Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Menggempur Kota Wengker 2


__ADS_3

Patih Macan Putih mendengus dingin mendengar tantangan dari pria bertubuh bogel di hadapannya. Segera dia mengusap sisa darah yang menempel di kumis tebal nya yang berwarna putih lalu kedua jari tangan kiri nya yakni jari telunjuk dan jari tengah dengan cepat ia angkat tinggi tinggi di atas kepala dan dengan cepat ia tekan di antara kedua alis mata. Rupanya dia memusatkan tenaga dalam nya pada jari jemari nya dan menyalurkan nya pada bilah keris pusaka di tangan kanannya. Sekejap kemudian, keris pusaka itu mengeluarkan semacam cahaya putih yang redup.


Setelah itu, Patih Macan Putih melesat ke arah Klungsur yang masih berdiri di depan Mpu Wikarto yang mulai menata nafasnya yang sesak. Dengan penuh nafsu membunuh, Patih Macan Putih langsung menusukkan keris pusaka nya ke arah perut Klungsur.


Zhhhaaaappppphh !


Kembali mata Patih Macan Putih terbelalak melihat keris pusaka nya yang sudah di lambari tenaga dalam tingkat tinggi tak mampu menembus kulit perut Klungsur. Jimat Lulang Kebo Landoh miliknya benar benar membuat Klungsur kebal terhadap senjata tajam maupun serangan ilmu kanuragan.


Klungsur menyeringai lebar dan dengan cepat mengayunkan Gada Galih Asem nya kearah pinggang Patih Macan Putih sembari berkata, "Sekarang giliran ku menyerang!"


Whhhuuuuggghhhh dhhaaaasssshhhh !!


Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrggggghhhh !!!


Patih Macan Putih meraung keras saat Gada Galih Asem telak menghantam pinggangnya. Tubuh tua nya terpelanting jauh ke samping kanan dan menyusruk tanah hampir 3 tombak jauhnya. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibir tua nya yang keriput. Dengan terpincang-pincang, Patih Macan Putih berusaha untuk berdiri sembari meringis menahan rasa sakit. Dia mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya untuk melakukan serangan terakhir.


Melihat lawan yang masih belum mau menyerah, Klungsur langsung meloncat ke arah Patih Macan Putih yang berusaha untuk mengumpulkan kekuatan. Dengan satu gerakan cepat, Klungsur langsung menghantam dada Patih Macan Putih dengan Gada Galih Asem nya sekuat tenaga.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaauuuuggggghhhhh !!


Tubuh tua warangka praja Wengker itu melayang ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Setelah mengejang hebat sebentar, Patih Macan Putih diam untuk selamanya. Dada nya remuk dan beberapa tulang iganya hancur terkena hantaman Gada Galih Asem. Dari mulut sang Patih, darah segar terus mengalir keluar meski si empunya sudah tak bernyawa.


Melihat Patih Macan Putih tewas, Klungsur segera mendekati Mpu Wikarto yang terluka parah. Lelaki tua itu nampak megap-megap mengatur nafasnya yang tersengal.


"Ndo Ndoro Klungsur, tolong sam sampaikan pada Pangeran Arya Pethak.. A-aku hanya bisa mengantarkan nya ke singgasana Wengker sampai di sini..


To tolong kau kawal beliau menjadi pemimpin yang benar dan me mengayomi wong cilik", usai berkata demikian Mpu Wikarto menghembuskan nafas terakhirnya dan terkulai. Dia gugur dalam upaya mengembalikan tahta Mandala Wengker kepada yang berhak.


Perlahan Klungsur mengusap mata Mpu Wikarto agar tertutup rapat.


"Jangan khawatir Mpu..


Aku yang akan menjadi pamong bagi Ndoro Pethak dan Gusti Putri Nay Kemuning. Aku yang akan mengingatkan nya jika dia melenceng dari tujuan nya. Kau beristirahat lah dengan tenang ", ucap Klungsur sembari merebahkan tubuh Mpu Wikarto, sang Lurah Desa Girimulyo ke tanah medan pertempuran.


Setelah itu, Klungsur langsung melesat cepat kearah para prajurit Wengker yang sedang mengepung Lembu Kangko, salah seorang pendukung Arya Pethak dalam merebut kembali hak atas tahta Mandala Wengker milik Nay Kemuning.


Peperangan besar itu terus berkobar dengan sengit. Para prajurit Pakuwon Sendang yang terlatih nampaknya juga mulai terlihat keteteran menghadapi balasan dari Para prajurit Wengker. Namun semangat juang mereka untuk menang benar benar tidak bisa di anggap enteng.


Raden Ronggo terus mengawasi jalannya pertempuran di depan gapura Kota Wengker. Dia tidak mau turun membantu perlawanan Raden Singomenggolo yang kini sedang di keroyok oleh puluhan orang prajurit Pakuwon Sendang pimpinan Arya Pethak.


Bersenjatakan tombak, Raden Singomenggolo terus membantai satu persatu lawan yang dihadapi nya.

__ADS_1


Jllleeeeeppppphhh...


Aaauuuuggggghhhhh !!


Seorang prajurit Pakuwon Sendang langsung tersungkur setelah tombak Raden Singomenggolo menembus perut nya. Tombak yang dinamakan Tombak Korowelang ini memang bukan pusaka sembarangan. Pusaka ini konon ciptaan seorang Empu sakti dari seekor ular Welang yang merupakan ular paling beracun di seputar daerah Ngrowo yang masuk wilayah Mandala Keling di selatan Kediri.


Raden Singomenggolo terus mengayunkan Tombak Korowelang, mengamuk bagai banteng ketaton dari atas kuda tunggangan nya. Satu persatu prajurit Pakuwon Sendang yang menghadangnya harus meregang nyawa di ujung bilah tajam Tombak Korowelang.


Arya Pethak yang melihat amukan Raden Singomenggolo langsung melompat tinggi ke udara menggunakan pelana kuda sebagai tumpuan. Sembari mencabut Pedang Setan di punggungnya, Arya Pethak melesat turun ke arah Raden Singomenggolo sembari mengayunkan pedangnya.


Whhhhuuuuuugggghhhh !!


Serangkum angin dingin berdesir kencang berbau busuk menerjang cepat kearah Raden Singomenggolo. Merasakan suatu bahaya tengah mengancam nyawa, Raden Singomenggolo langsung melompat turun dari kudanya. Dia selamat namun tidak dengan kuda hitam kesayangannya.


Chrraaaaaaaasssshhhh..


Hiiiieeeeeeeekkkhhhh !!


Kuda hitam tunggangan Raden Singomenggolo langsung meringkik keras dan roboh ke tanah setelah angin dingin tajam dari Pedang Setan memotong lehernya hingga nyaris putus. Kuda kesayangan Raden Singomenggolo itu tewas dengan luka menganga lebar di tubuhnya. Melihat itu, Raden Singomenggolo mendengus dingin sembari menatap ke arah Arya Pethak yang mendarat turun di hadapannya.


"Keparat! Kau sudah membunuh kuda kesayangan ku bangsat!


Akan ku buat kau menemani perjalanan nya ke neraka!", setelah berkata seperti itu, Raden Singomenggolo langsung melompat ke arah Arya Pethak sembari menusukkan Tombak Korowelang ke arah dada lawannya. Secepat mungkin, Arya Pethak menangkis tusukan Tombak Korowelang dengan Pedang Setan.


Whhhuuuggghhhh !!


Serangan cepat bertubi tubi di lancarkan oleh Raden Singomenggolo yang murka karena kematian kuda kesayangan nya pada Arya Pethak. Namun setiap Arya Pethak mencoba mendekat, Raden Singomenggolo selalu berupaya untuk menjauh karena pada dasarnya ia adalah petarung jarak jauh.


Arya Pethak harus berjumpalitan kesana kemari untuk menghindari tusukan Tombak Korowelang yang beracun. Setelah berhasil menghindar, Arya Pethak melompat tinggi ke udara dan dengan cepat menghantamkan tapak tangan kiri nya dua kali ke arah Raden Singomenggolo.


Shhiiiuuuuuuttttt..!! shuuuuttttthhh!


Dua larik sinar biru terang menerabas cepat kearah Raden Singomenggolo. Putra Adipati Warok Singo Ludro itu buru buru menghindari sinar Ajian Tapak Brajamusti dari Arya Pethak secepat mungkin.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaammmmmmmm !!


Dua ledakan dahsyat beruntun terdengar. Raden Singomenggolo menarik nafas lega karena berhasil lolos dari maut namun sekejap mata kemudian dia terbelalak lebar begitu melihat Arya Pethak sudah muncul di hadapan nya sembari menghantamkan tapak tangan kiri nya kearah dada. Karena tidak ada ruang untuk menghindar lagi, Raden Singomenggolo terpaksa menyambut kedatangan serangan Arya Pethak dengan tangan kiri nya yang berwarna hijau tua.


Blllaaammmmmmmm !!


Baik Raden Singomenggolo maupun Arya Pethak sama sama terdorong mundur. Namun Raden Singomenggolo terseret mundur hampir sejauh 4 tombak. Sedangkan Arya Pethak hanya mundur setengah tombak ke belakang. Andai saja dia tidak memanfaatkan gagang Tombak Korowelang sebagai pegangan, sudah tentu dia lebih jauh lagi terseret nya Ini menandakan tenaga dalam Arya Pethak jauh di atas milik Raden Singomenggolo. Bahkan putra Warok Singo Ludro itu mulai mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya, pertanda dia terluka dalam.


"Apa kau masih ingin melanjutkan pertarungan ini, Raden Singomenggolo? Kau sama sekali bukan lawan ku.

__ADS_1


Menyerahlah, letakkan senjata mu dan suruh semua prajurit mu untuk menyerah, maka akan ku ampuni kalian semua karena pada dasarnya kita semua masih saudara", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Raden Singomenggolo yang nampak meringis menahan sakit pada dada.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Sampai mati pun aku tak pernah sekalipun akan menyerah pada pemberontak seperti kalian, hai orang asing!


Tanah Wengker ini adalah warisan dari Eyang Resi Candramaya. Aku akan mempertahankan nya sampai titik darah penghabisan ", ucap Raden Singomenggolo sembari mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Aku akui kau seorang ksatria sejati yang membela tanah air mu tapi kau membela orang yang salah, Pangeran.


Ayahmu merebut tahta Mandala Wengker dari Dewi Windradi dengan cara kotor dan licik. Kau yang paham jalan kebenaran harusnya mengerti bahwa dari awal pemerintahan ayahmu Warok Singo Ludro di Mandala Wengker ini sudah salah", Arya Pethak mencoba untuk membuka mata hati Raden Singomenggolo.


"Benar atau salah, itu tidak penting lagi, hai orang asing! Biar saja Dewata yang memutuskan.


Saat ini aku hanya mempertahankan kedaulatan negara ku dari orang yang mencoba untuk merobohkan nya. Selama aku bernafas, maka aku akan terus menghadang siapa pun yang mencoba untuk menahklukan tempat ini ", ujar Raden Singomenggolo sembari menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Sayang sekali kita berbeda jalan, Pangeran.


Andai saja sebelum ini terjadi, tentu aku akan senang memiliki kawan seperti dirimu. Kalau begitu pendirian mu, maafkan aku jika aku terpaksa harus memaksakan kehendak", Arya Pethak langsung menyarungkan Pedang Setan ke punggung setelah selesai bicara. Mulut putra angkat Mpu Prawira itu komat-kamit merapal mantra Ajian Halimun ajaran Ki Buyut Mangun Tapa. Kabut putih tipis perlahan mulai menutupi seluruh tubuhnya dan sekejap mata kemudian tubuhnya telah menghilang dari pandangan mata.


Raden Singomenggolo langsung memutar Tombak Korowelang ke sekeliling tubuhnya, menciptakan sebuah perisai angin yang membentengi dirinya. Ini adalah Ilmu Benteng Badai Laut Selatan yang dia pelajari dari Resi Badra, seorang pertapa tua pengelana dari Gunung Mahameru.


Arya Pethak yang muncul tiba-tiba di sampingnya dengan cepat menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru terang seperti warna petir yang menyambar ke arah tubuh Raden Singomenggolo yang kini di bungkus dengan angin dingin.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr!


Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Brajamusti membentur Ilmu Benteng Badai Laut Selatan. Raden Singomenggolo tidak jatuh, hanya terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Melihat itu Arya Pethak pun meningkatkan kekuatan tenaga dalam nya menjadi separuh lebih. Memadukan antara Ajian Langkah Dewa Angin, Ajian Tapak Brajamusti dan Ajian Halimun, Arya Pethak terus bergerak cepat memutari Raden Singomenggolo sembari terus menerus menghantamkan tapak tangan kanan nya.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaammmmmmmm..


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !


Seiring berjalannya waktu, pertahanan Raden Singomenggolo mulai goyah sebab walaupun Ilmu Benteng Badai Laut Selatan melindungi tubuh nya, tenaga nya mulai terkuras karena di gempur Arya Pethak terus menerus. Suatu saat Arya Pethak melihat celah di antara pertahanan Raden Singomenggolo, dan itu dia manfaatkan sebaik mungkin.


Dengan cepat, Arya Pethak menghantam tulang rusuk kiri Raden Singomenggolo yang tidak terlindungi oleh Ilmu Benteng Badai Laut Selatan dengan Ajian Tapak Brajamusti nya.


Jedddhhaaaaarrrrrrr !!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Raden Singomenggolo meraung keras. Tombak Korowelang terlepas dari genggaman tangannya dan mencelat jauh kemudian menancap di tanah. Tubuh Raden Singomenggolo terpental hampir sejauh 4 tombak ke samping kanan dan menyusruk tanah dengan keras. Tulang rusuk kiri nya remuk, separuh tubuhnya gosong seperti terbakar api dan darah segar muncrat keluar dari dalam mulutnya. Kesatria Tanah Wengker itu akhirnya gugur demi mempertahankan tanah air nya.


Semangat tempur para prajurit Wengker langsung buyar begitu melihat Raden Singomenggolo tewas di tangan Arya Pethak. Di saat yang bersamaan, terdengar suara teriakan keras dari Arya Pethak.

__ADS_1


"Prajurit Pakuwon Sendang, maju...!!!"


__ADS_2