
Melihat kepulan asap tebal yang menutupi seluruh tubuh Arya Pethak, Dewi Ular Siluman langsung melesat cepat kearah Si Mata Malaikat sambil tersenyum lebar. Anjani mengekor di belakangnya.
"Ternyata nama besar mu sepadan dengan kemampuan mu, Jaran Dawuk..
Kau lumayan hebat", puji Nyi Gitarja alias Dewi Ular Siluman yang membuat Si Mata Malaikat menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
"Aku bukan pendekar kacangan, Gitarja..
Sebagai hadiah kemenangan ku, malam ini murid mu yang montok ini harus menemani ku tidur hahahaha", ujar Jaran Dawuk sembari tertawa terbahak-bahak. Mendengar ucapan itu, Anjani langsung melengos kesal.
Chuuiiiiiiihhhh...
"Siapa sudi menemani tidur kakek tua bau tanah seperti mu, Mata Malaikat..
Kalaupun harus memilih, lebih baik aku mati daripada harus merelakan tubuh ku kau jamah", ucap Anjani dengan ketus. Gadis itu sangat kesal dengan sikap Si Mata Malaikat.
"Hahahaha kau tidak bisa mengelak Anjani..
Gitarja sendiri sudah sepakat dengan ku bahwa kau akan menemani ku tidur jika aku berhasil melenyapkan nyawa murid Si Tapak Kilat itu", mendengar ucapan Si Mata Malaikat, Anjani langsung menoleh ke arah Dewi Ular Siluman.
"Guru!!
Apa benar yang dikatakan oleh kakek cabul ini?", tanya Anjani dengan nada tinggi.
"Itu hanya candaan Anjani. Mana mungkin aku mengijinkan Jaran Dawuk meniduri mu? Jangan percaya ucapan nya", Dewi Ular Siluman mengelak dari tuduhan tersebut.
"Kau jangan ingkar janji, Gitarja..
Bukankah tadi malam kau yang mengatakan nya sendiri pada ku? Kau mau aku hajar ya?", Si Mata Malaikat mendelik tajam ke arah Dewi Ular Siluman.
"Apa kalian sudah selesai berdebat?"
Suara itu langsung membuat Dewi Ular Siluman, Anjani dan Si Mata Malaikat langsung menoleh ke arah sumber suara. Asap tebal yang menutupi seluruh tubuh Arya Pethak telah memudar dan murid Mpu Prawira itu tersenyum lebar tanpa cedera sedikitpun. Mata mereka bertiga langsung melotot lebar.
"Ka-kau... Bagaimana bisa kau masih hidup setelah menerima Ajian Soca Dewa ku?", tanya Si Mata Malaikat dengan terbata-bata. Selama ini tak satupun pendekar mampu menahan Ajian Soca Dewa di dunia persilatan.
"Kau pikir Ajian mu tiada tanding, kakek tua?
Kau ibarat katak yang mengira bahwa dunia kanuragan hanya seluas tempurung kelapa saja rupanya", jawab Arya Pethak sambil menepuk bajunya yang berdebu.
"Bocah tengik!
Kau berani sekali menghina Si Mata Malaikat. Kali ini aku akan benar-benar menghabisi mu. Kau hanya beruntung tadi", usai berkata demikian, Jaran Dawuk segera memutar kedua tangan yang mengepal dengan menyisakan dua jari telunjuk dan jari tengah lurus dengan lengannya. Dengan cepat ia memposisikan kedua jari dari kedua tangan di pelipis kiri kanan nya.
Mata Jaran Dawuk kembali bersinar merah menyala lebih terang dari yang pertama.
"Mampus kau keparat....!!!!", teriak Si Mata Malaikat saat dua larik sinar merah menyala berhawa panas melesat cepat kearah Arya Pethak. Murid Mpu Prawira itu tidak berusaha menghindar sedikitpun dari serangan Ajian Soca Dewa dari Si Mata Malaikat.
Shiiiuuuuuuuuttttt..
Blllaaammmmmmmm..!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat sinar Ajian Soca Dewa menghantam tubuh Arya Pethak yang bersinar kuning keemasan. Namun Arya Pethak masih terus berjalan mendekati Jaran Dawuk sembari tersenyum lebar. Dia yang hanya terdorong mundur selangkah kembali melangkah ke arah Si Mata Malaikat.
Melihat itu semua orang terkejut bukan main. Dewi Ular Siluman yang lepas dari keterkejutan nya langsung melesat cepat kearah Arya Pethak sambil menghantamkan tongkat besi nya saat serangan ketiga Si Mata Malaikat menerabas cepat kearah Arya Pethak.
Whhhuuuggghhhh...
Hantaman tongkat besi hitam dari Dewi Ular Siluman langsung mengarah ke kepala Arya Pethak.
Dhhaaaaannnngggg!!!
Betapa terkejutnya Dewi Ular Siluman saat melihat tongkat besi nya seperti menghantam logam keras saat hendak menyentuh kulit kepala Arya Pethak. Tongkat besi hitam itu nyaris terlepas dari genggaman tangannya karena kuatnya getaran saat beradu dengan Ajian Lembu Sekilan milik Arya Pethak.
Lebih terkejut lagi saat tangan kiri Arya Pethak yang di lambari Ajian Guntur Saketi yang di dapatkan dari bilah Pedang Setan menghantam ke arah dada Dewi Ular Siluman. Perempuan tua berkonde perak itu segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada tongkat besi hitam nya dan menyilangkan tongkat besi di depan dada.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!
Dewi Ular Siluman langsung terpental jauh ke belakang. Darah kehitaman muncrat keluar dari mulut nya. Anjani yang melihat gurunya dalam bahaya, langsung melesat cepat berusaha untuk menolong. Tapi sebuah bayangan berkelebat cepat sembari menyabetkan pedang nya, memaksa Anjani mengurungkan niatnya.
"Jangan ikut campur, atau ku cincang tubuh mu", ujar si bayangan yang tidak lain adalah Paramita dengan nada penuh ancaman. Dia mendelik tajam ke arah Anjani.
Tubuh Dewi Ular Siluman menghantam tanah dengan keras. Perempuan tua berkonde perak itu benar-benar luka dalam parah. Dari hidung dan telinga nya keluar darah segar. Meski masih bernyawa, tapi keadaan perempuan tua berkonde perak itu benar-benar mengenaskan.
__ADS_1
Si Mata Malaikat yang terus menerus mengeluarkan Ajian Soca Dewa mulai kelelahan. Di samping itu nyali kakek tua cabul ini juga hancur karena Arya Pethak sama sekali tidak terpengaruh oleh Ajian Soca Dewa. Dengan cepat ia mencabut golok yang tersarung di pinggangnya kemudian melesat cepat kearah Arya Pethak sembari membabatkan goloknya ke arah leher pemuda tampan itu.
Shreeeeettttthhh!!!
Clllaannggg....!!!!
Ajian Lembu Sekilan benar benar melindungi tubuh Arya Pethak dengan sempurna. Tebasan golok Si Mata Malaikat sama sekali tidak mampu menggores kulit tubuh nya. Mata Arya Pethak mendelik tajam ke Si Mata Malaikat. Dengan cepat ia menghantamkan tangan kanannya yang berwarna biru keputihan ke arah Si Mata Malaikat.
Whuuuuutthhh...
Melihat itu, Jaran Dawuk dengan cepat menghindar dari sinar biru keputihan yang melesat cepat kearah nya. Dia tahu betapa berbahayanya sinar biru keputihan itu.
Namun kali ini rasa lega yang di terima nya tidak berlangsung lama. Karena tiba-tiba saja Arya Pethak muncul di hadapan nya seraya menghantam dada Jaran Dawuk yang baru saja berjumpalitan menghindari Ajian Guntur Saketi. Rupanya Arya Pethak menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin yang di gabungkan dengan ilmu baru nya.
"Terima ajal mu, Mata Malaikat...!!!", teriak Arya Pethak dengan keras.
Blllaaammmmmmmm!!!
Jaran Dawuk alias Si Mata Malaikat hanya bisa pasrah saat tangan kanan Arya Pethak yang berwarna biru keputihan menghantam dada kanan nya. Kuatnya Ajian Guntur Saketi langsung membuat dada kanan Jaran Dawuk bolong tembus punggung. Salah satu momok dunia persilatan itu tewas dengan tubuh hangus seperti di sambar petir.
Usai berhasil menghabisi nyawa Si Mata Malaikat, Arya Pethak melesat ke arah Dewi Ular Siluman yang hampir mati. Dari mulut perempuan tua itu darah segar tak berhenti keluar. Rupanya seluruh tulang iga nya hancur oleh hantaman Ajian Guntur Saketi. Setelah mengejang hebat sesaat, Dewi Ular Siluman tewas.
Melihat kematian guru nya, Anjani langsung berlutut dan bersujud kepada Arya Pethak. Melawan seorang pendekar yang mampu mengalahkan dua dedengkot dunia persilatan sekaligus ibarat memecahkan batu dengan telur. Dia pasrah dengan apa pun yang akan di putuskan untuk nya.
"Ampuni aku, Pendekar!
Aku pasrah dengan apa pun keputusan mu. Nyawa ku adalah milik mu", ujar Anjani sambil menekan keningnya di atas tanah.
"Sudahlah, nisanak.
Guru mu sudah mati. Aku tidak ada permasalahan dengan mu. Kau boleh pergi. Kalau kau masih tidak terima dengan kematian guru mu, kau boleh mencari ku", Arya Pethak berlalu di depan Anjani yang masih bersujud.
"Aku tidak dendam dengan kematian guru ku, Pendekar.
Dia bahkan sampai hati menjual ku sebagai imbalan atas dukungan Si Mata Malaikat untuk menghadapi mu. Aku tidak ada penyesalan sama sekali.
Mulai dari ini aku adalah budak mu pendekar. Ijinkan aku ikut kemanapun kau pergi", ucapan Anjani langsung membuat Arya Pethak berhenti melangkah.
"Aku bukan orang yang suka memperbudak orang lain. Pergilah, aku membebaskan mu", ucap Arya Pethak sambil berjalan ke arah serambi kediaman utama Perguruan Pedang Perak diikuti oleh Paramita.
Tanpa mempedulikan kata kata Anjani, Arya Pethak terus berjalan menuju ke arah serambi kediaman utama Perguruan Pedang Perak. Satu isyarat tangan kanannya membuat para murid Perguruan Pedang Perak langsung menggotong mayat Si Mata Malaikat dan Dewi Ular Siluman. Kemudian mereka membakar mayat dua orang itu di tepi hutan yang tak jauh dari markas Perguruan Pedang Perak.
Mendung tebal yang berarak di langit selatan semakin lama semakin menebal dan terus menghitam. Suhu udara perlahan menjadi dingin di sertai hembusan angin kencang yang membawa uap air dari tenggara.
Perlahan titik titik hujan mulai turun dari langit. Sesekali petir menyambar di sertai guntur yang menggelegar. Hujan lebat mengguyur sekitar tempat itu.
Arya Pethak nampak baru keluar dari kamar tidur nya usai berganti pakaian karena pertarungan tadi. Dia melangkah menuju ke arah serambi depan kediaman utama Perguruan Pedang Perak. Di luar hujan deras mengguyur bagai di tumpahkan dari langit.
Klungsur, Sekarwangi dan Paramita menatap ke arah nya dengan tatapan mata yang aneh.
"Kenapa kalian melihat ku seperti itu? Apa ada yang salah?", tanya Arya Pethak sambil menatap heran kearah mereka bertiga.
"Tidak di sangka ya?
Ndoro Pethak ternyata orang yang kejam dan tidak berperikemanusiaan", ujar Klungsur sembari tersenyum sinis pada Arya Pethak.
"Loh aku kejam? Kejam ku dimana Sur? Coba jelaskan pada ku", tanya Arya Pethak yang kebingungan dengan omongan Klungsur.
"Jelas sekali kalau Ndoro Pethak orang yang kejam. Tega sekali membiarkan seorang perempuan kehujanan di tengah halaman", Jawab Klungsur sambil melengos pergi.
"Tunggu dulu Sur, aku semakin tak mengerti dengan omongan mu.
Aku membiarkan seorang perempuan kehujanan di tengah halaman? Kapan aku menyuruh seorang perempuan untuk melakukan itu?", Arya Pethak yang tidak merasa berbuat salah semakin bingung.
"Lha itu di tengah halaman, perempuan itu sedang bersujud", tunjuk Klungsur pada Anjani yang masih berlutut di tanah meski air hujan terus mengguyur dengan lebatnya. Arya Pethak segera menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Klungsur.
HAAAAAHHH...???!!!!!
Arya Pethak kaget bukan main melihat Anjani yang benar benar melakukan apa yang dia omongkan. Semula dia hanya mengira Anjani berkata demikian hanya untuk mencari alasan agar Arya Pethak menerima permohonan nya.
Segera Arya Pethak melesat cepat kearah halaman sambil membawa payung yang terbuat dari kain yang di lukis dengan indah.
Sesampainya di tengah halaman, Arya Pethak segera berjalan mendekati Anjani yang masih bersujud.
__ADS_1
"Gadis bodoh,
Apa yang kau lakukan ha? Cepat bangun. Kau boleh ikut dengan ku", ujar Arya Pethak segera.
Hening. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Anjani. Arya Pethak segera berjongkok di depan Anjani. Pemuda tampan itu bermaksud untuk menepuk pundak Anjani. Namun saat ia menyentuh Anjani, tubuh gadis itu terguling ke samping.
Arya Pethak terkejut bukan main. Buru buru dia melemparkan payung nya dan segera memeriksa nafas gadis itu. Masih ada!
Rupanya dia pingsan saat bersujud tadi. Arya Pethak segera membopong tubuh Anjani dan langsung melesat cepat kearah serambi kediaman utama Perguruan Pedang Perak.
"Mita....
Tolong perempuan ini. Cepat!", teriak Arya Pethak yang membuat Paramita dan Sekarwangi langsung menyongsong kedatangan Arya Pethak yang membopong tubuh Anjani ke dalam bilik kamar tidur nya.
Paramita langsung mengeluarkan beberapa ramuan obat-obatan nya sedangkan Sekarwangi langsung memberikan selimut kering untuk menghangatkan tubuh Anjani yang basah kuyup oleh air hujan.
Sementara Anjani di obati, Arya Pethak menunggu di luar.
Hujan lebat masih terus mengguyur tempat itu dengan deras. Petir beberapa kali terdengar menggelegar.
Beberapa saat kemudian, Anjani sadar dari pingsannya. Perempuan itu mengucek matanya yang kabur agar bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Saat pandangan jelas, terlihat Sekarwangi dan Paramita tengah duduk di kursi kayu yang ada di sudut ruangan kamar tidur itu.
"A-aku ada di dimana ini?", suara lirih Anjani langsung membuat Paramita bergegas ke arah nya.
"Kau sudah sadar? Syukurlah..
Kau ada di kamar Kakang Pethak. Tadi dia membopong mu dari halaman", ujar Paramita sambil tersenyum tipis.
"Kakang Pethak? Siapa dia?", Anjani memang tidak tahu nama Arya Pethak.
"Kakang Pethak. Ya Arya Pethak. Orang yang tadi sudah membunuh nenek peyot dan kakek tua bangka itu", sahut Sekarwangi yang biasa berbicara ketus seperti itu.
"Oh jadi namanya Arya Pethak. Pantas saja dia putih dan tampan..
Dimana dia sekarang? Aku ingin menemuinya", tanya Anjani yang langsung menurunkan kakinya dari tempat tidur. Baru hendak melangkah, tubuh Anjani limbung. Untung saja Paramita dengan sigap menangkap lengan nya hingga Anjani tidak jatuh ke lantai kamar tidur.
"Hei hati hati dong.. Kau baru saja sadar dari pingsan mu. Seharusnya kau beristirahat saja di tempat ini", ucap Paramita dengan cepat.
"Tidak apa-apa, nisanak..
Aku ingin bertemu dengan Ndoro Arya Pethak. Ingin berterima kasih atas kebaikan hati nya", Anjani ngotot untuk keluar dari kamar tidur. Terpaksa Paramita memapah Anjani berjalan keluar dari kamar tidur Arya Pethak. Di serambi depan, Arya Pethak tengah duduk di kursi kayu sambil menatap bulir air hujan yang turun dari langit. Mendengar ada suara langkah kaki mendekat, Arya Pethak segera menoleh.
"Kau sudah sadar?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya terhadap author. Alhamdulillah keadaan sudah membaik. Terimakasih atas doa sahabat semuanya 🙏🙏