
"Orang yang akan mencabut nyawa mu, pembunuh!"
Usai berkata demikian Arya Pethak segera melepaskan topeng separuh wajah nya di hadapan Akuwu Surenggono. Pun Nay Kemuning juga ikut melepaskan topeng yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
Akuwu Surenggono masih kesulitan untuk mengenali Arya Pethak, namun saat Nay Kemuning membuka topengnya, mata Akuwu Surenggono yang tinggal sebelah kanan itu melotot lebar. Dia bagai melihat hantu Dewi Windradi berdiri di hadapannya.
"Kau kau...
Bukankah kau sudah mati ha? Ba-bagaimana mungkin kau hidup lagi?", gagap suara Akuwu Surenggono berbicara. Dia benar-benar kaget melihat kemunculan Nay Kemuning yang memang mirip sekali dengan Dewi Windradi, ibunya.
"Aku teh kemari untuk menuntut balas kematian ibu ku, Surenggono..
Saatnya kau membayar hutang nyawa yang ambil dari ku", ujar Nay Kemuning yang segera membabatkan pedang nya ke arah leher Akuwu Surenggono.
Shreeeeettttthhh...!
Dengan gesit, Akuwu Surenggono merunduk menghindari sabetan pedang Nay Kemuning. Namun di saat yang bersamaan, Arya Pethak pun melayangkan tendangan keras kearah perut Akuwu Surenggono segera.
Dhiiieeeessshh...
Aaauuuuggggghhhhh !!
Penguasa Pakuwon Sendang ini langsung jatuh terduduk dan terseret hampir dua tombak jauhnya. Darah segar merembes keluar dari sudut bibir lelaki bermata satu itu. Namun dia justru malah bangkit dari tempat jatuhnya dan tertawa kecil.
"Hehehehe jadi kau gadis kecil yang di selamatkan oleh lelaki tua itu? Sungguh tidak aku duga bahwa kau akan tumbuh secantik ini..
Seharusnya aku juga langsung membunuh mu kala itu agar tidak menjadi duri dalam daging di kemudian hari.
Aku hanya di tugaskan untuk membunuh ibu mu, bukan ayahmu dan diri mu. Tapi karena ayahmu terus mengganggu, terpaksa dia aku bunuh juga hehehe", Akuwu Surenggono menyeringai lebar sembari mengusap sisa darah yang keluar dari mulutnya.
"Bajingan tua..
Katakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh ibu ku? Akan ku berikan kematian cepat tanpa menyiksa mu lebih dulu", Nay Kemuning mengacungkan pedangnya ke arah Akuwu Surenggono.
"Hahahaha...
Jangan jumawa dulu, gadis kecil. Kau belum tentu bisa memaksa ku untuk bicara", senyum licik Akuwu Surenggono tercipta di wajah nya yang codet.
"Pongah sekali omongan mu, hei picak keparat!
Memang kau pikir aku berani untuk menuntut balas kematian ibu ku tanpa memiliki persiapan. Kau terlalu naif orang tua", ujar Nay Kemuning yang segera mengibaskan pedangnya yang memang memiliki bentuk lain dari biasanya. Begitu pedang ini dialiri tenaga dalam, seketika pedang ini memanjang dan lentur seperti cambuk berbilah tajam. Inilah keistimewaan tersendiri dari Pedang Cambuk Naga yang merupakan salah satu senjata andalan yang dimiliki oleh Pimpinan Perguruan Gunung Ciremai , Ki Buyut Mangun Tapa yang di wariskan kepada Nay Kemuning.
Segera Nay Kemuning melesat cepat kearah Akuwu Surenggono sembari mengayunkan Pedang Cambuk Naga nya. Pedang dengan cepat berkelebat cepat kearah penguasa Pakuwon Sendang ini, seperti ekor naga yang tajam. Ada Arya Pethak yang bersiaga menjaga keamanan di sebelahnya, membuat Nay Kemuning percaya diri menyerang Akuwu Surenggono untuk balas dendam.
Shreeeeettttthhh...!!
Akuwu Surenggono langsung melenting tinggi ke udara menghindari sabetan Pedang Cambuk Naga. Dengan sedikit gerakan pada pergelangan tangan, Nay Kemuning menggoyangkan gagang pedangnya. Ujung Pedang Cambuk Naga seperti hidup dan memburu ke arah dimana Akuwu Surenggono mendarat.
Whhhuuutthh!!
Perubahan pergerakan ini membuat Akuwu Surenggono kelabakan juga. Dengan cepat ia berguling ke tanah menghindari sambaran ujung Pedang Cambuk Naga yang meliuk-liuk seperti ekor naga. Pakaian kebesaran Akuwu Surenggono langsung kotor penuh tanah dan rumput.
Kemanapun Akuwu Surenggono bergerak, ujung Pedang Cambuk Naga mengejar nya mengikuti gerakan tangan Nay Kemuning.
Usai berhasil menghindari ujung Pedang Cambuk Naga, sembari mendarat di tanah, Akuwu Surenggono mencabut keris pusaka berbilah hitam dari pinggang nya lalu segera menangkis sabetan ujung Pedang Cambuk Naga.
Thhhrriinnngggggg !!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Ujung Pedang Cambuk Naga mencelat, namun Nay Kemuning segera memutar badannya dan kembali menyerang Akuwu Surenggono dengan serangan cepat dan beruntun.
__ADS_1
Thhhrriinnngggggg thrrriiinnnggggg...
Thrrraaannnnggggg !!
Sedapat mungkin Akuwu Surenggono menangkis sabetan demi sabetan ujung Pedang Cambuk Naga yang terus memburunya dengan kecepatan tinggi. Nay Kemuning yang melihat sebuah pedang tergeletak di atas tanah, langsung memikirkan sebuah cara untuk mengakhiri perlawanan Akuwu Surenggono. Dengan sekuat tenaga dia menendang pangkal pedang di tanah hingga pedang itu mencelat dan berhasil melukai paha Akuwu Surenggono.
Shrraaaakkkkhhhh..
Auuuggghhhhh !!
Rasa perih di rasakan oleh Akuwu Surenggono saat pedang yang di tendang Nay Kemuning merobek celana pendek nya bersamaan dengan darah segar merembes keluar. Konsentrasi Akuwu Surenggono pun buyar seketika. Walhasil ujung Pedang Cambuk Naga merobek bahu kanan nya dengan cepat.
Shreeeeettttthhh..
Aaaarrrgggggghhhhh !!
Akuwu Surenggono terhuyung huyung mundur. Karena tak ingin membunuh Surenggono secepat itu, Nay Kemuning memutar gerakan tangan kanannya hingga bagian tengah Pedang Cambuk Naga yang terbuat dari rantai besi kecil langsung melilit leher Akuwu Surenggono yang sudah tak siap dengan serangan cepat.
Nay Kemuning sembari berteriak keras menyentak gagang Pedang Cambuk Naga hingga Akuwu Surenggono terjatuh ke tanah dan Keris Kyai Bluluk Ireng terlepas dari genggaman tangannya.
Dengan cepat Arya Pethak langsung menginjak dada Akuwu Surenggono sembari menempelkan Pedang Setan ke arah leher sang Akuwu yang kini terlihat seperti seorang pesakitan.
Meski masih memiliki tenaga untuk bertarung, namun di bawah ancaman Arya Pethak dengan Pedang Setan menempel di batang leher, Akuwu Surenggono memilih untuk tidak bergerak sedikitpun.
"Akuwu Surenggono,
Sekarang katakan pada ku. Siapa orang yang menyuruh mu untuk membunuh Dewi Windradi? Jika kau sampai berbohong, ujung Pedang Setan ku akan merobek urat nadi mu ini", ucap Arya Pethak sambil menekan ujung Pedang Setan yang lancip ke arah leher Akuwu Surenggono.
"Ba-baik akan ku ku katakan yang sebenarnya..
Tapi aku minta jaminan keselamatan ku. Ba-bagaimana?", Akuwu Surenggono mencoba untuk menawar.
"Aku mengerti aku mengerti..
Orang yang menyuruh ku membunuh Dewi Windradi adalah Warok Singo Ludro, Raja Mandala Wengker sekarang. Dia ingin berkuasa di Tanah Wengker tanpa harus takut pada keturunan Dewi Windradi yang memang lebih berhak atas singgasana Mandala Wengker", ucap Akuwu Surenggono segera.
Kaget semua orang yang ada di tempat itu termasuk Nay Kemuning. Mereka benar benar tidak menyangka bahwa Adipati Warok Singo Ludro tega berbuat selicik itu hanya demi melanggengkan kekuasaan. Arya Pethak segera melirik ke arah Nay Kemuning yang mulai sembab matanya karena air mata yang mengembang di pelupuk mata. Hati istri kedua Arya Pethak ini begitu sedih karena orang tua nya terbunuh oleh tindakan keji yang dilakukan oleh pamannya sendiri.
Saat semua orang terdiam, terdengar suara yang memecah keheningan, " Apa aku sudah bisa di bebaskan?".
Mendengar ucapan Akuwu Surenggono, Arya Pethak pun menjauhkan Pedang Setan dari batang leher Akuwu Surenggono dan menarik kaki kanan nya yang menginjak dada sang penguasa Pakuwon Sendang.
Dengan leher yang masih terikat pada rantai besi kecil Pedang Cambuk Naga, Akuwu Surenggono mencoba untuk berdiri sembari berupaya melepaskan belitan rantai besi kecil Pedang Cambuk Naga. Nay Kemuning langsung melesat cepat kearah punggung lelaki bermata satu itu dan segera menjejak punggung Akuwu Surenggono seraya menarik gagang Pedang Cambuk Naga nya sekuat mungkin hingga membuat sang penguasa Pakuwon Sendang itu tercekik.
"Akang Pethak teh sudah melepaskan anjeun, tapi abdi teh tidak akan!", teriak Nay Kemuning sambil terus menarik gagang pedang nya.
Tangan Akuwu Surenggono mencoba untuk melepaskan diri dari cekikan rantai besi kecil Pedang Cambuk Naga namun semakin lama cekikan itu semakin erat. Tangannya mencoba menggapai sesuatu untuk pegangan dan seperti meminta bantuan kepada semua orang di tempat itu. Namun tak seorangpun yang mau menolongnya.
Di saat terakhir, Nay Kemuning mengerahkan seluruh tenaga dalam nya dan menarik gagang pedang untuk mengakhiri hidup Akuwu Surenggono sembari berteriak keras.
Hiyyyyaaaaaaaatttttt...!!
Kletekhh !!!
Terdengar suara bunyi tulang yang patah. Sekejap kemudian kepala Akuwu Surenggono terkulai. Dia tewas dengan leher patah oleh anak orang yang dia bunuh di Tatar Pasundan.
Usai Akuwu Surenggono tewas, Nay Kemuning segera melepaskan gagang Pedang Cambuk Naga lalu menangis keras sejadi jadinya.
"Huwwaaaaaaaaaa.....!!!"
__ADS_1
Ada perasaan aneh yang campur aduk di dalam pikiran Nay Kemuning, antara sedih, senang dan lega yang campur aduk menjadi satu. Arya Pethak segera memeluk tubuh ramping Nay Kemuning dan perempuan cantik itu segera membenamkan wajahnya di dada bidang Arya Pethak sambil terus menangis.
Bersama dengan tewas nya Akuwu Surenggono, perlawanan para prajurit pun terhenti. Mereka langsung meletakkan senjata mereka masing-masing dan berlutut dihadapan para prajurit Desa Girimulyo pimpinan Mpu Wikarto yang memulai serangan dari arah depan.
Setelah Nay Kemuning berhenti menangis dan bisa tenang, Arya Pethak menuntun sang istri untuk duduk di pendopo Pakuwon Sendang. Anjani dan Sekarwangi pun datang bersama Klungsur dan Nirmala.
Mpu Wikarto setelah menangani para prajurit Pakuwon Sendang yang menyerah, langsung mendekati Arya Pethak, Nay Kemuning, Sekarwangi, Anjani, Klungsur dan Nirmala.
"Maafkan aku jika aku lancang, Pendekar Pethak..
Apa benar yang ku dengar bahwa Nini Nay Kemuning ini adalah cucu Adipati Singo Condro dari putri sulungnya?", tanya Mpu Wikarto dengan penuh hormat.
"Benar Mpu..
Istri ku ini adalah putri Dewi Windradi yang di sunting Pangeran Ranawijaya dari Pakuan Sunda. Apa ada yang salah dengan itu?", Arya Pethak menatap wajah Mpu Wikarto segera.
"Aku bisa jadi saksi mata untuk semua itu, Mpu Wikarto. Aku sendiri yang melihat bahwa Resi Candramaya mengakui bahwa Nini Nay Kemuning adalah keturunan nya dari Dewi Windradi", imbuh Ki Simo Biru yang ikut mendekati Arya Pethak dan para istri nya.
"Kalau begitu, sebaiknya Tanah Mandala Wengker ini kembali kepada orang yang berhak.
Adipati Warok Singo Ludro dan keturunannya tidak pantas memimpin Tanah Mandala ini, Pendekar Pethak. Aku Mpu Wikarto dari Desa Girimulyo akan maju sebagai pembela kebenaran untuk Nini Nay Kemuning", jawab Mpu Wikarto dengan berapi-api.
"Apa maksud mu Mpu? Coba kau jelaskan", Arya Pethak sedikit mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Mpu Wikarto.
"Adipati Warok Singo Ludro sudah duduk di singgasana yang seharusnya menjadi milik Dewi Windradi. Ini sudah melangkahi adat istiadat Tanah Mandala Wengker sejak jaman dahulu kala. Apalagi sekarang, pemerintahan Wengker begitu kacau balau dengan kekuatan Raden Ronggo yang ingin berkuasa setelah Adipati Singo Ludro sakit-sakitan.
Banyak rakyat Wengker yang di tindas oleh kekuasaan yang dimiliki oleh Raden Ronggo. Mereka menginginkan agar pemerintah Wengker adalah pengayom dan pelindung bagi masyarakat kecil. Bukan sebagai penjajah yang menghisap darah rakyatnya sendiri.
Oleh karena itu, hamba mendukung Nini Ayu Nay Kemuning harus duduk di singgasana yang seharusnya menjadi milik nya. Hamba jamin seluruh rakyat Girimulyo dan Pakuwon Sendang ini akan mendukung perjuangan Nini Ayu Nay Kemuning merebut kembali haknya sebagai penguasa Tanah Mandala Wengker ", tutur Mpu Wikarto dengan cepat dan lantang.
"Ucapan Mpu Wikarto benar Nini Ayu..
Kepemimpinan Tanah Mandala Wengker memang seharusnya menjadi milik mu", sahut Ki Simo Biru sembari menghormat pada Nay Kemuning.
Semua orang yang ada di belakang nya langsung ikut berbicara saur manuk.
"Ya kami mendukung mu, Nini Ayu..!"
"Kami siap berkorban nyawa untuk menjatuhkan kekuasaan Raden Ronggo!"
"Tanah Wengker harus kembali ke yang berhak!"
Teriakan keras para pendekar sewaan Mpu Wikarto dan para penduduk Desa Girimulyo langsung membahana. Mereka semua memang sudah merasa jenuh dengan kekuasaan Adipati Warok Singo Ludro dan Raden Ronggo yang sewenang-wenang.
Nay Kemuning menyeka air matanya lalu menoleh ke arah Arya Pethak suaminya. Setelah melihat senyum terukir di wajah tampan Arya Pethak dan anggukan kepala halus darinya, Nay Kemuning segera berdiri.
"Aku menghargai permintaan dari rakyat Wengker. Sebagai putri Dewi Windradi, seharusnya singgasana Wengker memang seharusnya menjadi hak milik ku. Karena aku seorang perempuan, maka upaya kita merebut kembali tahta Tanah Wengker akan di jalankan oleh suami ku sebagai wakil ku dalam membimbing dan mengayomi rakyat Wengker.
Apa kalian ada keberatan dengan keinginan ku?", ucapan Nay Kemuning begitu tegas dan berwibawa.
"Kami tidak akan keberatan dengan keinginan Nini Ayu..
Hidup Gusti Ayu Nay Kemuning..!!
Hidup Gusti Pangeran Arya Pethak..!!"
Teriakan Mpu Wikarto langsung membakar semangat seluruh orang yang hadir di tempat itu. Suara dukungan terhadap Nay Kemuning dan Arya Pethak terus membahana di dalam Istana Pakuwon Sendang. Semua orang benar benar ingin melihat perubahan di wilayah Mandala Wengker. Arya Pethak, Nay Kemuning, Sekarwangi, Anjani, Klungsur dan Nirmala tersenyum menatap dukungan masyarakat terhadap mereka.
Mulai malam itu, di susunlah rencana untuk pemberontakan terhadap Adipati Warok Singo Ludro. Dengan di gawangi Ki Simo Biru, Mpu Wikarto, Subrata beserta Arya Pethak, Nay Kemuning, Sekarwangi, Anjani beserta Klungsur dan Nirmala, mereka mulai menata rencana yang di mulai dari Istana Pakuwon Sendang dan wilayah kekuasaannya. Karena diangkat menjadi pimpinan, Arya Pethak pun mendapat gelar Akuwu sebagai tanda pengesahan kekuasaannya atas wilayah Sendang. Usai diangkat menjadi Akuwu, Arya Pethak berdiri sembari mengepalkan tangannya sembari berkata,
__ADS_1
"Saatnya kita rebut kembali hak istri ku Nay Kemuning!"