Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Siasat Raden Ronggo


__ADS_3

Pagi ini begitu indah. Sinar matahari pagi menerobos sela sela ranting pohon rindang yang ada di taman sari Istana Mandala Wengker. Burung burung berkicau riang seolah sedang bernyanyi tentang kehidupan yang indah. Bunga bunga terlihat bermekaran begitu sedap dipandang mata turut menghiasi keindahan taman sari Istana Mandala Wengker.


Di pagi yang indah itu, Arya Pethak baru saja bangun dari tidurnya setelah beristirahat semalam usai menata persiapan para prajurit Mandala Wengker yang akan di gunakan untuk melakukan pembersihan sisa-sisa anggota kelompok Raden Ronggo yang masih banyak bercokol di seluruh jajaran pejabat rendah dan menengah di wilayah Wengker.


Sang istri Sekarwangi alias Dewi Ragil Kuning langsung menggelayut manja di lengan kiri sang penguasa Mandala Wengker.


"Kangmas Adipati, tidak usah buru-buru. Ini masih pagi", ujar Sekarwangi sambil tersenyum meski matanya terpejam. Perempuan cantik yang merupakan putri Patih Pranaraja dari Kadiri ini memang mendapat giliran menemani sang Adipati Mandala Wengker malam hari tadi.


"Eh dasar putri manja.. Ayo bangun Sekarwangi, kita punya janji yang harus dilakukan", mendengar ucapan Arya Pethak, Sekarwangi yang ingin tahu apa yang di bicarakan oleh suaminya, buru buru membuka matanya.


"Memang Kangmas Adipati punya janji apa? Pada siapa?", tanya Sekarwangi penasaran. Arya Pethak tersenyum penuh arti mendekati pertanyaan istrinya itu.


"Janji untuk memakmurkan rakyat Mandala Wengker ini, Sekarwangi..


Kita tidak boleh menunda-nunda pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab kita istri ku", ujar Arya Pethak sembari beringsut turun dari atas ranjang tidur nya. Sang putri Patih Pranaraja segera menyusul sang suami setelah menutup tubuhnya dengan selimut.


Pagi itu, usai sarapan pagi bersama ketiga orang istri nya, Arya Pethak memimpin pasukan Mandala Wengker menuju ke arah Pakuwon Sendang yang merupakan salah satu tempat yang di duga sebagai tempat pelarian para pengikut setia Raden Ronggo. Ini di karenakan Akuwu Tapan, Jaran Rikmacemeng adalah saudara jauh ibu Raden Ronggo.


Kali ini hanya Anjani yang menemani perjalanan Arya Pethak berangkat ke Pakuwon Tapan. Nay Kemuning sedang tidak enak badan sedangkan Sekarwangi di tugaskan untuk mengatur seluk beluk istana Wengker selama Nay Kemuning sakit. Di iringi Senopati Lembu Kangko dan Demang Klungsur serta Tumenggung Subrata, mereka membawa 2000 orang prajurit Wengker. Sepanjang perjalanan, rakyat Wengker berjajar rapi di tepi jalan raya untuk memberikan penghormatan kepada sang Adipati baru Wengker.


Dua pasang mata terus mengintai pergerakan prajurit Wengker. Setelah merasa cukup, keduanya segera bergegas meninggalkan jalan raya. Di depan sebuah kedai makan, dua ekor kuda mereka terikat rapi. Segera keduanya melompat ke atas punggung kuda mereka, dan menggebrak kuda tunggangan mereka melesat cepat kearah hutan yang menjadi jalan pintas menuju ke arah Pakuwon Tapan.


"Sepertinya mereka menuju ke arah Pakuwon Tapan, Kakang Walang Jinada. Kita harus segera melaporkan ini pada Ki Cangak Biru dan Bango Rowo sesegera mungkin", ucap si lelaki bertubuh kurus sembari terus memacu kudanya.


"Benar, Paksi Kenanga. Kalau sampai orang-orang Istana Wengker itu menyerbu ke istana Pakuwon Tapan tanpa kita ada persiapan, habislah sudah rencana Raden Ronggo untuk merebut kembali tahta Mandala Wengker", ucap si lelaki bertubuh pendek sedikit gemuk sembari ikut memacu kudanya secepat mungkin.


Kedua orang itu segera memacu kuda mereka sekencangnya agar cepat sampai di tempat yang dituju.


Di dekat sebuah perkampungan kecil yang tersembunyi diantara rimbun pepohonan yang tumbuh subur di barat Pakuwon Tapan, ratusan orang nampak sedang berlatih menggunakan senjata. Ada yang belajar memanah, ada yang belajar menebas leher lawan dengan berkuda, ada pula yang sedang berlatih pertarungan jarak dekat. Mereka semua adalah anak buah Raden Ronggo yang sedang mempersiapkan diri untuk menyerbu Istana Wengker.


Beberapa orang yang mengenakan baju hitam dengan sebuah kalung dengan liontin bergambar kelabang nampak mengawasi pelaksanaan latihan itu.


Semenjak Istana Wengker jatuh ke tangan Arya Pethak dan para pengikutnya, Raden Ronggo segera menghubungi pihak Kelompok Kelabang Ireng yang selama ini menjadi pendukung utamanya. Bahkan pimpinan tertinggi Kelompok Kelabang Ireng, Kumaradewa memberikan tanda khusus untuk Raden Ronggo agar semua anggota Kelompok Kelabang Ireng membantunya dalam menghadapi situasi apapun.

__ADS_1


Untuk pelatihan ini, Kumaradewa mengirimkan Mahesa Linggapati sang tangan kiri dari pimpinan kelompok pengacau keamanan ini bersama beberapa orang pendekar pilihan.


Saat itu, Raden Ronggo bersama Mahesa Linggapati sedang duduk bersantai menatap latihan para anggota pasukannya sembari menenggak tuak bersama.


"Tak lama lagi, Wengker akan ku rebut kembali Paman Linggapati", ujar Raden Ronggo sambil menenggak tuak di dalam cangkir bumbung bambu nya.


"Raden Ronggo tenang saja.. Anggota Kelompok Kelabang Ireng akan ku kerahkan untuk membantu tujuan Raden. Asal Raden Ronggo tidak lupa untuk memberikan sepertiga upeti tahunan Wengker kepada kami, perkara ini akan selesai dalam waktu singkat", ujar Mahesa Linggapati sembari memelintir kumisnya yang tebal. Pria bertubuh gempal dengan baju berwarna hitam berpelisir merah itu menatap wajah Raden Ronggo.


"Paman Linggapati tidak perlu khawatir. Raden Ronggo bukan orang yang gampang ingkar janji, Paman..


Asal aku bisa memenggal kepala Arya Pethak untuk membalaskan dendam ku, separuh dari tanah Mandala Wengker ini pun rela aku serahkan kepada Kelompok Kelabang Ireng", ucap Raden Ronggo dengan cepat.


"Tidak perlu seperti itu, Raden Ronggo. Asal kau bisa naik tahta, aku siap membantu semua tujuan mu. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi anak tiri ku? Hehehehe ", Mahesa Linggapati terkekeh sembari melirik ke arah Dewi Setyorini ibu Raden Ronggo yang nampak sedang asyik menata bunga-bunga hutan di dalam bejana tanah liat yang cukup jauh dari serambi tempat mereka berbicara. Pesona kecantikan bekas selir Adipati Warok Singo Ludro itu memang mampu membius mata Mahesa Linggapati sejak awal kedatangannya di perkampungan kecil itu.


"Aku tidak keberatan jika Paman Linggapati ingin menikahi ibu ku tapi sebelum itu Paman harus menuntaskan janji Paman untuk membantu ku naik tahta Wengker", ucap Raden Ronggo sambil tersenyum tipis. Senyuman yang mengandung banyak rahasia di balik nya.


'Setelah Arya Pethak aku bunuh, kau yang selanjutnya Linggapati!'


Saat mereka sedang asyik berbincang, dari arah kejauhan dua orang berkuda nampak bergegas menuju ke arah tempat mereka. Cangak Biru dan Bango Rowo, abdi setia Raden Ronggo segera bergegas menghentikan langkah mereka.


Kenapa kalian kemari? Bukankah kalian aku tugaskan untuk memata-matai luar kota Wengker?", tanya Cangak Biru sembari menatap ke arah Walang Jinada dan Paksi Kenanga yang baru saja melompat turun dari kuda mereka.


"Ada berita penting, Ki Cangak Biru..


Pasukan Wengker dipimpin langsung oleh Arya Pethak bergerak menuju ke Pakuwon Tapan. Itu artinya mereka akan melewati jalan di depan sana", jawab Walang Jinada segera.


Terkejut Cangak Biru dan Bango Rowo mendengar laporan Walang Jinada dan Paksi Kenanga. Mereka berempat pun segera bergegas menuju ke arah serambi kediaman Raden Ronggo dimana Raden Ronggo dan Mahesa Linggapati masih asyik berbincang.


Kedatangan mereka berempat langsung membuat percakapan antara Raden Ronggo dan Mahesa Linggapati terhenti. Raden Ronggo pun segera bertanya kepada dua abdi setia nya itu .


"Bango Rowo, Cangak Biru..


Berani sekali kalian mengganggu acara minum ku. Apa kalian sudah bosan hidup ha?", hardik keras Raden Ronggo sembari melotot ke arah dua orang abdi setia nya itu. Dia benar benar tidak suka kesenangan nya di ganggu.

__ADS_1


"Mohon ampun Raden..


Tapi ada berita penting yang harus Raden Ronggo segera ketahui. Pasukan Arya Pethak sedang bergerak menuju kemari", ucap Bango Rowo segera. Mendengar jawaban itu, Raden Ronggo segera berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kau bilang, Bango Rowo? Arya Pethak dan pasukannya sedang menuju kemari?", Raden Ronggo masih sedikit tak percaya mendengar jawaban Bango Rowo.


"Benar Raden..


Walang Jinada dan Paksi Kenanga baru saja melihat mereka membawa 2000 prajurit meninggalkan Kota Wengker. Tujuan mereka adalah Pakuwon Tapan, Raden ", sahut Cangak Biru sembari menghormat pada Raden Ronggo.


"Pakuwon Tapan adalah satu-satunya tempat yang mau menerima kehadiran ku setelah Arya Pethak menguasai istana Wengker. Paman Jaran Rikmacemeng adalah penyokong utama kita dalam mempersiapkan diri untuk merebut kembali Istana Wengker. Kalau sampai Arya Pethak berhasil memaksa Paman Jaran Rikmacemeng tunduk pada nya, maka habislah sudah rencana besar kita.


Tidak..


Ini tidak boleh kita biarkan begitu saja. Paman Linggapati, apakah pasukan kita sudah siap untuk berperang saat ini?", Raden Ronggo mengalihkan pandangannya pada Mahesa Linggapati.


"Jangan khawatir soal itu, Raden Ronggo.


Anak buah ku adalah pendekar pendekar berilmu tinggi. Satu orang dari mereka sama dengan kekuatan 100 orang prajurit biasa. Sisanya, para pengikut mu sudah berlatih cukup lama untuk berperang, jadi mereka pasti sudah siap jika harus bertarung melawan para prajurit Arya Pethak", ucap Mahesa Linggapati dengan penuh keyakinan. Mendengar jawaban itu, Raden Ronggo langsung manggut-manggut senang.


"Kalau begitu, kita sergap para prajurit Arya Pethak di depan hutan ini. Kita hancurkan mereka semua dan penggal kepala Arya Pethak!", ujar Raden Ronggo penuh semangat. Bango Rowo dan Cangak Biru mengangguk mengerti.


Segera di persiapkan penyergapan untuk para prajurit Wengker oleh Raden Ronggo dan para pengikutnya. Mereka membagi pasukan menjadi dua bagian. Satu pasukan yang jumlahnya kecil di bawah pimpinan Mahesa Linggapati akan menghadang laju pergerakan prajurit Wengker, sedangkan pasukan besar di bawah pimpinan Raden Ronggo akan mengepung mereka. Pasukan Raden Ronggo bersembunyi di balik pepohonan hutan kecil di kanan kiri jalan raya menuju Pakuwon Tapan. Sebuah peluit di pegang oleh Raden Ronggo sebagai tanda untuk penyerangan. Mereka benar-benar terlihat seperti pasukan yang terlatih.


Rombongan pasukan Arya Pethak terus bergerak menuju ke arah Pakuwon Tapan. Begitu sampai di jalan raya yang membelah hutan di barat Pakuwon Tapan, sebuah kayu besar nampak melintang menghalangi jalan. Melihat itu, Arya Pethak segera mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bagi para prajurit untuk menghentikan gerakan mereka.


"Ada yang mencoba untuk menghentikan gerakan kita, Kangmas Adipati", ujar Anjani sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"Kau benar, Nimas Anjani..


Dan tujuan mereka pastilah tidak baik. Tumenggung Subrata, Senopati Lembu Kangko, tingkatkan kewaspadaan kalian. Ada yang mau menghalangi jalan kita menuju ke Pakuwon Tapan", ucap Arya Pethak segera. Kedua perwira tinggi prajurit Wengker itu segera menghormat pada Arya Pethak dan segera memberikan aba-aba peringatan kepada para prajurit Wengker.


Tiba-tiba saja terdengar suara tawa keras yang cukup membuat sakit gendang telinga orang yang mendengar.

__ADS_1


"Hahahaha..


Para cecunguk Arya Pethak, mau kemana kalian?!!!"


__ADS_2