Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Uji Kemampuan Beladiri


__ADS_3

"Jadi Nyai juga tahu bahasa daerah kami? Saya mikir nya Nyai tidak bisa bahasa kami hehehehe..


Maafkan aku Nyai", ujar Arya Pethak sambil tersenyum simpul dan membungkuk hormat kepada Dewi Puncak Khayangan.


"Nyai nyai ...


Eh jalmi wetan, anu sopan lamun saur pamingpin urang ( Eh orang timur, yang sopan bila memanggil pemimpin kami )", seorang wanita cantik bercadar putih yang merupakan salah satu murid Puncak Khayangan kesal dengan sikap Arya Pethak.


"Atos Kentring Manik, teu nanaon. Anjeunna leres leres henteu terang saha abdi ( Sudahlah Kentring Manik, tidak apa-apa. Dia benar-benar tidak tahu siapa aku ).


Eh baju putih,


Ada urusan apa kau sampai kemari?", Dewi Puncak Khayangan menoleh ke arah Arya Pethak yang masih berdiri di samping Aki Kolot dan Limbur Wisesa.


"Aku mewakili Perguruan Gunung Ciremai, Nyai.. Meskipun aku baru beberapa hari disini, tapi Resi Guru Mangun Tapa meminta ku mengikuti uji kemampuan beladiri di tempat ini", jawab Arya Pethak dengan jujur.


Hemmmmmmm..


'Pemuda ini mampu menahan Ilmu Cakar Rajawali Membelah Bumi tanpa cidera. Dia pasti akan menjadi peserta uji yang menarik. Aku tidak sabar menantikan kebolehan nya', batin Dewi Puncak Khayangan sambil tersenyum tipis. Perempuan cantik itu segera mengalihkan pandangan ke arah Elang Lolong dan Elang Botak.


"Kalian berdua, jika sekali lagi berani mengganggu para peserta uji kemampuan beladiri ini sebelum acara selesai, aku tidak segan-segan untuk menjadikan kalian mangsa maung peliharaan ku di Gunung Gede.


Saat kalian berani melakukan nya, jangankan seluruh orang Padepokan Rajawali Sakti, Guru mu Resi Barmawijaya pun tidak akan bisa menyelamatkan nyawa kalian. Kalian dengar tidak?", Dewi Puncak Khayangan mendelik tajam ke arah Elang Lolong dan Elang Botak. Udara di sekeliling tempat itu menjadi dingin seakan sanggup membekukan segala sesuatu.


Mendengar ancaman Dewi Puncak Khayangan, Elang Lolong dan Elang Botak langsung bergidik ketakutan.


"Kami dengar Dewi. Kami mengerti", ujar Elang Lolong dan Elang Botak bersamaan.


"Sekarang kalian cepat naik ke puncak Gunung Pojoktiga ini. Lekas berangkat sebelum aku berubah pikiran", hardik Dewi Puncak Khayangan yang membuat Elang Lolong dan Elang Botak langsung lari terbirit-birit menuju Istana Atap Langit.


"Huhhhhh dasar cecunguk tengik", gerutu Dewi Puncak Khayangan.


Aki Kolot segera mendekat ke arah Dewi Puncak Khayangan bersama Arya Pethak, Limbur Wisesa dan semua murid Perguruan Gunung Ciremai.


"Terimakasih banyak atas bantuannya Nini Dewi.. Tanpa bantuan Nini Dewi, orang-orang Padepokan Rajawali Sakti pasti akan terus mengganggu kami", Aki Kolot membungkukkan badannya pertanda hormat kepada Dewi Puncak Khayangan.


"Sudahlah, aku cuma membantu sekedarnya saja. Kalau begitu aku dan murid murid Puncak Khayangan berangkat lebih dulu. Aku undur diri..


Dan kau Arya Pethak,


Berikan aku tontonan yang menarik di uji kemampuan beladiri nanti", usai berkata demikian Dewi Puncak Khayangan segera melesat cepat seperti terbang ke arah Istana Atap Langit berada. Para gadis cantik berbaju putih itu segera mengikuti langkah sang pemimpin.


Selepas Dewi Puncak Khayangan dan para murid nya pergi, rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai pun melanjutkan perjalanan. Karena jalan mulai menanjak, mereka tidak memaksa kuda untuk berlari. Hanya berjalan saja untuk menghemat tenaga.


Arya Pethak yang penasaran dengan Dewi Puncak Khayangan, langsung bertanya kepada Limbur Wisesa yang berkuda di sebelah nya.


"Akang Wisesa,


Si perempuan itu tadi siapa? Kenapa dia mau membantu kita?", Arya Pethak menjajarkan kuda nya dengan kuda Limbur Wisesa.


"Dia itu Dewi Puncak Khayangan, pemimpin ke 8 Istana Puncak Khayangan. Kau jangan terkecoh dengan penampilan nya yang seperti gadis berusia remaja, dia sebenarnya sudah berusia lebih dari 6 dasawarsa, seusia dengan guru kita.


Konon kabarnya, setiap pemimpin istana Puncak Khayangan mewarisi ilmu awet muda yang hebat. Di tambah lagi, dia memiliki Ajian Tapak Awan Beku yang menakutkan. Pernah tersiar kabar kalau dia seorang diri memusnahkan Perguruan Lembah Setan di kaki Gunung Sapta Arga hanya karena ulah seorang muridnya yang di lecehkan oleh salah satu Sesepuh perguruan aliran hitam itu.


Karena itu, jangankan Perguruan Rajawali Sakti, Istana Atap Langit yang memiliki ratusan murid pun akan berpikir dua kali jika ingin berurusan dengan Puncak Khayangan. Bahkan Guru sendiri pernah bilang bahwa perempuan itu lebih menakutkan daripada iblis dari neraka jika sedang marah.


Karena itu bukan hanya golongan putih saja yang berhati hati dengan Dewi Puncak Khayangan, golongan hitam pun segan segan untuk menghadapi nya", Limbur Wisesa menghela nafas panjang.


"Kalau begitu hebat, kenapa murid Puncak Khayangan hanya sedikit, Akang?", kembali Arya Pethak melontarkan pertanyaan.


"Aku dengar murid Puncak Khayangan selalu tetap, tidak lebih dari 50 orang. Semua nya perempuan dan kau tadi lihat sendiri kalau mereka cantik cantik


Konon katanya, itu peraturan yang di wariskan dari pemimpin pertama mereka. Tapi meskipun mereka hanya sedikit, kemampuan beladiri yang mereka miliki di atas rata rata pendekar yang sudah memiliki gelar. Aku saja belum tentu bisa mengalahkan gadis cantik yang menegur mu tadi", Limbur Wisesa menghela nafas berat. Uji kemampuan beladiri kali ini pasti tidak mungkin membuat nya pulang dalam keadaan baik baik saja.


Rombongan itu terus bergerak menuju ke arah Istana Atap Langit di salah satu lereng Utara Gunung Pojoktiga.


Mereka langsung di terima oleh para murid Istana Atap Langit dan mendapat tempat tinggal yang terbuat dari tenda besar yang tak jauh dari tempat uji kemampuan beladiri. Tak kurang sepuluh tenda besar berdiri dan terpisah menjadi 2 bagian. Murid Perguruan Gunung Ciremai mendapat tenda yang berada paling ujung sebelah timur, dekat dengan tenda para murid Puncak Khayangan.

__ADS_1


Satu persatu tenda besar mulai di isi oleh para murid perguruan undangan. Selain para undangan, para pendekar yang tidak memiliki perguruan juga boleh unjuk kebolehan dengan menantang para pemenang uji kemampuan di setiap akhir babak penyisihan. Para pendekar tanpa perguruan ini di bebaskan untuk membuat tempat tinggal selama acara berlangsung namun masih dalam lingkup tempat yang di tunjuk oleh Istana Atap Langit selaku penyelenggara acara setengah windu sekali itu.


Untuk urusan makanan, Istana Atap Langit menyediakan beras dan jagung. Untuk lauk menjadi urusan masing masing perguruan yang hadir.


Perguruan Istana Atap Langit menjadi ramai dikunjungi oleh para penduduk sekitar maupun orang yang datang jauh jauh hari hanya untuk melihat adu ilmu beladiri yang berlangsung selama sepekan ini.


Hari segera malam. Suasana lereng Gunung Pojoktiga yang biasanya tenang kini menjadi ramai oleh para peserta uji kemampuan beladiri.


Klungsur dan Arya Pethak duduk di depan tenda besar tempat mereka bermalam sambil mengamati semua orang yang lalu lalang di depan mereka.


"Ndoro Pethak harus memenangkan pertandingan ini. Nyawa Rara Larasati tergantung pada kemenangan Ndoro loh, ingat itu", ujar Klungsur mengingatkan Arya Pethak tentang tujuan mereka ke tempat itu.


"Aku masih ingat Sur, kau tenang saja...


Yang harus kulakukan sekarang adalah memenangkan uji kemampuan beladiri ini", jawab Arya Pethak dengan semangat berapi-api.


"Tapi kalau kelamaan di tempat ini, perjalanan pulang kita akan jadi terhalang lama dong Ndoro", Klungsur menatap ke arah Arya Pethak.


"Itulah makanya ini di pakai Sur", Arya Pethak menunjuk pada kening nya.


"Maksudnya Ndoro? Klungsur tidak paham", Klungsur garuk-garuk kepalanya.


"Pertanyaan mu itu adalah alasan ku meminta Guru Resi Buyut Mangun Tapa untuk mengajarkan Ajian Halimun. Karena dengan ajian ini, kita bisa pulang lebih cepat dari waktu biasanya. Aku tinggal membawa kalian berdua.


Gampang kan?", Arya Pethak tersenyum penuh arti.


"Hebat hebat... Ndoro Pethak sungguh hebat, sampai mikir sejauh itu. Klungsur gak sampai kalau disuruh memikirkan hal itu", Klungsur menggeleng cepat.


"Tentu saja kau tak bisa karena kau terlalu bodoh hihihihi", Anjani yang dari belakang langsung menyahut omongan Klungsur. Gadis cantik itu segera ikut duduk di samping Arya Pethak.


"Eh gadis beracun, jangan mentang-mentang kau bisa menggunakan racun, maka kau seenaknya saja menindas orang lemah seperti aku.. Sembarangan kalau ngomong", Klungsur langsung menggerutu sambil menunjuk ke arah Anjani dengan penuh keberanian.


"Memang kau tidak takut dengan racun ku?", Anjani mendelik tajam ke arah Klungsur.


"Ya ya takut sih...


"Boleh aku ikut bergabung?"


Suara lembut Nay Kemuning terdengar membuat Arya Pethak, Anjani dan Klungsur langsung menoleh ke empunya suara. Perempuan cantik berbaju hijau kekuningan itu menghentikan langkahnya usai berkata demikian.


"Tentu saja Nay..


Kau adalah teman kami. Kenapa harus minta ijin segala?", Anjani menggeser posisi tubuhnya untuk memberi tempat bagi Nay Kemuning. Gadis cantik itu langsung tersenyum manis dan langsung ikut duduk di samping Anjani.


"Kalian bertiga begitu gembira, aku jadi iri dengan kalian. Dua saudara seperguruan ku tidak bisa bercanda seperti ini", Nay Kemuning mengeluhkan tentang kehidupannya.


"Hehehehe..


Kita semua ini teman. Meskipun aku dan Klungsur sama sama abdi Ndoro Pethak, tapi Ndoro Pethak sama sekali tidak menganggap ku dan Klungsur seperti pesuruhnya. Kami saling berbagi tugas dan suka duka selama perjalanan kemari. Petualangan kami begitu berwarna Nay..


Kau sesekali waktu juga harus turun gunung. Jangan hanya berkutat di Gunung Ciremai saja. Masih banyak tempat yang indah dan menakjubkan selain di wilayah Tatar Pasundan ini", Anjani tersenyum simpul.


"Benarkah seperti itu? Maksud mu ada tempat yang penuh dengan keramaian seperti kota besar?", Nay Kemuning antusias mendengar nya.


"Kau tahu, Kota Mandala Saunggalah yang merupakan kota terbesar disini masih kalah luas dan ramai di banding tempat asal kami di Kadiri Neng ayu", Klungsur ikut menimpali.


"Ah andai Guru mengijinkan, aku ingin ikut bertualang bersama kalian.. Pasti seru dan menambah wawasan ku", Nay Kemuning tersenyum tipis sambil melirik ke arah Arya Pethak yang hanya diam sambil menatap keramaian di depannya.


Malam semakin larut. Seluruh peserta uji kemampuan beladiri buru buru beristirahat agar badan mereka segar saat besok mengikuti uji kemampuan. Angin dingin berdesir lembut dari selatan, seakan membelai semua orang untuk terlelap dalam mimpi indah untuk hari esok.


Keesokan paginya, hiruk pikuk terjadi lagi di tempat yang di sediakan untuk uji kemampuan beladiri. Seluruh peserta berjumlah 150 orang yang terdiri dari 100 dari perwakilan perguruan dan 50 dari para pendekar tanpa perguruan atau pendekar mandiri. Usia mereka tertinggi adalah 29 warsa dan terendah 18 Warsa. Mereka lalu di bagi menjadi 5 kelompok besar. Dua terbaik dari masing masing kelompok akan mengikuti ujian akhir yang memperebutkan gelar 10 pendatang baru dunia persilatan. Semua orang terlihat bersemangat.


Sesuai dengan perintah Aki Kolot, para anak murid Perguruan Gunung Ciremai diminta saling membantu untuk bisa lolos seleksi kelompok jika berada dalam satu kelompok.


Sesuai dengan pembagian nya, 30 peserta akan di ambil 15 peserta di hari pertama dengan pertarungan satu lawan satu. Pada hari kedua, akan di ambil 8 peserta untuk maju ke babak selanjutnya. Pada hari ketiga akan menjadi pertarungan kelompok, dimana hanya dua peserta yang berhak ikut bertarung di pertarungan terakhir untuk gelar yang diperebutkan.


Nay Kemuning dan Arya Pethak masuk ke kelompok kedua, setelah Limbur Wisesa dan Mayangsari masuk ke kelompok pertama. Dua murid Buyut Ragasuci masuk ke kelompok ketiga, Satu murid Buyut Ragasuci berpasangan dengan satu murid Resi Ajimulya masuk ke kelompok keempat dan 2 murid Resi Ajimulya masuk ke kelompok kelima.

__ADS_1


Di panggung kehormatan, para pendekar besar seperti Linggakancana dari Istana Atap Langit, Dewi Puncak Khayangan dari Gunung Gede, Elang Lolong dan Elang Botak mewakili Resi Barmawijaya dari Padepokan Rajawali Sakti, Ki Buyut Mangun Tapa dari Gunung Ciremai, Begawan Tarunabawa dari Gunung Sapta Arga, Resi Bujangga Suci dari Gunung Tangkuban Parahu, Detya Prabangkara dari Perguruan Pedang Halilintar, Aki Buyut Somala dari Pesisir Selatan dan Sang Panampa dari Pulau Nusa Kambangan duduk berjajar rapi disana. Semua tokoh besar dunia persilatan Tatar Pasundan begitu bersemangat melihat itu semua.


Dhiiiiieeeeenngggggggggh!!


Sebuah bende di pukul dengan keras. Linggakancana langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Hari ini uji kemampuan beladiri para pendekar muda di mulai. Semua berusahalah untuk menjadi yang terbaik bagi perguruan kalian masing. Kalian adalah penerus dari dunia persilatan Tatar Pasundan", ujar Linggakancana yang langsung disambut dengan bunyi nyaring bende yang di tabuh. Para penonton langsung bertepuk tangan dengan meriah.


Pertandingan langsung terbagi menjadi 5 pertarungan yang berbeda tempat dengan di batasi oleh pagar bambu gelondongan setinggi dada orang dewasa. Mereka yang bertarung sudah mendapat nomor urut sesuai dengan pembagian masing-masing.


Arya Pethak mendapat urutan pertama, berhadapan dengan murid Ki Buyut Somala dari Perguruan Pesisir Selatan yang bernama Gandamana. Pria berusia tinggi besar itu langsung menunjuk ke arah Arya Pethak sambil menarik telunjuk nya di lehernya usai wasit mempersilahkan mereka untuk bertarung.


"Anjeun bade nilar di panangan abdi ( Kau akan mati di tangan ku )", ujar Gandamana dengan mata mendelik tajam ke arah Arya Pethak.


"Terserah kau bilang apa, aku juga tidak memahami yang kau omongkan. Yang pasti aku tidak akan kalah dari mu", balas Arya Pethak sambil tersenyum simpul.


Melihat senyum di wajah Arya Pethak, Gandamana langsung murka.


Pria bertubuh tinggi besar itu dengan cepat bergerak ke arah Arya Pethak. Semua orang yang melihat pertandingan itu sudah mengira bahwa Arya Pethak pasti mati di tangan Gandamana. Lelaki itu terkenal kejam dan suka sekali membunuh orang yang tak disukainya.


Hanya Ki Buyut Mangun Tapa dan Dewi Puncak Khayangan saja yang tersenyum simpul.


Hantaman Gandamana dengan cepat mengincarnya kepala Arya Pethak namun pemuda itu dengan cepat berkelit lincah ke samping menghindari serangan.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Tanah bergetar saat pukulan keras Gandamana menghantam tanah. Arya Pethak yang berhasil menghindar, langsung melompat tinggi ke udara dan melesat turun sembari melayangkan tinjunya yang di lambari Ajian Guntur Saketi.


Gandamana langsung menyilangkan kedua tangan nya untuk menahan pukulan Arya Pethak.


Blllaaammmmmmmm!!!!


Gandamana langsung terpental ke belakang dan tersungkur pingsan. Meski berhasil menahan pukulan Arya Pethak, namun kekuatan tenaga dalam Arya Pethak jauh di atas Gandamana.


Semua orang terkejut melihat kejadian itu. Gandamana, sang raksasa dari Pelabuhan Ratu harus tersingkir di babak pertama oleh seorang pemuda tampan yang tidak terkenal sama sekali. Ki Buyut Somala langsung mendengus dingin sembari melirik ke arah Ki Buyut Mangun Tapa.


Wasit dengan cepat mengangkat tangan kanan Arya Pethak sembari mengumumkan bahwa Arya Pethak yang menang di babak pertama ini.


Dia lolos ke babak selanjutnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat makan sahur bagi yang menjalankan ibadah puasa. Semoga puasanya lancar sampai magrib menjelang..

__ADS_1


Semangat 🙏🙏


__ADS_2