pandita disini, nona cantik)", jawab Aki Soma sambil tersenyum tipis.


"Eh Anjani, kakek tua ini ngomong apa sih? Iyak iyek saja dari tadi", Klungsur yang datang dari belakang langsung memotong pembicaraan.


"Kau pernah mendengar peribahasa yang mengatakan bahwa diam itu emas gak Sur?", Arya Pethak ikut nimbrung obrolan mereka.


"Tau Ndoro,


Cuma tak pikir pikir kalau bahasa mereka itu sulit di pahami. Makanya aku tanya Ndoro. Lha Ndoro Pethak sendiri memangnya tahu arti bahasa mereka?", Klungsur ganti bertanya pada Arya Pethak.


"Kalau aku tahu, aku pasti bisa bercakap-cakap dengan mereka", Arya Pethak mengelus dagunya.


"Nah sesama orang tidak tahu, sebaiknya Ndoro Pethak tidak protes", ujar Klungsur sembari tersenyum licik.


Cethhakkkk!!


"Aduh sakit Ndoro Pethak, ampun!", Klungsur langsung mengaduh kesakitan saat Arya Pethak menjitaknya dengan keras. Bagaimana dia tidak kesakitan, lha sabuk Jimat Lulang Kebo Landoh di cabut Arya Pethak sebelum menjitak kepala Klungsur. Anjani langsung tersenyum lebar melihat kepala Klungsur yang benjol akibat jitakan Arya Pethak.


"Rasakan kau Sur!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Untuk yang menjalankan ibadah puasa, selamat makan sahur ya..


Bahasa Sunda jika ada kekeliruan mohon bantuannya untuk di benarkan. Mohon di maklumi author orang Jawa yang menyukai budaya nasional. Salam 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2