Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Ajian Mata Dewa


__ADS_3

Resi Jathayu menatap wajah tampan Arya Pethak sejenak. Dengan di bantu oleh seorang lelaki sepuh lainnya, Resi Jathayu nampak menotok beberapa jalan darah Arya Pethak.


Lelaki sepuh itu nampak mengernyitkan dahinya.


"Ada apa Kakang Resi? Ada yang mengganjal pikiran mu", tanya kakek tua berambut putih itu sambil menatap ke wajah sepuh Resi Jathayu.


"Bocah ini memiliki sesuatu yang tersimpan di dalam tubuhnya. Tadi aku heran melihat dia bisa menahan Ajian Iblis Api Neraka.


Aku hanya dari kejauhan melihat dia bertarung melawan Ronggo Geni hingga tidak jelas melihat apa yang di pegang bocah ini, Adhi Bagaspati..


Rupanya benda ini yang menyelamatkan nyawa nya", jawab Resi Jathayu sambil tersenyum simpul.


Sebagai pertapa dengan kemampuan linuwih, Resi Jathayu mampu melihat jelas adanya Keris Mpu Gandring bersemayam di dalam tubuh Arya Pethak.


"Benda apa itu Kakang?", tanya Resi Bagaspati yang penasaran dengan omongan Resi Jathayu.


"Sudahlah Adhi..


Kita harus secepatnya membuat bocah ini sadar sebelum dia kita obati lebih dulu. Nanti kita bisa bertanya lebih jauh mengenai dirinya", jawab Resi Jathayu sambil mendorong tubuh Arya Pethak untuk duduk. Dengan bantuan Resi Bagaspati, Resi Jathayu segera menyalurkan hawa panas tenaga dalam nya ke arah punggung Arya Pethak.


Perlahan mata Arya Pethak terbuka sedikit demi sedikit. Awal mulanya penglihatan nya masih kabur hingga dia jelas melihat di sekitar nya. Ada dua orang lelaki berpakaian layaknya pertapa tengah mengelilingi nya.


"Di-dimana aku?", tanya Arya Pethak dengan lemah.


"Jangan banyak tanya. Cepat atur jalan nafas mu, bocah bagus", jawab Resi Jathayu sambil terus menyalurkan tenaga dalam nya.


Arya Pethak menurut. Putra angkat Mpu Prawira itu segera duduk bersila di lantai sanggar pamujan Pertapaan Giri Lawu. Perlahan dia menata jalan napas nya. Rasa hangat yang menjalar ke sekujur tubuhnya membuat luka dalam nya perlahan terobati.


Resi Bagaspati segera mengambil bokor kuningan yang ada di sudut sanggar pamujan.


Huuuuooogggghhh!!


Arya Pethak muntah darah kehitaman. Meski Ajian Lembu Sekilan mampu menahan beban hantaman tenaga Ajian Iblis Api Neraka, namun karena tenaga dalam Arya Pethak masih di bawah Ronggo Geni, ajian itu hanya mampu mengurangi kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi yang terlontar dari Ronggo Geni.


Usai muntah darah kehitaman, raut muka Arya Pethak terlihat lebih baik. Meski masih pucat, setidaknya jalan nafas nya sudah lebih lancar.


"Terima kasih atas bantuannya Resi..", ucap Arya Pethak dengan lemah.


"Hemmmm...


Ajian Iblis Api Neraka memang hebat, mampu melukai mu yang memiliki Ilmu Lembu Sekilan.


Apa kau sudah bisa berdiri bocah bagus?", Resi Jathayu menatap wajah tampan Arya Pethak.


"Sudah bisa Resi, tapi aku belum bisa mengerahkan tenaga dalam ku. Dada ku masih terasa sakit", ujar Arya Pethak sambil terbatuk-batuk.


"Aku tahu..


Cobalah berdiri sebentar", perintah Resi Jathayu sambil tersenyum tipis.


Dengan perlahan Arya Pethak mencoba untuk berdiri tegak. Begitu dia berhasil, Resi Jathayu segera menyambar tubuh Arya Pethak dan melesat cepat kearah barat, menuju arah puncak Gunung Lawu. Resi Bagaspati hanya geleng-geleng kepala melihat ulah kakak seperguruan nya itu.


Gerakan ringan Resi Jathayu seolah terbang diantara pepohonan yang tumbuh lebat di lereng Gunung Lawu. Di sebuah mata air yang mengepulkan asap putih, Resi Jathayu menghentikan pergerakan nya. Tepat di bawah mata air itu terdapat sebuah telaga kecil yang airnya berwarna kuning.


Di tengah telaga kecil itu terdapat sebuah batu besar yang pipih tepat di bawah air terjun. Resi Jathayu membawa Arya Pethak kesana.


"Sekarang kau bersemedi lah di sini. Tata nafas dan aliran darah mu. 4 hari lagi aku akan kemari untuk melihat mu", ujar Resi Jathayu yang mendapat anggukan kepala dari Arya Pethak.


"Terimakasih atas bantuannya Resi. Aku akan menuruti semua perintah mu", Arya Pethak lalu duduk bersila di atas batu pipih. Resi Jathayu tersenyum simpul, sekejap mata kemudian tubuhnya menghilang dari pandangan Arya Pethak.


Arya Pethak lalu memejamkan mata. Guyuran air hangat dari air terjun kecil diatasnya membuat pemuda tampan itu susah memusatkan pikirannya. Namun Arya Pethak terus berusaha sambil menata jalan napas dan aliran darah nya. Tak berapa lama kemudian dia sudah tenggelam dalam semedi nya.


Hari berganti hari dengan cepat. Tak terasa sudah 3 hari Arya Pethak bersemedi di bawah air terjun di tengah telaga yang bernama Sendang Kuning. Tenaga dalam nya telah tertata berikut aliran darah nya yang sudah kembali pulih seperti sedia kala.


Meski awalnya banyak gangguan dari sesuatu yang kasat mata, namun Arya Pethak tetap tak bergeming. Bahkan pada hari kedua Arya Pethak sempat di datangi seekor harimau putih yang mendekati semedi nya untuk menggagalkan upaya pemuda tampan itu.


Hari ketiga suara suara aneh dari sekitar tempat itu terus terngiang di telinga Arya Pethak. Meminta pemuda itu untuk pergi dari tempat itu karena pada dasarnya Sendang Kuning adalah keraton para lelembut penguasa Gunung Lawu.


Dari arah timur, pada hari keempat, sebuah bayangan putih melayang turun ke dekat telaga. Melihat Arya Pethak masih teguh pada semedinya, bayangan putih yang tak lain adalah Resi Jathayu tersenyum penuh arti.


"Bocah bagus,


Bangunlah dari semedi mu. Sudah cukup untuk mu mengacaukan tempat ini", ujar Resi Jathayu sambil tersenyum.

__ADS_1


Arya Wiguna perlahan membuka mata nya. Melihat Resi Jathayu, pemuda tampan itu perlahan bangkit dari tempat duduknya. Sekali hentakan, Arya Pethak berlari di atas air Sendang Kuning seakan terbang. Resi Jathayu pun takjub melihat kemampuan ilmu meringankan tubuh Arya Pethak.


Jleeggg..


Arya Pethak berdiri di samping sang pertapa dengan tegak.


"Luar biasa, tubuh mu mampu menyerap hawa panas Sendang Kuning ini dengan baik. Kau benar benar ditakdirkan untuk menjadi pendekar pilih tanding, bocah bagus.


Sekarang ayo kita turun. Kau sudah tiga hari tidak makan. Pasti kau lapar bukan?", ucap Resi Jathayu sambil tersenyum tipis.


Arya Pethak hanya mengangguk saja kemudian melesat cepat mengikuti langkah Resi Jathayu menuruni lereng Gunung Lawu menuju ke Pertapaan Giri Lawu.


Hanya dalam beberapa tarikan napas, Resi Jathayu dan Arya Pethak telah sampai di Padepokan Gunung Lawu.


Di tempat kediaman Resi Jathayu, Resi Bagaspati dan Resi Sunyaluri telah mempersiapkan aneka hidangan yang terbuat dari aneka sayur dan buah. Arya Pethak yang suka daging ayam hutan menatap aneka makanan yang tersaji di atas lambaran daun pisang.


"Resi,


Apakah anda semua tidak makan daging?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah ketiga pertapa tua yang ada di sampingnya.


Resi Bagaspati tersenyum simpul mendengar pertanyaan Arya Pethak.


"Kami memang tidak memakan daging, anak muda. Para pertapa memang seperti ini", jawab Resi Bagaspati dengan lembut.


"Sudah jangan banyak bicara. Makan saja apa yang ada. Para dewa sudah berbaik hati memberikan makanan untuk kita", ujar Resi Sunyaluri dengan sedikit keras. Diantara mereka bertiga, Resi Sunyaluri adalah yang paling kasar bicaranya.


Arya Pethak hanya garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


Mereka berempat kemudian memakan makanan yang disajikan dengan lahap.


Usai bersantap bersama, Resi Jathayu berkata kepada Arya Pethak sambil menatap wajah tampan pemuda itu.


"Bocah bagus, dari kemarin aku belum tahu nama mu? Dari mana sebenarnya asalmu?


Perkenalan aku Resi Jathayu, ini Resi Bagaspati dan dia Resi Sunyaluri", tanya Resi Jathayu segera.


"Saya Arya Pethak, Resi.


Saya berasal dari lereng Bukit Kahayunan di selatan Gunung Kelud. Disana saya dirawat dan di besarkan oleh Mpu Prawira, orang tua angkat sekaligus guru saya", jawab Arya Pethak dengan sopan.


"Menurut ayah angkat, ini ada bersama saya saat masih bayi. Ayah angkat menemukan saya di reruntuhan bangunan Padepokan Padas Lintang di Desa Mondoluku, Resi", mendengar ucapan Arya Pethak tiga orang tua itu langsung saling berpandangan.


"Jadi kau adalah putra Mapanji Kertapati? Keturunan terakhir Wangsa Isyana?", Resi Sunyaluri yang biasanya kasar langsung turun nada suara nya.


"Menurut Gusti Patih Pranaraja dari Kadiri, begitu lah adanya.


Tujuan hidup saya adalah mencari kebenaran tentang diri saya, Resi. Karena yang membumihanguskan Padepokan Padas Lintang adalah Kelompok Kelabang Ireng, maka saya mengejar mereka hingga bertarung dengan Ronggo Geni tempo hari", jawab Arya Pethak dengan jujur.


Hemmmmmmm..


"Kalau begitu, semakin mantap aku menurunkan ilmu kanuragan ku kepadamu, bocah bagus.


Ketahuilah, kami bertiga adalah Pelindung Padepokan Padas Lintang. Kalung berliontin kepala naga yang kau pakai adalah simbol kau keturunan wangsa Isyana.


Aku melihat kau sudah mempunyai dasar ilmu kanuragan yang mumpuni meski belum sempurna. Aku akan menurunkan Ilmu Serat Jiwa padamu sebagai pelengkap jati diri mu sebagai pendekar pilih tanding. Ingat pergunakan hanya saat kau terdesak saja Bocah Bagus", ujar Resi Jathayu yang memang memiliki kemampuan kanuragan paling tinggi diantara mereka bertiga.


Arya Pethak segera duduk bersila. Resi Jathayu kemudian berdiri di depan Arya Pethak sambil bersedekap tangan di depan dada. Tak lama kemudian muncul sinar hijau kebiruan yang menyilaukan mata di tangan Resi Jathayu. Saat Resi Jathayu membuka mata, dengan cepat jempol tangan kakek tua itu menekan dahi Arya Pethak. Hawa sejuk yang membuat bulu kuduk berdiri merambat cepat ke seluruh tubuh Arya Pethak bersama dengan sinar hijau kebiruan yang membungkus tubuh putra angkat Mpu Prawira itu.


Usai Resi Jathayu melepaskan jempol tangan kanannya dari dahi Arya Pethak, pemuda itu segera memutar kedua telapak tangan nya yang sedari tadi memegang dua dengkul kaki nya. Kedua tangan lalu merentang sejajar kemudian mengambil sikap mudra di depan dada.


Arya Pethak perlahan membuka mata. Resi Jathayu manggut-manggut senang melihat itu semua.


"Kau dengan cepat menata ajian itu ke dalam tubuh mu. Apa kau pernah mempelajari nya?", tanya Resi Jathayu sambil tersenyum simpul.


"Saya pernah di ajari Dewi Bukit Lanjar sewaktu dia bertamu di Bukit Kahayunan dulu, Guru Resi.


Tapi hanya sampai tahap dasar nya saja, tidak sampai selesai. Ilmu Serat Jiwa yang Guru Resi turunkan ini sampai tahap berapa?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah Resi Jathayu.


"Kau sudah menguasai Ilmu Serat Jiwa hingga tahap 9, bocah bagus. Itu tahap tertinggi Ilmu Serat Jiwa", jawab Resi Jathayu seraya menoleh ke samping Pertapaan yang merupakan tanah lapang yang cukup luas.


"Sekarang kau berlatih lah disana, pelajari apa yang sudah ku berikan kepada mu..


Besok sebelum turun dari tempat ini, kau harus mampu melawan ku agar aku tenang melepas kepergian mu", perintah Resi Jathayu segera. Arya Pethak mengangguk mengerti. Lalu pemuda tampan itu langsung melesat cepat kearah tanah lapang yang ditunjuk oleh Resi Jathayu sebagai tempat dia berlatih.

__ADS_1


Arya Pethak segera berlatih mengatur tenaga dalam nya yang kini bertambah dua kali lipat. Andai kemarin dia memiliki tenaga dalam sebesar ini tentu dia tidak akan cedera.


Sepanjang siang hari itu Arya Pethak terus berlatih tanpa mengenal lelah.


Siang segera berganti sore, lalu menjadi senja dan malam menyusul berikutnya. Rembulan berbentuk sabit tebal menggantung di langit barat. Suasana Pertapaan Giri Lawu begitu sepi.


Di serambi balai kediaman para resi, Arya Pethak sedang duduk berbincang dengan para resi Pertapaan Giri Lawu.


"Arya Pethak,


Sebelum kau turun gunung, aku akan memberikan sebuah ilmu yang bisa kau gunakan untuk melihat dalam gelap, membedakan antara manusia dan mahkluk halus, juga sebagai tambahan kemampuan penglihatan mu agar kau mampu melihat segala sesuatu dari jarak jauh. Bahkan kau bisa melihat setinggi apa tenaga dalam seseorang.


Ini adalah Ajian Mata Dewa. Apa kau bersedia?", tanya Mpu Sunyaluri pada Arya Pethak.


"Saya bersedia Guru Resi", jawab Arya Pethak yang mengangguk penuh keyakinan.


"Bagus..


Sekarang pejamkan mata mu Arya Pethak", perintah Resi Sunyaluri segera. Arya Pethak pun segera mematuhi perintah itu.


Resi Sunyaluri segera menggigit jempol jari kanan nya kemudian mengoleskan darah yang keluar pada jempol tangan kiri nya. Mulut Resi Sunyaluri segera berkomat kamit membaca mantra Ajian Mata Dewa. Tiba tiba saja darah di kedua jempol Resi Sunyaluri memancarkan cahaya kuning keemasan. Segera Resi Sunyaluri mengoleskan kedua jempolnya ke mata Arya Pethak yang terpejam. Dua sinar kuning keemasan itu perlahan menghilang seperti meresap ke dalam mata Arya Pethak.


"Sekarang buka mata mu Arya Pethak", perintah Resi Sunyaluri segera. Mata pemuda tampan itu perlahan terbuka.


"Sekarang coba apa yang kau lihat di samping pohon rindang itu?", tanya Resi Sunyaluri sambil menunjuk ke arah sebuah pohon besar di selatan Pertapaan Giri Lawu


"Kog tidak terlihat apa-apa Guru Resi?", jawab Arya Pethak sambil kebingungan.


Resi Sunyaluri langsung menepuk jidatnya sendiri.


"Jagat Dewa Batara, aku lupa mengajarkan mantra nya", mendengar ucapan itu Resi Jathayu dan Resi Bagaspati terkekeh geli.


"Dasar pikun. Soal mantra saja lupa, sok sok an menurunkan ilmu pada Arya Pethak", ejek Resi Bagaspati yang disambut dengusan nafas dingin dari Resi Sunyaluri. Pria sepuh itu segera membisikkan kata-kata di telinga Arya Pethak.


"Ingat mantra itu baik-baik. Nah sekarang kau coba rapal mantra nya lalu pusatkan penglihatan mu kearah yang aku tunjuk tadi.


Cepat, jangan bikin aku malu", teriak Resi Sunyaluri segera.


Arya Pethak menurut. Perlahan dia membaca mantra Ajian Mata Dewa. Bagian hitam mata pemuda tampan itu tiba-tiba berubah warna menjadi kuning keemasan.


Dia sampai terlonjak kaget melihat arah yang ditunjukkan oleh Resi Sunyaluri kepada nya.


"Guru Resi,


Disana ada setan!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yang setia menunggu kedatangan Arya Pethak dan kawan-kawan, author ucapkan terima kasih banyak ya.

__ADS_1


Semoga kalian semua masih betah menemani perjalanan Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


Semoga sehat selalu, salam hangat dari author 🙏🙏 😁🙏🙏


__ADS_2