
Anjani langsung menoleh ke arah suara di belakang mereka, begitu pula Nay Kemuning dan yang lainnya.
Arya Pethak tersenyum simpul melihat tingkah mereka semua.
Anjani langsung melompat ke arah Arya Pethak dan memeluk tubuh pemuda tampan itu. Nay Kemuning pun tak mau kalah dan bergegas memeluk tubuh Arya Pethak dengan erat. Tangis bahagia langsung terdengar dari mulut dua gadis cantik itu.
"Kalian ini kenapa?
Apa yang kalian tangisi?", Arya Pethak sedikit heran dengan sikap dua gadis cantik itu. Sementara Klungsur, Nirmala dan Kebo Anabrang serta Raden Wijaya yang kedinginan tersenyum tipis melihat kedatangan Arya Pethak.
"Kami mengkhawatirkan mu Kakang. Kami kira Kakang Pethak ikut tewas dengan nenek tua itu", ujar Anjani sambil sesenggukan.
"Iya Akang Pethak..
Kalau akang tidak ada lagi, Eneng henteu mau hidup lagi na", sambung Nay Kemuning sembari terus memeluk tubuh pemuda tampan itu.
"Hei sudahlah, yang penting aku selamat bukan? Ayo kita mencari tempat untuk berteduh. Kita tidak boleh berlama-lama hujan-hujanan seperti ini. Kita bukan bocah lagi.
Nanti aku ceritakan kepada kalian bagaimana aku bisa lolos dari maut", ucap Arya Pethak sembari mengelus kepala dua gadis cantik itu.
Mendengar penuturan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning mengangguk mengerti seraya tersenyum manis. Mereka segera menaiki kuda tunggangan mereka dan memacunya ke arah selatan. Selepas hutan kecil itu, mereka mendapati bahwa mereka telah sampai di tapal batas Kotaraja Singhasari.
Di sebuah rumah kosong yang terletak tepat di sebelah tugu batas kota, mereka segera berteduh karena hujan semakin deras mengguyur.
Klungsur segera mengayunkan Gada Galih Asem nya pada bekas dipan kayu yang ada di teras rumah.
Brrruuuaaaaakkkkh!!
Dipan kayu itu hancur berantakan dan dengan cepat mereka mengumpulkan kayu kering itu untuk membuat perapian di teras rumah kosong.
Kebo Anabrang segera membuat api dari sepotong batu api yang menjadi bawaan wajib seorang prajurit dalam bertugas. Api unggun segera tercipta dan mereka segera berjajar untuk menghangatkan badan karena pakaian mereka basah kuyup.
Raden Wijaya yang menggigil kedinginan sejak tadi sampai bibirnya pucat, berangsur pulih kembali setelah berdiang beberapa saat lamanya.
"Ndoro Pethak,
Sumpah aku masih penasaran. Bagaimana caranya Ndoro Pethak bisa keluar dari rumah terkutuk itu?", tanya Klungsur sambil menatap wajah tampan Arya Pethak. Semua orang yang juga penasaran, menoleh ke arah Arya Pethak menunggu jawaban sang Pendekar Pedang Setan.
Arya Pethak tersenyum simpul sebelum berbicara.
"Tadi aku beradu ilmu dengan nenek tua itu..
Saat bangunan tua itu mulai berderak hebat hendak roboh. Aku melepaskan Ajian Tapak Brajamusti ke tubuh nya. Dia terpelanting dan menabrak tiang penyangga rumah. Sempat aku melihat dia muntah darah tapi tidak tahu dia masih hidup atau tidak.
Lantas aku menggunakan Ajian Halimun untuk keluar dari rumah itu sesaat sebelum amblas ke dalam tanah".
"Jadi nenek tua itu belum mati Kakang?", tanya Anjani segera.
"Aku tidak bisa memastikan dia sudah mati atau belum Anjani, tapi yang pasti dia terluka parah saat aku keluar dari tempat itu", Arya Pethak mengelus dagunya.
Hemmmmmmm..
"Kalau sampai nenek sihir itu belum mampus, bisa jadi dia akan membalas dendam pada kita Ndoro", Klungsur menimpali.
"Semoga saja tidak, Sur..
Aku berharap agar pertarungan dengan ku tadi membuat nya kapok jika dia masih hidup", ucap Arya Pethak sambil tersenyum.
Setelah menunggu beberapa saat kemudian, akhirnya hujan mereda. Menyisakan genangan air keruh kecoklatan di beberapa jalan yang rendah.
"Paman dan bibi semua,
Ayo kita ke rumah ku. Kanjeng Romo pasti sedang menunggu kedatangan ku", Raden Wijaya menarik tangan Arya Pethak.
"Benar sekali ucapan Gusti Pangeran, Pendekar Arya Pethak.
Sebaiknya kita segera pergi ke Puri Agung Gusti Dyah Lembu Tal. Pasti Gusti Lembu Tal sedang cemas menunggu berita terkait Raden Sanggramawijaya. Semakin cepat kita kesana, akan semakin baik", sambung Kebo Anabrang dengan sopan.
Mendengar penuturan mereka, Arya Pethak segera menganguk. Diikuti oleh Klungsur, Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala, Arya Pethak segera melompat ke atas kuda nya setelah Raden Wijaya dan Kebo Anabrang lebih dulu naik ke atas kuda mereka.
Sedikit tergesa, mereka segera memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah selatan. Melewati jalan raya Kotaraja Singhasari, rombongan itu terus bergerak menuju ke arah Puri Agung kediaman Dyah Pitaloka.
4 orang prajurit penjaga gerbang Puri Agung langsung membungkuk hormat kepada Raden Wijaya dan Kebo Anabrang begitu mereka sampai. Arya Pethak dan kawan-kawan mengikuti mereka.
"Gusti Pangeran,
Syukurlah Gusti Pangeran sudah pulang dengan selamat", ujar seorang prajurit penjaga sembari menghormat saat Raden Wijaya di turunkan oleh Kebo Anabrang dari atas kuda. Prajurit itu segera berlari ke dalam Puri Agung. Tak berapa lama kemudian Dyah Lembu Tal berlari ke arah halaman Puri Agung bersama sang prajurit.
__ADS_1
"Putraku Ngger Cah Bagus.
Syukurlah kau selamat nak. Dewa Siwa sungguh melindungi mu", ujar Dyah Lembu Tal sembari memeluk tubuh Raden Wijaya. Air mata kebahagiaan menetes dari sudut mata lelaki bertubuh tegap itu.
"Kanjeng Romo harus memberikan hadiah besar untuk Paman Kebo Anabrang dan Paman Arya Pethak.
Mereka semua adalah orang orang yang menolong ku, Romo", Raden Wijaya menatap wajah ayahnya.
"Tentu.. Tentu saja Sanggramawijaya..
Oh Jagat Dewa Batara sang penguasa Swargaloka, terimakasih atas perlindungan mu pada putra ku", puji syukur terucap dari bibir Dyah Lembu Tal. Semua orang segera duduk bersila di lantai Puri Agung sembari melihat pemandangan yang mengharukan itu.
"Kebo Anabrang, kau sungguh pria setia..
Tak ku sangka kau yang hanya perwira rendah malah mampu menolong nyawa putra ku", imbuh Dyah Lembu Tal sembari tersenyum tipis.
"Nyawa hamba akan hamba pertaruhkan untuk Gusti Pangeran Sanggramawijaya, Gusti Rakryan Kanuruhan..
Mulai hari ini dan seterusnya hamba akan selalu mengikuti langkah Raden Wijaya hingga ajal menjemput", Kebo Anabrang menyembah pada Dyah Lembu Tal.
"Aku percaya kau akan menepati ucapan mu, Kebo Anabrang..
Kalau mereka ini siapa?", Dyah Lembu Tal menoleh ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
"Mereka ini adalah orang orang yang membantu hamba mengatasi para penculik pimpinan Sawung Alas, Gusti Rakryan..
Tanpa bantuan Pendekar Arya Pethak dan kawan-kawan nya, hamba sudah pasti tidak mampu membawa Raden Wijaya pulang dengan selamat ", tutur Kebo Anabrang segera.
"Aku berterimakasih kepada mu Kisanak Pendekar..
Dyah Lembu Tal bukan orang yang tidak tahu membalas budi baik. Kalau kalian punya keinginan, sampaikan kepada ku. Jika aku bisa memberikan nya, aku pasti tidak akan keberatan", ujar Dyah Lembu Tal sembari tersenyum.
"Mohon ampun Gusti,
Kami hanya orang biasa. Kami adalah rakyat Kerajaan Singhasari. Sudah barang tentu membantu kerabat dekat istana menjadi kewajiban bagi kami.
Kami tidak mengharapkan imbalan atas apa yang kami lakukan untuk Gusti Pangeran Sanggramawijaya", ujar Arya Pethak sambil menghormat pada Dyah Lembu Tal.
"Sungguh pendekar yang mulia..
Apa kau tidak tertarik untuk bergabung dengan keprajuritan Singhasari, Kisanak Pendekar?
"Mohon ampun beribu ampun, Gusti Rakryan Kanuruhan.
Hamba ini bukan orang yang suka dengan pangkat tinggi maupun kekayaan berlimpah. Cukuplah bagi hamba untuk mengabdi pada Kerajaan Singhasari dengan menegakkan keadilan dan kebenaran lewat jalan pedang.
Mohon Gusti Rakryan Kanuruhan mengerti", Arya Pethak menyembah pada Dyah Lembu Tal segera.
"Aku bangga pada mu, Kisanak Pendekar..
Tak semua orang bisa menolak jabatan tinggi maupun kekayaan berlimpah. Hanya yang memiliki hati yang bersih dan murni yang akan mengerti jalan pikiran pendekar. Sebagai ucapan terimakasih ku, kiranya kalian harus bermalam di Puri Agung untuk beristirahat. Aku tidak mau ada penolakan.
Kebo Anabrang,
Tolong antar mereka ke balai peristirahatan tamu ku", Dyah Lembu Tal mengangkat tangan kanannya. Kebo Anabrang segera menghormat diikuti oleh Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Mereka segera bergegas keluar dari serambi Puri Agung menuju ke arah balai peristirahatan tamu, meninggalkan Dyah Lembu Tal dan Raden Wijaya berdua.
Menjelang senja, Arya Pethak dan kawan-kawan nya berbincang hangat di serambi balai peristirahatan tamu. Hanya Nirmala yang masih mandi yang belum berkumpul bersama mereka. Ditemani aneka jajanan dan kue basah serta wedang jahe, mereka bercengkrama dengan penuh kegembiraan.
Klungsur yang mulutnya penuh dengan kue nagasari, langsung tersedak mendengar gurauan Arya Pethak tentang menikahkan nya dengan Nirmala begitu sampai di Kadiri.
Segera Klungsur menyambar secangkir wedang jahe untuk meredakan rasa sakit di tenggorokan nya akibat tersedak. Begitu habis secangkir, Klungsur langsung menarik nafas lega.
"Kalau makan itu pelan pelan Sur, gak akan ada yang merebut kog", Arya Pethak tersenyum simpul.
"Ndoro Pethak kalau bercanda jangan begitu dong.
Hampir saja aku mati tersedak mendengar omongan Ndoro Pethak. Benar benar keterlaluan", omel Klungsur sambil mengusap sisa air yang keluar dari hidungnya.
"Yang bercanda siapa Sur?
Ini serius loh. Kamu dan Nirmala itu pasangan yang serasi. Kalian berdua itu saling melengkapi", ucap Arya Pethak sambil tersenyum penuh arti.
"Aku dengan Nirmala pasangan serasi?
Kalau dia jadi istri ku, pasti setiap hari dia mengancam ku dengan celurit nya. Gak,aku tidak mau. Aku masih mau melanjutkan hidup dengan tenang tanpa harus jantungan setiap saat", ujar Klungsur sok jual mahal.
"Loh justru itu akan membuat hidup mu berwarna Sur..
__ADS_1
Lagipula Nirmala juga cantik. Pasti banyak sekali lelaki yang tertarik untuk memperistri nya. Kau itu sudah cukup umur, apalagi yang kau tunggu?", sahut Anjani dengan cepat.
"Ingat atuh Akang Klungsur,
Ada peribahasa yang berlaku di Tatar Pasundan. Saha enggal anjeunna tiasa", timpal Nay Kemuning sambil tersenyum.
"Arti nya apa itu Nay?", Klungsur menoleh ke arah Nay Kemuning yang sedari tadi hanya diam saja.
"Siapa cepat dia dapat, Akang Klungsur..
Sok atuh, jangan di pikir panjang. Mumpung Akang Pethak teh mau ngejodohkeun dengan Eneng Nirmala", jawab Nay Kemuning segera.
"Tapi...", belum sempat Klungsur menyelesaikan omongannya, sebilah celurit menempel di lehernya.
"Jadi kau menolak dijodohkan dengan ku?"
Mendengar suara itu, Klungsur perlahan menoleh ke arah belakang. Nirmala mendelik tajam ke arah Klungsur dengan wajah garang seperti macan beranak. Klungsur langsung pucat seketika.
"Si-siapa yang bilang begitu? A-aku tidak menolak kog..
Benar kan Anjani, Nay?", Klungsur melirik ke arah Anjani dan Nay Kemuning yang membekap mulutnya agar tidak tertawa. Mereka berdua segera manggut-manggut.
"Jadi kapan kau mau menikahi ku?", kembali Nirmala memamerkan wajah seram nya.
"Secepatnya.. iya secepatnya...
Kita pulang ke Kadiri dulu ya, ketemu dengan ayah ku", ujar Klungsur sambil menggeser bilah celurit yang mengalung di lehernya.
Hemmmmmmm..
"Kalau sampai ba'na ingkar janji, tak cincang jadi sate", ujar Nirmala sambil memindahkan celurit nya dari leher Klungsur. Perempuan cantik berkulit hitam manis itu tersenyum tipis kemudian berlalu menuju ke kamar nya.
"Huffffffffttt...
Hampir saja aku di gorok macan betina itu", Klungsur menghela nafas lega.
"Aku masih bisa mendengar nya", teriak Nirmala yang baru membuka pintu kamar.
"Iya iya maaf. Bukan macan betina tapi merak betina", jawab Klungsur dengan cepat. Nirmala tersenyum tipis lalu masuk ke dalam kamar.
Huahahahahahaha....
Arya Pethak, Nay Kemuning dan Anjani langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Klungsur. Wajah Klungsur merengut kesal menatap ulah tiga kawan karibnya yang sudah seperti keluarga nya sendiri.
"Puas Ndoro Pethak sekarang puas??
Haishh seperti nya aku harus memakai sabuk Jimat Lulang Kebo Landoh itu setiap hari jika ingin berumur panjang", Klungsur mengeluhkan masa depan nya.
Senja segera berganti malam. Suasana ibukota Kerajaan Singhasari masih tetap ramai meski tak seramai siang hari.
Malam itu, Kebo Anabrang datang ke balai peristirahatan tamu Puri Agung Dyah Lembu Tal bersama dengan seorang perwira menengah yang sedikit lebih tua dari dia. Pria bertubuh gempal itu berkumis tebal dengan wajah penuh kewibawaan. Dia adalah Lembu Sora, salah satu abdi setia Dyah Lembu Tal yang berpangkat Juru.
"Selamat malam, Gusti Kebo Anabrang..
Ada gerangan apa yang membuat Gusti datang mengunjungi ku?", tanya Arya Pethak dengan sopan. Di temani oleh Klungsur, Arya Pethak yang masih belum mengantuk mengobrol di serambi balai tamu saat mereka tiba.
"Perkenalkan Saudara Pethak..
Ini adalah Lembu Sora, salah satu orang kepercayaan Gusti Dyah Lembu Tal. Dia adalah seorang perwira menengah di Kotaraja Singhasari ini", jawab Kebo Anabrang sambil tersenyum.
"Salam kenal, Gusti Lembu Sora.
Saya Arya Pethak dan ini kawan saya Klungsur", ujar Arya Pethak dengan sopan.
"Aku sudah mendengar cerita Kebo Anabrang tentang kehebatan mu, Pendekar Arya..
Sungguh pendekar muda yang patut mendapat pujian dari ku, yang gagal menyelamatkan Gusti Pangeran Sanggramawijaya", Lembu Sora menatap wajah Arya Pethak.
"Saya hanya beruntung, Gusti..
Tanpa bantuan teman-teman saya dan kegigihan Gusti Kebo Anabrang, belum tentu bisa membantu mengalahkan penjahat penjahat itu", Arya Pethak merendah.
Mendengar ucapan itu, Lembu Sora tersenyum simpul. Dia suka dengan sikap rendah hati Arya Pethak meski telah berjasa besar menyelamatkan calon raja Singhasari selanjutnya.
Mereka berempat langsung akrab satu sama lain. Obrolan mereka mengalir tentang banyak hal.
Tiba-tiba angin dingin nan lembut berhembus perlahan. Anehnya tiba-tiba rasa kantuk menyerang dengan cepat. Klungsur menguap lebar beberapa kali meski malam belum terlalu larut.
__ADS_1
Arya Pethak langsung mengerahkan tenaga dalam nya untuk mengusir rasa kantuk yang menyerangnya lalu berkata kepada Lembu Sora dan Kebo Anabrang.
"Ada yang menebar sirep"